UNTUK INDONESIA
Petani Aceh Mengeluh Akibat Harga Karet Anjlok
Sejumlah petani karet di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh mulai mengeluh akibat anjloknya harga getah karet di tengah pandemi corona.
Salah satu petani karet di Kabupaten Aceh Tamiang sedang menyadap getah pohon rambung. (Foto: Tagar/Zulfitra)

Aceh Tamiang - Petani karet di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh mulai mengeluh akibat anjloknya harga getah karet yang saat ini hanya berkisar Rp 6.000 per kilogram dari sebelumnya Rp 10.000 per kilogram.

Makmun, 56 tahun, warga Desa Johar, Kecamatan Karang Baru mengatakan, merosotnya harga getah karet menjadikan kehidupan para petani karet termasuk dirinya semakin sulit.

"Dulu saat harga getah karet tinggi berkisar Rp 10.000 per kilogram, kami bisa hidup sejahtera, meski pun tidak kaya. Tapi kini saya merasa sangat sulit sekali, untuk kebutuhan sehari-hari saja sudah tidak dapat memenuhinya," kata Makmun kepada Tagar, Sabtu, 4 Juli 2020.

Karena saat ini petani karet berada dalam kondisi himpitan ekonomi. Sedangkan kebutuhan rumah tangga semakin banyak.

Kata Makmun murahnya harga getah karet di daerahnya sudah berlangsung sejak enam bulan terakhir. apalagi kata dia, harga semakin menurun di tengah pandemi virus corona atau Covid-19.

"Untuk menutupi kebutuhan sehari hari saya mencoba membuka kios dagangan kecil kecilan, itu pun modalnya harus meminjam kepada bank," kata dia.

Makmun mengaku, saat ini dalam seminggu ia hanya bisa mengumpulkan getah karet sebanyak 45 kilogram dari luas kebun miliknya 1 hektare. Kata Maimun rata-rata penghasilannya dari menyadap pohon rambung sebesar Rp 270.000. Hal itu tidak sebanding dengan jarak tempuh yang ia lakukan setiap harinya menuju kebun miliknya.

"Jarak dari rumah saya menuju kebun kurang lebih 9 kilometer, atau setengah jam waktu perjalanan, tepatnya di Desa Belang Kandis, Kecamatan Bandar Pusaka. Jadi untuk minyak sepeda motor setiap harinya saja saya harus mengeluarkan uang sebesar Rpn 15.000 dan itu belum lagi untuk yang lainnya," ujarnya.

Pengakuan Maimun, tujuh bulan yang lalu dirinya masih bisa mendapatkan rezeki yang lumayan setiap minggunya dari hasil menyadap karet, sebab harganya kala itu sudah mulai naik, yakni Rp 9.000 per kilogramnya.

Petani karet lainya ikut merasakan hal yang sama, Ujang, 40 tahun, misalnya, warga Desa Belang Kandis, Kecamatan Bandar Pusaka juga mengeluhkan penurunan harga getah karet, Dalam 2 hektare lahan kebun karet yang disadap olehnya hanya mendapatkan hasil sekitar Rp 480.000 ribu hingga Rp 500.000 ribu per bulan.

"Hasil itu dibagi 2 lagi dengan pemilik kebun, sebab saya hanya mengambil upah. Jadi seminggu saya paling hanya dapat upah sebesar Rp. 240.000 sampai Rp. 300.000," ujarnya.

Ujang berharap kepada pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang agar segera mencari solusi terkait permasalahan ini, supaya para petani karet dapat kembali hidup sejahtera. "karena saat ini petani karet berada dalam kondisi himpitan ekonomi. Sedangkan kebutuhan rumah tangga semakin banyak, mulai dari kebutuhan makan hingga kebutuhan untuk anak sekolah," kata Ujang. []

Baca juga: 

Berita terkait
Ekonomi Jadi Alasan Pria Aceh Tamiang Menjual Tuak
Pria di Aceh Tamiang, Aceh nekat membuat dan menjual minuman tuak dengan alasan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.
Delapan Pasien Covid-19 Sembuh di RSUZA Banda Aceh
Pasien Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 yang sembuh di Aceh dalam dua hari terakhir berjumlah delapan orang.
Polwan Cantik Aceh Jadi Pasukan Perdamaian di Afrika
Seorang polisi wanita (polwan) di Kepolisian Resor Kota (Polresta) Banda Aceh, Yuni Lestari ditugaskan ke Afrika Tengah sebagai pasukan perdamaian.
0
Pencarian ABK Sulsel di Laut Maluku Terkendala Cuaca
Pencarian Anak Buah Kapal (ABK) asal Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan yang jatuh di laut Maluku belum ditemukan.