UNTUK INDONESIA
Penyebab PKL Taman Menara Kudus Sepi Pengunjung
PKL Taman Menara Kudus mengeluhkan sepinya pembeli. Perubahan jalur wisata dituding menjadi penyebab.
Deretan kios pedagang di Taman Menara Kudus banyak yang tutup karena sepi pengunjung. (Foto: Tagal/Nila Niswatul Chusna)

Kudus - Belasan usaha kecil di Taman Menara Kudus terancam gulung tikar. Para pedagang kaki lima (PKL) lebih memilih menutup kios dan tidak melakukan aktivitas usaha lantaran sepinya pengunjung

Pantauan di lapangan, Rabu, 4 Maret 2020, sekira pukul 09.00 WIB, bagian depan taman tersebut tampak ramai. Belasan pengemudi ojek sudah mangkal, sembari sesekali menawarkan jasa pengantaran kepada pejalan kaki yang melintas.

Sebuah gapura berarsitektur kuno dengan papan bertuliskan pusat oleh-oleh khas Kudus, pangkalan angkutan becak dan ojek, serta obyek wisata Taman Menara tertempel di dinding bangunan di selatan gapura. Papan itu menjadi satu-satunya petunjuk bagi pengunjung untuk masuk ke sana.

Bangunan gapura dibangun tahun 2015, terlihat tidak sejajar dengan bangunan kios PKL. Akibatnya aktivitas perdagangan di dalam lorong tidak nampak dari jalanan. Tak sedikit pengunjung yang terkecoh dan mengira bangunan tersebut adalah fasilitas toilet umum.

Memasuki lorong kios, suasana sepi begitu terasa. Hanya segelintir pedagang yang melakukan aktivitas. Ada yang tengah menata dagangan tapi ada juga yang duduk santai sembari mengobrol dengan pedagang di kios di sebelahnya. Hanya sekitar 10 kios yang buka pagi itu, sisanya tertutup.

Kami tidak minta yang aneh-aneh. Kami hanya minta agar rombongan peziarah dilewatkan sini. Biar lapak kami ramai juga.

Dewi, 50 tahun, salah satu pedagang mengatakan sudah bertahun-tahun usaha oleh-oleh di Taman Menara sepi pengunjung. Puncak paceklik terjadi setahun terakhir. "Setiap hari biasa memang sepi seperti ini. Ramainya itu pas Sabtu dan Minggu saja, itu pun jumlahnya tidak seberapa," kata dia sambil menyapu jalanan di depan kiosnya.

Tiga tahun berjualan, Dewi mengaku kerap tidak mendapat pendapatan lantaran tidak ada pengunjung yang membeli dagangannya. Meski begitu, ia masih tetap berjualan dengan harapan ada pengunjung yang datang dan membeli. 

Pedagang menduga perubahan jalur lalu lintas dan pangkalan transportasi wisata Sunan Kudus menjadi penyebab sepinya kunjungan wisatawan. "Dulu waktu masih ada becak, ojek dan angkutan yang mangkal di sini, kawasan ini sangat ramai. Sejak dipindah ke Terminal Bakalankrapyak semua dan jalur lalu lintasnya diubah, jadi seperti ini," tutur dia.

Kartinah, 41 tahun, pedagang lain menambahkan kondisi itu masih ditambah peziarah dari Terminal Bakalankrapyak langsung diturunkan oleh pengemudi becak langsung di depan Makam Sunan Kudus. Dan saat balik, mereka langsung diajak kembali ke terminal. Sehingga tidak ada kesempatan bagi wisatawan untuk mampir ke pusat oleh-oleh Taman Menara. 

"Hal ini yang membuat lapak kami makin sepi," ucapnya. 

Para pedagang berharap Pemerintah Kabupaten Kudus bisa mengubah jalur trasportasi wisata yang ada. Sehingga para peziarah bisa melintas di depan kios-kios PKL Taman Menara. "Kami tidak minta yang aneh-aneh. Kami hanya minta agar rombongan peziarah dilewatkan sini. Biar lapak kami ramai juga," sebut dia

Permasalahan tersebut sudah dilaporkan para PKL kepada Plt Bupati Kudus HM Hartopo dalam audiensi di Pendopo Kudus belum lama ini. Dalam kesempatan tersebut, Hartopo menginstruksikan Dinas Perhubungan untuk mengubah jalur transportasi wisata.

Diketahui, pada awal tahun 2018 Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus melakukan perubahan jalur dan pangkalan transportasi wisata makam Sunan Kudus. Kebijakan ini untuk mengurangi tingkat kemacetan dan kesan semrawut yang kerap muncul di kawasan Taman Menara. []

(Nila Niswatul Chusna)

Baca juga: 

Berita terkait
Pemko Sibolga Pelihara Pedagang Liar di Pasar Nauli
Sejumlah pedagang ayam potong di Pusat Pasar Nauli, Kota Sibolga, merasa diperlakukan tidak adil oleh pemerintah kota.
Mengganggu, Lapak Pedagang di Makassar Ditertibkan
Satpol PP Pemerintah Kota Makassar menertibkan lapak pedagang kaki lima yang mengganggu ketertiban dan kenyamanan warga Mappanyukki.
Pedagang Pasar Sibolga Merugi Akibat PKL
Pedagang di Pasar Sibolga Nauli, merugi akibat maraknya pedagang kaki lima (PKL).
0
Verifikasi MBR, Alasan Risma Belum Salurkan Bansos
Saat ini sudah 65.925 KK yang sudah diverifikasi oleh Pemkot Surabaya untuk nantinya mendapatkan Bansos dari Kemensos.