UNTUK INDONESIA
Pengakuan Ojol Dikeroyok 10 Debt Collector di Sleman
Ojol dikeroyok debt collector usai melerai rekan sesama ojol yang motornya ditarik paksa di pinggir jalan di Sleman, Yogyakarta.
Ratusan ojol Grab dan Gojek menggeruduk salah satu leasing di Sleman, Yogyakarta pada Rabu, 4 Maret 2020. (Foto: Tagar/Evi Nur Afiah)

Sleman - Seorang driver ojek online (ojol) bernama Luthfi Aditya Kusuma, 29 tahun, dianiaya dan dikeroyok oleh sekelompok debt collector (DC). Saat itu dia melerai rekan sesama ojol yang kendaraannya akan ditarik paksa.

Peristiwa itu terjadi di Jalan Wahid Hasyim, Condongcatur, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta pada Selasa, 3 Maret 2020 sore. Aksi pengeroyokan ini viral di media sosial.

Akibat penggeroyakan tersebut, korban mengalami luka memar di kening dan kepala bagian belakang. Korban yang terluka ini memicu kemarahan para driver ojol. Atas dasar itu, ratusan mitra baik dari Gojek dan Grab menggerudug kantor leasing yang berada di jalan Wahid Hasyim.

Pantauan di lapangan, ratusan ojol jergerak menghijaukan area kantor leasing sebagai bentuk solidaritas sesama profesi. Mereka menuntut agar leasing tempat DC bekerja, beritikad baik terhadap korban. Namun leasing tidak mengindahkan karena kantor ditutup seakan-akan tidak berpenghuni.

Aditya, selaku korban pengeroyokan DC yang berdomisili di Kulon Progo ini mengaku melerai apa yang dilakukan DC saat merebut paksa motor rekannya sesama ojol di pinggir jalan. 

"Sekitar jam 6 sore kemarin ada teman sesama ojol diberhentiin yang ngaku DC mau ditarik karena nunggak satu bulan," kata Aditya kepada wartawan di Polsek Depok Timur usai melaporkan kasusnya pada Rabu, 4 Maret 2020.

Habis itu DC bilang sama saya dikira saya jagoan akhirnya dikeroyok lebih dari 10 orang.

Dia mengatakan saat kejadian, awalnya hanya ada dua orang DC yang menghampiri temannya dengan menggunakan sepeda motor. Mereka memaksa temannya untuk segera menyerahkan motornya. Saat itu Aditya sedang melintas dan melihat perbuatan DC yang semena-mena terhadap rekannya.

Ojol korban Debt Collector di SlemanLuthfi Aditya Kusuma, korban driver ojek online mengaku dikeroyok 10 debt collector saat memberikan keterangan kepada wartawan pada Rabu, 4 Maret 2020. (Foto Tagar/Evi Nur Afiah).

Aditya merasa memiliki ikatan sesama ojol, akhirnya berhenti dan bertanya ada apa. "Saya tanya kenapa. Rekan saya jawab motor saya mau ditarik. Saya bilanglah kalau mau narik harus ada surat penarikannya. Bukannya prosedur harus ditarik di rumah," kata dia.

Kedua DC tersebut lantas menelpon rekan-rekannya. Aditya menyuruh rekannya untuk pergi dahulu. Dia tetap di lokasi karena takut rekannya dibuntuti. "Habis itu DC bilang sama saya dikira saya jagoan akhirnya dikeroyok lebih dari 10 orang. Mereka mengancam kalau pun kalian 1.000 ojol kita tidak akan takut," ucapnya menirukan perkataan DC..

Pengeroyokan berlangsung cepat karena warga melihat kejadian tersebut. Pelaku langsung lari meninggalkan lokasi. Aksi penggeroyakan direkam oleh warga dan viral. Setelah kejadian, korban melakukan pemeriksaan untuk memperkuat laporan ke polisi.

Kepala Unit Reskrim Polsek Depok Timur Inspektur Satu Dewo Mahardian mengatakan laporan korban sudah diterima. Saat ini masih dalam pemeriksaan. "Laporan Polisi nya ada dugaan penganiayaan tapi belum tahu pasti. Yang pasti ada kejadian dua belah pihak terjadi benturan tapi belum dipastikan pengeroyokan atau pemukulan biasa," ucapnya. []

Baca Juga:

Berita terkait
Pelajar Bermobil Mewah Tabrak Ojol Cantik di Sleman
Seorang driver ojol perempuan ditabrak mobil yang dikendarai siswi di Jalan Kaliurang Sleman, Yogyakarta.
Ojol Dapat Order Korban Meninggal SMPN 1 Turi Sleman
Saat kejadian susur yang menyebabkan 10 pelajar SMPN 1 Turi Slema meninggal, ada hal aneh. Tiga ojol mendapar order dari korban yang meninggal.
Ojol Penegur Pelanggar Lalu Lintas di Yogyakarta
Pengendara kerap melanggar jalur satu arah, seperti di Yogyakarta. Seorang driver online memberanikan diri menegur mereka dengan risiko dicaci.
0
Khofifah: May Day Risiko Besar Penularan Covid-19
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa meminta kepada buruh untuk tidak turun ke jalan memperingati May Day Hari Buruh Internasional.