UNTUK INDONESIA
Masker Pengantin di Bantaeng Bikin Secantik Syahrini
Situasi sulit bisa membuat orang menyerah dan kalah, bisa juga membuat seseorang menemukan potensi terbaiknya. Fani di Bantaeng memilih yag kedua.
Model pengantin menggunakan rias dan gaun pengantin FanyBridalhouse. (Foto: Dok Pribadi)

Bantaeng - Situasi sulit bisa membuat orang menyerah dan kalah, bisa juga membuat seseorang menemukan potensi terbaiknya. Baiq Prasulfyani, 29 tahun, ibu satu anak, akrab disapa Fany memilih tipe kedua. Sebagai seorang dengan profesi perias pengantin, Fany di tengah situasi pandemi Covid-19 membuat rancangan masker khusus untuk pengantin.  

Fany pemilik FanyBridalHouse di Jalan Poros Panaikang nomor 17, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng. Ia memperkenalkan masker rancangannya di Facebook, Kamis, 2 Juli 2020. Di antaranya masker berwarna merah dengan detail yang memikat.

Fany membuat aksesoris masker sebagai kelengkapan pengantin sejak awal pandemi menyerang Indonesia. Ia terinspirasi seorang desainer yang ia sebut andalan tanpa menyebut namanya.

Minggu, 5 Juli 2020, Fany menceritakan perjalanan kariernya kepada Tagar. Ia mencintai pekerjaannya yang ia tekuni sejak Agustus 2017. Ia menempuh pendidikan khusus untuk itu.

Kasih keluar koleksi masker renda juga dong, keren dipakai pergi salat id, versi putihnya jadi kayak ala-ala Syahrini.

Pengantin BantaengFany (kiri) sedang merias pengantin. (Foto: Dok Pribadi)

Fany merasakan pandemi memukul usahanya. Saat pemerintah meminta masyarakat di rumah saja untuk menghindari penularan virus, beberapa kliennya menunda perjanjian hingga waktu yang tidak bisa ditentukan. "Banyak yang reschedule, apalagi klien yang rencananya menikah dan resepsi di hotel-hotel di Makassar, semua batal karena pihak hotel belum bisa membuat acara," tutur Fany.

Situasi itu membuatnya berpikir keras, tantangan yang mendorongnya berpikir kreatif. Apalagi kemudian pemerintah mengumumkan new normal atau kenormalan baru. Boleh beraktivitas di luar rumah, boleh membua kegiatan-kegiatan dengan protokol kesehatan yang ketat, di antaranya memakai masker, jaga jarak, dan cuci tangan pakai sabun.

Para pasangan kekasih yang ingin menikah pun boleh menggelar acara, syaratnya ya itu, menerapkan protokol kesehatan. 

Beradaptasi dengan keadaan, memahami kebutuhan pengantin pada masa pandemi. Fany menciptakan masker yang indah, bukan sekadar fungsi, tapi juga memperhatikan detail estetika. Sehingga acara pernikahan tetap bisa digelar dan terhindar dari risiko penularan virus.

Pengantin BantaengBaiq Prasulfyani atau Fany, perias pengantin di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. (Foto: Dok Pribadi)

Fany selama sebulan bergelut dengan kain dan pernak-pernik untuk menciptakan paduan yang serasi. "Kendalanya alhamdulillah tidak ada, tapi yang menjadi beban pikiran kalau klien memakai masker otomatis lisptiknya kan rusak."

Ia menepis pikiran-pikiran yang tidak perlu, menyibukkan diri memilih jenis kain khusus, jari-jemarinya lincah menjahit, membentuk pola masker berwarna merah marun. Fany memperagakan hasil karyanya pada seorang model, mengumumkannya di Facebook. Banyak netizen memujinya, memesannya, ada pula yang memberikan saran membuat karya model lain. 

"Kasih keluar koleksi masker renda juga dong, keren dipakai pergi salat id, versi putihnya jadi kayak ala-ala Syahrini," tulis akun Muti'ah Sumarno.

"Excellent, beh mewahnya dilihat," tulis akun Black Smada.

Fany senang membaca komentar-komentar tersebut, makin bersemangat untuk berkarya. "Banyak pesaing, maka harus tetap belajar dan belajar lagi."

Pengantin BantaengPengantin bermasker karya rumah pengantin FanyBridalHouse. (Foto: Dok Pribadi)

Sebelum masker pengantin, Fany sudah terkenal dengan karya-karya gaun pengantin adat Sulawesi Selatan, gaun pre-wedding, gaun lamaran, gaun akad sampai resepsi.

Fany seorang yang ramah dan murah senyum, tangan dinginnya bisa membuat mempelai perempuan sangat cantik saat jadi ratu sehari. Lucunya, ia tidak bisa merias diri sendiri. "Sejak masih gadis saya sebenarnya tidak tahu make up, sampai sekarang pun saya jarang make up karena tidak tahu menggunakan make up sendiri. Tapi entah mengapa saya bisa make up di wajah orang lain."

Ia yang ternyata masih menyimpan cita-cita jadi guru ini merencanakan ke depan membuat galeri baju, galeri yang luas.

Saat ini ia menjalani saja hari-hari dengan memperhatikan protokol kesehatan. "Tetap menggunakan masker, hand sanitizer juga wajib ada terus di kantong, dan melarang anggota klien lain masuk di ruangan saat make up, biar saya tidak kontak langsung sama orang-orang."

Belajar Otodidak Dibantu Suami

Fany terinspirasi membuat masker pengantin di masa pandemi, setelah melihat karya salah satu desainer andalannya. Mengingat masker saat ini adalah sebuah kebutuhan dan keharusan akibat virus corona, Fany kemudian mempelajari cara-cara membuat masker yang cantik. Ia mengawali dengan menggunakan bahan seadanya.

"Masker Do It Yourself atau DIY yang saya buat dari kain sisa baju pengantin," kata Fany.

Masker pengantin perdana dibuatnya terbuat dari kain renda atau brokat dipadukan dengan beberapa payet untuk menciptakan motif yang sesuai.

Berbeda dengan keahlian merias wajah yang ia pelajari lewat kursus privat kursus, membuat masker pengantin ia pelajari secara otodidak, yakni dengan melihat beberapa video tutorial di YouTube.

Setelah mendapat inspirasi tersebut, selain menonton video tutorial, ia bersigap membaca referensi-referensi di internet perihal cara pembuatan masker untuk memperkaya pengetahuannya. Pertama-tama, kata Fany, ia belajar membuat pola dasar masker.

Dalam membuat masker, Fany tidak bekerja sendiri. Ia dibantu suami yang mahir menggunakan mesin jahit manual. Suaminya mendapatkan kemahiran mengoperasikan mesin jahit manual itu juga denga belajar otodidak.

"Setelah membuat pola dasar di karton, kemudian diaplikasikan ke kain," tutur Fany.

Setelah pola terbentuk, giliran suaminya yang beraksi. Dengan cekatan, hasil belajar menggunakan mesin jahit yang juga otodidak kini bisa berbuah hasil. Kain-kain yang sudah menyatu dalam jahitan, sentuhan akhirnya adalah pemberian payet. 

Nah, kata Fany, "Pemberian payet ini yang harus jeli, tidak boleh berlebihan atau kurang, karena payet yang berlebihan atau penempatan yang kurang tepat bisa mengganggu rias pengantin secara keseluruhan." []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Malam Jumat Kliwon di Alun-alun Selatan Yogyakarta
Ada mitos apabila bisa berjalan lurus dengan mata tertutup di antara dua pohon beringin di Alun-alun Selatan Yogyakarta, hajat atau doa terkabul.
Sayuran dan Sembako Bertebaran di Yogyakarta, Gratis
Aneka sayuran itu rapi dalam ikatan-ikatan, ada juga bahan pangan dalam kantong digantung. Warga Yogyakarta boleh ambil, gratis, sesuai kebutuhan.
Kisah Udin, Tukang Cukur di Bawah Pohon Beringin Yogyakarta
Dulu saya mulai nyukur saat tarif parkir sepeda motor masih Rp 100, mobil Rp 200. Kisah Udin, tukang cukur di bawah pohon beringin di Yogyakarta.
0
Masker Pengantin di Bantaeng Bikin Secantik Syahrini
Situasi sulit bisa membuat orang menyerah dan kalah, bisa juga membuat seseorang menemukan potensi terbaiknya. Fani di Bantaeng memilih yag kedua.