UNTUK INDONESIA
Peluh Keringat Buruh Gendong Usia Senja di Yogyakarta
Perempuan-perempuan berusia senja itu begitu perkasa, menjadi buruh gendong bahkan buruh panggul di Pasar Beringharjo Yogyakarta. Ini kisah mereka.
Dua buruh gendong di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, Sawit, 64 tahun (kiri) dan Tuminah, 58 tahun (kanan), menapaki undakan di Pasar Beringharjo, Jumat, 17 Juli 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Yogyakarta - Buruh gendong atau buruh panggul seperti menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan dari nadi kehidupan Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Sejak puluhan tahun lalu, para perempuan tangguh yang berprofesi sebagai buruh gendong, menggantungkan hidup di situ.

Suasana Pasar Beringharjo hari itu, Jumat, 17 Juli 2020, tidak terlalu ramai, meski tak lagi sesunyi beberapa pekan sebelumnya. Pengunjung dan para pedagang terlihat bertransaksi di beberapa lapak.

Di lantai dua pasar tradisional terbesar di Yogyakarta itu, beberapa perempuan buruh gendong melintas dengan karung di punggungnya. Mereka harus naik dan turun tangga sambil membawa beban itu.

Hampir semua buruh gendong menggunakan semacam selendang untuk menahan beratnya barang. Beberapa di antara mereka tidak lagi muda, tapi semangat mereka untuk berjuang menjalani hidup, patut dicontoh oleh para pemuda.

Seorang perempuan buruh gendong duduk di samping salah satu lapak penjual emping. Wajahnya tertutup face shield bening, sementara masker kain yang dikenakannya melorot sampai ke dagu.

Dia mengaku mengenakan face shield sebagai salah satu upaya pencegahan penularan Covid-19. Sebab Tuminah khawatir tertular Covid-19. Tapi, saat mengenakan face shield, dia sengaja menurunkan maskernya.

Buruh gendong itu, Tuminah, 58 tahun, beristirahat sambil menunggu orang yang akan menggunakan jasanya. Baik juragan penjual emping melinjo maupun pembeli di pasar itu.

Saya sejak usia 12 tahun jadi buruh gendong, sekarang usia saya 58.

Buruh Gendong YogyakartaSorang buruh gendong di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, dengan barang bawaan di punggungnya, Jumat, 17 Juli 2020. Sebagian besar buruh gendong menggunakan semacam selendang untuk mengikat bawaan. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Tuminah mengaku sudah 46 tahun berprofesi sebagai buruh gendong di Pasar Beringharjo, tepatnya sejak dia masih berusia 12 tahun. Sejak usia 25 tahun Tuminah membantu juragannya, penjual emping melinjo.

"Kulo ket umur 12 tahun, sakniki umur kulo 58, mang etungke mawon. Kulo mboten pener ngetung, lha mboten sekolah blas e. Tumut juragane umur 25 tahun. (Saya sejak usia 12 tahun jadi buruh gendong, sekarang usia saya 58, kamu hitung saja sudah berapa lama. Saya tidak pintar berhitung karena sama sekali tidak sekolah. Ikut juragan sejak usia 25 tahun)," tuturnya.

Namun, sejak pandemi Covid-19, pengunjung pasar berkurang drastis, yang berdampak pada menurunnya penghasilan buruh gendong termasuk dirinya. Terlebih selama ini Tuminah berharap banyak dari pelanggan emping juragannya, walaupun tanpa pelanggan dirinya tetap mendapatkan upah hasil menggendong barang dagangan sang juragan.

Meski penghasilannya dari upah gendong barang milik pembeli menurun, Tuminah tetap bersyukur. Sebab, pemerintah peduli pada nasib para buruh gendong dengan memberikan bantuan sembako.

"Ning alhamdulillah, wong buruh gendong niku entuk rezeki akeh. Mergane diparingi sembako kalih pemerintah. Diparingi beras, werni-werni, gulo, teh, lengo, dadi nggih maem mencukupi. (Tapi alhamdulillah buruh gendong itu dapat rezeki banyak. Sebab diberi sembako dari pemerintah. Diberi beras, macam-macam, gula, teh, minyak, jadi untuk makan mencukupi)," ujarnya.

Hanya saja karena penghasilannya menurun, uang jajan untuk cucu-cucunya berkurang.

Pada awal pandemi, sang juragan sempat tidak berangkat ke pasar. Tuminah pun sempat menyarankan agar juragannya meliburkan diri. Tapi sang juragan enggan. Dia tetap membuka jualannya dan mempercayakan penjualan kepada anak buahnya. "Kulo menyang terus, kadang-kadang wonten gendongan, nggo nyangoni putune. (Saya berangkat terus, kadang-kadang ada gendongan, untuk memberi uang jajan cucu)."

Buruh Gendong YogyakartaSeorang buruh gendong di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, Tuminah, 58 tahun, mengenakan faceshield untuk mencegah penularan Covid-19, Jumat, 17 Juli 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Penghasilan Rp 60 Ribu Per Hari

Selama pandemi, kata Tuminah, dalam sehari dia bisa mendapatkan upah dari pelanggan yang menggunakan jasa gendongnya hingga Rp 60 ribu. Tapi kadang sama sekali tidak ada orang yang menggunakan jasanya.

Uang jasa gendong bukan hanya tergantung pada beratnya barang yang dipanggul, tetapi juga dari negosiasi serta jenis barang. Secara umum, untuk barang berat dipatok harga Rp 10 ribu sekali gendong, sedangkan untuk barang ringan sebesar Rp 5 ribu.

Tapi tarif itu tidak berlaku untuk jasa gendong beras. Tarif menggendong beras hanya Rp 4 ribu untuk setengah kuintalnya. Alasannya karena keuntungan penjual beras hanya sedikit.

"Nek beras niku setengah kuintal patang ewu, kan abot. Ning nek beras bathine mung sithik. Nek polowijo meso. (Kalau beras setengah kuintal Rp 4 ribu, padahal kan berat. Tapi keuntungan menjual beras cuma sedikit. Kalau palawija agak mendingan)," tuturnya.

Rezeki dari menjual jasa sebagai buruh gendong, membuat Tuminah meyakini bahwa Tuhan akan selalu memberi rezeki, termasuk saat pandemi. Itu dialami Tuminah selama ini.

Sebagai buruh gendong, Tuminah tidak memiliki jam kerja yang pasti. Tapi, setiap hari sebelum pukul 07.00 WIB, dia sudah ada di Pasar Beringharjo.

Dia berangkat dari rumahnya di Kelurahan Donotirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, diantar anaknya, yang saat ini tidak lagi bekerja akibat terkena PHK karena pandemi. Pulangnya Tuminah juga dijemput sang anak.

Buruh Gendong YogyakartaDua buruh gendong di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, Tuminah, 58 tahun (kiri) dan Sawit, 64 tahun (kanan) bersiap menggendong barang, Jumat, 17 Juli 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Setiap pagi, selain menggendong barang-barang milik sang juragan, dia sekaligus membantu sang juragan mengatur lapak tempat jualan. Upah dari juragan itu menjadi penghasilan tetapnya selama ini. "Nek sakniki siang, jam 2 pun mulai kukut, mergo siang menika sepi mboten wonten wong tuku. (Kalau sekarang siang sudah tutup, jam 14.00 mulai persiapan tutup, sebab siang sudah jarang pembeli)."

Ia kemudian menceritakan kondisi sebelum pandemi, "Nek riyen gek dereng wonten corona, meniko jam papat mulai kukut, njuk setengah limo rampung, melu bus. (Kalau dulu sebelum ada Corona, jam empat mulai siap-siap tutup, jam setengah lima sudah selesai, pulang naik bus)."

Jumlah buruh gendong di Pasar Beringharjo, kata Tuminah, bertambah sejak pandemi Covid-19, sebab semakin banyak orang yang menganggur dan membutuhkan pekerjaan.

Saat ini, dia memperkirakan ada sekitar 500-an buruh gendong di pasar itu, mulai dari yang masih muda hingga yang sudah berusia cukup lanjut. "Nopo meneh sakniki, kathah sing nganggur, mboten duwe gawean, dadi kathah sing mriki. (Apalagi sekarang, banyak yang menganggur, tidak memiliki pekerjaan, jadi banyak yang ke sini)."

Sawit, 64 tahun, seorang buruh gendong, rekan kerja Tuminah, sudah 37 tahun berprofesi sebagai buruh gendong, mengatakan hal sama. Menurutnya pengguna jasa gendong menurun drastis. Saat ini dia hanya mendapatkan penghasilan sebesar Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu per hari dari jasa gendong.

Ia mengaku jarang menerima order jasa gendong, sebab dia sudah memiliki penghasilan tetap dari mengangkat barang jualan milik sang juragan. 

"Penghasilan nggih turun kathah. Biasane nggih angsal Rp 30 ewu. Kulo le nggendong awis-awis soale tumut juragane. Nek sakniki nggih kadang 5 ewu, kadang 10, kadang boten nggendong. (Penghasilan turun banyak. Biasanya dapat Rp30 ribu. Sekarang saya jarang menggendong karena bekerja pada juragan. Kalau sekarang ya kadang dapat Rp5 ribu, kadang Rp10 ribu, kadang juga tidak menggendong)," tutur Sawit. 

Buruh Gendong YogyakartaTugirah, 72 tahun, juragan emping yang mempekerjakan buruh gendong. Hasil jualannya juga digunakan untuk membiayai empat anaknya hingga semua menjadi sarjana. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Juragan Kasihani Karyawan

Tugirah, 72 tahun, juragan Tuminah dan Sawit, mengatakan memang benar selama pandemi omzet penjualan menurun drastis. Bahkan, dirinya yang sebelum pandemi rutin mengirim barang ke beberapa daerah di Indonesia, terpaksa hanya mengirim ke daerah Bandung.

Sejak menjadi pedagang tahun 1967, kata Tugirah, kondisi saat ini merupakan yang terparah. "Kulo (saya) enggak tutup, tapi yang menjual karyawan-karyawan. Karyawan sampai bertanya, 'Bu apa saya libur saja?' Tapi saya kasihan sama karyawan, kalau enggak kerja nanti makan apa? Saya tetap bayar gaji seperti biasa."

Perempuan yang keempat anaknya sudah sarjana ini mengaku sempat nombok untuk menggaji karyawan, tapi itu tidak berlangsung lama, hanya sekitar sebulan pertama setelah pandemi. Masing-masing karyawan diberi gaji Rp 50 ribu per hari. "Tapi ya cuma sebulan, setelah itu masuk biasa-biasa saja. Kalau saya alhamdulillah kalau enggak laku emping ya laku mete, kalau enggak laku mete ya laku abon, gitu."

Saat awal pandemi, abon menjadi barang jualannya yang paling laris, sebab banyak orang membeli abon untuk didonasikan kepada warga terdampak Covid-19. "Soalnya untuk bantuan-bantuan, jadi alhamdulillah untuk bayar karyawan. Kalau enggak payon abon. Kalau sekarang malah abon kembali biasa pembeliannya."

Mengenai hasil menjual di pasar sejak tahun 1967, Tugirah dengan bangga mengatakan dia bisa menabung untuk menyekolahkan dan menguliahkan empat anaknya. 

Saat ini anak pertama Tugirah bekerja sebagai hakim di Pengadilan Negeri (PN) Yogyakarta, sementara anak kedua bekerja di perusahaan swasta di Amerika, anak ketiga berprofesi sebagai guru di SMKN 7 Yogyakarta, dan anak bungsunya bekerja di perusahaan swasta di Jakarta.

Tugirah mensyukuri itu semua, "Alhamdulillah saya berdagang di sini bisa menabung untuk menyekolahkan anak saya. Sekarang sudah bisa ngasih ibunya, untuk sopir, untuk obat bapaknya karena stroke. Bapak pensiunan guru. Alhamdulillah anaknya bisa membiayai bapak." []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Nenek Penjual Lopis dengan Nomor Antrean di Yogyakarta
Pagi masih berselimut sunyi, saat Satinem, 75 tahun, tiba di persimpangan Jalan Pangeran Diponegoro dan Jalan Bumijo, Yogyakarta. Ia penjual lopis.
Malam Jumat Kliwon di Alun-alun Selatan Yogyakarta
Ada mitos apabila bisa berjalan lurus dengan mata tertutup di antara dua pohon beringin di Alun-alun Selatan Yogyakarta, hajat atau doa terkabul.
Jimat di Klithikan Pasar Beringharjo Yogyakarta
Katanya ada jimat di pasar barang antik atau Klithikan di Pasar Beringharjo Yogyakarta. Benarkah. Kita ikuti perjalanan kunjungan Tagar ke sana.
0
Peluh Keringat Buruh Gendong Usia Senja di Yogyakarta
Perempuan-perempuan berusia senja itu begitu perkasa, menjadi buruh gendong bahkan buruh panggul di Pasar Beringharjo Yogyakarta. Ini kisah mereka.