UNTUK INDONESIA
Pandemi Membuat Dunia Serasa Berhenti Berputar
Dunia seolah berhenti berputar di tengah pandemi Covid-19. Orang-orang terpenjara di dalam rumah masing-masing. Situasi ini juga terjadi di Mamuju.
Warung makanan ringan di samping Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Muhammadiyah Mamuju, Jalan H. Baharudin Lopa, Rimuku, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat., Kamis, 19 Maret 2020. (Foto: Tagar/Eka Musriang)

Mamuju, Sulawesi Barat - Dunia seolah berhenti berputar di tengah pandemi Covid-19. Orang-orang terpenjara di dalam rumah masing-masing. Tidak berani keluar. Dan memang tidak boleh keluar, kecuali ada sesuatu yang sangat penting. Agar tidak tertular atau menularkan virus. Situasi ini juga terjadi di Mamuju, Sulawesi Barat. 

Hari itu, Kamis, 19 Maret 2020, matahari tetap setia menyapa pagi, tapi keadaan begitu sepi. Orang-orang dilingkupi keresahan. Tidak banyak yang keluar rumah untuk menikmati keindahan pemandangan alam yang terhampar. 

Nyaris semua kegiatan dilakukan di rumah. Yang sekolah, belajar di rumah. Yang pegawai, bekerja di rumah. Tapi selalu ada pengecualian. Ada jenis pekerjaan yang mengharuskan orang keluar dari rumah. Kalau tidak, ia tidak mendapatkan uang untuk membeli makanan. Orang-orang yang mengandalkan pendapatan harian untuk bertahan hidup.

Pada hari itu dari kejauhan terlihat beberapa sepeda motor terparkir di depan sekretariat Grab Laskar Mamuju (GLM). Tak ada seorang pun di dekat sepeda motor itu.

Ternyata beberapa orang, driver ojek online, duduk melingkar di dalam kantor sekretariat tersebut. Mereka sibuk dengan ponsel masing-masing. Berharap-harap cemas menunggu orderan.

Wawan Konde, 23 tahun, satu di antara mereka, menceritakan betapa makin sedikit pergerakan orang dari satu tempat ke tempat lain. Berdampak pada sepinya orderan yang ia terima.

"Biasanya pagi-pagi begini kami sudah mendapatkan sebanyak 100 poin, sekarang lumayan kalau dapat 40 poin," kata Wawan.

Ia mengatakan pelanggannya umumnya adalah anak sekolah, mahasiswa, dan pegawai. Mereka semua kini beraktivitas di rumah. 

Sebelum adanya isu penyebaran virus corona, kami biasa dapat Rp 500.000 per hari. Sekarang hanya dapat Rp 100.000.

Cerita MamujuDriver ojek online, Grab Laskar Mamuju (GLM) di Mamuju, Sulawesi Barat, Kamis, 19 Maret 2020. (Foto: Tagar/Eka Musriang)

Wawan bercerita, di antara teman-temannya ada yang memiliki pekerjaan sampingan. Namun, tidak sedikit pula yang hanya berharap dari profesi ojek online.

"Ada beberapa teman kami yang memiliki pekerjaan sampingan, tapi kami sebagian hanya berharap sama orderan pelanggan ojol," ujarnya.

Ia berharap pandemi Covid-19 segera berakhir sehingga yang sekolah kembali ke sekolah, yang kuliah kembali ke kampus, yang pegawai kembali ke kantor. Sehingga ia bisa mendapatkan banyak pelanggan lagi.

"Kami hanya bisa pasrah, menunggu orderan yang ada saja," tuturnya.

***

Keadaan sunyi juga terjadi di anjungan Pantai Manakarra. Tempat ini pada kondisi normal nyaris ramai sepanjang hari. Biasanya pagi, banyak orag mencari makanan untuk sarapan. Kini hanya ada seorang pedagang kaki lima. 

Nama pedagang itu Pether, 40 tahun. Ia bercerita pendapatannya berkurang. "Mungkin pelanggan kami tidak mau keluar dari rumah karena takut penyebaran virus corona," kata Pether. 

Ia berharap orang-orang mau datang lagi padanya, membeli makanannya. Sama seperti Wawan, pelanggan Pether pada umumnya pegawai, mahasiswa, anak sekolah. "Sekarang jualan kami sangat sedikit yang terjual."

Cerita MamujuPedagang kaki lima di Jalan Yos Sudarso, Mamuju, Sulawesi Barat, Kamis, 19 Maret 2020. (Foto: Tagar/Eka Musriang)

Di sudut lain di Mamuju, Asmira, 39 tahun, menekuri makanan tahu isi yang ia buat, tak banyak disentuh pembeli. Dengan wajah murung, ia bercerita pemasukannya merosot drastis.  

"Sebelum adanya isu penyebaran virus corona, kami biasa dapat Rp 500.000 per hari. Sekarang hanya dapat Rp 100.000," kata Asmira.

Asmira hanya bisa pasrah. Yang ia bisa lakukan adalah mengurangi produksi gorengan selama pandemi. "Kami akan kurangi produksi gorengan, karena kemarin kami tidak kembali modal. Modal yang kami gunakan Rp 600.000, hanya dapat Rp 400.000."

Hal sama dialami Karmila, 47 tahun, pemilik warung makanan ringan di samping sebuah kampus di Mamuju. Ia mengatakan pengunjungnya mayoritas mahasiswa, selebihnya orang yang kebetulan lewat.

Sistem pembelajaran sekolah diubah. Dari yang tadinya murid datang ke sekolah, sekarang murid belajar di rumah. Otomatis warung makanan di sekitaran sekolah, kampus, sepi pengunjung.

"Mulai kemarin, pengunjung kami sangat kurang dan berimbas pada pendapatan kami juga," ujar Sarmila. Ia duduk di jok motor, baru saja dari pasar. 

Ia mengatakan pendapatannya berkurang 80 persen. "Sebelum pemerintah menerapkan kuliah daring, pemasukan saya mencapai Rp 500.000 per hari. Kini hanya Rp 100.000."

Sekarang ini, kata Karmila, pelanggannya hanya orang yang lewat lalu singgah. Namun, kata dia, tidak sedikit juga yang hanya singgah, duduk sebentar lalu beranjak pergi. "Mungkin mereka hanya ingin melepas lelah di tempat saya."

Cerita MamujuTahu isi, dagangan Asmira di depan pasar sentral Mamuju, Jalan Sultan Hasanuddin, Binanga, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, Kamis, 19 Maret 2020. (Foto: Tagar/Eka Musriang)

Situasi Covid-19 di Indonesia

Hingga Rabu, 29 April 2020, pandemi Covid-19 belum berakhir di Indonesia. Masyarakat muslim menjalani Ramadan dalam keprihatianan. Presiden Jokowi melarang mudik Lebaran. Larangan berlaku untuk seluruh rakyat Indonesia.

Orang-orang harus bertahan di rumah masing-masing. Tidak boleh ada kerumunan yang berpotensi terjadinya penularan virus, di mana pun, di bandara, stasiun, terminal. Kantong-kantong yang biasanya penuh lautan manusia pada musim mudik Lebaran.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerbitkan fatwa agar masyarakat menjalankan salat tarawih di rumah masing-masing. Pihak-pihak termasuk pemerintah dalam memberikan bantuan sosial untuk masyarakat, dilakukan dengan pengiriman, bukan pengumpulan banyak orang. Bantuan dikirim ke rumah masing-masing, pihak penerima manfaat.

Peta sebaran Covid-19 di Indonesia, data hingga Selasa, 28 April 2020, sebanyak 9.511 terkonfirmasi positif terinfeksi virus, dengan perincian 7.484 dalam perawatan, 1.254 sembuh, 773 meninggal.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan kasus meninggal dunia akibat virus corona tipe baru di Indonesia paling banyak berada pada rentang usia 30-59 tahun. Yaitu sebanyak 351 orang dari total kematian sebanyak 773 jiwa.

Yurianto dalam konferensi pers Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di Graha BNPB Jakarta, Selasa, menyebutkan jumlah kasus kematian terbanyak kedua pada rentang usia 60-79 tahun, yaitu 302 orang.

Sementara kasus meninggal dunia pada pasien Covid-19 yang terinfeksi di usia muda, yaitu mulai bayi hingga remaja cenderung lebih sedikit. 

"Kasus meninggal sebanyak 773 kalau kita perhatikan pada distribusi umurnya pada rentang usia 0-4 tahun sebanyak dua orang, rentang usia 5-14 tahun tiga orang, rentang usia 15-29 tahun 19 orang," ujar Yurianto.

Kasus kematian pada rentang usia di atas 80 tahun sebanyak 27 orang. Sebanyak 69 kematian lainnya masih dalam proses verifikasi ulang ke rumah sakit terkait rentang usia pasien.

Namun, Yurianto tidak menyebutkan jumlah pasien yang terinfeksi dari total kasus positif berdasarkan rentang usia, sehingga tidak diketahui persentase kasus kematian akibat Covid-19 dari jumlah pasien positif yang dikelompokan berdasarkan rentang usia.

Pada hari sebelumnya Yurianto juga menyebutkan bahwa kasus kematian disertai dengan penyakit penyerta pada pasien yaitu paling banyak hipertensi, diabetes, penyakit jantung, dan penyakit pernapasan seperti asma dan juga penyakit paru obstruktif yang sudah menahun.

Oleh karena itu Yurianto meminta masyarakat untuk mematuhi dan tetap disiplin secara terus-menerus dalam menjalankan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan juga upaya pencegahan penularan virus corona.

Masyarakat diminta untuk melakukan pencegahan dengan memakai masker bila keluar dari rumah, cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, jaga jarak fisik, menghindari kerumunan, tidak keluar dari rumah, tidak mudik sebagai upaya memutus rantai penularan Covid-19. 

Ia mengatakan upaya mencegah dan melawan Covid-19 harus dilakukan secara bersama-sama dengan bergotong royong seluruh masyarakat dengan disiplin yang kuat. []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Sejarah Malioboro dan Situasi Saat Pandemi Covid-19
Sejak pandemi Covid-19 melanda Indonesia termasuk Yogyakarta, Malioboro sepi seperti kota mati. Ini sejarah Malioboro dan situasinya kini.
Keyko Atlet Polo Air, Sebelum dan Sesudah Corona
Amazia Keyko Radisty usai berlatih fisik saat ditemui. Ini kisah atlet termuda polo air wanita di Yogyakarta, sebelum dan sesudah pandemi corona.
Listrik Gratis Tiga Bulan Darurat Covid-19
Sariman, Frida, Yuli, warga Yogyakarta menceritakan pengalaman menikmati listrik gratis dan dapat diskon di tengah situasi darurat Covid-19.
0
Kata PKS, Presiden Jokowi Lemah dan Plin Plan
Pemerintahan Jokowi periode dua ini masih saja seperti dulu. Lemah dan plin plan. Terlihat saat wabah Covid-19 melanda negara ini. Kata orang PKS.