UNTUK INDONESIA
Padi Rebah, Air Mata Petani Bantaeng Tumpah
Kisah Hawa, buruh tani di Kabupaten Bantaeng. Ibu dua anak ini mendapati sawah yang ia garap, tanaman padi rebah dihajar hujan dan angin kencang.
Padi yang rebah adalah kondisi yang menyulitkan bagi para buruh panen di Kampung Mappilawing, Kelurahan Mallilingi, Kecamatan Bantaeng, Selasa, 26 Mei 2020. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Bantaeng - Hujan deras dan angin kencang selama tiga hari membuat batang-batang padi itu rebah. Tanaman padi ambruk saling tindih. Ini terjadi di areal persawahan Kampung Mappilawing, sepanjang jalan Sungai Bialo dan Sungai Calendu, kelurahan Mallilingi, Kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Kondisi yang menyulitkan para pekerja saat menyabit atau memotong batang padi.

Perih hati petani, mereka para penggarap saja dan para pemilik sawah, hanya bisa pasrah menyaksikan tumpukan padi seperti bentangan karpet hijau. Enak dipandang, menyakitkan dirasakan, menyakitkan bagi yang mengalaminya.

Hari itu, Selasa 26 Mei 2020, sebanyak 20 petani penggarap berjibaku memanen padi rebah dalam genangan air. Mereka bersiap sejak subuh, berteduh di gubuk, rumah-rumahan di pematang sawah, menunggu hujan reda. Setelah hujan berhenti, mereka menggenapkan tekad, menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan.

Hawa, 30 tahun, satu di antara mereka. Ia mengatakan para petani penggarap itu tidak semuanya warga setempat. Ada yang datang dari desa cukup jauh. Mereka ikut memanen agar mendapat sedikit bagian untuk digunakan sebagai penyambung hidup.

"Cuma saya, suami, dan seorang saudaraku yang warga sini. Yang lain itu datang dari desa lain. Tiap musim panen mereka keliling, membantu, biar dapat bagian untuk dimakan atau dijual," tutur Hawa.

Petani BantaengPara buruh panen yang tengah sibuk menyabit batang-batang padi yang sudah rebah di Kampung Mappilawing, Kelurahan Mallilingi, Kecamatan Bantaeng, Selasa, 26 Mei 2020. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Sehari kemudian Tagar menemui Hawa di rumahnya di Jalan Sungai Bialo II, Kelurahan Mallilingi, Kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng. Ingin tahu apa yang terjadi dengan padi yang dipanen kemarin. 

Setelah intensitas angin dan curah hujan tinggi di bumi bertajuk Butta Toa ini, meski masih bisa memanen, para petani harus mendapati hasil panen yang jauh dari kata memuaskan. Tidak sedikit padi menjadi hitam karena cukup lama terendam air. Kondisi ini mengakibatkan berkurangnya kualitas gabah.

Di lahan seluas 1,5 hektare yang mereka garap, tidak sedikit bulir padi berjatuhan ke lumpur. Dengan terpaksa padi siap panen itu harus dikelola lebih cepat oleh para petani demi menghindari kerugian lebih parah. Kalau dibiarkan, bisa-bisa gabah tumbuh kembali sebelum disabit.

Yang punya sawah alhamdulillah tidak terlalu bagaimana. Dia juga ambil secukupnya karena paham kondisi begini.

Bulir-bulir padi sudah dirontokkan dari batangnya secara manual dengan papan gebyok. Para petani menanti pancaran sinar matahari untuk proses penjemuran. Namun kali ini proses akan memakan waktu lebih lama, tidak seperti biasanya, karena air merendam sawah membuat gabah mudah hancur.

"Normalnya penjemuran itu selama dua hari, ya itu kalau matahari terik. Tapi kalau semisal matahari hanya sepotong-sepotong atau kurang bagus biasanya dijemur sampai 3 atau 4 hari. Kadang-kadang ada sampai seminggu menjemur kalau matahari bahkan tidak muncul-muncul. Ya tergantung sinar matahari," tutur Hawa.

Petani BantaengGabah berwarna hitam karena terendam air dan lumpur saat batang padi rebah, hal ini bisa mengurangi kualitas beras nantinya. Kondisi panen di Kampung Mappilawing, Kelurahan Mallilingi, Kecamatan Bantaeng, Selasa, 26 Mei 2020. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Ia mengatakan hasil panen padi varietas Bromo yang ia garap turun drastis karena peristiwa padi rebah. Keadaannya tanaman padi baru mau berbuah, batang sudah patah. "Apalagi yang gabah belum menguning tapi sudah rebah, betul-betul kita sangat rugi."

Dalam situasi normal, cerita Hawa, dari 1,5 hektare lahan yang digarap para buruh petani, bisa mendapatkan hasil panen sekitar 400 karung berukuran 50 kilogram. Tapi kali ini hanya sekitar 300 karung yang didapat. Ini juga belum pasti, tergantung sedikit banyaknya bulir padi yang bisa diselamatkan. Kalau hujan lagi, tidak ada matahari, proses penjemuran tidak berjalan maksimal.

Hawa juga bercerita tentang harga pasaran varietas Bromo yang sehabis diolah disebut beras kepala. Dalam satuan harga sekilo, beras itu bisa dijual hingga Rp 4.500. Kalau diekspor harga per kilogram bisa mencapai Rp 12.000. Ia mengatakan varietas Bromo adalah padi dengan kualitas dan harga terbaik.

Hawa dan suami adalah buruh tani, bukan pemilik sawah. Mereka menggarap sepetak sawah milik orang lain. Dari hasil panen ini ia mendapat sekarung beras dari pemilik sawah. Ia menyebutnya lumayan untuk menyambung kehidupan, untuk makan sehari-hari bagi dirinya, suami, dan dua anak perempuannya.

Petani BantaengPara buruh panen yang tengah sibuk menyabit batang-batang padi yang sudah rebah di Kampung Mappilawing, Kelurahan Mallilingi, Kecamatan Bantaeng, Selasa, 26 Mei 2020. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Ia menjadi buruh panen padi sejak gadis. Berdasarkan pengalaman, Hawa mengatakan suka pola produksi padi varietas Bromo dibandingkam beberapa varietas lain, seperti Ampera, Ciliung. Menurutnya varietas Bromo bisa panen lebih cepat, cukup menunggu tiga bulan atau 90 hari.

Irigasi di sawah yang dia garap terbilang bagus, tapi air yang sempat menggenang tetap membuat Hawa dan petani lain sedikit merugi.

"Kalau lihat kondisi memang sepertinya akan rugi, karena kita bekerja ekstra cepat tapi hasilnya masih dipertanyakan. Terlalu banyak risiko memanen padi dalam kondisi rebah dan di musim penghujan, tapi lebih baik dikerjakan saja daripada tidak dapat sama sekali," tuturnya.

Menghadapi kondisi demikian Hawa dan buruh panen lain cukup pasrah, menjalani apa yang sudah menjadi kebiasaan mereka. 

Hawa merasa beruntung pemilik sawah tidak menuntut banyak pada pembagian. Pemilik sawah cukup memahami kondisi berat yang dihadapi para buruh. "Yang punya sawah alhamdulillah tidak terlalu bagaimana. Dia juga ambil secukupnya karena paham kondisi begini. Berapa modal yang buruh keluarkan selama ini, beli bibit, pupuk, racun, tapi didapat cuma segini, makanya tidak terlalu banyak menuntut." []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Saat Takbir Idul Fitri 2020 Berkumandang di Bantaeng
Allahu akbar, allahu akbar, allahu akbar, laa ilaaha illallahu wallahu akbar, allahu akbar wa lillahil hamd. Gema takbir Idul Fitri di Bantaeng.
Salaman Lebaran di Tengah Pandemi Covid-19
Idul Fitri 2020 terasa aneh, ganjil, di tengah pandemi Covid-19. Ancaman virus mematikan seketika melenyapkan budaya salaman pada hari Lebaran.
Seni Menyablon Papadev di Bantaeng
Nirman berdiri di antara tumpukan lebih dari 1000 lembar goodie bag berwarna hitam, pesanan pelanggan. Ia gesit, sangat menguasai pekerjaannya.
0
Padi Rebah, Air Mata Petani Bantaeng Tumpah
Kisah Hawa, buruh tani di Kabupaten Bantaeng. Ibu dua anak ini mendapati sawah yang ia garap, tanaman padi rebah dihajar hujan dan angin kencang.