UNTUK INDONESIA
Omzet Ratusan Juta Mantan Pelayan Warung Kopi Bulukumba
Mantan pelayan warung kopi di Bulukumba, Sulawesi Selatan, berhasil mendirikan warung kopi sendiri dan beromzet hingga ratusan juta per bulan.
Supardi, 25 tahun pemilik Warung Kopi Jallo, di Bulukumba, Sulawesi Selatan, sedang meracik kopi. (Foto: Tagar/Muh Afriansyah Lahia)

Bulukumba – Aroma khas kopi tercium di sekitar Warung Kopi (Warkop) Jallo, di kawasan Pasar Sentral Bulukumba, Kecamatan Ujung Bulu, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Wangi itu semakin semerbak saat memasuki warung kopi. Terlebih saat pemilik menyeduh kopi di situ. Asap yang mengepul dari kopi yang dituangi air mendidih menyebar ke seluruh sudut ruangan.

Tangan-tangan barista peracik kopi terlihat lincah memegang saringan kopi dari kain sambil menuangkan air mendidih.

Suara para pengunjung yang bercakap-cakap seperti tak dihiraukan oleh peracik kopi. Tatap matanya fokus pada air yang dituang, agar menghasilkan racikan kopi enak dengan aroma yang tajam.

Buka Mulai Pukul 06.00

Warung kopi ini menjadi salah satu lokasi nongkrong favorit bagi para pecinta kopi di Kabupaten Bulukumba yang berjuluk Butta Panrita Lopi tersebut. Kadang sesudah waktu Subuh sejumlah orang sudah duduk di kursi-kursi Warkop Jallo.

Saking ramainya dikunjungi pelanggan, Warkop Jallo seperti menjadi ikon warung kopi di Kabupaten Bulukumba. Para penikmat kopi merasa tidak lengkap jika berkunjung ke Bulukumba tanpa menyeruput kopi di warkop tersebut.

Supardi, 25 tahun, pemilik Warkop Jallo, menjelaskan, warung kopi miliknya dibuka mulai pukul 06.00 hingga pukul 23.30 WITA. Bahkan tak jarang Supardi harus menunggu pelanggan yang masih betah duduk di warkopnya hingga pukul 00.30 WITA.

Supardi yang akrab disapa Jallo ini menjelaskan bahwa kopi yang dijualnya hanya satu jenis, yakni Kopi Robusta dari Kabupaten Toraja.

"Kopi Toraja, tapi yang produksi adalah kopi Setia, dan juga ada agennya di Bulukumba sehingga saya dengan mudah membeli kopi itu," ucap Supardi, Sabtu 10 Oktober 2020.

Supardi sengaja memilih kopi jenis Robusta sebagai bahan kopi seduhannya, sebab menurutnya kopi jenis Robusta memiliki aroma yang lebih mantap. Aroma itulah yang disukai oleh para pelanggannya.

Kopi robusta racikan. Karena kopi terlihat segar dan panas, paling digemari pelanggan.

"Yah karena aroma kopinya. Aroma rasa khas Jallo yang dirindukan oleh banyak pelanggan," sebut Supardi.

Meski warung kopi miliknya terlihat sederhana dan berada di kawsan pasar tradisional, omzet penjualan kopi di situ bisa mencapai ratusan juta rupiah dalam sebulan.

Dalam sehari Supardi bisa menjual minimal 30 gelas kopi. Itu merupakan akumulasi kopi gelas besar dan gelas kecil. Segelas kecil kopi susu dijual dengan harga Rp 5 ribu, sementara untuk ukuran gelas besar dipatok harga Rp 7 ribu.

Cerita Warkop di Bulukumba (2)Warung Kopi Jallo yang terletak di kawasan Pasar Sentral Bulukumba, Sulawesi Selatan. (Foto: Tagar/ Muh Afriansyah Lahia)

Menurutnya, sebagian pelanggan lebih menyukai kopi dengan gelas kecil, sebab aroma dan citarasa kopi Robustanya lebih terasa.

"Ukuran gelas paling bagus menggunakan gelas kecil. Itu sudah pas rasanya kopi susu. Dalam sehari itu sekitar 30 gelas lakunya," sebutnya.

Saat ini pelanggan kopi di Warkop Jallo terdiri dari beragam kalangan, mulai dari mahasiswa, pelajar, TNI, Polri, ASN, hingga para jurnalis yang kadang mengetik berita di warung kopinya.

Berawal dari Pelayan

Supardi mengenang saat awal dirinya merintis usaha warung kopi tersebut pada bulan Maret tahun 2017.

Dia menjelaskan, sebelum membuka usaha warung kopi Jallo. Dia pernah bekerja di salah satu warung kopi di Kota Bulukumba, sebagai pelayan. Di sana dia bekerja selama enam tahun, terhitung sejak 2006 hingga 2011. Saat itu dia masih bersekolah.

"Warkop Dua Tellue saya sebagai pelayan dan sempat diajar sedikit demi sedikit oleh owner Warkop Dua Tllue, Haji Arifuddin atau biasa dikenal Haji Anto," ucap Supardi mengenang.

Saat bekerja di situlah nama Jallo mulai melekat padanya. Pemilik Warkop Dua Tellue sering memanggilnya dengan sapaan Jallo, tapi sampai saat ini Supardi tidak mengetahui penyebab mantan bosnya kerap memanggilnya dengan sapaan Jallo.

"Owner warkop dua tellue yang berikan itu nama Jallo, sampai saya gunakan sampai sekarang," ucap Supardi.

Tak lama kemudian. Awal tahun 2012 lalu, Supardi memilih pindah tempat kerja. Ia beralih ke Warkop Kampoeng. Di sana, dia tetap sebagai pelayan warung kopi.

Hingga akhirnya pemilik warkop Kampoeng itu memberikan kepercayaan terhadap Supardi sebagai barista (peracik kopi). Selain sebagai peracik kopi, dirinya juga tidak meninggalkan pendidikan.

Ayah satu orang anak ini juga mengaku bersekolah sambil kerja. Demi membiayai pendidikan hingga dinyatakan lulus dari salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) swasta di Bulukumba.

Selama bekerja di warung kopi, pria kelahiran Kabupaten Jeneponto, Sulsel ini hanya menerima gaji puluhan ribu saja. Di warkop Dua Tellue, Supardi menerima gaji Rp 50 ribu. Sementara di warkop Kampoeng sebesar Rp 80 ribu.

"Saya kerja di warkop Kampoeng awal tahun 2012 hingga tahun 2016. Dan akhirnya saya memilih berhenti untuk pindah ke Kota Makassar," katanya.

Cerita Warkop di Bulukumba (3)Supardi, 25 tahun, pemilik Warung Kopi Jallo, saat menceritakan perjalanannya dari pelayan hingga menjadi pemilik warung kopi. (Foto: Tagar/Muh Afriansyah Lahia)

Di Kota Makassar, Supardi kembali bekerja sebagai barista di warung kopi Bang Lugu, yang terletak di Jalan Topaz Raya, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar.

"Kerja di Warkop Bang Lugu hanya enam bulan, dan saya dapat ilmu meracik kopi sendiri. Karena di Makassar saya belajar menjiwai, memahami pengungjung kopi apa yang menjadi keinginannya," kata dia.

Tak lama kemudian, Jallo akhirnya kembali ke Bulukumba dengan tujuan membangun usaha warung kopi. Tepat bulan Maret tahun 2017 dia membuka warkop ini. Sat itu Supardi harus menjual sepeda motor kesayangannya untuk menambah modal.

"Waktu itu saya harus jual motor kesayangan dan hanya satu-satunya yang saya miliki. Motor itu saya jual senilai Rp 6,3 juta, hingga mencukupi modal awal Rp 15 juta. Modal tersebut saya gunakan bangun usaha maupun menyewa tempat ukuran 4x7 meter di Pasar Sentral," ungkap Jallo.

Saat awal berdirinya warkop Jallo di Pasar Sentral Bulukumba tahun 2017, Supardi melakukan semua pekerjaan seorang diri. Tak lama, ia mempekerjakan karyawan meski mereka adalah keluarganya sendiri.

"Triknya dalah fokus, tekun, ulet dalam bekerja. Selalu menjaga kualitas kopi dan mengikuti perkembangan zaman serta inovasi," ungkapnya.

Hasil dari usaha warung kopi itu bisa digunakannya untuk melamar pujaan hatinya,membeli rumah serta sepeda motor. "Karena usaha ini yang kasih menikah, beli rumah dan sepeda motor," kata Supardi lagi.

Saat ini warung kopi Jallo ini juga dijadikan lokasi nongkrong para gamers di Bulukumba. Sebagian pelanggan lebih suka menikmati kopi khas warkop Jallo di bawah pepohonan yang ada di sekitar warkop.

"Tidak afdol jika tidak menikmati kopi Jallo dalam sehari, seperti wajib hukumnya. Sebelum pindah-pindah warkop, paling pertama warkop Jallo saya datangi," kata Irham.

Ia juga menyebutkan sebelum berangkat kerja. Beberapa koleganya meminta untuk diantarkan kopi guna dinikmati bersama. "Kadang rekan-rekan kantor minta satu botol kopi Jallo, diminum bersama di kantor," ucapnya. []

Berita terkait
Bangunan Kompleks Tamansari Yogyakarta dan Fungsinya
Kompleks Tamansari, Yogyakarta dulunya menempati wilayah seluas 10 hektare dan terdiri dari 57 bangunan. Namun kini sebagian sudah tidak ada lagi.
Cerita Mistis Jembatan Menuju Makam Sombayya Bulukumba
warga Desa Somba Palioi, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba meyakini bahwa warga asli Gowa pantang melintasi jembatan di daerahnya.
Menggiurkan, Usaha Bibit Pohon Anggur di Yogyakarta
Usaha pembibitan pohon anggur menjadi salah satu usaha yang hasilnya cukup menggiurkan, terlebih laan yang dibutuhkan tidak harus luas.
0
Omzet Ratusan Juta Mantan Pelayan Warung Kopi Bulukumba
Mantan pelayan warung kopi di Bulukumba, Sulawesi Selatan, berhasil mendirikan warung kopi sendiri dan beromzet hingga ratusan juta per bulan.