UNTUK INDONESIA
Menggiurkan, Usaha Bibit Pohon Anggur di Yogyakarta
Usaha pembibitan pohon anggur menjadi salah satu usaha yang hasilnya cukup menggiurkan, terlebih laan yang dibutuhkan tidak harus luas.
Agung, 50 tahun, menunjukkan beberapa jenis bibit pohon anggur impor yang disemaikannya di rumahnya, Kampung Suryowijayan, Yogyakarta, Minggu, 4 Oktober 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Yogyakarta – Puluhan bibit anggur tertata rapi di dalam polybag di bawah tritisan (atap rumah yang menjorok keluar) di kampung Suryowijayan, Yogyakarta. Sebagian polybag berisi bibit anggur lainnya berjejer di jalanan lorong, menempel pada dinding rumah.

Beberapa pohon anggur yang mulai tumbuh tinggi juga ada di tempat itu. Batangnya merambat pada sebatang bambu yang sengaja dipasang di samping batang pohon anggur itu.

Sementara, di lantai dua rumah milik Agung Istiadi Budi Wibowo, 50 tahun, tersebut, puluhan bibit pohon anggur juga tertata rapi di bawah tritisan lantai dua.

Seluruh bibit pohon anggur yang mayoritas adalah anggur impor itu, merupakan hasil penyemaian oleh Agung selama beberapa bulan ini, tepatnya sejak pandemi Covid-19 melanda.

Agung yang merupakan karyawan salah satu perusahaan penerbitan di Yogyakarta ini awalnya hanya menjadikan bercocok tanam anggur sebagai hobi, bukan sebagai pekerjaan yang menghasilkan uang.

6 Tahun Tidak Berbuah

Agung menceritakan awal dirinya bergelut di bidang pembibitan pohon anggur. Waktu itu, sekitar enam hingga tujuh tahun lalu. Dia iseng menyemaikan dan menanam pohon anggur dari biji.

“Saya tertarik menanam anggur itu mulai dari pembenihan dari biji. Saya semaikan di dalam kulkas setelah bersemai saya pindahkan ke tanah,” kenangnya.

Cerita Bibit Anggur di Yogyakarta (2)Sejumlah bibit anggur impor yang disemaikan oleh Agung Istiadi Budi Wibowo, 50 tahun, di rumahnya, Kampung Suryowijyan, Yogyakarta, Minggu, 4 Oktober 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Benih anggur yang disemaikannya merupakan anggur impor jenis Red Glow. Bibit itu tumbuh besar, tapi hingga pohon itu berusia enam tahun, sama sekali tidak pernah berbuah.

Tapi setelah tumbuh, selama enam tahun tidak berbuah, waktu itu jenisnya Red Glow. Enam tahun saya tanam sampai besar tapi sama sekali tidak ada buahnya. Sesudah itu saya ketemu sama komunitas anggur. Mereka tahu banyak tentang anggur, mulai dari yang lokal sampai impor.

Akhirnya teman-teman Agung di komunitas anggur tersebut member tahu cara membuahkan pohon anggur. Salah satunya adalah dengan cara penyambungan tunas, yang disebut dengan grafting.

Apalagi anggur yang ditanamnya dari biji adalah jenis Red Glow, yang memang sangat sulit berbuah jika penanamannya dari penyemaian biji.

Agung pun mencoba melakukan yang disarankan oleh teman-temannya dari komunitas anggur. Dua hingga tiga kali penyambungan pucuk yang dilakukannya tidak berhasil. Hal itu membuatnya semakin penasaran dan justru membeli indukan anggur jenis lain untuk mencoba dijadikan bibit.

“Kemudian saya beli dua pohon indukan, waktu itu jenisnya Ninel dan Jupiter. Waktu itu masih tahap koleksi untuk pribadi, Cuma ingin membuahkan karena selama enam tahun tidak berbuah. Saya pilih Jupiter dan Ninel karena menurut referensi buahnya manis dll,” ucap Agung saat ditemui di rumahnya, Minggu, 4 Oktober 2020.

Agung membeli bibit indukan kedua jenis pohon anggur itu dengan harga yang cukup murah, yakni Rp 250 ribu untuk dua pohon indukan, atau seharga Rp 125 ribu per pohonnya.

Selanjutnya, pohon anggur jenis Red Glow miliknya yang sudah berusia enam tahun dijadikannya sebagai bibit untuk batang bawah, atau disebut rootstock. Sementara bibit anggur Ninel dan Jupiter yang dibelinya, dijadikan sebagai entres atau bibit batang atas yang disambungkan dengan batang Red Glow.

Dari hasil penyambungan tunas itu, Agung memiliki stok bibit anggur impor jenis Ninel dan Jupiter yang cukup banyak.

“Terus ada pandemi Corona ini. Jadi malah saya fokus dan berkembang untuk menjadi penghasilan. Awalnya kan kondisi Corona, ekonomi juga kurang bagus,” kata Agung.

Kondisi ekonomi yang cukup sulit akibat pandemi tersebut membuat Agung mencoba menjual bibit-bibit anggur yang dimilikinya.

Harga Terlalu Murah

Puluhan bibit anggur itu ditawarkannya melalui media sosial. Waktu itu Agung mematok harga Rp 50 ribu per bibit, sebab dia belum tahu harga pasaran untuk bibit anggur, baik bibit anggur lokal maupun impor.

Cerita Bibit Anggur di Yogyakarta (3)Agung, 50 tahun, menunjukkan beberapa jenis bibit anggur impor yang disemaikannya di lahan sempit di rumahnya, Kampung Suryowijayan, Minggu, 4 Oktober 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Agung tidak menyangka bahwa penawarannya di media sosial mendapatkan respons yang sangat bagus dari para pekebun dan pecinta anggur. Terlebih harga yang ditawarkannya memang jauh lebih murah daripada harga pasaran.

“Waktu itu saya jualnya agak kemurahan, cuma Rp50 ribu per bibit. Langsung diserbu pembeli. Harusnya minimal Rp 125 ribu. Waktu itu sampai dikirim ke Bogor.”

Kemudian ada seorang temannya dari komunitas anggur, yang kebetulan memiliki kebun anggur di daerah Plumbungan, Kabupaten Bantul, yang memberi tahu Agung bahwa harga yang dipatoknya terlalu murah.

Sang teman membeli beberapa bibit pohon anggur milik Agung seharga Rp 90 ribu per bibit, sambil menjelaskan bahwa harga Rp 90 ribu itu adalah harga jual untuk seller dan pekebun. Sedangkan harga jual untuk konsumen bisa mencapai Rp 250 ribu per bibit.

“Jadi waktu itu dia borong, dari harga Rp 50 ribu dia naikkan jadi Rp90 ribu per bibit. Tapi itu harga seller. Habis itu saya lebih fokus pembibitan berbagai jenis, apalagi saya gabung dalam komunitas anggur, jadi bisa tukaran bibit untuk bawahannya maupun atasan. Lumayanlah untuk nambah ekonomi,” ucap Agung lagi.

Saat ini Agung lebih banyak menggunakan batang bawah dari jenis anggur lokal, yakni Isabela. Sebab jenis itu lebih mudah tumbuh dan cocok dengan iklim Indonesia.

Selain menggunakan sistem grafting dalam pembibitan, Agung juga menggunakan sistem cutting, yakni menanam langsung batang pohon anggur ke dalam tanah. Hanya saja, tidak semua jenis pohon anggur bisa tumbuh dengan sistem cutting. Sebab ada beberapa jenis yang perlu beradaptasi dengan iklim di sini.

“Ada beberapa jenis anggur bisa cutting, misalnya Jupiter, Ninel, dan beberapa lainnya. Tapi kalau yang jenis baru memang harus menggunakan akar yang sudah adaptasi,” ucapnya.

Grafting pun dapat dilakukan dengan dua cara, yakni sambung pucuk dan sisip. Intinya sama-sama mempertemukan kambium dua bibit.

Waktu yang dibutuhkan dari pembibitan hingga anggur berbuah hanya berkisar enam hingga delapan bulan, baik bibit yang berasal dari cutting maupun grafting, asal pohon diberi nutrisi yang cukup.

Program Pendampingan Saling Menguntungkan

Saat ini Agung memiliki program pendampingan untuk masyarakat yang memiliki pohon anggur, khususnya anggur lokal, yang rasa buahnya masam atau ukurannya kecil-kecil.

Cerita Bibit Anggur di Yogyakarta (4)Agung Istiadi Budi Wibowwo, 50 tahun, mengatur sebagian bibit anggur impor yang disemaikannya di tritisan lantai dua rumahnya, di Suryowijayan, Yogyakarta, Minggu, 4 Oktober 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Dia melayani grafting atau penyambungan pohon anggur local itu dengan anggur impor miliknya. Agung mendampingi dan memandu mereka hingga pohonnya berbuah.

Dari pendampingan itu Agung mendapatkan timbale balik berupa batang-batang pohon anggur lokal yang dipotong, yang nantinya digunakan sebagai batang bawah. Agung juga mendapatkan entres atau batang atas saat pohon-pohon itu dipangkas sebelum berbuah.

“Jadi sampai pembuahan, pruning atau pemotongan ujung, dll. Timbal baliknya kalau pada waktu awal mau nyambung itu, saya mendapat batang untuk rootstock (stok akar). Itu bisa saya grafting jadikan bibit. Setelah jadi, pada saat pembuahan, saya dapat entresnya atau pucuk-pucuknya yang impor. Saya dapat gratis karena saya yang mengelola. Jadi walaupun gratis kita sama-sama diuntungkan,” ucapnya.

Untuk sementara waktu, Agung hanya menjual bibit anggur Juiter, Ninel, Banana, Angelica,dan Rumba yang masih tahap grafting awal. Seluruhnya merupakan bibit anggur impor.

“Permintaan bibit selama ini tinggi sekali, sampai nggak bisa nunggu tinggi. Biasanya ukuran 10 sentimeter sudah pada antre untuk beli. Harganya tergantung varian. Varian sejuta umat itu Ninel, standar harganya Rp 125 ribu untuk bibit setinggi 30 sentimeter.”

Saat ini bibit pohon anggur paling mahal adalah jenis Helloween. Harganya bisa mencapai Rp 1,5 juta. Bahkan ada penjual yang menjual per mata tunas, dengan harga Rp 25 ribu per mata tunas.

“Empat mata tunas itu Rp 100 ribu. Saya belum berani, karena riskan. Saya beli yang Oscar saja gosong semua. Kalau di Kota Jogja, pembibitan kayaknya baru saya. Kebanyakan ada di perbatasan,” ucapnya. []

Berita terkait
Cerita Budidaya Ikan Lele di Lahan Sempit Yogyakarta
Budidaya ikan lele dalam tong menjadi salah satu alternatif pemanfaatan lahan sempit di kawasan dalam Kota Yogyakarta.
Sepak Bola Wanita dan Pernikahan Anak di India
Sepak bola wanita menjadi salah satu kegiatan yang dinilai mampu mengurangi jumlah eprnikahan anak di negara bagian Rajashtan, India.
Fungsi dan Filosofi Alun - Alun Keraton Yogyakarta
Ada sejumlah filosofi dalam pembangunan alun-alun Keraton Yogyakarta, baik Alun-alun Selatan maupun Alun-alun Utara.
0
Liga 1 Tak Kunjung Digulirkan, Persiraja Bubarkan Tim
Manajemen Persiraja Banda Aceh membubarkan tim karena tidak ada kepastian Liga 1. Persiraja juga katakan tidak ikut liga bia digelar Desember.