UNTUK INDONESIA
Cerita Mistis Jembatan Menuju Makam Sombayya Bulukumba
warga Desa Somba Palioi, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba meyakini bahwa warga asli Gowa pantang melintasi jembatan di daerahnya.
Jembatan tua yang terletak di Desa Somba Palioi, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba itu. Jembatan itu merupakan satu-satunya akses menuju makam Sombayya (raja) di Desa Somba Palioi. (Foto: Tagar/ Muh Afriansyah Lahia)

Bulukumba – Sekilas tidak ada yang aneh pada jembatan tua yang terletak di Desa Somba Palioi, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba itu. Jembatan itu merupakan satu-satunya akses menuju makam Sombayya (raja) di Desa Somba Palioi.

Tempat itu terletak sekitar 35 kilometer dari pusat Kabupaten Bulukumba, dengan jalur jalan yang cukup terjal dan mendaki. Lebar jembatan pun hanya bisa dilewati oleh satu unit kendaraan roda empat. Jika ada dua mobil yang berpapasan, salah satunya harus menunggu di ujung jembatan dan mengalah.

Seperti beberapa jembatan kecil lainnya, jembatan yang menuju makam Sombayya tersebut menggunakan batang-batang besi sebagai pengaman atau pembatas.

Beberapa batang besi pembatas jembatan bahkan terlihat sudah hilang, sehingga hanya terlihat lubang pada tiang pembatas.

Meski panjang jembatan hanya beberapa meter, tetapi kedalaman dari jembatan ke dasar sungai cukup dalam, kurang lebih sekitar tujuh hingga delapan meter.

Suasana di sekitar jembatan cukup sunyi sore itu, Minggu, 4 Oktober 2020. Hanya ada beberapa kendaraan milik warga setempat yang melintas. Rimbun dedaunan dari pohon yang ada di sekitar jembatan sedikit menghalangi cahaya matahari sore menambah kesan gelap di sekitar jembatan.

Pantangan Melewati Jembatan

Tidak terlalu jauh dari jembatan tersebut, terdapat rumah seorang tokoh masyarakat setempat yang sekaligus menjadi penjaga makam Sombayya yang bernama Ambe Mamum.

Ambe Mamum, pria tua itu duduk di kursi sofa di rumahnya, berdampingan dengan seorang anak laki-laki yang tak lain adalah cucunya.

Penjaga Makam Sombayya Bulukumba Ambe MamumPenjaga makam Sombayya di Desa Somba Palioi, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba yang bernama Ambe Mamum. (Foto: Tagar/Muh Afriansyah Lahia)

Penampilannya Ambe Mamum seperti sebagian besar warga suku Konjo di Bulukumba. Sarung berwarna hitam membalut bagian bawah tubuhnya. Sementara songkok racca, yang merupakan songkok khas daerah setempat bertengger menutupi sebagian kepalanya.

Ambe Mamum mengaku sudah hampir 60 tahun menjadi penjaga makam Sombayya, tepatnya sudah sekitar 58 tahun.

Profesi sebagai penjaga makam, kata dia, adalah profesi turun temurun yang diwariskan dari para leluhurnya.

Meski usianya hampir mencapai satu abad, tetapi Ambe Mamum enggan menggantungkan hidupnya pada orang lain. Dia secara rutin membersihkan makam Sombayya dan mengantarkan peziarah yang datang.

Pria tua yang memiliki sembilan orang anak itu mengaku menggantikan sang kakek yang sudah lama meninggal sebagai penjaga makam.

"Nakke nyiama 58 tahun ajjaga makam Sombayya kunne. (Saya sudah 58 tahun menjaga makam Sombayya di sini)," kata Ambe Mamum dengan bahasa khas konjo Bulukumba.

Ambe Mamum menceritakan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pengunjung atau peziarah yang akan berniat untuk mendatangi makam Sombayya. Termasuk kepercayaan warga setempat tentang pantangan bagi warga asli Gowa untuk melintasi jembatan kecil menuju makam.

Kata Ambe Mamum, ada kepercayaan bahwa warga asli Gowa yang melintasi jembatan tersebut akan jatuh ke dasar sungai, atau dia tidak bisa melintas, atau jika berhasil melintasi jembatan, maka orang itu tidak bisa kembali. 

Dia menuturkan, pada tahun 1980-an, ada seorang pria asli Gowa yang bisa melintasi jembatan itu dan tiba di makam Sombayya. Waktu itu orang tersebut datang bersama beberapa warga asli Desa Somba Palioi.

Setibanya di makam, orang itu sempat menuliskan nama dan asalnya pada sebatang pohon. Tiba-tiba petir menyambar pohon tersebut dan menumbangkannya. Potongan dahan pohon yang tersambar petir itu menimpanya dan orang itu meninggal di tempat. 

Punna nia tau nampa tau battu ri Gowa, tala kullei ta leang (Kalau ada orang baru orang asli Gowa, tidak bisa lewat).

Pantangan itu, lanjut Ambe Mamum, berawal ratusan tahun lalu, saat kerajaan setempat berperang dengan Kerajaan Gowa. Seusai peperangan, pasukan dari Kerajaan Gowa bersumpah tidak akan menginjakkan kakinya di kawasan tersebut.

Sumpah itu berlaku hingga anak keturunan mereka hingga saat ini.

Penjelasan Ambe Mumam tersebut dibenarkan oleh Usman, seorang warga yang ditemui di sekitar jembatan.

"Jadi, kalau ada warga Gowa pasti akan terjadi kecelakaan. Apakah dia terjatuh ke bawah atau memang tidak bisa melintas. Dan itu sudah sering terjadi," kata Usman.

Usman mengisahkan peristiwa yang pernah terjadi beberapa tahun lalu. Saat itu ada pengemudi mobil asal Gowa yang hendak melintasi jembatan, tetapi sebelum tiba di ujung jembatan, mobil tersebut jatuh dari jembatan. Tapi Usman mengaku dia tidak ingat persis tahun kejadiannya.

"Saya kurang tahu tahun berapa peristiwa itu. Tapi yang jelas itu sudah lama sekali dan saya masih berumur belasan tahun," kata dia.

Selain pantangan itu, jembatan itu dikenal cukup angker oleh warga setempat. Bahkan sering terjadi kecelakaan lalu lintas di sekitar situ.

Hingga saat ini, warga setempat selalu menanyakan asal usul orang yang datang berkunjung. Jika orang itu mengaku asli Gowa, warga akan melarangnya, minimal memperingatkan agar tidak melintasi jembatan.

Penghuni Makam Hadir Lewat Mimpi

Bukan hanya jembatan menuju makam tersebut yang memiliki kisah mistis. Ambe Mamum mengaku tidak jarang dirinya mengalami kejadian-kejadian aneh, termasuk didatangi oleh Sombayya penghuni makam melalui mimpi.

Suasana di Makam Sombayya BulukumbaSuasana di area makam Sombayya, Desa Somba Palioi, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba. (Foto: Tagar/Muh Afriansyah Lahia)

Tapi Ambe Mamum enggan membahas secara detail tentang mimpi-mimpinya tersebut. "Selalu datang melalui mimpi, saya dengan dia tidak terlalu berintraksi, hanya membesuk saja," ucap Ambe Mamum sambil mengusap jenggotnya yang sudah memutih.

Saat ini, mengingat usianya yang sudah cukup uzur, Ambe Mamum tidak bisa berangkat sendirian menuju makam untuk sekadar membersihkan. Biasanya dia meminta pada anaknya untuk mengantar ke makam.

Terlebih jarak dari rumah Ambe Mamum menuju makam cukup jauh. Setelah melintasi jembatan, dia masih harus menempuh perjalanan selama beberapa puluh menit untuk tiba di makam Sombayya.

"Riolo antu nakke a'jarang ja biasa todo ja'pa bangkeng, kunni tala kullemi, Nak. (Dulu saya biasa berkuda atau jalan kaki menuju makam, sekarang ini sudah tidak bisa lagi nak)," katanya.

"Nakke riolo petani ja, sada mate bohe lampa anjari. (Dulu saya bekerja sebagai petani, nanti setelah kakek meninggal baru jadi penjaga makam).”

Setelah berpamitan pada Ambe Mamum, Tagar kembali melanjutkan perjalan menuju makam Sombayya.

Jalur yang harus dilalui untuk tiba di makam cukup menantang, sebab jalur menuju makam masih berbatu dan harus melewati perkebunan milik warga.

Waktu yang harus ditempuh untuk tiba di makam Sombayya sekitar 45 menit.

Suasana di area makam cukup sunyi. Selain makam kuno dan satu bangunan lain berupa rumah adat Sombayya, ada juga sisa pohon besar yang sudah roboh dan tinggal batangnya.

Kondisi makam dan bangunan rumah adat yang ada di situ tampak cukup terawat dan bersih, termasuk pada dinding makam. Hanya saja ada larangan memotret makam dan bangunan di dalam area tersebut.

Meski terasa sejuk, tapi nuansa mistis cukup terasa, seperti nuansa yang ada pada kebanyakan makam-makam kuno lain. []

Berita terkait
Senam Jantung di Jeram Curam Sungai Logung Kudus
Penikmat olahraga ekstrem di Kudus dan sekitarnya bisa menikmati arus deras Sungai Logung dengan ban dalam atau perahu.
Biduan Cantik Bantaeng yang Bercita-cita Jadi Dokter
Seorang biduan muda di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, disebut secantik boneka Barbie. Dia berusaha mengubah stigma negatif tentang biduan.
Suara Lantang Penyandang Disabilitas di Sumba Timur
Seorang difabel bernama Arif Rahman, 25 tahun, menjadi anggota tim pemenangan pasangan Calon Bupati-Wakil Bupati Sumba Timur dengan tagline SEHATI.
0
Denny Siregar Mengaku Dibayar Per Jam
Pegiat media sosial Denny Siregar akhirnya mengaku ada yang membayarnya per jam. Siapa yang membayarnya? Untuk peekerjaan apa?