UNTUK INDONESIA
Bangunan Kompleks Tamansari Yogyakarta dan Fungsinya
Kompleks Tamansari, Yogyakarta dulunya menempati wilayah seluas 10 hektare dan terdiri dari 57 bangunan. Namun kini sebagian sudah tidak ada lagi.
Dua pengunjung Tamansari berpose di undakan di tengah-tengah Sumur Gumuling, yang merupakan salah satu bangunan di kompleks itu. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Yogyakarta – Satu lubang besar menganga di bagian menjadi sumber cahaya utama di dalam bangunan berbentuk lingkaran di kawasan Tamansari, Yogyakarta. Cahaya tambahan masuk melalui beberapa jendela berukuran kecil di Sumur Gumuling, bangunan berdinding tebal itu.

Sumur Gumuling merupakan satu dari beberapa bangunan kuno yang ada di kawasan Tamansari. Untuk tiba di Sumur Gumuling hanya bisa dicapai melaui terowongan bawah tanah yang disebut Urung-urung.

Di Sumur Gumuling terdapat dua lantai yang masing-masing memiliki ceruk pada dindingnya. Ceruk itu berfungsi sebagai mihrab atau tempat imam memimpin ibadah.

Pada bagian tengah bangunan, tepat di bawah lubang besar, terdapat empat undakan atau anak tangga,penghubung lantai satu dan lantai dua, yang bertemu di tengah-tengah bangunan.

Keunikan bangunan Sumur Gumuling membuatnya sering dijadikan tempat berfoto oleh para wisatawan yang berkunjung. Biasanya wisatawan berfoto tepat di tengah undakan.

Pulau dan Laut Buatan

Selain Sumur Gumuling, kawasan Tamansari memiliki puluhan bangunan lain dengan fungsi yang berbeda.

Dilansir laman Kratonjogja.id, pada masa lalu, kompleks Tamansari menempati wilayah seluas 10 hektare dan terdiri dari 57 bangunan.

Cerita Bangunan Tamansari Yogyakarta (2)Pengunjung berfoto di lantai dua Sumur Gumuling Kompleks Tamansari, Yogyakarta. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Namun kini jumlah bangunan dan luasan kompleks ini sudah jauh berkurang. Sebagian area Taman Sari telah dijadikan hunian oleh warga setelah gempa besar yang meruntuhkan bangunan-bangunannya.

Saat ini masih ada beberapa bangunan di kawasan itu. Bangunan yang cukup terkenal adalah Pulo Kenanga, yang juga dikenal dengan nama Pulo Cemeti.

Pulo Kenanga berupa pulau buatan yang berada di tengah-tengah Segaran atau laut buatan. Dulunya selain ditebar berbagai jenis ikan, Segaran juga dimanfaatkan untuk kerabat kerajaan bermain sampan. Kini lokasi segaran telah menjadi Pasar Ngasem dan pemukiman penduduk.

Di Pulo Kenanga terdapat gedung berlantai dua yang dikelilingi tanaman kenanga (Cananga Odorata), dinamakan dengan Gedhong Kenanga.

Posisinya cukup tinggi, membuat orang dapat mengamati kawasan Keraton Yogyakarta dari atasnya. Gedung inilah yang dari kejauhan tampak mengambang di atas air sehingga memunculkan istilah Istana Air (Water Castle).

Bangunan selanjutnya adalah Pulo Panembung, yang juga merupakan pulau buatan. Letaknya berada di sebelah selatan Pulo Kenanga. Di sini terdapat bangunan berlantai dua yang disebut Gedhong Panembung, tempat Sultan berkontemplasi dan bermeditasi, memohon kepada Yang Maha Kuasa. Di bangunan ini terdapat sebuah sumur yang menggantung di atas tanah, sehingga disebut juga Sumur Gumantung.

Bangunan berikutnya adalah Gedhong Gapura Hageng, yang merupakan pintu gerbang utama Tamansari. Gerbang ini berhiaskan relief burung dan bunga yang menunjukkan tahun pembuatan Tamansari, tahun 1691 Jawa atau tahun 1765 Masehi.

Selanjutnya terdapat Gedhong Lopak-lopak. Pada masa lalu bangunan itu berupa menara pengawas berlantai dua yang terletak di tengah-tengah pelataran berbentuk segi delapan di sebelah timur Gapura Hageng.

Permandian Sultan dan Keluarga

Bangunan selanjutnya adalah Pasiraman Umbul Binangun, yang merupakan kolam pemandian bagi Sultan, para istri serta para putri keraton.

Terdapat tiga kolam yang membujur dari utara ke selatan, dengan tempat keluar mata air yang berbentuk jamur. Ketiga kolam tersebut masing-masing bernama Umbul Kawitan, berfungsi sebagai tempat pemandian para putri raja, Umbul Pamuncar, tempat pemandian istri dan selir raja, serta Umbul Panguras, yang merupakan kolam khusus untuk sang raja.

“Di antara Umbul Pamuncar dan Umbul Panguras terdapat bangunan menara yang dahulu hanya boleh dinaiki oleh Sultan. Dari menara tersebut, Sultan dapat melihat pemandian Umbul Panguras dari jendela. Dalam kompleks pemandian ini terdapat pula bilik-bilik tempat bagi puteri dan istri raja berganti pakaian dan beristirahat,” demikian tertulis di laman kratonjogja.id.

Bangunan lain adalah Gedhong Sekawan atau Gedhong Sedah Mirah, yang merupakan tempat istirahat Sultan dan keluarganya. Di sebelah timur Gedhong Sekawan terdapat Gedhong Gapura Panggung yang juga berfungsi sebagai gerbang.

Pada bagian atas gapura ini terdapat sebuah panggung menghadap ke barat, tempat raja duduk mendengarkan bunyi gamelan atau menyaksikan pertunjukan di pelataran belakang gapura.

Masing-masing sisi tangga ini dihiasi oleh relief/patung naga,yang menunjuk pada tahun 1684 Jawa atau 1758 Masehi. Saat ini gapura tersebut menjadi pintu masuk obyek wisata Tamansari.

Beberapa bangunan lain adalah Gedhong Pangunjukan atau Gedhong Patehan yang berfungsi sebagai tempat para abdi dalem menyiapkan minuman untuk sultan dan keluarganya. Kemudian Gedhong Temanten, yang diibaratkan seperti sepasang pengantin, atau temanten. Gedhong Penganten berfungsi sebagai tempat piket jaga abdi dalem.

Cerita Bangunan Tamansari Yogyakarta (3)Suasana di Pasiraman Umbul Binangun, yang merupakan salah satu bangunan di Kompleks Tamansari. Yogyakarta. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Selanjutnya ada Gedhong Gandek yang berfungsi sebagai tempat kurir menghadap. Lokasi bangunan ini terdapat di tengah-tengah perempatan jalan. Namun bangunan ini sekarang sudah tidak ada lagi. Bangunan lain yang juga sudah tidak ada lagi adalah Gerbang Seketeng dan Gumuk Pemandengan.

Bangunan lain di kawasan Tamansari adalah Gedhong Carik yang ada di sebelah selatan Umbul Binangun. Bentuknya berupa lorong dengan dua ruang di kanan kirinya, Sesuai namanya, gedung ini tempat dimana para carik (juru tulis) bertugas.

Idak jauh dari Gedhong Carik, setelah menuruni anak tangga di sebelah selatan akan ditemukan bangunan yang disebut sebagai Gedhong Madaran. Tempat ini berfungsi sebagai dapur, tempat memasak santapan untuk Sultan dan keluarganya.

Di kawasan itu juga terdapat Pasareyan Ledhoksari yang berbentuk huruf U, tempat Sultan beristirahat. Ornamen di bangunan ini didominasi oleh ornamen gaya Eropa. Di dalam bangunan ini terdapat tempat tidur Sultan yang di bawahnya terdapat aliran air, yang menunjukkan teknologi pendinginan alami yang memungkinkan suasana sejuk meskipun cuaca sedang panas.

Bangunan lain adalah Gedhong Blawong, Gedhong Garjitawati, Gapura Umbulsari yang saat ini menjadi bagian dari pemukiman warga, Pasiraman Umbul Sari, Pongagan Peksi Beria tau Pongagan Barat yang dulu berfungsi sebagai dermaga tempat sampan dari segaran berlabuh, terutama bagi Sultan dan kerabatnya.

Selain dermaga untuk Sultan, juga adal Pongagan Timur sebagai dermaga khusus untuk Abdi Dalem yang bertugas di Tamansari. Selanjutnya ada Gapura Kenari, dan Pulo Gedhong. Dulunya Pulo Gedhong menjulang tinggi sehingga juga disebut sebagai Menara Kota. Tempat ini sekarang telah berubah menjadi pemukiman penduduk, namun lokasinya masih dikenal sebagai Kampung Segaran.

Dampak Pandemi

Pandemi Covid-19 mengubah pola dan aturan untuk pengunjung Tamansari dalam berwisata. Paguyuban Pramuwisata Taman Sari Yogyakarta (PPTSY) telah membuat standarisasi untuk wisatawan maupun pemandu.

Ketua Umum Paguyuban Pramuwisata Taman Sari Yogyakarta (PPTSY), Agus Purwanto, menjelaskan, paguyuban membagi pemandu wisata yang bertugas menjadi dua, yakni Tim Guide dan Tim Support.

Ketua Pemandu Wisata Tamansari YogyakartaKetua Umum Paguyuban Pramuwisata Taman Sari Yogyakarta (PPTSY), Agus Purwanto. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Tim Guide bertugas mengantar wisatawan berkeliling, sementara Tim Support membantu Tim Guide dalam mengestimasi dan memanajemen waktu kunjungan. Tujuannya untuk mengantisipasi terjadinya penumpukan wisatawan.

"Bagi yang sudah mengantar wisatawan, dia wajib melapor ke TIC (tourist information center) kemudian mereka menggantikan Tim Support. Jadi sekarang kita bantu Tim Guide, sebentar kita dibantu," jelasnya beberapa waktu lalu.

Ada jeda waktu tertentu untuk setiap grup wisatawan satu dengan lainnya. Saat grup pertama masuk area Taman Sari, grup kedua harus menunggu sekitar 10 menit untuk bisa masuk. Begitu seterusnya.

"Agar tidak ada penumpukan. Di satu spot kita rata-rata berhenti delapan sampai 10 menit. Di situlah fungsi Tim Support supaya Tim Guide fokus melayani wisatawan tanpa harus memikirkan estimasi waktu," ucapnya.

Selain mengatur estimasi waktu dan membuat dua tim, ada beberapa aturan lain yang wajib dipatuhi, di antaranya pemandu wisata harus dalam kondisi prima dan wajib mengenakan masker.

Sementara, wisatawan tidak boleh berinteraksi secara langsung dengan warga sekitar, misalnya berhenti dan bercakap-cakap, serta dilarang menyentuh bangunan apa pun.

"Itu untuk keamanan dan kenyamanan," kata dia. []

Berita terkait
Lokasi Lakalantas Maut di Sleman Rawan Kecelakaan
Lokasi kecelakaan lalu lintas yang menewaskan 4 orang di Jl Magelang Km 8, Mlati, Sleman, merupakan lokasi rawan kecelakaan.
Kenangan Spot Menyenangkan di Kampus UGM Yogyakarta
Ada beberapa spot menyenangkan dan penuh kenangan di kawasan kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) menurut beberapa alumninya.
Pernikahan Unik 4 Pasang Pengantin di Yogyakarta
Empat pasang calon pengantin di Yogyakarta mengikuti pernikahan gratis menyambut HUTke-264 Kota Yogyakarta. Mereka melakukan ijab di atas sepeda.
0
Bagaimana Cara Mempopulerkan Citra Kuliner ala Thailand?
Indonesia perlu banyak mempelajari langkah-langkah yang dilakukan Thailand dalam menaikkan citra kuliner khas negaranya.