UNTUK INDONESIA

Omzet Menurun, Pembudidaya Jamur Tidur di Pasar Cilacap

Pandemi menyebabkan penurunan omzet pembudidaya jamur tiram di Cilacap, Jawa Tengah. Zuhdi, si pembudidaya menginap di pasar untuk lihat penjualan.
Zuhdi, 27 tahun, seorang pembudidaya jamur tiram di Cilacap sedang memeriksa jamur-jamur yang dibudidayakannya, Senin, 14 Desember 2020. (Foto: Tagar/Mia Setya Ningsih)

Cilacap – Puluhan rak yang terbuat dari bambu berjejer dalam ruangan berukuran tidak terlalu besar. Sebagian besar rak itu penuh dengan plastik-plastik berisi ampas serutan kayu yang ditumbuhi jamur. Sementara beberapa rak lainnya kosong. Hanya menyisakan rangka bambu.

Cahaya matahari siang itu menerobos masuk melalui celah cukup besar di antara atap seng dan tembok ruagan pembudidaya jamur tersebut. Menimbulkan bayangan dari rangka-rangka yang berjejer.

Ismail Zuhdi, 27 tahun, si pemilik usaha pembudidayaan jamur di rumahnya, Desa Tegalsari, Kecamatan Sidareja, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, duduk di kursi plastik. Di sela kedua kakinya terdapat semacam ember berisi jamur tiram, sementara di depannya terparkir satu gerobak dorong berisi keranjang tempat jamur.

Jemarinya yang memegang sebilah pisau kecil bergerak lincah namun hati-hati, memisahkan kotoran-kotoran sisa serutan kayu dari jamur-jamur berwarna putih hasil panennya hari itu, Senin, 14 Desember 2020.

Ide dari Guru Sekolah

Zuhdi menjadi pengusaha budidaya jamur tiram sejak lima tahun lalu, tepatnya pada tahun 2015. Awalnya dia tidak pernah memiliki rencana untuk membudidayakan jamur. Hingga suatu hari dia bertemu dengan gurunya semasa masih sekolah di salah satu sekolah kejuruan (SMK) di Cilacap.

Cerita Budidaya Jamur Cilacap (2)Tumpukan media tanam jamur dari limbah kayu di dalam rak-rak milik Zuhdi,Senin, 14 Desember 2020. (Foto: Tagar/Mia Setya Ningsih)

Keduanya berbincang. Secara tidak sengaja dia dan guru pembimbing ekstra kurikuler karya ilmiah remaja (KIR) di sekolahnya itu membahas tentang budidaya jamur, kemudian mengajaknya melakukan percobaan menanam jamur.

Pas percobaan itu gagal semua nggak ada yang tumbuh. Dari hal itu saya tertantang buat bisa budidaya jamur sendiri.

Zuhdi pun berpikir untuk mencari ilmu langsung ahlinya. Ia kemudian mendatangi beberapa tempat menemui petani jamur di sana. “Semuanya pada pelit ilmu, akhirnya saya otodidak elajar dari internet,” kenangnya.

Usaha Zuhdi akhirnya membuahkan hasil. Budidaya jamurnya melesat hingga membuatnya berhasil menjadi pemasok jamur di beberapa kecamatan di Kabupaten Cilacap hingga Purwokerto. Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Sidareja, Kecamatan Cipari, Kecamatan Gandrung, Kecamatan Majenang, Kecamatan Bantarsari hingga ke Pasar Induk Purwokerto.

Zuhdi yang kini membudidayakan hingga 100 ribu pot jamur ini juga aktif menjadi pembicara budidaya jamur di daerahnya. Ia sering diundang ke sekolah – sekolah untuk memberikan ilmu tentang pembudidayaan jamur.

Dia melanjurkan, proses penanaman jamur diawali dengan mengumpulkan bahan baku berupa ampas kayu. Ampas kayu merupakan sisa atau limbah dari industri pengrajin kayu.

”Kita kumpulin dari pengrajin kayu di sekitar. Biasanya ada yang gratis ada yang bayar,” ucapnya, sambil menambahkan bahwa serbuk tersebut nantinya dicampur dengan bekatul, kapur dolomit dan air.

Setelah semua bahan tercampur rata, ampas kayu didiamkan semalaman dan ditutup rapat, agar kandungan udara dalam campuran tersebut berkurang. “Ditutup rapat dengan plastik supaya bahan yang anaerob,” kata dia.

Setelah proses pencampuran media tanam jamur, tahap budidaya dilanjutkan dengan proses steam lahan tanam. Proses ini menjadi proses penting dalam pembudidayaan jamur tiram. Campuran tersebut harus disteam dengan suhu 90 derajat selama lima jam untuk menghilangkan bakteri. “Harus lima jam, karena kalau kurang dikhwatirkan masih ada bakterinya,” ujar Zuhdi.

Cerita Budidaya Jamur Cilacap (3)

Zuhdi, 27 tahun, sedang membersihkan jamur-jamur yang baru saja dipanennya, Senin, 14 Desember 2020. (Foto: Tagar/Mia Setya Ningsih)

Setelah proses tersebut bahan dibiarkan hingga dingin dan barulah bisa diberi bibit jamur atau biasa disebut mycellium. “Mycellium ini diaduk rata supaya semua tanah ada mycelliumnya,” tambahnya. Tahap yang terakhir berupa penempatan bahan tanam ke dalam wadah berupa plastik tebal yang rapat.

Bahan tanam harus dipadatkan dalam plastik supaya jamur bisa tumbuh berkali – kali dalam satu plastik tesebut.

Setelah 40 hari, jamur mulai bermunculan di dakam plastik. Jamur nantinya tumbuh dari ujung–ujung plastik yang diberi sebuah pipa sebagai tempat munculnya jamur.

Vakum karena Kehilangan Keluarga

Zuhdi yang berhasil menjadi satu-satunya petani jamur di daerahnya sempat berhenti membudidayakan jamur selama satu tahun, yakni tahun 2018. Tahun itu dirasakan Zuhdi sebagai tahun terberatnya. Selama beberapa tahun merawat ayahnya, ia dikagetkan dengan ibunya yang ikut sakit dan kemudian meninggal. Ayahnya kemudian menyusul sang ibu menghadap Sang Pencipta.

Saat dirinya mulai bangkit setelah ditinggal oleh kedua orang tuanya, empat tahun berselang ia kembali kehilangan anggota keluarganya, yakni sang adik bungsu yang masih kelas enam sekolah dasar (SD). Adiknya tidak memiliki riwayat sakit apapun sebelumnya.

“Saat itu otak saya kayak ngeblank, nggak bisa mikir apa apa,” ucapnya mengenang kejadian-kejadian menyedihkan itu.

Kehilangan tiga anggota keluarga menimbulkan trauma yang mendalam bagi Zuhdi. “Sekarang kalau ada ambulans lewat, Mbak, aduh langsung merinding kepikiran sing ora ora (kepikiran yang tidak - tidak),” ucapnya sambil menahan air mata. Dia juga mengaku takut melihat rumah sakit.

Tak ingin larut dalam kesedihan, ia pun kembali bangkit dan menanam jamur. Kala itu dalam satu hari ia bisa menghasilkan hingga satu juta rupiah dalan sekali pemasaran jamur. Hal itu memicu semangatnya untuk terus mengembangkan usaha jamurnya.

Belum lama usahanya bangkit, cobaan selanjutnya pun datang. Covid – 19 yang menimpa seluruh negara di dunia kembali memengaruhi budidaya jamur miliknya.

“Saya kira ngga berimbas ke jamur yah, ternyata kena juga,” serunya sambil tertawa. Dampaknya, sejak bulan Agustus lalu ia kesulitan memasarkan jamur milikinya karena daya beli berkurang.

Zuhdi yang biasanya dengan mudah menjual 80 kg bahkan 100 kg dalam sehari. Kini ia hanya bisa menjual paling banyak 20 kg jamur sehari. “Susah banget, Mbak. Saya sampe nginep di pasar induk saking ngga percayanya,” ujar Zuhdi yang heran akibat stok jamur yang tidak habis terjual dalam sehari.

Hal ini menjadi pengalaman pertamanya jamur yang ia jual tidak habis. Ia pun akhirnya terpaksa mengolah jamur agar jamur tidak terbuang sia–sia. Salah satunya adala dengan diolah menjadi keripik jamur. Hanya saja pengolahan jamur menjadi keripik membutuhkan tambahan modal dan lebih lama laku.

Zuhdi menyebut, petani jamur lain di berbagai daerah juga sedang kesulitan menjual hasil panennya. Namun mereka sepakat untuk tidak berlebihan mengungkap penurunan penjualan jamur di media sosial. “Kita di komunitas sepakat nggak posting jamur tidak laku lagi, pokoknya pura–pura aja jamur tetap normal,” ucapnya sambil tertawa.

Cerita Budidaya Jamur Cilacap (4)Rak-rak tempat pembudidayaan jamur tiram yang kosong akibat berkurangnya pembeli jamur selama pandemi. (Foto: Tagar/Mia Setya Ningsih)

Zuhdi mengaku sempat tidak berproduksi selama beberapa bulan. Pot pot jamur yang sudah seharusnya diganti, ia biarkan saja sehingga terlihat seperti tidak terurus. “Ini masih bisa mengasilkan 20 kg sehari,” ujarnya.

Zuhdi menyebut mulai akan kembali memroduksi jamur dalam jumlah normal saat mendekati bulan Ramadan. Ia memprediksi saat itu mungkin penjualan jamur akan kembali naik. “Sekarang saya dan pengusaha jamur lain di daerah – daerah intinya sedang istirahat dan mengurangi produksi saja,” kata dia melanjutkan.

Bukan hanya penjualan jamur, penjualan sayur mayur di pasar induk pun disebutnya menurun drastis. Salah satu penyebabnya adalah PHK massal. Ditambah lagi bantuan-bantuan berupa bahan baku makanan, membuat masyarakat enggan berbelanja bahan sayur ke pasar.

“Semua sayuran di pasar pada ngga beli, sampe dibuang di pasar induk. Bagaimana petaninya jual hasil panen kalau begitu,” serunya dengan nada sedikit kesal.

Isti, kakak perempuan Zuhdi membenarkan penjelasan Zuhdi. Kata Isti, Zuhdi beberapa hari tidak pulang ke rumah dan bermalam di pasar untuk melihat langsung kondisi di lapangan.

Isti berharap pemerintah lebih memikirkan nasib para petani dan membuat solusi supaya masyarakat bisa berbelanja lagi. “Semoga dipikirin juga itu petaninya, jangan sampai nanam susah – susah malah nggak laku di pasar,” ujar Isti.

Isti mengaku tetap bangga dengan Zuhdi karena bisa melewati rintangan hidup yang berat. “ semoga bisa sukses terus dan bisa meraih mimpinya jadi pebisnis sukses,” ucap isti. Isti pun kini membantu Zuhdi berjualan online sebagai sampingan di masa pandemi ini. []

(Mia Setya Ningsih)

Berita terkait
Marbot Masjid di Tangerang yang Umrah Karena Menjaga Rumah
Seorang penjaga masjid atau marbot di Tangerang yang berasal dari Pandeglang, Banten, dibiayai kuliah dan umrah karena menjaga rumah.
Perempuan Pencetus Kampung Ramah Lingkungan di Bogor
Seorang perempuan mantan jurnalis menjadi penggerak untuk pembuatan kampung ramah lingkungan di Bogor, Jawa Barat. Ini kisahnya.
Seniman Wayang Orang Jadi Penjual Tape Ketan di Cilacap
Nasiyem, 65 tahun, seorang pembuat tape ketan di Cilacap, Jawa Tengah, dulunya sempat malu berjualan karena sering pentas tempatnya menjual.
0
Omzet Menurun, Pembudidaya Jamur Tidur di Pasar Cilacap
Pandemi menyebabkan penurunan omzet pembudidaya jamur tiram di Cilacap, Jawa Tengah. Zuhdi, si pembudidaya menginap di pasar untuk lihat penjualan.