Seniman Wayang Orang Jadi Penjual Tape Ketan di Cilacap

Nasiyem, 65 tahun, seorang pembuat tape ketan di Cilacap, Jawa Tengah, dulunya sempat malu berjualan karena sering pentas tempatnya menjual.
Nasiyem, 65 tahun, seorang pembuat tape ketan, sedang mencari daun pisang untuk pembungkus tape ketan buatannya, Rabu, 9 Desember 2020. (Foto: Tagar/Mia Setya Ningsih)

Cilacap – Beberapa lembar daun pisang dan pelepahnya berserakan di sekitar Nasiyem, 65 tahun. Jemari tangan kanan nenek itu menggenggam sebilah pisau, sementara tangan kirinya memegang pelepah daun pisang. Lincah pisau dalam genggamannya memisahkan daun dan pelepahnya.

Daun-daun yang sudah dipisahkan dari pelepahnya kemudian dimasukkan ke dalam keranjang dari anyaman bambu yang sudah disiapkan Nasiyem. Lalu dia melanjutkan mencari daun pisang di pekarangan milik tetangga sekitar rumahnya.

Setelah selesai, Nasiyem melangkah pelan menuju rumahnya. Wajahnya yang mulai dihiasi keriput tetap memancarkan semangat. Kacamata gelap yang menutupi matanya sedikit menutupi guratan-guratan pada tepi kelopak matanya.

Daun-daun pisang yang berhasil dikumpulkannya akan digunakan sebagai pembungkus tape ketan, salah satu kuliner yang biasa ditemukan saat perayaan-perayaan tertentu, seperti hari raya Idulfitri maupun hajatan atau syukuran.

Cerita Tape Ketan (2)Nasiyem, 65 tahun, sedang mengukus beras ketan yang akan dibuat menjadi tape ketan, Rabu, 9 Desember 2020. (Foto: Tagar/Mia Setya Ningsih)

Sejak 1970, wanita asli desa Tegalsari, Kecamatan Sidareja, Kabupaten Cilacap ini sudah berjualan tape ketan. Setiap hari dia memroduksi tape ketan, baik memenuhi pesanan pelanggan maupun untuk dijual langsung.

Banyak orang yang hari biasa aja pesen. Buat tamu atau buat apa mungkin.

Sebenarnya Nasiyem bukan hanya bisa membuat tape ketan, tetapi juga memroduksi peuyem atau tape yang berbahan singkong. Hanya saja sekarang bahan baku singkong sulit didapatkan, sehingga dia tidak lagi memroduksi akhir-akhir ini.

Pemilihan Bahan Baku

Sesuai dengan namanya, bahan baku pembuat tape ketan dibuat adalah beras ketan. Namun beras ketan yang digunakan tidak boleh sembarangan. Biasanya Nasiyem menggunakan beras ketan impor sebagai bahan baku tape ketan buatannya, karena warnanya lebih putih.

“Karena kalau lokal itu kadang warna berasnya agak cokelat. Kan nggak bagus nanti warnanya,” kata Nasiyem sambil mencuci beras di rumahnya, Rabu, 9 Desember 2020. Walaupun begitu, tidak menutup kemungkinan Nasiyem menggunakan beras ketan lokal, yakni jika beras tersebut memiliki kualitas dan warna yang baik.

Proses pembuatan tape ketan diawali dengan mencuci beras ketan hingga bersih. Setelah dicuci, beras ketan ditiriskan dan didiamkan selama 25 menit. Tujuannya agar teksturnya menjadi sangat lembut ketika menjadi tape.

Beras yang telah ditiriskan hingga kering teresebut kemudian dikukus hingga satu jam lamanya. Setelah pengukusan selama satu jam, beras yang setengah matang ini perlu kembali dicuci.

Pada tahap pencucian beras yang kedua inilah proses pewarnaan tape ketan dilakukan. “Biasanya kalau tape ketan kan warna hijau, kita ngewarnainnya pas lagi ini (mencuci kedua),” ucapnya menambahkan.

Setelah pencucian, beras tersebut harus kembali ditiriskan sebelum dikukus ulang. Waktu penirisan sekitar satu jam. Tujuannya agar air yang ada dalam beras benar–benar hilang. “Nanti kalau nggak ditiriskan jadinya nggak enak,” ucapnya.

Air yang ada dalam beras sisa cucian, kata Nasiyem akan memengaruhi tekstur dari tape ketan yang dihasilkan. Akibatnya tape menjadi lembek.

Tahap pengukusan kedua memakan waktu hingga dua jam. Namun, menurut Nasiyem waktu pengukusan bisa kurang dari dua jam jika api yang digunakan besar. “Pokoknya dicek, kira-kira sudah matang atau belum, kalau belum masih kukus terus,” kata dia lagi.

Cerita Tape Ketan (3)Nasiyem, 65 tahun, mencuci beras ketan yang akan dibuatnya menjadi tape, Rabu, 9 Desember 2020. (Foto: Tagar/Mia Setya Ningsih)

Setelah dikukus, tahap selanjutnya adalah pemberian ragi tape. Ketan yang sudah dikukus tersebut didinginkan dengan cara diletakkan di atas alas yang lebar dan datar. Ketan diratakan dengan centong setipis mungkin agar ragi tape tersebar merata.

Satu buah ragi tape bisa digunakan untuk proses fermentasi 1,5 kg beras ketan. Sebelum ragi ditaburkan ke atas beras ketan, ragi tersebut dihaluskan dengan sedikit gula pasir. Tekstur ragi dan gula harus benar-benar halus, agar tape yang dihasilkan sesuai dengan harapan.

“Kalau nggak halus nanti kebuang–buang raginya, Hasilnya juga nanti kurang maksimal.”

Setelah diberi ragi, proses selanjutnya yang merupakan tahap akhir pembuatan tape ketan adalah membungkusnya dengan daun pisang. Daun pisang yang sebelumnya telah dibersihkan dibentuk sedemikian rupa agar menjadi bungkusan tape yang cantik. Tape tersebut kemudian didiamkan dengan ditutup rapat dalam kardus selama dua hari sebelum dipasarkan.

Tape ketan buatan Nasiyem dijual seharga seribu rupiah per bungkus dan sudah cukup dikenal di daerahnya. Bahkan, keterampilannya membuat tape ketan juga digunakan oleh saah satu perusahaan katering. Seringkali saat ada acara hajatan, Nasiyem diminta membuat tape ketan oleh pihak katering.

“Kalau musim hajatan, saya ditarik kemana- mana buat bikin tape di sana,“ ujarnya sambil tertawa.

Nikmatnya tape ketan buatan Nasiyem diakui oleh seorang pelanggannya, Darmo, yang hari itu datang untuk memesan sejumlah tape. Selain enak, kata Darmo, tape ketan buatan Nasiyem juga murah.

Cerita Tape Ketan (4)Beras ketan bahan pembuat tape yang sudah diwarnai dengan warna hijau (kanan). (Foto: Tagar/Mia Setya Ningsih)

“Enak pesen, harganya murah, udah gak perlu repot. Bikin sendiri juga belum tentu jadi,” ucap Darmo.

Mantan Seniman Wayang Orang

Sambil mewarnai beras ketan, Nasiyem melanjutkan ceritanya. Sebelum menjadi pembuat tape ketan, Nasiyem merupakan pedagang es tape yang dijualnya berkeliling menggunakan gerobak bersama suaminya, Puji Raharjo.

“Dulu, ada tobong teater di perempatan Pasar Grumung, kan Mbah jualan di situ pas lagi ada acara,” ucapnya mengenang.

Nasiyem mengaku sempat merasa malu saat awal berjualan. Sebab ketika masih muda dia sering ikut pentas kesenian wayang orang di tempat teater tersebut. “Dulu mah mau mulai malu banget, cuma bagaimana lagi, mbah kakung (suaminya) sama saya nggak punya apa-apa, masa iya minta orang tua.”

Setelah mampu menghilangkan perasaan malunya, Nasiyem dan sang suami berjualan es serut, ternyata jualannya ramai dan banyak diminati. Seiring berjalannya waktu, keduanya mengembangkan usaha menjual es tape. Resep membuat tape diperoleh Nasiyem dari nenek buyutnya.

Kesibukannya berdagang kala itu membuatnya terpaksa menitipkan pengasuhan salah satu anaknya, yakni Purwanti, yang sekarang berusia 43 tahun pada orang lain.

“Pur lahir kan tahun 1973, saya sudah berjualan sejak 1970. Makanya nggak ada pilhan lain kalau nggak dititipkan. Karena kalau dibawa kan kasihan,” kata dia menambahkan.

Nasiyem dan suami berhenti menjual es tape saat suaminya diangkat menjadi pegawai di salah satu sekolah dasar. “Pas suami diangkat pegawai, saya berhenti. Soalnya nggak ada yang nunggu gerobak,” ucapnya.

Purwanti membenarkan penjelasan sang ibu, bahwa dirinya sudah terbiasa dititipkan pada tetangga karena kesibukan kedua orang tuanya.

Cerita Tape Ketan (5)Nasiyem, 65 tahun, menyiapkan tape ketan yang sudah diberi warna hijau untuk diberi ragi dan dibungkus. (Foto: Tagar/Mia Setya Ningsih)

“Dari saya lahir udah dititipkan tetangga, diasuh tetangga pas mama jualan,“ ujarnya. Setelah menginjak remaja, Purwanti juga diberi tanggung jawab untuk mengurus rumah dan adik-adiknya saat orang tuanya bekerja.

Kini Nasiyem tinggal bersama anak bungsunya, Teguh, 36 tahun, yang sempat merantau di Jakarta, dan baru lima tahun terakhir kembali tinggal bersama sang ibu.

Dia menemani Nasiyem karena tinggal sendiri sejak suaminya meninggal. “Aku pulang nemenin, kasihan kan sendirian,” ujarnya.

Saat ini Nasiyem meneruskan usahanya berjualan tape. Meskipun hanya berjualan maksimal tiga kilogram per hari, ia mengaku tetap senang. Sebab bukan untung yang sepenuhnya ia cari, melainkan waktunya yang bisa bermanfaat dengan kegiatannya. []

(Mia Setya Ningsih)

Berita terkait
Cara Pembuat Tahu Hadapi Penurunan Omzet saat Pandemi
Seorang pembuat tahu di kawasan Jakarta Timur mengaku omzetnya menurun hingga 50 persen sejak pandemi. Dia beternak lele untuk menambah penghasilan
Perjalanan Hidup Pedagang Abu Gosok 13 Anak di Bekasi
Seorang pedagang abu gosok di Bekasi, Wagiono, mengisahkan perjalanan hidupnya. Wagiono mengaku pernah bekerja di beberapa perusahaan ternama.
Ambil Risiko Demi Hak Pilih Warga Karatina Mandiri di Sleman
Relawan Satgas Covid-19 di Desa Nogotirto, Kabupaten Sleman, mendatangi rumah warga yang karantina mandiri agar mereka bisa memilih di pilkada.
0
Amerika Dorong Vaksinasi Covid-19 Dengan Hadiah Jutaan Dolar
Mulai dari hadiah uang tunai yang sangat besar hingga layanan tertentu secara cuma-cuma, merupaka upaya dorong warga untuk divaksinasi Covid-19