UNTUK INDONESIA
Nuansa Mistis Sampah Purbakala di Aceh Tamiang
Tokoh masyarakat setempat yang ditemui, membenarkan bahwa warga masih memercayai bahwa lokasi Bukit Kerang merupakan tempat yang angker
Kondisi gerbang masuk area situs cagar budaya Bukit Kerang, Aceh Pamiang, yang sudah tidak berpintu dan terkesan tidak terawat. (Foto: Tagar/Zulfahri)

Aceh Tamiang – Suasana di lokasi cagar budaya Bukit Kerang, Desa Mesjid, Kecamatan Bendahara, siang itu, 22 Juli 2020, cukup sunyi. Hanya tumpukan kulit kerang yang tampak menyerupai bukit kecil, sama seperti namanya.

Warna ribuan atau mungkin ratusan ribu kulit kerang itu tampak kusam dan kotor akibat bercampur dengan tanah. Terlebih selama puluhan atau ratusan tahun tertimpa terik matahari dan tetesan-tetesan air hujan.

Bukit itu tingginya sekitar dua hingga empat meter. Letaknya hanya sekitar tiga kilometer dari Kantor Kecamatan Bendahara, atau sekitar 10 menit perjalanan menggunakan sepeda motor, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Meski jaraknya hanya tiga kilometer, tapi tidak mudah untuk tiba di tempat itu. Sebab lokasinya berada di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit. Kondisi jalan menuju lokasi itu pun cukup memprihatinkan. Hanya berupa tanah keras bercampur batu kerikil.

Belum lagi kondisi dari jalan raya menuju ke tumpukan kerang tersebut, yang harus menyeberangi parit selebar kurang lebih tiga meter, dan hanya menggunakan balok kayu selebar kaki orang dewasa sebagai jembatannya.

Cerita Bukit Kerang Aceh 1Kondisi situs cagar budaya Bukit Kerang di Aceh Tamiang yang terlihat tidak terawat sebagian tertutup rumput. (Foto:Tagar/Zulfitra)

Situs cagar budaya itu terlihat tidak terawat. Sebagian pagar pembatas Bukit Kerang sudah jebol, sementara bagian yang masih utuh terlihat lusuh. Kesan tidak terawat semakin kuat saat melihat rumput-rumput liar yang tumbuh di situ. Bahkan di samping gundukan tumbuhan sejenis sirih, yang menutupi sebagian tumpukan kulit kerang.

Nuansa Mistis

Aroma khas lumpur menyeruak ke dalam rongga penciuman saat berada di tempat itu. Nuansa mistis terasa sejak memasuki pintu pagar situs. Lokasi dan suasana di situ memang sunyi. Bahkan menurut keterangan beberapa warga, tidak banyak orang yang berani melintas di situ saat hari mulai gelap.

Husni Hidayat, tokoh masyarakat setempat yang ditemui, membenarkan bahwa warga masih memercayai bahwa lokasi Bukit Kerang merupakan tempat yang angker.

Sebelum memulai ceritanya tentang Bukit Kerang, Husni meminta pada istrinya untuk menyeduh kopi, kemudian berjalan menuju bangunan serupa joglo di belakang rumahnya.

"Kalau malam, di atas pukul 22.00 wib tidak ada yang berani melintasi lokasi itu. Karena tidak sedikit orang yang melintas melihat penampakan makhluk astral," ujarnya.

Kata Husni, warga yang pernah melihat sosok astral di tempat itu bukan hanya satu atau dua orang saja, tetapi ada beberapa.

Husni mengakui, cerita semacam itu mungkin sulit diterima oleh akal sehat. Namun adanya alam dan hal-hal gaib juga tidak bisa dipungkiri.

Cerita mistis tentang Bukit Kerang itu sudah ada sejak zaman dulu. Bahkan menurutnya sebagian orang tua di kampungnya memercayai bahwa tumpukan kulit kerang itu merupakan kotoran raksasa atau taik gergasi.

Cerita Bukit Kerang Aceh 2Kondisi pagar situs cagar budaya Bukit Kerang di Aceh Tamiang, yang tampak usang dan sebagian mulai rusak. (Foto: Tagar/Zulfitra)

“Ada juga yang mengatakan itu merupakan pintu gaib," ujarnya.

Kepercayaan tentang adanya hal mistis di Bukit Kerang semakin kuat setelah ada beberapa orang yang menemukan benda-benda aneh dan sedikit tidak masuk akal berada di sana.

Ada yang menemukan mangkuk, tali kapal, jangkar kapal, hingga ubur ubur yang masih hidup. Dan dapat digunakan sebagai media untuk pengobatan.

Sisa Peradaban Manusia Purba

Arkeolog Aceh sekaligus dosen Universitas Syiah Kuala, Husaini Ibrahim menjelaskan bahwa, tumpukan kulit kerang (moluska) yang berada di Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh tersebut sebenarnya merupakan sampah dapur dari manusia purba, dalam bahasa Belanda sampah dapur itu disebut kjoken mordinger.

Adanya sampah moluska itu, kata Husaini, menjadi petunjuk bahwa ada peradaban manusia purba di wilayah Aceh pada masa itu.

Menurutnya, berdasarkan penelitian, sekitar enam ribu hingga 10 ribu tahun lalu manusia prasejarah datang ke Aceh Tamiang. Mereka mendiami wilayah pantai timur Sumatera.

"Dan moluska sendiri adalah bahan makanan termudah yang bisa ditemukan di sana. Dan pada masa itu manusianya masih hidup berpindah pindah (nomaden)," kata Husaini.

Bukit kerang semacam itu, kata Husaini bukan hanya terdapat di Desa Mesjid Kecamatan Bendahara saja, tetapi juga ditemukan di Desa Pangkalan, Kecamatan Kejuruan Muda, Aceh Tamiang, yang dinamakan Bukit Remis.

"Terdapat perbedaan sampah moluska yang terdapat di Kecamatan Bendahara dan Desa Pangkalan. Kulit moluska yang terdapat di Bendahara lebih tebal dibandingkan dengan yang ada di Pangkalan. Hal ini dapat disebabkan pengaruh iklim, dan perbedaan air. Jika di Pangkalan, moluska air tawar," ujarnya.

Sebenaranya sampah prasejarah jenis itu juga pernah ditemukan di sepanjang pesisir pantai, tetapi sampah-sampah purba itu akhirnya habis. Hanya di Aceh Tamiang saja yang tersisa. Sedangkan di daerah lain di Aceh sudah hilang akibat tergusur oleh bangunan dan sebab lainnya. "Di Langsa hingga Lhokseumawe pernah ditemukan. Bahkan di Lhokseumawe sendiri pernah ditemukan kapak Sumatera," lanjutnya.

Penelitian tentang kedua situs bukit kerang itu sudah dilakukan oleh arkeolog luar negeri sejak zaman penjajahan Belanda.

Jumlah kerang yang ada di situs Bukit Kerang, lanjut Husaini, sudah banyak berkurang. Salah satu penyebabnya adalah masyarakat mengambilnya untuk digunakan sebagai bahan baku kapur.

"Perlu upaya turun tanah pemerintah dalam mempertahankan dan menjaga cagar budaya yang sangat berharga ini. Jika tidak, lambat waktu situs ini akan hilang. Sebenarnya Aceh wajib bangga masih memiliki situs prasejarah ini. Sebab yang masih utuh situs seperti ini hanya ada di Perancis dan Malaysia," kata dia.

Dia berharap agar situs ini disosialisasikan atau diperkenalkan kepada anak sekolah dan guru sejarah, agar mereka menjadi lebih faham.

"Karena situs itu mempunyai nilai penting, sejarah, ilmu, pariwisata, dan banyak hal hal yang bisa diambil. Sehingga keberadaannya tidak hilang di telan masa. Sebab cagar ini bisa rusak karena alam, bisa rusak karena tangan manusia. Jadi prinsipnya harus dilindungi sesuai dengan perintah undangan undangan nomor 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya," ujarnya.

Cerita Bukit Kerang Aceh 3
Tumpukan kulit kerang yang merupakan sampah dapur (kjoken mordinger) peninggalan manusia prasejarah. (Foto:Tagar/Zulfitra)

Sementara, Kepala Seksi Cagar Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tamiang, Elridawati mengatakan, di Kabupaten Aceh Tamiang terdapat 40 situs sejarah. Mulai dari makam hingga bangunan. "Salah satu situs itu adalah bukit kerang yang ada di Desa Mesjid dan Pangkalan," katanya.

Sebagian situs yang ada itu berdiri di atas lahan milik perorangan atau warga, sehingga cukup sulit untuk dilakukan pembangunan dan renovasi pada situs.

"Jadi pemerintah belum dapat untuk melakukan pembangunan keseluruhan agar situs tersebut tetap terjaga dan terawat. Terkecuali pihak pemilik tanah mau menghibahkan tanah yang terdapat situs tersebut kepada pemerintah," ujarnya.

Erlida juga tidak menampik bahwa kondisi pagar dan di sekitar kawasan Bukit Kerang sudah banyak yang rusak. Tetapi pihaknya telah berencana untuk melakukan pemugaran atau renovasi pada tahun depan.

PIhaknya berkomitmen untuk menjaga dan merawat situs situs yang ada di Kabupaten Aceh Tamiang. Sebab situs yang ada tersebut merupakan bukti peninggalan sejarah yang harus terus dilestarikan, sebagai pembelajaran untuk anak cucu kedepan.

"Terhadap semua situs yang ada, pemerintah daerah akan terus menjaga dan mengawasi agar tidak rusak. Meskipun saat ini masih terkendala dengan kepemilikan. Dan setiap tahunnya pihak dinas terus melakukan registrasi tersebut. Memastikan situs itu tidak hilang," tambahnya. []

Baca juga: 

Gemeresak Suara HT di Ruang Guru SD Kulon Progo

50 Tahun Merakit Buluh Bilah Jadi Layangan di Kudus

Berita terkait
Rajah Seumapa, Mantra Pengobatan Anak di Aceh
Warga Aceh Barat Daya memiliki mantra pengobatan yang disebut rajah seumapa. Rajah ini biasanya digunakan untuk mengobati anak kecil
Apa Kabar Bisnis Rongsokan Aceh di Masa Pagebluk
Jika sudah berkeliling, mata Rudi akan awas, mencari barang rongsokan di setiap sudut yang ada di Aceh Barat.
Togap Marpaung, Nasib Whistleblower Kasus Korupsi
Seorang mantan pejabat fungsional pada Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) bernama Togap Marpaung mengaku karirnya dijegal
0
11 Orang Ditangkap Demo Rusuh Omnibus Law di Banyuwangi
Polresta Banyuwangi menangkap 11 orang diduga provokator demo rusuh omnibus law di depan DPRD. Dari 11 terdapat anak di bawah umur.