UNTUK INDONESIA
Neno Warisman Cerita Dipersekusi Rezim Tangan Besi ke Fadli Zon
Politikus Partai Gerindra Fadli Zon kembali mengungkap kejadian lampau saat Pilpres 2019 dengan mengundang Neno Warisman mengaku dipersekusi.
Politikus Partai Gerindra Fadli Zon kembali mengungkap kejadian lampau saat Pilpres 2019 dengan mengundang Neno Warisman mengaku dipersekusi rezim tangan besi. (Foto: VivaNews/Khalisotussurur).

Jakarta - Politikus Partai Gerindra Fadli Zon kembali mengungkap kejadian lampau saat pemilu Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 lalu, dengan mengulas pemerintah sebagai rezim tangan besi, mengundang aktivis Neno Warisman.

Meski demikian, publik pun mengetahui, saat ini partainya merupakan bagian dari koalisi pemerintah. Bahkan, Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto saat ini 'mendapat kue', duduk di pos Menteri Pertahanan RI di Kabinet Indonesia Maju.

Kenapa sih, orang cuman mau deklarasi aja kok kayak gini amat, enggak ada yang istimewa deh.

Pernyataan Fadli Zon soal rezim tangan besi dibahas bersama Neno Warisman dalam channel YouTube Fadli Zon Official, seperti dilihat Tagar, Minggu, 11 Oktober 2020.

Di awal perbincangan keduanya, Fadli sempat memuji kekuatan Neno, yang mengaku sempat mendapat intimidasi bahkan persekusi, kala menginisiasi Gerakan #2019GantiPresiden. 

Kemudian, perempuan berusia 56 tahun itu pun mulai menceritakan dua kisah yang tak akan ia lupakan saat menginjakkan kaki di Riau dan Batam.

Baca juga: Setujui Fadli Zon, PA 212: Denny Siregar Target Pengadilan Rakyat

"Lucu itu benar kalau aku pikir-pikir aku juga ngebayanginnya mobilnya dibakar, beneran kalau mobil dibakar beneran, mobil dibakar di rumah atau bahasanya mobil terbakar, saat mobil diam, terbakar," kata Neno saat menceritakan peristiwa yang sempat ia alami kepada Anggota Komisi I DPR itu.

Penyanyi kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur tersebut selanjutnya menceritakan kisah nyata yang ia alami di Kota Batam. Namun, sebagai seorang wanita, ia mengaku tak gentar mengalami berbagai serangan, juga gelombang penolakan dari sekelompok massa maupun 'oknum'.

Neno mengaku mendapat intimidasi berupa pencegatan yang dilakukan petugas memegang senapan laras panjang. Intimidasi pun berlanjut karena ia beserta tokoh oposisi lainnya sempat ditimpuki oleh orang tidak dikenal sekeluarnya dari bandara. 

Ironisnya, tiada yang membelanya saat itu. Maka itu Neno putuskan berada di dalam mobil saja untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

"Terus ditimpukin terasa saat itu, aku telepon kan aku bilang, Fadli ini ada pejabatnya terus kamu bilang ini ada wakil DPR mau bicara, terus aku bilang sama orang-orang enggak ada yang mau, enggak ada yang berani ke luar mobil. Karena semua sudah dipalang, sudah banyak aparat mengelilingi mobil, tapi aku bilang kok enggak ada takut," tuturnya.

Walau begitu, ia mengaku sama sekali tak gentar, merasa harus tetap menghadapi pelbagai hadangan di sepanjang perjalanan. Pikirannya saat itu hanya tertuju, bagaimana caranya bisa mendeklarasikan Gerakan #2019GantiPresiden.

Baca juga: Fadli Zon Akui Omnibus Law Cipta Kerja Didominasi Pemerintah

"Ya ih.. kayak film ya seru. Kayak yang di film-film gitu. Terus kenapa sih sampai aku bilang sudah saya keluar terus mereka enggak bolehin saya keluar, itu yang di Batam," kata dia.

Lantas Neno membuka kisahnya pada saat ia berkunjung dan akan melakukan deklarasi dukungan untuk Prabowo Subianto di Provinsi Riau, di mana ia sempat berakting menjadi orang hamil agar tidak dicegat oleh massa.

"Kalau yang di Riau kejadiannya unik banget, jadi aku tuh dari rumah sudah mikir gimana caranya aku bisa lolos, sampai akhirnya aku nyamar pakai seakan-akan jadi wanita hamil, pura-pura hamil, ilmu theaternya aku pakai, aku gunakan. Walaupun sudah dipotret-potret aku juga berasa, aku juga enggak ngerti," ucap Neno.

Ia mengaku heran, mengapa sampai menerima berbagai serangan dan ancaman yang sedemikian menyeramkan. Padahal, dia bukan politisi, hanya perempuan yang berprofesi sebagai pembaca puisi. Baginya, amat berlebihan ancaman yang saat itu ia terima bertubi-tubi.

"Kenapa sih, orang cuman mau deklarasi aja kok kayak gini amat, enggak ada yang istimewa deh," ujar dia.

"Yang paling menonjol ada kekerasan fisik, ada ancaman. Biasanya sih persekusinya enggak bisa melakukan pulang lagi ke Jakarta, atau pada saat pertemuan kemudian dihentikan pertemuannya," ucap Neno menambahkan.

Meski begitu, ia mengaku tidak kapok pernah ada dan menjadi bagian dari pendukung Prabowo Subianto. Baginya, berbagai intimidasi dan persekusi yang ia terima bisa dijadikan pengalaman berharga dalam hidupnya. []

Berita terkait
Omnibus Law Cipta Kerja Digolkan, Fadli Zon: Buruh Kian Terpojok
Anggota Komisi I DPR Fadli Zon menilai dengan sahnya Omnibus Law UU Cipta Kerja, buruh kian terpojok di tengah pandemi Covid-19.
Fadli Zon: Omnibus Law Preseden Buruk Bagi Demokrasi
Fadli Zon menilai mustahil pembahasan UU Cipta Kerja serumit itu bisa diselesaikan dengan waktu yang sangat singkat.
Fadli Zon Bongkar Isi Omnibus Law Cipta Kerja yang Rugikan Buruh
Anggota Komisi I DPR Fadli Zon membongkar ada beberapa poin buruh bakal dirugikan Omnibus Law UU Cipta Kerja, yang sah Senin, 5 Oktober 2020.
0
Polisi Ringkus Remaja Pengangguran Curi Uang Sopir di Blora
Remaja pengangguran di Blora diringkus polisi karena mencuri uang dan HP milik seorang sopir truk.