UNTUK INDONESIA
Nabi Adam AS, Manusia Pertama di Dunia
Ada riwayat menyebutkan Nabi Adam AS, manusia pertama di dunia, hidup hingga usia 1.000 tahun. Ini profil perjalanannya dari awal hingga akhir.
Planet Bumi. (Foto: Pixabay/Free-Photos)

Jakarta - Allah SWT menciptakan Nabi Adam AS dengan mengatakan di hadapan para malaikat mengenai penciptaannya sebagai khalifah untuk leluhur manusia dan keturunannya yang akan memakmurkan dan mensejahterakan dunia. Namun, para malaikat penasaran dengan Nabi Adam AS karena mereka merasa dengan penciptaan makhluk sempurna itu disebabkan kelalaian para malaikat. 

Nabi Adam diciptakan Allah dengan roh yang ditiupkan langsung oleh-Nya. Berbeda dengan malaikat, Nabi Adam dibekali akal yang membuatnya bisa mempelajari, mengamati dan memahami berbagai macam. Kelebihan inilah yang kemudian membuat para malaikat mengakui keistimewaan yang diberikan pada Nabi Adam dari Sang Maha Pencipta.

Nabi Adam diciptakan dari tanah, setelah mati maka Adam dan anak cucunya juga akan dikuburkan di tanah. Ketika tubuh Adam telah terbentuk dengan sempurna dan ditupkan roh, para malaikat diperintahkan untuk bersujud padanya. Namun para iblis dengan sombong menolak untuk sujud karena menganggap dirinya lebih tinggi dengan terbuat dari api dibandingkan tanah.

Hawa Diciptakan untuk Menemani Nabi Adam AS

Nabi Adam yang hanya sendirian merasa kesepian, maka Allah menciptakan Hawa sebagai pendampingnya. Hawa diciptakan dari salah satu tulang rusuk sebelah kiri Adam yang diambil saat dia sedang terlelap tidur. Kemudian, Nabi Adam dan Hawa dinikahkan untuk menjadi sepasang suami istri.

Wahai bani Adam, ini adalah tuntunan bagi orang yang mati di antara kalian.

Keduanya hidup bahagia di surga dengan segala nikmat dan cukup atas kebutuhannya. Tetapi mereka diberi satu larangan yang harus dipatuhi yaitu tidak boleh mendekati pohon terlarang dan memakan buahnya (huldi). Karena Iblis telah mendeklarasikan diri untuk membangkang maka dendamnya kepada Adam semakin besar.

Setelah berulang kali gagal menggoda Adam, Iblis kemudian mencoba menggoda melalui Hawa hingga akhirnya berhasil untuk mendekat dan memakan buah huldi. Belum selesai menelan buah tersebut, Adam dan Hawa mendapat murka Allah yang membuatnya sadar dan menangis sambil memanjatkan doa dan ampunan.

Nabi Adam dan Hawa Diturunkan ke Bumi

Karena perbuatannya itu Nabi Adam dan Hawa harus dipindahkan dari surga ke bumi dan mengemban tugas sebagai khalifah. Setiap langkahnya, iblis dan keturunannya selalu berusaha untuk menyesatkan dengan berbagai cara. 

Dalam sebuah kisah, ketika diturunkan ke bumi, Nabi Adam diturunkan di Hindustan sementara Hawa di Jeddah, Saudi Arabia. Mereka menangis bersujud memohon ampun, tidak berani mengangkat kepala 300 tahun karena malu kepada Allah telah melanggar pantangan-Nya. 

Dengan izin Allah, mereka dipertemukan kembali di Jabal Rahmah daerah Arafah. Maka pertemuan setelah perjuangan yang amat panjang menjadi hal yang sangat membahagiakan, sehingga mereka menjalani hidup bersama dengan amat bahagia.

Adam AS dan Hawa Berketurunan

Nabi Adam dan Hawa akhirnya diberkahi keturunan. Hawa selalu melahirkan anak kembar laki-laki dan perempuan. Pada kelahiran pertama anak mereka bernama Qabil dan Iklima, kemudian kelahiran kedua yakni bernama Habil dan Labuda. Ketika anak Nabi Adam dan Hawa mulai beranjak dewasa, karakter merekapun berbeda-beda satu sama lain.

Seiring berjalannya waktu, Qabil memiliki sifat yang cenderung kasar dan Habil memiliki sikap lebih santun. Iklima menjadi remaja yang cantik dan Labuda biasa-biasa saja saja. Anak-anaknya memiliki tugas masing-masing untuk membantu urusan rumah tangga dan pekerjaan. Dengan semakin bertambahnya kedewasaan keempat anak Adam dan Hawa tersebut, mulai terlihat saling memiliki ketertarikan dengan lawan jenis.

Allah SWT memberikan petunjuk, anak mereka harus segera dinikahkan dengan aturan mereka tidak boleh dinikahkan dengan saudara kembarnya sendiri. Artinya Qabil akan menikahi Labuda dan Habil akan menikahi Iklima. Setelah hal tersebut disampaikan Adam pada anak-anaknya dengan penegasan tidak boleh ada pihak yang menolak. Ternyata Qabil menolak dan menyatakan ingin menikahi Iklima yang cantik padahal kembarannya sendiri.

Maka untuk menengahi perselisihan tersebut, Adam memberi solusi kepada mereka untuk berkurban. Kemudian siapa yang kurbannya diterima maka dialah yang berhak menikahi Iklima. Nabi Adam berpikiran bahwa masalah jodoh ini akan lebih baik jika tawakkal dan berserah diri kepada Allah SWT.

Ternyata kurban Habil diterima dan otomatis berhak menikahi Iklima, namun Qabil tetap tidak dapat menerimanya. Setan kemudian melancarkan bisikannya untuk menimbulkan rasa iri dan dengki pada Qabil. Atas rayuan setan, Qabil diberikan contoh untuk membunuh Habil dengan cara seperti memukul kepala burung menggunakan batu.

Qabil akhirnya benar-benar menghantamkan batu besar ke kepala Habil hingga Habil pun meninggal. Qabil pun belajar dari burung gagak bagaimana caranya menguburkan mayat Habil di dalam tanah. Dalam kisah tersebut menjadi pelajaran besar bagi Nabi Adam untuk mengajari kebaikan kepada anak-anaknya dan menjauhi perbuatan buruk.

Wafatnya Nabi Adam AS

Dikisahkan, saat mendekati akhir hidup, Nabi Adam meminta pada anak-anaknya mencarikan buah surga. Anak-anaknya pun mencari ke sana dan ke mari seharian, namun sayang, buah tersebut tak kunjung ditemukan. Di perjalanan, mereka bertemu malaikat yang menyamar menjadi orang yang membawa kain, wewangian, dan sekop.

Ia mengatakan pada mereka sebaiknya mereka pulang, karena ajal ayahnya sudah dekat. Mereka pun pulang, sambil diikuti orang asing tadi. Adam dan Hawa yang sebelumnya pernah tinggal di surga, mengenali sosok orang asing tersebut. Ia adalah malaikat maut yang bertugas mengambil nyawa Adam.

Setelah mencabut nyawa manusia pertama tersebut, ia lalu memandikan, mengkafani, dan memberi wewangian pada jenazah. Ia lalu menggali tanah, meletakkan jenazah di dalam lubang itu, lalu menumpukkan batu pada makam Nabi Adam AS. 

Dan sebelum pergi, malaikat itu berpesan, “Wahai bani Adam, ini adalah tuntunan bagi orang yang mati di antara kalian.”

Adam, menurut sebagian riwayat, ia hidup hingga berusia 1.000 tahun. Riwayat lain menyebutkan usianya antara 950-1.000 tahun. Jarak antara Adam dan Nuh juga 1000 tahun atau 10 abad.

Demikian keterangan Ibnu Katsir dalam kitabnya Al-Bidayah wa an-Nihayah. Ibnu Katsir menjelaskan, ada seseorang bertanya, “Ya, Rasulullah, apakah Adam seorang nabi?” Rasul SAW menjawab, “Ya, nabi yang diberikan wahyu.” Orang itu kembali bertanya, “Berapa lama rentang waktu antara Adam dan Nuh?” Nabi SAW menjawab, “Sepuluh abad.” (HR Muslim). []

Baca juga:

Berita terkait
Pandemi Corona dan Kisah Wabah Penyakit Zaman Nabi
Pandemi corona Covid-19 menyerang nyaris seluruh negara di dunia saat ini, ternyata peristiwa serupa pernah terjadi pada zaman kenabian.
Ramadan Ala Masjid Cheng Ho Surabaya Saat Covid-19
Ketua Harian Masjid Cheng Ho Hasan Basri mengatakan kegiatan selama Ramadan berubah di tengah pandemi Covid-19.
Imbauan Selama Ramadan Saat Pandemi Corona di Bantul
Pemkab Bantul mengeluarkan imbauan selama Ramadan di tengah pandemi Covid-19.
0
Jokowi Saksikan Ketua MA Syarifuddin Mengucap Sumpah
Presiden Joko Widodo atau Jokowi menyaksikan pengucapan sumpah M. Syarifuddin sebagai Ketua Mahkamah Agung (MA) periode 2020-2025.