UNTUK INDONESIA

Museum dengan Masterpiece 100 Wayang Kurawa di Yogyakarta

Museum Wayang Kekayon di Yogyakarta memiliki masterpiece berupa 100 wayang bala Kurawa lengkap. Selain wayang kulit, di sini juga ada wayang lain.
Sejumlah koleksi wayang kulit dan pagelaran wayang lengkap dengan patung dalang di Museum Wayang Kekayon, Yogyakarta, Senin, 15 Februari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Yogyakarta – Sejumlah pohon beringin berukuran besar menyambut siapa pun yang memasuki area Museum wayang Kekayon, di Jl Wonosari, Yogyakarta. Rimbun dedaunan dari pepohonan itu menghalangi matahari siang, meski sulur-sulur yang menjuntai sedikit memberi kesan seram.

Beberapa belas meter dari pepohonan raksasa itu, satu unit pendopo (bangunan khas Jawa) berdiri kokoh memamerkan kecantikan arsitektur Jawa, lengkap dengan belasan tiang atau saka berwarna cokelat muda.

Suasana di halaman museum tampak sunyi. Hanya ada tiga remaja putri sedang duduk-duduk di pendopo yang teduh. Mereka terlihat sedang bercanda. Sesekali suara tawa kecil terdengar dari arah mereka duduk.

Tidak jauh dari pendopo terdapat semacam paviliun yang digunakan sebagai loket pembelian tiket masuk museum. Seorang perempuan muda berhijab duduk di dalamnya. Sorot matanya tampak bersahabat saat menyapa. Senyumnya yang tersembunyi di balik masker dapat dilihat dari gerakan di sudut kelopak mata Lia Nur Pratiwi, perempuan berusia 34 tahun itu.

Cerita Museum Wayang 2Lia Nur Pratiwi, 34 tahun, edukator Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang ditugaskan di Museum Wayang Kekayon, menunjukkan koleksi museum, Senin, 15 Februari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Lia, sapaan akrabnya adalah Edukator dari Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang ditugaskan di Museum Wayang Kekayon. Dia bertugas untuk menjelaskan tentang museum itu pada para pengunjung, sekaligus menjaga loket.

Masterpiece Wayang Kurawa

Lia berdiri dan melangkah menuju ruangan pertama museum, yang disebut dengan Unit 1. Museum Wayang Kekayon terdiri dari 7 unit. Masing-masing unit diisi dengan puluhan wayang kulit dan wayang lain, termasuk replika wayang orang berukuran sebesar orang dewasa.

Wayang orang di situ totalnya berjumlah sembilan wayang, yakni satu wayang di masing-masing unit, kecuali di unit 5 yang terdapat 3 wayang orang.

Sambil menunjukkan wayang-wayang koleksi museum yang disimpan dalam semacam etalase kaca, Lia menjelaskan sejarah museum dan koleksinya.

Museum ini didirikan pada tahun 1987 oleh seorang dokter syaraf, yakni Suyono Prawirohadikusumo. Suyono mendirikan museum ini setelah pulang dari kuliahnya di Belanda. Saat di Belanda Suyono mendapat masukan dari seorang petugas museum di sana.

“Bahwa adalah dosa kalau di Yogyakarta yang merupakan kota budaya ini tidak ada museum tentang wayang. Terus beliau tergerak hatinya, dan setelah balik ke Yogyakarta beliau membangun museum ini,” kata Lia menjelaskan.

Meski dibangun sejak tahun 1987, Museum Wayang Kekayon baru diresmikan pada tahun tahun 1991, tepatnya 5 Januari 1991, dan beroperasi penuh pada tanggal 17 Juni 1992.

Wayang kulit koleksi Museum Wayang Kekayon ini sebagian besar adalah koleksi pribadinya Bapak Suyono, kemudian ada juga sedikit hibah.

Wayang-wayang yang dimiliki bukan hanya wayang kulit khas Jawa saja, tetapi juga ada wayang kulit khas Bali, Madura, serta beberapa jenis wayang dari daerah lain, seperti wayang golek, serta topeng-topeng kayu.

Wayang Golek adalah wayang yang berbentuk tiga dimensi, seperti boneka. Koleksi wayang Golek di Museum Wayang Kekayon bergaya Yogyakarta dan Sunda.

Cerita Museum Wayang 3Revaldo, 16 tahun, siswa salah satu SMK di Kabupaten Bantul, memperhatikan edukator museum yang menjelaskan tentang koleksi wayang di tempat itu, Senin, 15 Februari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

“Dari daerah lain mungkin ada tapi tidak dipamerkan. Selain wayang kulit, ada juga wayang klitik. Itu wayang yang terbuat dari kayu, jadi bunyinya kalau dimainkan tik tik tik, begitu. Makanya dinamakan wayang klitik, kata Lia sambil menunjukkan sejumlah wayang yang terbuat dari kayu di dalam etalase.

Selain itu juga terdapat wayang kulit yang ukurannya lebih kecil daripada wayang kulit yang biasa digunakan untuk pertunjukan. Namanya wayang Keper.

Di salah satu unit terdapat semacam poster bergambar adegan pewayangan pada dindingnya. Lia mengatakan, itu disebut Wayang Beber. Sebab dalang mengisahkan cerita pewayangan dengan cara membeberkan kertas tersebut.

“Wayang Beber itu dulu cerita wayangnya digambar di kertas, jadi si dalang akan menceritakan yang ada di dalam gambar itu, dibeberkan. Itu lembaran gambar wayangnya digulung, membukanya dari kiri ke kanan. Setelah satu adegan dalam satu gambar itu selesai, akan dibeberkan lagi lembaran-lembaran selanjutnya,” dia menuturkan.

Dari seluruh koleksi yang dipamerkan, Museum Wayang Kekayon memiliki masterpiece berupa satu set wayang kulit dari bala Kurawa. Jumlahnya 100 lembar wayang.

Cerita Museum Wayang 4Pendopo yang terdapat di area Museum Wayang Kekayon, Yogyakarta, Senin, 15 Februari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Masterpiece di sini adalah 100 wayang Kurawa, lengkap. Itu terbuat asli dari kulit kerbau. Dia jadi masterpiece karena lengkap seratus jumlahnya.”

Saat ditanya apakah wayang-wayang koleksi museum ini dulunya pernah dimainkan oleh dalang pada pertunjukan-pertunjukan, Lia mengatakan, sepengetahuannya wayang-wayang koleksi pribadi Suyono tidak dimainkan di pertunjukan, sebab Suyono bukan seorang dalang.

“Secara pagelaran mungkin tidak. Tapi kalau dimainkan untuk mengedukasi anak-anak beliau mungkin iya. Di sini totalnya ada sekitar 6 ribu wayang, tapi tidak semuanya dipamerkan di 7 unit.” Lia menambahkan.

Patung 3 Dewa

Hanya membutuhkan waktu beberapa belas menit untuk melihat seluruh wayang koleksi Museum Wayang Kekayon sebelum pengunjung tiba di pintu keluar Unit 7.

Hanya beberapa meter dari pintu keluar Unit 7, satu bangunan kecil berisi tiga patung dewa Tionghoa menyambut. Selain bangunan berisi tiga patung dewa, juga ada beberapa patung serta miniatur bangunan di halaman itu.

Cerita Museum Wayang 5Patung tiga dewa yang ada di area Museum Wayang Kekayon, Yogyakarta, Senin, 15 Februari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Patung dan miniatur bangunan tersebut, kata Lia menunjukkan simbol-simbol. Bangunan berisi patung tiga dewa misalnya, menurutnya menyimbolkan masuknya etnis Tionghoa ke Nusantara. Kemudian ada bekas air mancur dengan sejumlah patung manusia bergaya Eropa di tepinya, menyimbolkan masuknya Belanda. Selanjutnya, miniatur Menara Kudus menyimbbolkan masuknya agama Islam. Juga ada patung proklamator Indonesia dan patung tentara Jepang.

Sementara, bangunan lain berupa pendopo berukuran cukup besar, kata Lia, sebelum pandemi Covid-19 sering digunakan untuk pagelaran seni, seperti tarian, juga untuk resepsi pernikahan.

“Kalau dulu Sabtu-Minggu pasti full, selama pandemi ini sebulan kadang Cuma sekali atau dua kali,” Lia menuturkan.

Pandemi juga menyebabkan jumlah pengunjung ke museum menurun drastis. Namun, jumlah pengunjung virtual justru melonjak tajam. Pengunjung museum secara daring atau virtual biasanya mengunjungi media sosial Museum Wayang Kekayon, yakni YouTube dan Instagram.

“Secara garis besar museum fisik dan virtual sama-sama untuk mengedukasi, bahkan di medsos kita justru lebih rinci. Di sana ada info tentang museum, ada tentang wayang, dan tahun lalu juga kita upload kisah tentang beberapa tokoh. Kita juga sering adakan webinar.”

Cerita Museum Wayang 6Air mancur dan patung bergaya Eropa di kawasan Museum Wayang Kekayon, Yogyakarta, yang menyimbolkan masuknya Belanda ke Indonesia. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Edukasi dari mengunjungi Museum wayang Kekayon juga dirasakan oleh Revaldo, 16 tahun, seorang siswa SMK di Kabupaten Bantul yang sedang magang di museum itu.

Revaldo mengaku baru magang di Museum Wayang Kekayon selam sepekan dari jadwal magangnya selama tiga bulan.

Selama seminggu magang, Revaldo mengaku sudah belajar beberapa hal tentang budaya, khususnya wayang, meski pengetahuannya belum terlalu banyak.

Menurutnya, museum semacam ini sangat membantu para pemuda untuk mempelajari budaya, sebab mereka bisa melihat langsung bentuk dan jenis-jenis wayang.

“Saya belajar tentang bab wayang. Kan jarang anak muda yang belajar tentang wayang. Ngerti jenis-jenis wayang, tambah pengalaman,” kata Revaldo yang saat itu membantu Lia menunjukkan wayang-wayang koleksi Museum Wayang Kekayon. []

Berita terkait
Laporan Khusus: Aktivis di Toba Masuk Penjara Karena Kritis
Awal tahun 2021 di Restoran Pizza Andaliman, pinggir jalan besar Balige, Kabupaten Toba, Sebastian Hutabarat dijemput aparat kejaksaan.
Kisruh Ketua BPD dan Kepala Desa di Wonosobo
Seorang Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) di Kabupaten Wonosobo melaporkan kepala desanya dengan tuduhan pemalsuan tanda tangan.
Imlek yang Berbeda di Vihara Avalokitesvara Pematangsiantar
Dua hari menjelang Imlek, tak terlihat banyak atifitas di vihara yang bernama Vihara Avalokitesvara Pematangsiantar ini.
0
Jalaluddin Rakhmat Wafat, Sujiwo Tejo Sampaikan Belasungkawa
Budayawan Sujiwo Tejo mengungkapkan belasungkawa atas kepergian tokoh Syiah Indonesia, Jalaluddin Rakhmat, yang meninggal dunia pada Senin petang.