UNTUK INDONESIA

Mural Cantik Menambah Penghasilan Warga di Tangerang

Keindahan mural dan dinding rumah warga Kampung Bekelir, Tangerang, membuat banyak wisatawan yang berkunjung, dan berdampak pada ekonomi warga.
Mural bergambar penari Lenggang Cisadane menghiasi salah satu dinding di Kampung Bekelir, Kelurahan Blabakan, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang. (Foto: Tagar/Danti Aulia Ardianti)

Tangerang – Lukisan seorang penari yang mengenakan kebaya terpampang di salah satu dinding rumah warga. Sejumlah mural dengan beragam lukisan lain terpampang di kawasan Kampung Bekelir, Kelurahan Blabakan, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang, Banten. Mural-mural itu tampak serasi dengan tembok rumah-rumah warga yang beraneka warna.

Bukan hanya tembok rumah yang berwarna-warni. Sebagian atap rumah mereka juga tampak berwarna-warni. Setidaknya ada 300 rumah di empat rukun tetangga (RT) yang sepakat untuk mewarnai rumah-rumah mereka dengan warna yang beragam.

Mural dan warna-warni rumah warga tersebut terlihat indah. Sejumlah wisatawan lokal maupun mancanegara tak jarang berkunjung ke Kampung Bekelir yang dijadikan sebagai kampung wisata tersebut.

Suasana itu jauh berbeda dengan beberapa tahun lalu, tepatnya sebelum tahun 2017. Dulu perkampungan padat penduduk tersebut terlihat biasa dan tidak banyak dikunjungi.

Nama Bekelir diambil dari bahasa Sunda, yang artinya krayon atau pensil warna, Nama tersebut diambil setelah mendapat persetujuan warga, dan diresmikan oleh Wali Kota Tangerang, Arief R Wismansyah pada 19 November 2017.

Dari media sosial Kampung Bekelir diketahui bahwa sejumlah pejabat telah berkunjung ke sana, mulai dari camat hingga Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi).

CSR Produsen Cat

Seorang warga Kampung Bekelir, Hilda, 31 tahun, menjelaskan, awal dibuatnya kampung ini menjadi berwarna-warni adalah saat salah satu produsen cat menyalurkan corporate social responsibility (CSR). Saat itu, Pacific Paint, perusahaan cat tersebut memberi sponsor berupa cat pada warga untuk berkreasi, baik cat tembok maupun cat untuk genteng.

Untuk proses awal ini semua kita dapat sponsor dari pacific paintnya, Teh. Mulai dari cat tembok, cat genteng semuanya kita gratis.

Kala itu warga yang dikoordinir oleh lurah, Abu Sofyan, hanya mengeluarkan biaya untuk mengupah tukang. Itu pun seikhlasnya, dan murni inisiatif mereka.

Cerita Kampung Bekelir 2Salah satu mural bertuliskan Kampung Bekelir. (Foto: Tagar/Danti Aulia Ardianti)

“Sebelum dinamakan Kampung Bekelir, ini perkampungan kumuh yang padat penduduk dan itu juga ajakan dari lurah yang ingin merubah kampung ini menjadi rapi. Akhirnya sedikit demi sedikit warga banyak yang menyetujui untuk menerima ajakan tersebut walaupun awalnya banyak yang nolak,” kata Hilda menjelaskan.

Hilda yang bekerja sebagai pedagang ini menjelaskan, setelah proses pengecatan selesai, dan sejumlah fasilitas untuk pengunjung pun dibangun. Mulai dari toilet, masjid, warung makan, dan pemandu wisata yang akan mengantar para wisatawan berkeliling Kampung Bekelir agar tidak kesasar.

“ Kamu udah puas keliling belum, Teh? Seharusnya kamu ke rumahnya pak lurah dahulu nanti sama dia diarahkan ke pemandu wisata (tour guide) karena di sini disediakan pemandu wisatanya tau dek,” kata Hilda menambahkan.

Lukisan mural yang ada di kampung ini, lanjut Hilda, bukan asal dilukis, tetapi mempunyai filosofi dan cerita tersendiri. Dia mencontohkan mural bergambar lenggang Cisadane yang dilukis di dinding dengan ukuran gambar yang sangat besar. Makna dari mural tari lenggang Cisadane itu adalah pelestarisan budaya Tangerang.

Sejumlah lukisan lain menggambarkan ikon-ikon Kota Tangerang, seperti Gambang Kromong, Masjid Al-azhom, dan masih banyak lagi.

Lukisan-lukisan yang terpampang di situ bukan hanya hasil karya seniman dari Indonesia saja. Beberapa lukisan merupakan karya dari seniman mural dari luar negeri. Kata Hilda, para seniman itu dibebaskan melukis dan berkarya di situ.

“Tempat wisata ini sih biasanya banyak sekali yang berkunjung untuk swafoto atau sambil melihat kali sembari menunggu sunset sih, Teh. Yah palingan kalau parah pengunjung udah selesai keliling, mereka duduk di depan kali sambil nikmatin sejuknya sore hari,” kata Hilda sambil menunjukkan sungai yang mengalir.

Setelah puas menikmati keindahan Kampung Bakelir, selain menikmati aliran sungai, para pengunjung juga bisa menikmati beragam jajanan yang dijual oleh warga setempat.

“Di sekitaran Kampung Bakelir itu banyak sekali yang bisa kamu kunjungi buat duduk sambil nyari jajanan sore. Ada taman Gajah Tunggal, Jembatan Kaca. Tapi kalau jembatan kaca ada batasan jamnya gitu sih. Kalau taman gajah tunggal sih biasanya makin sore makin rame begitu,” kata hilda.

Berdayakan Warga

Sebagian warga Kampung Bekelir memanfaatkan keindahan kampung mereka dengan bekerja sebagai penjual kuliner. Mereka berjualan di sekitaran kali, dengan menu yang beragam, mulai dari es doger, es podeng, seblak, ayam bakar, nasi jagal, nasi ulam serta angkringan, dll.

Cerita Kampung Bekelir 3Suasana di salah satu gang di Kampung Bekelir, Kelurahan Blabakan, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang. (Foto: Tagar/Danti Aulia Ardianti)

“Padahal masih banyak space yang kosong, Teh. Kan aku warga sini ya, Teh, ini aku berjualan di sini juga, alhamdullillah harus tahan banting juga, yah namanya juga dagang kan pasti ada pasang surutnya,” tuturnya.

.”Lokasi berjualan tersebut, lanjut Hilda, disediakan gratis oleh pemerintah, dengan tujuan membantu perekonomian warga Kampung Bekelir. “Asal sistemnya siapa cepat dia dapat aja, banyak juga nih tetanggaku yang baru setahun udah gak kuat jualan karena gak tahan mentalnya, jadi gak diterusin lagi. Padahal mah rezeki udah ada yang ngatur insyaallah ga ketuker.”

Pandemi Covid-19, lanjut Hilda, membuat adanya perbedaan pendapat di kalangan warga setempat tentang dibolehkannya berkunjung ke kampung itu atau tidak. Sebagian warga menolak, tapi sebagian lainnya tetap membuka diri dan membolehkan pengunjung berkeliling kampung.

“Mau gimana pun ini rumah penduduk mau dilatih juga susah karena setiap orang kan gak bisa sama semua sifatnya ya, Teh, dan pasti mereka juga punya kebiasaan masing-masing yang susah diatur,” ucap Hilda.

Hilda juga menuturkan bahwa setiap tahun warga merayakan ulang tahun Kampung Bekelir, yakni tanggal 19 November. Mereka menggelar tari-tarian khas Tangerang dan mengundang musisi muda berbakat. Tidak hanya itu, lurah nya pun juga membuat nasi tumpeng dengan warna warni sesuai Kampung Bekelir.

, RT juga sepakat terus musisi yang berbakat tapi terkenal gitu buat suasana aja. Itu juga kalau lagi perayaan ulang tahun Bekelir jalanan umumnya ini kan ditutup,” ujar Hilda menjelaskan.“Biasanya sih, Teh, tiap tahun kalau perayaan ni kampung lurah yang ngadain gitu, RT juga sepakat terus ngundang musisi yang berbakat tapi ga terkenal gitu buat ngeramein suasana aja. Itu juga kalau lagi perayaan ulang tahun Bekelir jalanan umumnya ini kan ditutup,” ujar Hilda menjelaskan.

Selain wisata Kampung Bekelir, masih ada beberapa kampung tematik lain di Kota Tangerang, seperti Kampung Markisa dan Kampung Greenpul (Grendeng Pulo) yang awalnya perkampungan kumuh sama seperti kampung Bekelir.

Perkampungan-perkampungan itu diubah menjadi pemukiman yang dilirik oleh wisatawan. Kampung tematik ini juga merupakan program Wali Kota Tangerang untuk mewujudkan “One village one product” (satu kampung satu produk) agar potensi wilayah utamanya di tingkat kelurahan bisa dioptimalkan.

Program diadakannya Kampung tematik dan Kampung Bekelir ini untuk mengatasi pemenuhan kebutuhan dasar utamanya pada peningkatan kualitas lingkungan rumah tinggal warga miskin dan prasarana dasar pemukiman.

Cerita Kampung Bekelir 4Sungai yang mengalir di kawasan Kampung Bekelir, Kelurahan Blabakan, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang. (Foto: Tagar/Danti Aulia Ardianti)

Kampung tematik dan Kampung Bekelir diciptakan bukan tanpa tujuan, Pemkot Tangerang berharap dengan terciptanya kampung ini bisa menjadi titik awal perbaikan lingkungan sekaligus menjadi titik awal perbaikan lingkungan sekaligus mengangkat potensi sosial ekonomi masyarakat.

Pemerintah Kota Tangerang merencakan dan mengembangkan kampung tematik sejak tahun 2017. Hingga kini telah tercipta sebanyak 17 kampung tematik. []

(Danti Aulia Ardianti)

Berita terkait
Selongsong Kertas Terbunuh Kantong Plastik di Yogyakarta
Selongsong atau pembungkus yang terbuat dari kertas sisa pembungkus semen pernah jaya di Yogyakarta,tapi sekarang tergeser oleh kantong plastik.
Bertahan Jual Alat Pertanian di Sukabumi Kala Pandemi
Seorang perempuan berusia 46 tahun di Sukabumi membuka usaha toko alat pertanian setelah mengundurkan diri dari pekerjaannya.
Bajaj Jadi Alat Kerja Sekaligus Rumah Tinggal di Jakarta
Cerita para pengemudi bajaj yang harus menjadikan kendaraan roda tiga ini sebagai tempat tinggal sekaligus alat pencari uang di Jakarta.
0
Mural Cantik Menambah Penghasilan Warga di Tangerang
Keindahan mural dan dinding rumah warga Kampung Bekelir, Tangerang, membuat banyak wisatawan yang berkunjung, dan berdampak pada ekonomi warga.