UNTUK INDONESIA

Selongsong Kertas Terbunuh Kantong Plastik di Yogyakarta

Selongsong atau pembungkus yang terbuat dari kertas sisa pembungkus semen pernah jaya di Yogyakarta,tapi sekarang tergeser oleh kantong plastik.
Sugiman, 73 tahun dan istrinya, Suratijah, 68 tahun, sepasang suami istri perajin selongsong berbahan kertas besak bungkus semen di Kampung Ketanggungan, Kelurahan Wirobrajan, Kecamatan Wirobrajan, Yogyakarta, Selasa, 5 Januari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Yogyakarta – Sugiman duduk di bawah tritisan salah satu rumah di Kampung Ketanggungan, Kelurahan Wirobrajan, Kecamatan Wirobrajan, Kota Yogyakarta, tidak jauh dari gapura bertulis nama kampungnya. Tritisan di atasnya seperti tidak banyak menghalangi terik matahari siang itu, Selasa, 5 Januari 2021.

Rambutnya yang sebagian sudah berwarna putih sesekali tertiup bayu. Tak jarang dahinya berkerut saat melipat tumpukan kertas bekas pembungkus semen di hadapannya. Otot-otot lengannya menonjol saat jemari Sugiman bergerak melipat kertas menjadi selongsong atau longsong.

Tubuh bagian atasnya tak ditutupi sehelai benang pun, menunjukkan kulitnya yang berwarna cokelat gelap dan sedikit berkilau akibat keringat yang memantulkan cahaya matahari. Tiba-tiba pria berusia 73 tahun itu berteriak dan mengangkat tangan kanannya, membuat gerakan seperti melambai, saat seorang tetangganya melintas sambil menyapanya. Kemudian kembali fokus melipat longsong-longsong di hadapannya.

Hanya beberapa menit, puluhan longsong selesai dibuatnya. Sugiman berdiri dan melangkah menuju rumahnya yang terletak hanya beberapa belas meter dari gapura, sambil menganggukkan kepala sebagai tanda ajakan.

Cerita Selongsong Kertas 2Gapura sentra perajin selongsong di Kampung Ketanggungan, Kelurahan Wirobrajan, Kecamatan Wirobrajan, Yogyakarta, Selasa, 5 Januari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Di dalam rumah Sugiman yang beralas semen, tumpukan ratusan kertas bekas pembungkus semen berserakan tidak teratur. Sementara, seorang perempuan paruh baya, Suratijah, duduk santai di antara tumpukan kertas-kertas semen. Di sampingnya terdapat wadah plastik berisi lem.

Suratijah adalah istri Sugiman. Sama seperti sang suami, rambut perempuan berusia 68 tahun itu pun telah dihiasi uban. Dia menyapa ramah sambil mencelupkan telunjuknya pada wadah berisi lem, kemudian mengoleskan pada kertas bekas bungkus semen di pangkuannya.

Pasangan Sugiman dan Suratijah ini merupakan perajin longsong yang terbuat dari kertas bekas pembungkus semen. Keduanya sudah lebih dari 40 tahun menekuni pekerjaannya.

Kata Sugiman, dirinya menjalani pekerjaan itu sejak tahun 1975. Sambil memroduksi selongsong, dia juga bekerja sebagai pengemudi becak.

Saya menjadi pembuat longsong kertas semen sejak tahun 1975, kemudian sejak tahun 1978 saya nyambi menjadi tukang becak.

Bergumul Debu Sisa Semen

Sugiman menceritakan proses pembuatan selongsong kertas tersebut, mulai dari saat kertas itu masih dipenuhi dengan semen yang menempel pada permukaannya. Untuk menghilangkan semen yang menempel, kertas-kertas itu dipukul-pukulkan pada tiang yang sudah disiapkan di tepi sungai kecil tidak jauh dari rumah mereka.

Saat membersihkan semen yang masih menempel, tak jarang mereka harus bergumul dengan debu semen yang beterbangan tertiup angin, sehingga mereka mengenakan masker atau penutup hidung.

Setelah kertas bersih dari sisa-sisa semen yang menempel, selanjutnya kertas itu dilap menggunakan kain basah agar benar-benar bersih. Lalu kertas-kertas itu dijemur, kemudian dilem sesuai dengan ukuran selongsong yang akan diproduksi.

“Terus dijemur ben luwih kraket karo lem. Leme seko pati kanji. Niku le ndamel onten pirang ukuran. (Kemudian dijemur supaya lemnya menjadi lebih lengket. Lemnya dibuat dari tepung kanji. Selongsong itu ada beberapa ukuran,” ucapnya menjelaskan dengan bahasa Jawa.

Saat hari hujan, otomatis pembuatan selongsong terhenti, sebab para perajin tidak bisa membersihkan semen yang menempel dan tidak bisa menjemur.

Selongsong yang dibuat mulai dari ukuran satu kilogram hingga 20 kilogram. Untuk membuat selongsong berukuran 10 kilogram ke atas, kertas-kertas itu disambung menggunakan lem. Penyambungan dilakukan pada bagian atas kertas sepanjang seperempat panjang kertas.

Selongsong kertas itu selanjutnya dijual ke pelanggan. Dulu pemasaran selongsong kertas sangat mudah, sebab pedagang di pasar-pasar tradisional seperti di Pasar beringharjo masih menggunakan selongsong sebagai pembungkus jualan mereka. Tapi perlahan selongsong kertas yang ramah lingkungan ini tergusur oleh kantong plastik.

“Tadinya pasarannya di Pasar Beringharjo, tapi sekarang kalah oleh kantong plastik. Tapi alhamdulillah masih ada yang kadang membutuhkan selongsong walaupun satu atau dua bongkok,” kata Sugiman masih dengan bahasa Jawa.

Cerita Selongsong Kertas 3Sugiman, 73 tahun, di antara tumpukan kertas bekas pembungkus semen bahan baku pembuatan selongsong, Selasa, 5 Januari 2021. Sugiman pernah merasakan kejayaan selongsong kertas yang kini kalah oleh kantong plastik. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

selongsong kertas berisi 50 bundel, dalam sebundel berisi 10 lembar selongsong, atau dalam berisi 500 lembar selongsong.Sebongkok selongsong kertas berisi 50 bundel, dalam sebundel berisi 10 lembar selongsong, atau dalam sebongkok berisi 500 lembar selongsong.

Harga selongsong tersebut beragam, disesuaikan dengan ukurannya. Untuk selongsong berukuran satu kilogram dijual seharga Rp 6 ribu hingga Rp 7 ribu per 20 lembar. Sedangkan yang termahal adalah selongsong berukuran 20 kilogram, yakni Rp seribu per lembarnya.

Sugiman melanjutkan ceritanya. Dulu, beberapa tahun lalu, perajin selongsong seperti dirinya cukup banyak di Kampung Ketanggungan tersebut. Bahkan beberapa di antaranya mampu membangun atau membeli rumah dari hasil memroduksi selongsong. Tapi kini, sebagian perajin selongsong tersebut beralih usaha menjadi pengepul barang rongsokan.

Masa Kejayaan Sugiman

Dirinya pun sempat mengalami masa kejayaan selongsong kertas bekas pembungkus semen, dan menjadi salah satu juragan becak di kawasan itu. Dulu dia sempat memiliki 15 unit becak, namun kini hanya tersisa delapan becak.

“Saya bisa punya banyak becak juga dari membuat selongsong. Zaman dulu kan kertas semen modelnya dijahit. Nah, saat itulah saya mampu membeli banyak becak,” ucapnya mengenang.

Sugiman menambahkan, dirinya pernah menjadi penarik becak. Tapi saat itu dia sekalian mencari bahan baku kertas pembuat selongsong. Biasanya saat melihat ada bangunan sedang direnovasi, misalnya proses pengecoran, Sugiman akan mendatangi tukang yang ada di situ dan membeli kertas bekas pembungkus semennya.

Cerita Selongsong Kertas 4Sugiman 73 tahun, mengangkat tumpukan selongsong kertas dari kertas bekas semen, di rumahnya, Kampung Ketanggungan, Kelurahan Wirobrajan, Kecamatan Wirobrajan, Togyakarta, Selasa, 5 Januari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Salah satu penyebab berkurangnya jumlah becak yang dimiliki Sugiman adalah pandemi Covid-19. Menurutnya, banyak yang berhenti menarik becak.

Puluhan tahun berlalu sejak masa kejayaan selongsong kertas. Kini Sugiman bahkan cukup kesulitan untuk mendapatkan bahan baku kertas pembungkus semen, sebab dia harus bersaing dengan para pengepul dan penjual kertas bekas.

Bahkan, jika tidak berani membeli bahan baku dengan harga tinggi, para perajin selongsong tidak akan mendapatkan kertas.

Sakniki bahan bakune rodo angel le oleh. Nek mboten wani duwur mboten entuk barang. Kulo nek disetori wong niko per sak semen meniko Rp 600. (Sekarang bahan bakunya agak sulit didapatkan. Kalau tidak berani beli dengan harga tinggi tidak dapat barang. Biasanya ada yang setor ke saya, harganya Rp 600 per zak.”

Pemasaran yang semakin sulit membuat Sugiman tidak memiliki target khusus dalam membuat selongsong. Berbeda dengan dulu, saat dia memasang target antar dua bongkok hingga lima bongkok selongsong per hari.

“Kalau dulu bisa ditarget, tapi sekarang sudah tidak bisa. Sebab pemasarannya sudah tidak lancar. Dulu setiap saya bawa satu atau dua becak ke Pasar Beringharjo, pasti langsung habis buat rebutan. Bahkan banyak yang minta diantarkan lagi,” tuturnya.

Saat ini pemasaran selongsong buatannya hanya ke toko-toko pakan ternak. Harga jual yang disepakati pun tidak bisa tinggi.

Kendala pemasaran itu dibenarkan oleh sang istri. Suratijah mengatakan saat ini distribusi selongsong sudah tidak lagi lancar seperti beberapa tahun lalu.

Cerita Selongsong Kertas 5Sugiman, 73 tahun,sedang memperhatikan kertas-kertas bekas pembungkus semen di rumahnya, Kampung Ketanggungan, Kelurahan wirobrajan, Kecamatan Wirobrajan, Yogyakarta, Selasa, 5 Januari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

“Lakunya cuma di PASTY (pasar satwa dan tanaman hias Yogyakarta) dan di penjual pakan ternak. Kalaupun ada pembeli di Pasar Beringharjo, tinggal penjual emping. Itu pun sudah ada yang menyetori selongsong,” ucapnya.

Suratijah menambahkan, sejak beberapa waktu terakhir para perajin selongsong sudah memiliki pelanggan masing-masing di pasar. Ada semacam peraturan tak tertulis yang melarang mereka mengambil pelanggan perajin lain.

Beruntung Suratijah juga memiliki pelanggan tetap di Wonosobo, Jawa Tengah. Sebelum pandemi, biasanya pembelinya datang dari Wonosobo tiga bulan sekali. Namun saat ini tinggal dua kali dalam setahun.

Nek riyen sakderenge Covid niku nggih 3 bulan sekali. Sakniki macet. (Kalau dulu sebelum Covid tiga bulan sekali. Sekarang macet),” ucapnya sambil tetap mengelem kertas-kertas di depannya. [] 

Berita terkait
Bertahan Jual Alat Pertanian di Sukabumi Kala Pandemi
Seorang perempuan berusia 46 tahun di Sukabumi membuka usaha toko alat pertanian setelah mengundurkan diri dari pekerjaannya.
Bajaj Jadi Alat Kerja Sekaligus Rumah Tinggal di Jakarta
Cerita para pengemudi bajaj yang harus menjadikan kendaraan roda tiga ini sebagai tempat tinggal sekaligus alat pencari uang di Jakarta.
Perajin Kipas yang Terkipas Dampak Pandemi di Bantul
Seorang perajin kipas bambu di Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantu, mengaku pandemi membuat karyawannya kocar-kacir.
0
Selongsong Kertas Terbunuh Kantong Plastik di Yogyakarta
Selongsong atau pembungkus yang terbuat dari kertas sisa pembungkus semen pernah jaya di Yogyakarta,tapi sekarang tergeser oleh kantong plastik.