UNTUK INDONESIA

Bajaj Jadi Alat Kerja Sekaligus Rumah Tinggal di Jakarta

Cerita para pengemudi bajaj yang harus menjadikan kendaraan roda tiga ini sebagai tempat tinggal sekaligus alat pencari uang di Jakarta.
Sejumlah bajaj yang terparkir di kawasan Pasar Baru, Jakarta, Minggu, 27 Desember 2020. (Foto: Tagar/Sarah Rahmadhani Syifa)

Jakarta – Suara cempreng dari knalpot bajaj memekakkan telinga, seiring dengan asap tipis yang keluar dari lubang knalpot saat kendaraan beroda tiga ini melaju di jalanan sekitar Jembatan Pasar Baru, Jakarta.

Sejumlah bajaj lain dengan pengemudi di dalamnya berbaris di pinggir jalan, menunggu penumpang. Dari kejauhan terlihat seperti kereta api mini berwarna biru.

Malam itu, rembulan telah menampakkan diri di langit Jakarta, menemani gemintang yang tampak bersinar redup. Sebagian toko dan kios di Pasar Baru sudah tutup, namun Syairan, seorang supir bajaj berusia 53 tahun dan beberapa rekannya masih menunggu penumpang.

Syairan ditemani topi kain di kepalanya dan handuk yang bertengger di pundak kiri, serta seorang rekannya sesama pengemudi bajaj, Gasmat, 60 tahun. Keduanya berasal dari daerah yang sama, yakni Tegal, Jawa Tengah, dan telah mengadu nasib sebagai supir bajaj di Jakarta sejak tahun 2005.

“Dari pertama di Jakarta saya nggak milih, tahu-tahu jadi supir bajaj saja, nggak ada rencana,” ujar Gasmat, Minggu malam, 27 Desember 2020.

Tempat Tinggal Bergerak

Sendiri di tanah rantau tak menyurutkan semangat keduanya mencari nafkah untuk keluarga di kampung. Mereka sengaja tak memboyong keluarganya ke Jakarta karena tahu tak akan mampu membiayai kehidupan sehari-hari di ibu kota.

Gasmat dan Syairan mengaku tidak memiliki tempat tinggal tetap, sebab mereka merasa tidak mampu membayar kontrakan rumah.

Tidur mah di mana aja, kadang di bengkel, di jalanan, di bajaj pun ada. Lagi begini, Neng, kita nggak kuat bayar kontrakan.

Dia menambahkan, ada beberapa bos yang menyediakan mess untuk supir bajaj. Bos adalah sebutan untuk pemilik bajaj. Tapi banyak pula yang tidak menyediakan mess.

Di pangkalan bajaj sekitar Pasar Baru, lanjutnya, saat malam tiba berjejer ratusan bajaj, di dalamnya berisi pengemudi yang tidur. Tak jarang siang hari pun mereka tidur di dalam bajaj. Bukan hanya di pangkalan Pasar Baru, rata-rata di semua pangkalan seperti itu. Para supir bajaj menjadikan bajaj sebagai tempat tinggal.

Tidak sedikit supir bajaj yang tidak memiliki banyak barang, sehingga mereka tidak repot jika harus tinggal di bajaj.

Barang yang mereka miliki hanya pakaian ganti. Bajunya ia simpan di belakang bajaj mengikuti ke mana pun bajaj pergi. Baju bersih dan kotor dipisahkan lalu ia mencucinya di laundry atau binatu.

Cerita Bajaj 2Dua supir bajaj yang sedang menunggu penumpang di kawasan Pasar Baru, Jakarta, Syairan, 53 tahun (kiri) dan Gasmat, 60 tahun (kanan), Minggu, 27 Desember 2020. (Foto: Tagar/Sarah Rahmadhani Syifa)

“Memang laundry mengeluarkan biaya lagi. Kalau nyuci sendiri mau jemur di mana, Mbak. Khawatirnya sewaktu ditinggal narik malah jemurannya hilang.”

Gasmat menjelaskan, trayek yang boleh ditempuh oleh moda transportasi roda tiga ini bebas. Hanya saja ada kawasan yang tidak boleh dilewati, yaitu sepanjang Jl Jenderal Sudirman sampai Blok M. Jika harus melewati jalan itu, mereka sering memotong jalan.

Dia mengaku sering mangkal hingga berjam-jam lamanya untuk mendapatkan penumpang dari dalam Pasar Baru. Tapi, saat ini penumpang berkurang. Hampir seluruh pangkalan mengalaminya.

Meski demikian, Gasmat tidak berencana untuk beralih pekerjaan. Sebab dia tidak memiliki keterampilan lain. Dia mengaku sudah beberapa kali berganti bos, karena terkadang supir tidak selalu cocok dengan bosnya.

“Dari dulu hingga sekarang ganti-ganti bos, kalau dihitung-hitung ganti orang yang punya bajaj sampai 10 kali,” kata dia menambahkan.

Menjadi sopir bajaj merupakan satu-satunya sumber penghasilan untuk Gasmat dan keluarganya. Sang istri di kampung tidak bekerja dan hanya mengandalkan penghasilannya sebagai supir bajaj.

“Istri di kampung nggak ada sampingan kerja atau dagang. Kalau di sini kocar-kacir ya di sana pun kocar-kacir karena keluarga hanya ngandelin bajaj sebagai nafkah sehari-hari.”

Gasmat memiliki empat anak dan tiga cucu. Ketiga anaknya bisa menyelesaikan sekolah dari hasil menarik bajaj. Sementara Syairan mempunyai seorang anak dan seorang cucu.

Kalah oleh Transportasi Online

Selain dampak pandemi Covid-19, sepinya penumpang bajaj juga diakibatkan oleh melonjaknya pengguna transportasi dalam jaringan (daring) atau online. Tarif transportasi online yang relatif murah dengan promo membuat mereka menjadi pilihan utama.

“Tarif bajaj lebih mahal daripada online, misal dengan online dari sini ke Monas paling mahal Rp 15.000 kalau bajaj dengan harga segitu malah rugi supirnya,” ucap Syairan.

Untuk rute Pasar Baru – Monas ia mematok harga sebesar Rp 25 ribu. Tapi tarif itu tak jarang ditawar oleh calon penumpang, dan tarif minimum yang disepakati oleh para supir bajaj adalah Rp 20 ribu.

Dulu, biasanya Syairan pulang kampung setiap bulan sekali, tapi saat ini sudah hampir setahun dia bertahan di Jakarta karena belum memiliki cukup uang untuk digunakan pulang kampung.

Tarif bis dari Jakarta ke Tegal sebesar Rp 200 ribu, padahal saat ini pendapatannya hanya bisa untuk makan saja.

Sejak pandemi, lanjutnya, sering kali ia berkeliling seharian mencari penumpang dan ngetem di pangkalan tidak dapat penumpang. Ia hanya bisa pasrah saja, bahkan saat penghasilannya tak cukup untuk membayar setoran kepada bos, karena buat makan pun tak ada.

Sebelum pandemi, setiap hari dia harus menyetor sebesar Rp 100 ribu pada pemilik bajaj, namun saat ini setoran diturunkan setengahnya, menjadi Rp 50 ribu per hari.

Hal yang disyukuri saat pandemi ini adalah dibagikannya sembako untuk makan sehari-hari. Tak jarang sembako yang didapatkan ia dijual ke orang lain, uangnya dapat ia gunakan untuk setoran bajaj, “Abis mau masak di mana, Mbak, nggak ada dapur jadi paling sembako yang kita dapat dijual nanti uangnya untuk beli lauk.”

Cerita Bajaj 3Satu unit bajaj yang berbahan bakar gas. (Foto: Tagar/Sarah Rahmadhani Syifa)

Kini, pendapatan harian yang diperolehnya tak selisih jauh dengan jumlah setoran. Syairan mulai berkeliling pukul 10.00 hingga 22.00, dan hanya mengantongi uang kurang dari Rp 100.000. Uang yang diperoleh belum dipotong setoran bajaj ke pemiliknya, bahan bakar ditanggung sendiri.

Bahan bakar bajaj berbeda dengan kendaraan lainnya. Bajaj menggunakan Bahan Bakar Gas (BBG) jenis CNG yang stasiun pengisiannya berada di daerah Pulo Gadung.

Bajaj Milik Ali

Selain kedua supir bajaj yang menjalankan bajaj sewaan, Ali, seorang supir bajaj lain yang mangkal di sekitar Pasar Baru mengaku mengoperasikan bajaj miliknya sendiri. Dia tak perlu pusing dengan uang untuk setoran.

Ali mulai bekerja sebagai supir bajaj pada tahun 1990-an awal. Ali mengaku putus sekolah pada tahun 1970-an dan merantau ke Jakarta sejak tahun 1973, saat dia masih bujang. Dia membeli bajaj dengan cara menyicil pada tahun 2016.

Alhamdulillah milik sendiri dibeli dengan kredit, kalau nggak kredit saya nggak kuat bayarnya,” ucap Ali.

Saat itu dia menyetor uang muka sebesar Rp 50 juta dengan angsuran selama 3 tahun sebesar Rp 2,3 juta per bulan. Walau hanya memiliki satu bajaj ia mensyukurinya karena tak perlu repot memikirkan setoran. Menurutnya untuk setoran sebesar Rp 50 ribu pun tak akan terkejar bila masih memiliki anak yang bersekolah.

Lelaki yang telah memiliki sembilan cucu sembilan ini tinggal bersama keluarga besarnya di Sumur Batu, Kemayoran, Jakarta Pusat. Mereka mengontrak sebuah rumah seharga Rp 1 juta yang dahulu per bulannya hanya lima ribu rupiah.

Biasanya saat siang hari ia mengasug cucunya tercinta, lalu dilanjutkan menarik bajaj saat malam hari hingga fajar menjemput. Dia pulang ke rumah sekitar pukul 06.00 WIB dan dilanjutkan dengan beristirahat.

Dia sengaja mencari nafkah pada malam hari, meski malam identik dengan sepi dan rawan kejahatan. Menurutnya, jika ulet mencari penumpang saat malam, tak sedikit penumpang yang didapatkannya karena transportasi lain cukup minim di jam sebegitu.

Cerita Bajaj 4Ali sopir bajaj berusia 66 tahun sedang bersandar di Jembatan Pasar Baru, Jakarta Pusat, menunggu penumpang, Minggu, 27 Desember 2020. (Foto: Tagar/Sarah Rahmadhani Syifa)

Kata Ali, sebelum memutuskan menarik bajaj, ia sempat menarik becak untuk mencari nafkah pada era orde baru. Tak hanya becak ia pun sempat menjadi seorang supir taksi, namun uang yang disetorkan saat menarik taksi tak cukup besar, dia pun memutuskan untuk menjadi supir bajaj yang saat itu pendapatannya lumayan.

“Saya kalau di kampung nyangkul nggak bisa, bertani nggak bisa, kuli ngapain karena nggak laku malah capek di badan kalau kuli bangunan,” ucap pria berusia 66 tahun ini.

Ali juga menuturkan bahwa sebagian supir bajaj tidak memiliki SIM (surat izin mengemudi). Dulu, lanjutnya, sewaktu bajaj masih berwarna orange ada SIM A khusus untuk supir bajaj.

SIM A Khusus tersebut terakhir kali diterbitkan saat Sutiyoso masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Saat itu dia sempat memperpanjang masa berlaku SIM A khususnya, tetapi yang terbit SIM A biasa. []

(Sarah Rahmadhani Syifa)

Berita terkait
Perajin Kipas yang Terkipas Dampak Pandemi di Bantul
Seorang perajin kipas bambu di Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantu, mengaku pandemi membuat karyawannya kocar-kacir.
Menyusuri Sejumlah Makam Kuno di Kotagede Yogyakarta
Sejumlah makam kuno terdapat di kawasan Kotagede, Yogyakarta. Dari sejumlah makam kuno itu ada beberapa cerita menarik.
Doni Monardo dan Sepiring Sukun di Pinggir Kali
Doni Monardo mendekati pohon sukun itu dan berkata pelan, mohon izin, Bung Karno, saya memotong dahan pohon sukun untuk saya tanam di tempat lain.
0
Bajaj Jadi Alat Kerja Sekaligus Rumah Tinggal di Jakarta
Cerita para pengemudi bajaj yang harus menjadikan kendaraan roda tiga ini sebagai tempat tinggal sekaligus alat pencari uang di Jakarta.