UNTUK INDONESIA
Mitos Menakutkan Dusun Ngaglik Bagi ASN Rembang
Tokoh masyarakat Dusun Ngaglik, Sukarjan berusaha untuk menghapu mitos bahwa ASN yang berkunjung ke dusunnya akan mendapatkan sial.
Tokoh masyarakat Dusun Ngaglik, Desa Kedungasem, Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang, Sukarjan. (Foto: Tagar/Rendy Teguh Wibowo)

Rembang - Dusun Ngaglik, Desa Kedungasem, Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang yang memiliki hamparan lahan pertanian subur nan asri. Namun, dibalik kesuburan tanah wilayah tersebut, Dusun Ngaglik memiliki mitos mengerikan buat pejabat maupun Aparatur Sipil Negara (ASN) Kabupaten Rembang.

Mitos bagi pejabat maupun ASN yang datang ke Dusun Ngaglik akan kehilangan jabatan atau pun turun jabatan. Mitos tersebut sampai saat ini masih dipercaya oleh masyarakat.

Merasa penasaran, Tagar mencoba mengunjungi Dusun Ngaglik untuk menguak asal muasal mitos tersebut hingga dipercaya banyak orang. Saat tiba di Dusun Ngaglik, kami ditemani oleh suami Kepala Desa Kedungasem, Zulianah untuk menemui salah satu tokoh masyarakat Dusun Ngaglik, bernama Sukarjan.

Di rumah sederhana berdinding kayu dan beralas tanah, Sukarjan menerima Tagar. Dengan mengenakan kemeja batik lengkap dengan sarung dan peci, Sukarjan menceritakan awal mula mitos mengerikan desanya yang telah beredar lama dan dipercaya masyarakat.

Sukarjan menjelaskan, mitos ASN Kabupaten Rembang yang berkunjung ke Dusung Ngaglik akan kehilangan jabatan sudah ada sejak lama, bahkan sebelum dirinya dilahirkan. Awalnya mitos tersebut hanya sebuah kejadian biasa, seorang pemerintah desa yang berkunjung ke dusunnya  lengser dari jabatan.

"Katanya kalau pejabat datang ke dusun saya nanti jabatannya lepas, atau copot, atau tertimpa kesialan yang lainnya. Itu kan tidak logis. Itu (mitos) sudah lama sejak orang tua saya, sejak mbah saya, dari buyut-buyut saya kalau cerita gitu," jelas Sukarjan kepada Tagar, Minggu 5 Januari 2020.

Ia menegaskan sebuah jabatan pasti ada masanya, namun warga di daerah lain selalu melihat sebagai hal mistis. Akibatnya cerita tersebut menyebar dari satu orang ke orang lain dengan tambahan-tambahan yang tidak sesuai dengan fakta aslinya.

"Biasanya kan gitu, ada tambahan-tambahan kalau orang cerita. Misalnya orang ini ceritanya satu diceritakan lagi ceritanya jadi dua, kemudian diceritakan lagi tambah jadi tiga, tambah jadi empat, lima dan gitu seterusnya. Jangankan uang, kabar aja sekarang di Mark Up," terang dia.

Hal itulah yang menyebabkan masyarakat mulai mempercayainya. Setiap ada kejadian kesialan pegawai yang datang ke dusunnya selalu dikaitkan dengan mitos tersebut.

"Dari cerita yang ditambah-tambahi itu kemudian jadi membesar dan dipercaya sampai sekarang," jelasnya.

Padahal mitos tersebut belum pernah terjadi kepada seorang pejabat datang ke Dusun Ngaglik kemudian dicopot jabatannya. Malahan pejabat yang datang ke dusun tersebut bukanya lengser, namun dinaikan jabatannya.

"Itu belum terbukti, sama sekali belum pernah ada pejabat ke sini terus dicopot, kalau naik jabatan malah ada," tegasnya.

Dusun NgaglikWarga Dusun Ngaglik, Desa Kedungasem, Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang yang sedang duduk bersantai di depan rumah. (Foto: Tagar/Rendy Teguh Wibowo)

Berdampak Pelayanan Publik

Akibat beredar mitos tersebut, dampak sosial jelas sangat dirasakannya selama tinggal di sana. Pelayanan pemerintah yang sebarusnya didapatkan warga Dusun Ngaglik seakan menjauh.

Mulai dari bidan hingga penghulu pun tidak ada satu pun yang berani masuk dusun tersebut. Diskriminasi itulah yang dirasakan warga Dusun Ngaglik selama bertahun-tahun. Bidan dan penghulu baru mau melayani warga ngaglik jika mereka mau keluar dari dusun.

"Bidannya maupun penghulu itu baru mau melayani di dusun sebelah yaitu Jasem," bebernya.

Sambil menghela nafas, dirinya mengungkapkan rasa penderitaan warga Dusun Ngaglik mulai dari bayi yang baru lahir. Peningkatan pelayanan kesehatan yang sering digembor-gemborkan pemerintah seakan terpental saat mendengar Dusun Ngaglik.

"Saking seringnya melahirkan kan istilahnya ada yang "kebrojolan" bayi tahu-tahu sudah keluar. Bayi yang baru lahir tadi yang seharusnya tidak boleh kena angin terpaksa dibawa keluar biar dipegang sama bidan, kalau seperti itu terus kan kasihan," terangnya.

Sukarjan bahkan mengungkapkan bayi yang lahir di Dusun Ngaglik sama sekali tidak pernah merasakan sentuhan dari seorang dokter dan juga bidan. Hal itulah yang sangat di sayagkan Sukarjan, padahal berdasarkan peraturan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), bayi yang baru berusia 40 hari mendapat kunjungan bidan minimal tiga kali.

"Jangankan tiga kali, sekali pun aja tidak pernah. Yang kami tuntut cuma satu aja, yaitu pelayanan. Itu yang sangat diharapkan oleh masyarakat, masalahnya yang semestinya ibu melahirkan itu bisa dilayani, bisa diperiksa, bisa dikontrol ibu dan bayinya, namun sampai saat ini belum pernah," keluh Sukarjan.

Tak hanya ASN, tetapi beberapa pekerja semisal tukang sound system dan bahkan tukang gergaji enggan mengunjungi Dusun Ngaglik akibat mitos tersebut. Ia mencontohkan pernah kejadian saat pegelaran ketoprak, panggung pemetasan roboh akibat diterjangan angin kencang. Akibat panggung roboh, sound sistem jatuh dan mengalami kerusakan.

"Saya kalau ada acara semisal pengajian, sampai kesulitan mencari tukang sound sistem yang mau. Alasannya takut kalau alatnya tiba-tiba rusak setelah dari sana, itu kan tidak masuk akal," ucapnya.

Tidak hanya itu, ia pun merasa heran saat tukang gergaji yang ia suruh menggergaji kusen kayunya guna memperbaiki rumahnya sampai ikut-ikutan tidak berani masuk Dusun Ngaglik. Alhasil, ia harus menggotong kayu miliknya hingga keluar batas dusun agar tukang gergaji tersebut mau mengarjakannya.

"Tukang gergaji kok ikut-ikutan juga, saya itu sampai berpikir begini, kalau pak pejabat kuatir kalau jabatannya copot, kalau tukang gergaji yang mau copot itu apanya," ungkapnya sambil tertawa.

Cerita mistis Dusun Ngaglik tak hanya sampai di situ, Sukarjan yang merupakan jebolan pondok pesantren tersebut mengaku beberapa kejadian pernah terjadi di kampungnya. Ia menyebut ada orang luar daerah yang datang untuk meminta izin mengambil tanah sebagai obat di area punden yang dikeramatkan. 

Selain itu cerita pencuri pakaian yang tidak bisa keluar dari Dusun Ngaglik.

"Dulu ada yang ke sini minta tanah katanya buat obat. Kemudian dari pengakuan seorang pencuri yang kesehariannya mencari kodok di sawah itu dia sehabis mengambil pakaian orang terus lari muter-muter tidak ketemu jalan pulang, setelah pakaian yang dicuri tadi dibuang akhirnya bisa pulang, itu ada," ungkap Sukarjan.

Pria berusia 40 tahun itu, dari cerita mistis tersebut dirinya menyimpulkan bagi siapapun yang berkunjung ke dusunya dengan niat baik, pasti akhirnya akan baik juga. Sebaliknya jika mereka datang untuk hal yang negatif kesialan juga akan menimpanya.

"Kalau itu percaya tidak percaya, kita hidup di dunia ini tidak mungkin sendirian, pasti ada makhluk lain. Insya Allah kalau datang dengan niat baik, pasti akan baik juga," tuturnya.

Dusun NgaglikSuasana Dusun Ngaglik, Desa Kedungasem, Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang. (Foto: Tagar/Rendy Teguh Wibowo)

Berharap Kedatangan Bupati Rembang

Dusun yang memiliki penduduk dengan jumlah sekitar 40 kepala keluarga (KK) pada siang itu ramai dengan aktivitas pertanian. Meski agak terlambat, musim penghujan memberi berkah luar biasa bagi warga karena mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani, setelah mengalami kekeringan selama berbulan-bulan.

Dusun Ngaglik memang kental dengan budaya yang berbau mistis. Sukarjan mencontohkan salah satu kegiatan warga desa biasanya yang memiliki hewan ternak sapi setiap setahun sekali menggelar acara Ngalungi atau Ngupati yang tradisi kondangannya digelar ditengah sawah.

Sukarjan masih memiliki pekerjaan rumah sebagai Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kedungasem untuk menghapus mitos mengerikan yang menyelimuti dusunnya. Berbagai upaya sudah berulang kali ia lakukan. Mulai dari ajakannya ke camat, hingga ke kepala daerah seperti Bupati dan Wakil Bupati Rembang.

Upaya yang coba dilakukan Sukarjan adalah mengajak camat bahkan Bupati Rembang untuk berani datang ke Dusun Ngaglik. Meski sampai saat ini, hal tersebut masih belum terealisasi. Padahal, dengan datangnya bupati ataupun camat ke Dusun Ngaglik bisa menghapus mitos mengerikan tersebut.

"Dulu wakil bupati pernah bilang akan berkunjung ke sini, waktu ada audiensi di kecamatan. Tapi ya saya tunggu sampai ganti tahunnya nyatanya belum ke sini. Entah itu dihantui mitos tersebut atau entah sedang banyak acara, saya tidak bisa memastikan," ungkapnya.

Pada akhir tahun lalu saat audiensi dengan Bupati Rembang H Abdul Hafidz, Sukarjan bahkan untuk mengunjungi Dusun Ngaglik. Mendengar jawaban yang diberikan Bupati, Sukarjan menaruh harapan besar agar kali ini pelayanan bisa sampai ke dusunnya setelah ada kunjungan Bupati.

"Sekarang logikannya begini, misal bosnya saja tidak berani masuk, wajar kalau bawahannya juga tidak berani. Harapan saya janji-janji dari pejabat yang di Kabupaten bisa direalisasikan,"

"Ibaratnya kalau bupatinya aja datang ke sini mengajak camatnya, mosok camatnya tidak mau ke sini. Kalau camat ke sini ngajak bawahnnya, mosok bawahannya tidak mau. Kalau semuanya sudah bersedia datang ke sini, mitos-mitos itu pasti akan terkikis," ujarnya.

Dusun NgaglikSuasana Dusun Ngaglik, Desa Kedungasem, Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang. (Foto: Tagar/Rendy Teguh Wibowo)

Sudah Ada Penghulu Masuk

Dalam satu tahun terakhir ini, Sukarjan sedikit merasa lega. Alasannya, saat ini sudah ada penghulu yang mau masuk desa dan warga bisa melangsungkan pernikahan di dusun mereka sendiri.

"Kalau kita tidak ke KUA kan pejabatnya harus datang ke sini, datangnya tidak ke sini tapi ya di dusun sebelah. Alasannya akadnya di masjid aja biar sesuai sunnah Rasulullah, ya itu kalau tujuannya memang sunnah baik. Namun tujuannya tidak gitu kok, biar tidak masuk Ngaglik acara itu ditempatkan di masjid Dukuh Jasem aja," terangnya.

Ia meyakini adanya pergantian kepala Kantor Urusan Agama (KUA) di Kecamatan Sumber tersebutlah yang akhirnya warga ngaglik bisa terlayani dalam hal pernikahan. Apalagi Kepala KUA tersebut juga merupakan teman baiknya dan dikenal sangat religius.

"Ini orangnya kan religius, kebetulan juga temen dan berani kesini. Jadi dalam satu tahun terakhir ini alhamdulillah sudah ada akad nikah yang dilaksanakan disini," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Kedungasem, Zulianah mengatakan, pihaknya juga sudah melaporkan terkait keluh kesah masyarakat Dusun Ngaglik dari tahun ke tahun pada kegiatan audiensi yang digelar pemerintahan kabupaten di Pendopo Kecamatan Sumber pada Desember lalu.

Bersama Sukarjan, Kades yang baru terpilih pada November 2019 lalu itu mendapat arahan dari Bupati Rembang H. Abdul Hafidz agar dirinya bersama perangkat desa berkunjung ke Dusun Ngaglik.

Arahan tersebut seakan tidak memberikan solusi karena Zulianah sudah sering ke dusun tersebut namun tidak terjdi apa-apa. Dari hasil kunjungannya tersebut, Zulianah mencoba meyakinkan masyarakat daerah lainnya dengan mengajak camat setempat agar lebih meyakinkan.

"Saya sudah coba meyakinkan pak camat, sudah saya kirim pesan melalui grup WA (WhatsApp), tapi cuma dibaca saja," beber Zulianah.

Ia paham kesusahan yang dialami warga Dusun Ngaglik. Zulianah hanya berdoa agar mitos yang sudah beredar di masyarakat segera hilang, sehingga Dusun Ngaglik tak terkesan menakutkan lagi segera mendapat dan warganya bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang sama seperti di dusun lainnya

"Yang terpenting bidan desa mau mengurus bayi di Dusun Ngaglik. Sampai saat ini belum ada bidan desa yang mau masuk. karena yang dibutuhkan hanya bidan desa saja di dusun itu," ucapnya. []

Berita terkait
Utang Demi Gabung Keraton Agung Sejagat Purworejo
Kisah ngenes korban Keraton Agung Sejagad Purworejo. Ada yang belain utang demi bisa gabung. Ada yang ludes jutaan rupiah. Dijanjikan apa mereka?
Perjalanan Penuh Misteri Sang Pengendara di Bantaeng
Cakir, seorang petualang di Bantaeng. Ia suka melakukan perjalanan jauh dengan motor. Perjalanan yang diliputi pengalaman-pengalaman ganjil.
Sejarah Mistis Nasi Pocong Sumenep
Secara tampilan, tak ada yang istimewa. Tetapi warung Nasi Pocong digemari warga Sumenep, Madu
0
Cara Startup di Bali Bertahan dari Badai Covid-19
Bali menjadi salah satu destinasi wisata yang paling terkena dampak pandemi Covid-19. Salah satunya adalah perusahaan startup.