UNTUK INDONESIA
Misteri Pemancar Tua di Jeneponto Sulawesi Selatan
Siapa sosok samar, berjalan bungkuk di antara kabut pekat di tengah dingin yang menggigit. Misteri pemancar tua di Jeneponto Sulawesi Selatan.
Pemancar tua di Dusun Bonto Tino, Kecamatan Rumbia, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, Sabtu, 18 Juli 2020. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Jeneponto - Pemancar setinggi 20 meter itu berdiri kokoh di atas bukit, di antara pegunungan membentang di Dusun Bonto Tino, Desa Loka, Kecamatan Rumbia, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Pemancar itu sudah tua, berusia 45 tahun, tepatnya berdiri sejak 1975.

Kawasan ini terkenal, punya sejarah sendiri bagi kawula muda Bantaeng era 1990-an. Termasuk spot pilihan untuk dikunjungi pada malam Minggu. Para remaja mendirikan tenda, berkemah semalam, menyaksikan panorama alam yang indah.

Mengunjungi tempat ini sebaiknya menggunakan sepeda motor, karena sepanjang perjalanan tersaji hamparan alam yang begitu mempesona. Melalui poros Kecamatan Sinoa hingga simpang Desa Bonto Tangnga, akan menemukan perkebunan apel dan stroberi.

Di sepanjang jalan, juga akan bertemu keindahan pesisir Pantai Lamalaka, Pantai Seruni, dan Pantai Ujung Jeneponto. Juga perbukitan dengan rumput hijau menyerupai bukit Teletubbies. Pohon-pohon pinus tinggi menjulang hingga sampai bukit di mana pemancar tua itu berada.

Kabut dan udara dingin menyergap pada hari itu, Sabtu, 18 Juli 2020. Karena itu kalau mau ke sini sebaiknya membawa baju tebal.

Di bukit ini di antara pemancar terdapat bangunan-bangunan kusam. Di sayap kanan terdapat rumah panggung, penghuninya adalah Daeng Daha, 51 tahun, sang penjaga pemancar tua. Daeng Daha selama 20 tahun menjaga pemancar, melanjutkan pekerjaan ayahnya.

Daeng Daha terbiasa menyambut tamu dari mana-mana, entah untuk keperluan penelitian atau pengunjung yang datang untuk menghabiskan akhir pekan. Ia biasanya mengajak pengunjung berkeliling di sekitar pemancar, seperti yang ia lakukan pada hari itu kepada Tagar

Menurutku memang sudah sepantasnya begitu, lebih baik angker biar enggak ada yang datang, daripada banyak pengunjung tapi cuma merusak alam dan aset bersejarah.

Pemancar TuaDaeng Daha, 51 tahun, penjaga pemancar tua di Dusun Bonto Tino, Kecamatan Rumbia, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, Sabtu, 18 Juli 2020. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Ia menunjuk dua gedung di atas bukit. Gedung sebelah selatan dulu digunakan sebagai tempat penyimpanan genset. Sedangkan gedung satunya adalah ruang jaga bagi petugas keamanan. Pemancar terletak tepat di sisi gedung genset.

"Dulunya ini adalah pemancar Telkom, waktu orang-orang masih pakai telepon rumah, tapi sejak ganti pakai Hp, sekarang ini jadi pemancar Telkomsel," kata Daeng Daha.

Daeng Daha bercerita, pemancar itu dulu menghubungkan jaringan sampai Pulau Selayar, Sumbawa, bahkan sampai Ruteng di Nusa Tenggara. Jika terjadi kerusakan jaringan di situ, seluruh daerah aliran terkena dampak.

Daeng Daha sejak usia 18 tahun menjaga pemancar, hingga ia menikah dan punya tiga anak. Hidup di sini, tinggal di bukit, jauh dari perkampungan warga. Ia mengawali karier di sini sebagai tukang pembersih hingga akhirnya menjadi petugas keamanan.

"Saya dulu terima gaji mulai dari Rp 25.000, Rp 50.000, dan terus bertambah sampai sekarang sudah Rp 1.400.000," Daeng Daha tersenyum dengan wajah penuh kerut.

Sepanjang berada di tempat ini, Daeng Daha telah mengalami banyak hal, mengetahui banyak hal termasuk misteri pemancar tua yang dijaganya. Kabarnya dulu tak ada yang berani menjaga pemancar, tak ada yang betah dengan gangguan makhluk halus yang kadang tiba-tiba muncul dari balik kabut tebal. Ada yang menampakkan diri sebagai orang tua, kadang berupa siluet bayangan yang berlari.

"Yang pernah saya temui itu sepasang perempuan dan lelaki di dekat pagar, mereka cuma meminta agar setiap yang masuk memberi salam," kata Daeng Daha

Suatu hari menjelang Magrib Daeng Daha hendak memeriksa kondisi pemancar, sampai di pagar ia dicegat sepasang lelaki dan perempuan yang tiba-tiba menghilang ditutup kabut setelah menyatakan maksudnya.

Ia mengatakan banyak misteri pemancar tua, tapi ia lebih khawatir pada gangguan manusia. "Kan genset ini mahal sekali kalau dijual, makanya selalu diincar pencuri." 

Pemancar TuaPemancar tua di Dusun Bonto Tino, Kecamatan Rumbia, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, Sabtu, 18 Juli 2020. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Pemancar Jadi Tempat Kemping

Pada masanya banyak pemuda-pemudi melewatkan akhir pekan di lokasi pemancar. Mereka mendirikan tenda, berbaring di rerumputan pada malam, menikmati indahnya langit dan bintang. Jarak seolah begitu dekat.

Seiring waktu, tak banyak lagi yang berkunjung karena suasana angker semakin pekat di puncak bukit tersebut.

Jamil, 38 tahun, seorang warga Bantaeng, pada masa remaja sering berkunjung ke pemancar. Katanya, dulu pemancar menjadi salah satu tempat romantis bagi mereka yang kasmaran. Tapi kemudian terdengar dari mulut ke mulut, adanya penampakan membuat mencekam. Orang-orang jadi takut. Jamil mengalaminya sendiri. 

"Cuma samar-samar tapi tetap mengerikan, ada sosok yang bungkuk-bungkuk jalan di antara kabut, waktu saya mendekat, dia menghilang," kata Jamil.

Pengalaman serupa dialami Anto, 22 tahun. Ia bersama empat tema mengunjungi pemancar pada Januari 2020. Mereka membangun tenda di sekitar pemancar, sengaja dipilih lokasi yang agak menjorok ke arah lebih terbuka untuk menyaksikan pemandangan yang indah.

"Waktu itu kami berlima, dan kejadian anehnya waktu malam kami dengar ada suara ketawa ribut sekali, kami jadi sulit tidur sampai pagi," kata Anto.

Karena kejadian tersebut, Anto dan rombongan memutuskan pulang secepat mungkin. Ia merasa kehadiran mereka tidak diterima para penunggu.

Anto juga berpikir mungkin salah satu temannya melakukan kesalahan, mungkin tidak memberi salam atau mengotori salah satu bagian bukit itu. "Ya cukup kaget, karena kakakku cerita dulunya tidak seperti ini, katanya dulu di sini aman-aman saja, tapi mungkin karena sudah lama sekali dan jarang dikunjungi orang makanya jadi angker."

Namun, walau mendapat pengalaman yang kurang nyaman, Anto sama sekali tidak merasa dirugikan atau menyesal telah datang ke pemancar tua. "Menurutku memang sudah sepantasnya begitu, lebih baik angker biar enggak ada yang datang, daripada banyak pengunjung tapi cuma merusak alam dan aset bersejarah." []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Peluh Keringat Buruh Gendong Usia Senja di Yogyakarta
Perempuan-perempuan berusia senja itu begitu perkasa, menjadi buruh gendong bahkan buruh panggul di Pasar Beringharjo Yogyakarta. Ini kisah mereka.
Ribuan Sapi Pemakan Sampah Jelang Idul Adha di Bantul
Jelang Idul Adha di Bantul, Yogyakrta, ribuan sapi makan sampah di tempat pembuangan sampah. Di antara sapi disembelih ditemukan kawat dalam perut.
Jenazah Covid Siap Masuk Liang Lahat, Tanah Ambrol
Jenazah covid siap dimasukkan ke liang lahat, tiba-tiba lubang kurang panjang, tiba-tiba tanah ambrol, tiba-tiba banyak air dalam lubang.
0
Misteri Pemancar Tua di Jeneponto Sulawesi Selatan
Siapa sosok samar, berjalan bungkuk di antara kabut pekat di tengah dingin yang menggigit. Misteri pemancar tua di Jeneponto Sulawesi Selatan.