UNTUK INDONESIA
Misteri Akhir Hidup Tragis Pria Religius di Rembang
Kematian Supriyo Utomo, warga Rembang yang ditemukan gantung diri masih misterius. Namun ia berperilaku tak lazim sebelum ditemukan meninggal.
Purbo Retnowati mengungkapkan kekecewaannya atas isu yang beredar di media sosial jika kematian suami, Supriyo Utomo karena ada orang ketiga. (Foto: Tagar/Rendy Teguh Wibowo)

Rembang - Supriyo Utomo 33 tahun, pria religius asal Desa Glebeg, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Ayah satu anak ini memilih mengakhiri hidupnya dengan cara tragis, gantung diri di area tegalan di desanya, Kamis 21 November 2019. 

Supriyo selama ini tinggal bersama keluarga kecilnya di rumah yang terbilang sangat sederhana. Rumahnya berada di pinggiran sungai desa, terbuat dari kayu dan papan beralaskan tanah. 

Jarak rumah ke pusat kota Rembang tidak terpaut jauh, sekitar 12 kilometer. Kurang lebih membutuhkan waktu sekira 20 menit perjalanan menggunakan sepeda motor. 

Cuaca Desa Glebeg, Senin 25 November 2019, cukup menyengat mengingat Kabupaten Rembang belum masuk musim hujan. Tidak terlalu sulit mencari keberadan rumah Supriyo lantaran warga desa sudah tahu kejadian tragis pekan lalu. Begitu ditanya mereka langsung menunjukkan arah rumahnya. 

Suasana duka masih sangat terasa di rumah almarhum. Terlihat banyak kerabat yang berkumpul di dalam rumah. Semenjak kejadian, mereka sepertinya tidak asing dengan kehadiran awak media. Terbukti istri Supriyo, Purbo Retnowati 28 tahun menerima dengan ramah kedatangan Tagar.  

Mata Retnowati terlihat sembab. Wajar karena banyaknya air mata yang keluar setelah ditinggal pergi selamanya oleh sang suami. Berbincang santai di sofa depan rumah, wanita berkerudung merah muda ini ditemani anak semata wayangnya. 

Bapaknya itu sangat sayang sekali sama anaknya.

Bocah tersebut masih polos dan lugu. Usianya sekitar delapan tahun dengan wajah terbilang ganteng. Beberapa kali ia bergelayut manja ke tubuh ibunya. Selama ini, pelajar kelas dua sekolah dasar ini memang dikenal dekat dengan kedua orang tuanya, terutama ayah. 

Gantung RembangSosok Supriyo Utomo semasa hidup dikenal sangat menyayangi anak semata wayangnya. (Foto: Tagar/Rendy Teguh Wibowo)

Penyayang Anak

Retnowati pun mengakui jika suaminya sangat menyayangi putera mereka. Supriyo selalu menuruti permintaan anaknya meski ia kerap mengingatkan untuk terlalu memanjakan anaknya.

"Bapaknya itu sangat sayang sekali sama anaknya. Kadang saya yang sering marah karena jangan terlalu sering dituruti takutnya jadi manja. Tapi kata bapaknya nanti pas dewasa juga akan sembuh sendiri," ucap dia. 

Di mata Retnowati, suaminya adalah sosok sederhana penyayang keluarga. Selain tukang kayu, ia juga bekerja sebagai tukang batu dan kuli bangunan. Saban hari, setiap pulang kerja, Supriyo pasti menghabiskan waktu dengan dirinya dan anaknya di rumah.

Meskipun tinggal di rumah yang sangat sederhana dengan satu tanaman pohon mangga di depan rumahnya, persoalan keterbatasan ekonomi bisa diterima dengan ikhlas dan rasa syukur. Tak heran keluarga itu tidak pernah terjadi pertengkaran yang berujung kekerasan dalam rumah tangga. 

"Kalau di rumah tidak pernah bertengkar sampai ramai-ramai. Ya pernah tapi paling ya bertengkar kecil dan besoknya sudah baikan. Tidak pernah sampai bertengkar hebat sampai tidak pulang, itu tidak pernah," beber dia.

Melihat kepribadian dan ketekunannya beribadah, sangat tidak masuk akal jika Supriyo nekat mengakhiri hidup seperti itu. Karenanya, keputusan gantung diri benar-benar membuat Retnowati dan keluarganya kaget sekaligus syok. 

"Dengan tetangga juga tidak pernah ada masalah karena selama ini bapaknya itu menghormati tetangga dan suka membantu jika ada yang kesulitan, butuh pertolongan," kenang perempuan itu.

Isu Orang Ketiga

Pembicaraan kami mulai beralih ke curhatan soal kelakuan nitizen di media sosial. Sejumlah isu negatif mulai bermunculan pascameninggalnya Supriyo Utomo. Salah satunya yang paling membuat sesak dada Retnowati adalah tudingan kehadiran orang ketiga di dalam keluarganya.

Air mata Retnowati langsung berlinang ketika berbicara isu itu. Tak habis pikir dari mana isu berembus. Sambil mengusap air mata ia membantah tegas fitnah itu. 

Kok ada kabar seperti itu, saya tidak menyangka orang-orang di media sosial berpikir seperti itu.

Sebagai buruh tani, setiap hari mulai dari pagi hingga siang ia habiskan waktunya hanya di sawah. Setelah pulang dari sawah pun dirinya langsung menyiapkan makanan untuk keluarganya.

"Orang-orang kok memfitnah saya, saya dicurigai sama laki-laki lain. Padahal pekerjaan saya di sawah mulai dari jam 6.00 pagi sampai jam 13.00 siang baru pulang. Kok ada kabar seperti itu, saya tidak menyangka orang-orang di media sosial berpikir seperti itu," keluhnya.

Retnowati juga menyampaikan kekecewaannya ketika mengetahui unggahan foto maupun video meninggalnya suami yang beredar di media sosial. Gambar-gambar itu sangat vulgar, tidak ada sensor sedikit pun. 

Seharusnya sebagai pengguna media sosial yang bijak harus bisa memposisikan diri dan menjaga perasaan orang lain. Foto dan video yang beredar dirasanya tidak pantas untuk dikonsumsi publik mengingat suaminya tewas tergantung tanpa mengenakan celana. 

"Saya mohon untuk foto suami saya tolong dikaburkan jangan sampai kelihatan seperti itu," pintanya dengan tetesan air mata yang tak tertahankan.

Sampai Tagar berkunjung di hari itu, penyebab Supriyo memutuskan gantung diri juga masih jadi misteri. Sebagai orang terdekat di beberapa waktu terakhir, Retnowati juga tidak tahu motivasi yang mendorong suaminya berbuat demikian. 

"Saya sama keluarga juga bingung penyebab masalahnya itu apa tiba-tiba kejadian seperti itu. Sama warga sini juga tidak pernah bertengkar," kata dia.

Setiap azan berkumandang Supriyo Utomo langsung bergegas menuju musala di kampungnya untuk menunaikan salat berjamaah. "Orangnya memang dikenal pendiam, rajin beribadah dan mengaji. Setiap ada azan langsung pergi ke musola, bahkan usai salat isya dan mengaji dia tidur di musala itu," imbuh dia. 

Dikenal sebagai pribadi yang religius, baik dan suka menolong dikuatkan Kepala Desa Glebeg Kecamatan Sulang Muslikin. Ut, panggilan akrab Muslikin ke Supriyo Utomo, juga merupakan sosok yang tertutup. Jika ada masalah tidak pernah diceritakan ke tetangga atau temannya.

"Ut sangat rajin ibadah. Setiap malam Jumat, Selasa pagi dan Rabu malam selalu mengikuti pengajian," tuturnya. 

Perilaku Aneh

Sebelum meninggal sempat beredar kabar jika Utomo berperilaku agak aneh. Ia terlihat seperti orang ketakutan. Kata Muslikin, pria itu sering mendapat bisikan-bisikan aneh yang menyebabkannya tidak nyaman tidur di rumah.

"Malamnya itu ikut pengajian Maulud Nabi di masjid. Dikarenakan ada bisikan-bisikan aneh sehingga dia tidak berani tidur di rumah, seperti orang gangguan jiwa tapi dia tidak gila. Padahal tidak ada masalah di rumah itu," jelas dia.

Warga dimintain maaf satu persatu, padahal kejadian sudah lama sekali waktu dia kecil dulu.

Rembang gantung 2Supriyo Utomo ditemukan meninggal dunia secara mengenaskan, Kamis 21 November 2019. (Foto: Tagar/Rendy Teguh Wibowo)

Muslikin sendiri pernah mendapat curhatan dari Ut. Kebetulan lahan sawah miliknya hanya beberapa meter dari rumah korban. Sehingga ia dan Utomo sering bertemu dan ngobrol bersama. Belum lama ini korban mengeluh jika dirinya merasa tidak nyaman berada di rumah dengan alasan ketakutan.

"Dia itu sering mengatakan kalau di rumah kok tidak nyaman, takut katanya gitu sama saya," ucapnya.

Makin janggal ketika Utomo bertanya ke ustaz saat pengajian Minggu malam, 17 November 2019. Ia bertanya seputar orang meninggal, seperti saat di dalam kuburan orang diberi pertanyaan malaikat menggunakan bahasa Jawa atau bahasa Arab. Juga soal siksa kubur. Alih-alih mendapatkan pencerahan, Ut malah terlihat ketakutan. 

"Sebelum meninggal memang aneh-aneh kelakuan orangnya," ujar dia. 

Supriyo Utomo diketahui rajin beribadah sejak dua tahun terakhir. Sebelum itu ia dikenal sebagai orang yang jarang beribadah dan kerap bertindak sesuka hatinya. 

Perubahan untuk kembali ke jalan yang benar itu juga diiringi dengan perilaku yang jarang dilakukan manusia pada umumnya. Ia meminta maaf ke warga yang pernah ia salahi. Bahkan keisengan di masa kecil seperti ambil mangga, rumput, kelapa dan timun ketika menggembala sapi, ia bersikap ksatria dengan mengakui perbuatannya sekaligus memohon maaf. 

"Warga dimintain maaf satu persatu, padahal kejadian sudah lama sekali waktu dia kecil dulu. Dan ada beberapa orang yang tidak pernah merasa mempunyai timun itu ya tetap dimintain maaf," tuturnya.

Berkaca dari pengalaman bergaul dengannya itu, warga Glebeg dibuat heran. Mereka tak menyangka jika orang yang telah berubah menjadi sosok santun, baik dan taat ibadah itu meninggal dengan cara mengenaskan. 

Saat ini Purbo Retnowati, harus berjuang sendiri memenuhi kebutuhannya dan anak tercinta. Mewakili suami, ia memohon ke seluruh warga untuk mendoakan agar Supriyo Utomo diampuni dosa dan diterima semua amal ibadahnya. []

Baca juga:



Berita terkait
Pria di Rembang Ditemukan Istrinya Gantung Diri
Awalnya pergi tanpa pamit. Akhirnya pria tukang kayu di Rembang ditemukan istrinya tewas gantung diri di pohon, Kamis 21 November 2019.
Ketika ASN Kejari Rembang Nekat Gelapkan Uang Tilang
Ardiyan Nur Cahyo, oknum ASN Kejari Rembang gelapkan uang tilang Rp 3,036 miliar untuk beli burung. Ia terancam miskin, dibui dan kena denda.
Kasus Kekerasan Wartawan, PWI Rembang Apresiasi MA
PWI Rembang mengapresiasi putusan MA yang memvonis 3 bulan penjara kasus kekerasan terhadap wartawan di Rembang. Meski masih jauh dari UU Pers.
0
Diduga Bodong, Polda Jatim Sita Ferrari dan McLaren
Polda Jatim menyita delapan mobil mewah yang diduga bodong dengan rincian empat Ferrari, dua McLaren, satu Jaguar, dan satu Mini Cooper.