UNTUK INDONESIA
Meredupnya Sinar Kejayaan Tembakau di Temanggung
Harga tembakau Temanggung semakin merosot akibat pandemi Covid-19, untuk tembakau kualitas bagus atau grade D harga jualnya Rp 60 ribu.
Kebun tembakau di kawasan Posong, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, dengan latar belakang Gunung Sumbing, Minggu, 13 September 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Temanggung – Kabut putih masih menyelimuti sebagian tubuh dua gunung di kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, yakni Gunung Sumbing dan Sindoro. Namun beberapa petani tembakau sudah berangkat menuju kebunnya masing-masing.

Seorang petani perempuan terlihat berjalan pelan menyusuri jalanan berbatu di kawasan Posong, Kecamatan Kledung. Jalanan yang menanjak membuat tubuhnya condong ke depan saat berjalan.

Suara burung-burung pagi bercericit bersahut-sahutan, mengiringi langkah kaki para petani. Dua gunung yang menjulang angkuh di kejauhan seperti menara penjaga di kawasan itu.

Seorang pria petani tua mengendarai sepeda motornya melintasi jalanan berbatu itu, kemudian berbelok ke kanan menuju kebun tembakaunya.

Jalannya tertatih saat turun dari sepeda motor dan melangkah menuju kebun. Penyakit asam urat yang dideritanya membuat petani tua itu, Sudiyatno, 70 tahun, sedikit merasa kesulitan untuk berjalan.

Cerita Tembakau Temanggung (2)

Sudiyatno, 70 tahun, seorang petani tembakau di kawasan Posong, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, memperhatikan tembakau-tembakau miliknya, Minggu, 13 September 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)


Sesekali dia membetulkan posisi kacamatanya yang bergeser setelah menuruni undakan di pematang kebun tembakau miliknya.

Topi caping bambu yang bertengger di kepalanya membentuk bayangan pada sebagian wajah tuanya yang mulai dihiasi guratan keriput.

Ketentuan Memanen Tembakau

Pagi itu, Minggu, 13 September 2020, Sudiyatno berniat memanen sebagian tanaman tembakaunya, tapi dia menunggu hingga matahari meninggi, sebab untuk memanen atau memetik daun tembakau ada waktu dan syarat tertentu agar kualitasnya bagus.

Tembakau bisa dipanen saat berusia lima hingga enam bulan, tergantung ketinggian lahan yang ditanami. Semakin ke atas, semakin lama pula tembakau bisa dipanen. Dalam satu hektar lahan bisa menghasilkan tembakau antara 700 hingga 850 kilogram daun tembakau kering.

Kata Sudiyatno, syarat utama untuk memanen tembakau adalah waktu pemetikan. Tembakau yang dipanen adalah tembakau tua yang warna daunnya sudah kekuningan. Waktu pemetikan terbaik adalah antara pukul 09.00 hingga sebelum pukul 13.00.

Patokan waktu itu bisa berubah, tergantung cuaca saat pemetikan. Jika matahari bersinar cukup cerah, maka pemetikan bisa dilakukan sebelum pukul 09.00, yang terpenting adalah saat itu daun tembakau sudah kering dari butiran embun.

Selain embun pada permukaan daun tembakau sudah kering, daun tembakau pun harus sudah terasa hanyat saat dipegang.

“Saat daunnya dipegang juga harus sudah terasa hangat,” kata dia.

Dia menjelaskan, banyak perlakuan khusus saat memanen tembakau, termasuk daun tembakau harus tenang saat dipetik.

Kalau angin lagi kencang, tembakau tidak bisa dipanen. Sebab daunnya sedang tidak tenang, banyak goyangnya. Kalau dipetik nanti hasilnya tembakau jadi kasar.

Kualitas tembakau juga dipengaruhi oleh proses pemetikan, yang tentu saja memengaruhi harga jual dari para petani. Meski kualitas bukan satu-satunya penentu harga tembakau.

Kata Sudiyatno, saat ini harga tembakau merosot tajam. Untuk kualitas grade D atau yang kualitas cukup bagus hanya pada kisaran Rp60 ribu hingga Rp65 ribu per kilogram.

Cerita Tembakau Temanggung (3)Dua warga menjelmur tembakau mereka di kawasan Posong, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Minggu 13 September 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

“Harga ke tengkulak, sekarang katanya Rp 60 ribu sampai Rp 65 ribu, itu yang varietas baik, itu grade D. Kalau grade A sudah nggak ada. Di sini gradenya B, C, D, E, F. Tapi di sini jarang F-nya keluar. Kalau di Sumbing yang jenis Lamsi bisa sampai grade G.” kata Sudiyatno.

Harga itu menurun jika dibandingkan dengan tahun 2019, yang mencapai Rp 80 ribu per kilogram. 

Dia menjelaskan, petani memang tidak menjual langsung tembakau mereka pada pabrik rokok, tetapi harus melalui tengkulak. Nantinya tengkulaklah yang menjual pada perwakilan pabrik rokok di Temanggung.

Merosotnya harga jual tembakau itu, kata Sudiyatno, disebabkan oleh pandemi Covid-19. Pandemi itu bukan hanya memengaruhi harga tembakau, tetapi juga harga sayur mayur.

Tembakau Srintil Harga Jutaan

Dari seluruh tembakau yang ada, lanjut Sudiyatno, tembakau jenis Srintil adalah tembakau termahal yang pernah ada. Tembakau Srintil yang tumbuh di lereng Gunung Sumbing harganya bisa mencapai jutaan rupiah per kilogram.

Menurutnya, di lereng Gunung Sindoro pun terkadang muncul tembakau Srintil, namun harganya hanya pada kisaran Rp 450 ribu hingga Rp 600 ribu per kilogram, karena kualitasnya masih di bawah kualitas tembakau Srintil dari lereng Gunung Sumbing.

Ada banyak faktor yang menyebabkan tembakau menjadi Srintil, yang terpenting adalah sinar matahari yang mendukung serta varietas tembakau yang ditanam. Meski demikian, tidak semua tembakau dengan varietas yang sama dan ditanam di lahan yang sama akan menjadi Srintil. Orang menyebutnya sebagai ‘pulung’ atau rezeki.

Tembakau Srintil secara fisik berbeda dengan tembakau lain. Warna tembakau srintil kehitaman akibat tingginya kadar nikotin. Selain itu, aroma harumnya sangat menyengat.

Cerita Tembakau Temanggung (4)Haryanto, 45 tahun, bersama istri dan karyawannya saat menata tembakau rajangan yang akan dijemur, Minggu, 13 September 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

“Kalau srintil, selain panasnya mendukung itu tembakaunya itu kualitasnya bagus, tergantung lokasi juga. Di lereng Sumbing ada, lereng Sindoro juga ada, tapi kualitasnya bagus yang lereng Sumbing. Daerah Kelilir, Lamuk Legok,” kata Sudiyatno.

“Kalau di sini jenisnya TG Tiong Gang, kalau di sana Lamsi. Kalau Kecamatan Kledung ke atas itu jenisnya Kuwalo. Memang tembakau itu berbeda kok.”

Hal senada disampaikan oleh Haryanto, 45 tahun, seorang petani lain, yang juga merupakan perwakilan salah satu pabrik rokok terbesar di Indonesia.

Petani tembakau yang juga tinggal di kawasan Posong, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung ini, mengatakan, biasanya tembakau mulai dipanen pada bulan Agustus, dan puncaknya pada September. Tapi tahun ini kemungkinan puncak panen bukan pada bulan September.

“Ini mulai petik daun yang bagus, untuk Grade D. Bisa dibilang protol gitu, daun paling atas. Srintil untuk saat ini kemungkinan nggak keluar karena cuaca tidak mendukung,” kata dia.

Cerita Tembakau Temanggung (5)Sejumlah warga menjemur tembakau di salah satu tanah lapang di kawasan Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Minggu, 13 September 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Tidak adanya tembakau Srintil pada panen tahun ini, lanjut Haryanto, disebabkan oleh tingkat kekeringan tanah yang tidak maksimal. Sebab ada waktu tertentu yang seharusnya tanah sudah kering untuk menghasilkan tembakau Srintil, tetapi justru turun hujan.

“Waktu bulan tertentu diharapkan tanah sudah kering tapi malah turun hujan. Itu kendalanya untuk tembakau warna hitam atau Srintil, yang berkualitas itu.”

Dia menegaskan, tembakau Srintil bisa muncul di lereng Gunung Sindoro maupun Sumbing. Bahkan di lokasinya saat ini tidak menutup kemungkinan munculnya tembakau Srintil. Bukan hanya tembakau Srintil, di kawasan Posong juga tumbuh tembakau andalan yang dipasok pada dua pabrik rokok terbesar di Indonesia.

Srintil itu tergantung sekali pada cuaca. Di lereng Sumbing sangat terkenal tembakaunya, di daerah Lamuk Legok. Memang cenderung bau tembakaunya lebih bagus,” kata Haryanto.

“Harga tahun ini tidak sesuai harapan petani. Makanya petani berharap penyerapannya banyak karena harga turun. Tapi saat ini, harga tidak memuaskan, penyerapan juga kurang. Karena hanya single.” 

Dia menjelaskan, dari dua pabrik rokok terbesar di Indonesia, saat ini hanya satu pabrikan yang menyerap panen tembakau warga Temanggung secara maksimal. Sedangkan untuk pabrikan yang satu, penyerapannya sangat minim. Hal itu juga berpengaruh pada penjualan para petani.

Haryanto menambahkan, selain pandemi Covid-19, merosotnya harga jual tembakau dari petani juga dipengarui oleh kualitas tembakau. []

Berita terkait
Suara Misterius di Jalur Gunung Lompo Battang Gowa
Seorang anggota Polres Bantaeng mengisahkan pengalaman pertamanya mendaki Gunung Lompo Battang, Kabupaten Gowa. Dia mengalami kejadian aneh.
Materi Buku PJJ dari Pengalaman Guru di Yogyakarta
26 kepala SMP di Yogyakarta menyusun buku panduan pembelajaran jarak jauh untuk siswa mereka. Buku itu disusun selama 4 bulan.
Cara ASN DPRD Bantaeng Menambah Penghasilan
Seorang aparatur sipil negara di Kantor Sekretariat DPRD Bantaeng membuka usaha samppingan sebagai pedagang arloji dan parfum.
0
Penghentian Penerbangan Medan-Nias untuk Cegah C-19
Gubernur Sumut Edy Rahmayadi berencana untuk menghentikan jadwal penerbangan dari Jakarta dan Medan menuju ke Kepulauan Nias.