UNTUK INDONESIA
Suara Misterius di Jalur Gunung Lompo Battang Gowa
Seorang anggota Polres Bantaeng mengisahkan pengalaman pertamanya mendaki Gunung Lompo Battang, Kabupaten Gowa. Dia mengalami kejadian aneh.
Suasana hutan dan dataran tinggi yang sepi di Gunung Lompo Battang. (Foto:Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Bantaeng - Malam itu tiupan angin membawa serta hawa dingin pegunungan. Menembus lapisan pakaian dan kulit, seperti butiran halus es batu yang perlahan meresap ke dalam poripori.

Belum terlalu malam saat Agung dan seorang rekannya, Nurhadi Fatwa Fatir, 23 tahun, berada di tempat itu, di Dusun Lembang Bu'ne, Kelurahan Cikoro, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Waktu masih menunjukkan sekitar pukul 19.15 Wita. Tapi suhu di sekitar situ seperti berusaha membekukan darah mereka yang mengalir. Padahal lokasi itu bukan puncak Gunung Lompo Battang yang tingginya 2.874 meter dari permukaan laut (Mdpl).

Dusun itu terletak di kaki Gunung Lompo Battang. Dusun Lembang Bu'ne terletak pada ketinggian sekitar 1.320 mdpl, desa terakhir sebelum menuju puncak Gunung Lompo Battang.

Gunung Lompo Battang merupakan salah satu gunung yang dikenal cukup angker di Sulawesi Selatan selain Gunung Bawakaraeng dan Latimojong.

Ada beberapa alternatif jalur yang bisa dilalui untuk tiba di Gunung Lompo Battang, di antaranya jalur Lengkese' dan Lembang Bu'ne.

Waktu itu, Kamis, 3 September 2020, keduanya memilih untuk mendaki melalui jalur Lembang Bu'ne. 

Pendakian Perdana

Malam itu merupakan pendakian perdana buat Agung yang merupakan seorang anggota kepolisian berpangkat Bripda. 

Lelaki kelahiran Jeneponto, 13 September 1997 tersebut bertugas di Kepolisian Resor (Polres) Bantaeng. 

Sedangkan rekannya, Nurhadi Fatwa Fatir, 23 tahun, adalah seorang mahasiswa. Berbeda dengan Agung, Nurhadi sudah acap kali naik turun Gunung Lompo Battang.

Cerita Gunung Lompobattang (2)Agung saat berada di puncak Gunung Lompo Battang, Kabupaten Gowa. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka/Dok Agung)

Keduanya ingin menghabiskan akhir pekan di ketinggian. Dan memilih Gunung Lompo Battang sebagai lokasi berlibur. Perjalanan malam hari pun juga merupakan sebuah kesengajaan untuk lebih memacu adrenalin dan menikmati sepinya di antara semak belukar hutan.

Tapi, malam itu bukan hanya angin dan udara dingin yang menjadi kawan mereka. Di balik sepinya jalur pendakian, sayup-sayup terdengar beragam suara aneh. Terutama saat berada di sekitar Pos 2, yang terletak di ketinggian sekitar 1.378 mdpl.

Pos 2 jalur pendakian Gunung Lompo Battang merupakan batas akhir antara perkebunan milik warga dengan hutan belantara.

Lokasi di sekitar Pos 2 tersebut memiliki jalur yang cukup menanjak. Waktu tempuuh dari desa terakhir untuk tiba di Pos 2 sekitar 30 menit.

Suasana cukup gelap. Hanya ada bintang di langit dan lampu senter kecil yang diikat di kepala, atau headlamp, sebagai sumber penerangan.

Rembulan malam itu seakan enggan menemani kerlip gemintang. Dia seperti malu-malu menunjukkan cahayanya. 

Gelap gulita membalut sepanjang kiri kanan jalan yang tak disinari headlamp. Semakin menanjak jalur, semakin lebat hutan dan semakin suara-suara aneh yang menemani semakin jelas terdengar.

Ada yang menyerupai derap kaki yang berjalan cepat, ada suara tawa terkikik dari jarak dekat, kadang muncul suara seperti keramaian orang ngobrol namun nyatanya tidak ada rombongan lain selain mereka berdua di sana.

Kadang tidak jelas antara angin atau suara manusia, seperti berbisik di telinga, atau menangis pelan-pelan.

Pos 2 pun terlewati. Mereka terus berjalan menuju pos-pos berikutnya, mulai dari Pos 3, 4, 5, sampai Pos 8 yang dikenal dengan nama Moncong Assumpolong. 

Keduanya berencana untuk mendirikan tenda dan berkemah di Pos 9. 

Ranting dan Dahan Hitam

Tinggal melintasi satu bukit lagi dan mereka akan tiba di Pos 9, lokasi kemah mereka.

Namun untuk menuju lokasi tersebut, mereka harus meniti punggung bukit yang jauh lebih dingin daripada tempat awal mereka berjalan.

Angin di situ bertiup berkali-kali lebih kencang, ditambah lagi jalur yang cukup curam dengan mulut jurang yang siap menelan mereka di sisi dan kanan jalur.

Kengerian bertambah saat melihat pepohonan di sekitarnya, yang berupa kayu hangus berwarna hitam, sisa kebakaran hebat yang melanda Gunung Lompo Battang beberapa tahun lalu.

Cerita Gunung Lompobattang (3)Agung bersama beberapa pendaki lain saat berada di puncak Gunung Lompo Battang, Kabaupaten Gowa. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka/ Dok Agung)

Konon, di lokasi ini pula beberapa pendaki kerap mengalami hipotermia atau kedinginan dan meninggal dunia. Ingatan tentang cerita-cerita itu semakin menambah aura seram di sana.

Setelah beristirahat sejenak, langkah kembali dilanjutkan. Suara aneh, tawa terkikik dan sesekali suara melengking tinggi kembali terdengar. Bahkan jauh lebih nyata dibanding sebelumnya. Waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 01.00 Wita.

"Sebenarnya waktu itu memang benar-benar merinding tapi daripada tinggal mencari tahu lebih baik lanjut saja perjalanan," ujar Agung saat berbagi cerita dengan Tagar, Senin 7 September 2020.

Entah halusinasi atau bawaan kantuk. Serta tubuh yang semakin lelah. Namun mereka menampik semua kemungkinan dan terus berjalan menelusuri jalur yang perlahan mulai landai. Pos 9 sudah di depan mata.

Biasanya, para pendaki memang memilih pos tersebut untuk beristirahat. Sebelum summit attack, atau menuju puncak. 

Tenda mereka pun didirikan, badan direbahkan. Suara-suara aneh tak lagi terdengar hingga pagi datang. Berganti keheningan, hanya ada gesekan daun dan dahan ranting pohon yang menjadi musik pengantar tidur yang tenang.

Agung rupanya tak kapok setelah apa yang telah dilaluinya. Justru pemuda lajang tersebut mengaku hal itu adalah pengalaman paling seru yang pernah dilewatinya.

Setelah berhasil menginjakkan kaki di puncak gunung Lompo Battang, berikutnya ia berniat untuk bisa berdiri di atas puncak gunung Bawakaraeng, sekitar 2830 mdpl.

Gunung yang berdiri tak jauh dari puncak Lompo Battang. Gunung tersebut juga terkenal akibat tragedi longsor 26 Maret 2004 yang menewaskan puluhan warga sekitarnya. Gunung yang juga memiliki banyak mitos serta misteri. Namun memiliki banyak keindahan memikat, baik flora dan fauna endemik.

"Semoga secepatnya bisa ke Bawakaraeng," kata Agung berharap.

Keesokan harinya, sebelum berangkat menuju trianggulasi di 2.874 mdpl Agung menceritakan hal yang dia alami kepada rekannya. 

Nurhadi tersenyum mendengar hal tersebut. Dia yang sudah beberapa kali mendaki hingga ke puncak Gunung  Lompo Battang memaklumi peristiwa yang diceritakan Agung.

"Ya setiap orang berbeda-beda sambutannya saat berkunjung di gunung, anggap saja ucapan selamat datang," kata Nurhadi sembari bercanda. Ia tak ingin rekannya mengalami trauma saat mendaki.

Bagi Nurhadi, mendaki memang bukan sekadar untuk mengukur kekuatan fisik dan memacu adrenalin. Namun sebuah upaya untuk mendekatkan diri dengan sang pencipta. Yaitu dengan cara mengenali segala ciptaan-Nya, gunung yang menjulang, udara yang menyejukkan bahkan meyakini mahluk-mahluk tak kasat mata.

Ia sendiri mengaku sejak masih remaja sudah jatuh cinta pada dunia hiking atau pendakian. Selagi diberi kemampuan dan kesempatan ia akan terus melakoni hobinya tersebut.

"Target berikutnya adalah gunung-gunung lain yang belum kudaki," ujar Nurhadi. []

Berita terkait
Cara ASN DPRD Bantaeng Menambah Penghasilan
Seorang aparatur sipil negara di Kantor Sekretariat DPRD Bantaeng membuka usaha samppingan sebagai pedagang arloji dan parfum.
Mantan Nakhoda Ubah Sekapuk Jadi Desa Miliarder (1)
Abdul Halim, seorang mantan nakhoda kapal yang kini menjabat sebagai Kepala Desa Sekapuk, Gresik, berhasil mengubah wajah desanya.
Bendera 120 Meter di Maros, dari Gunung ke Laut
Sejumlah pemuda di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, membentangkan bendera sepanjang 120 meter di laut. Awalnya bendera akan dibentang di gunung.
0
Suara Misterius di Jalur Gunung Lompo Battang Gowa
Seorang anggota Polres Bantaeng mengisahkan pengalaman pertamanya mendaki Gunung Lompo Battang, Kabupaten Gowa. Dia mengalami kejadian aneh.