UNTUK INDONESIA
Cara ASN DPRD Bantaeng Menambah Penghasilan
Seorang aparatur sipil negara di Kantor Sekretariat DPRD Bantaeng membuka usaha samppingan sebagai pedagang arloji dan parfum.
Ismul Alam Basir, Kepala Bagian Persidangan dan Risalah DPRD Kabupaten Bantaeng sedang melayani seorang pengunjung di outletnya. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Bantaeng - Di dalam ruangan seluas 3x4 meter, pria berusia 39 tahun itu duduk di balik etalase di sisi selatan ruangan. Menggunakan baju kaos, sarung dan kopiah. Ia baru saja menunaikan salat Isya.

Puluhan jam tangan tertata rapi di dalam etalase, model dan warnanya beragam. Sementara di sudut etalase, dua speaker diletakkan berdampingan, sebagai teman Ismul Alam Basir, nama pria itu, saat menjaga barang jualannya sepulang kerja.

Satu tripod berukuran kecil juga berdiri di atas etalase, hanya beberapa puluh sentimeter dari kedua speaker. Beberapa botol berisi bibit parfum juga tertata rapi di dalam ruangan itu.

Warna tembok ruangan yang kalem, perpaduan antara hijau muda, hijau tua, dan putih, cukup kontras dengan hiasan dinding berupa tulisan “FC” yang didominasi warna hitam dan beberapa pigura foto yang digantung.

Beberapa kursi kecil berwarna peach lembut membuat orang cukup betah duduk di dalam ruangan itu, baik untuk sekadar bertanya tentang harga jam tangan maupun yang langsung membeli.

Aroma wangi semerbak yang tercium saat orang memasuki ruangan kecil itu semakin membuat nyaman untuk berlama-lama duduk.

Pekerjaan Sampingan

Ismul duduk di salah satu kursi saat mengisahkan sisi lain kehidupannya yang tak banyak diketahui orang. Profesi utama Ismul adalah pegawai negeri si[il (PNS) di Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bantaeng. Dia menjabat sebagai Kepala Bagian Persidangan dan Risalah.

Cerita ASN Bantaeng Jualan Arloji (2)

Ismul Alam Basir, Kepala Bagian Persidangan dan Risalah DPRD Kabupaten Bantaeng, saat berada di kantor. (Foto: Tagar/Fitri Aulia Rizka)

Selama jam kerja, Ismul selalu tampil rapi, dengan setelan kemeja dan jas. Arloji elegan tak pernah lepas dari lengan tangan kirinya. Namun saat tiba di rumah, penampilannya berubah drastis. Ismul menjadi seorang wirausahawan yang bergerak di penjualan jam tangan dan parfum.

Ayah dua anak tersebut memperkenalkan outlet jam dan parfum yang diberi nama Fayyadh Collection, yang diambil dari nama putra sulungnya. Sebuah usaha kecil yang dikelola bersama sang istri.

Mereka menggunakan salah satu ruangan di rumahnya, Jalan Pinang Raya lorong 1 nomor 24, desa Rappoa, Kecamatan Pajukukang Kabupaten Bantaeng, yang disulap sedemikian rupa.menjadi toko kecil yang menarik.

Arloji yang terpajang di sana beragam harganya. Untuk anak-anak rata Rp 35 ribu rupiah. Sedangkan untuk orang dewasa mulai harga Rp 70 ribu sampai Rp 350.000 rupiah.

Sebagian besar arloji atau jam tangan yang dipajang di dalam etalase bukan merupakan barang orisinal. Tetapi, Ismul tetap melayani pelanggan yang menginginkan arloji orisinil.

"Kita juga melayani pemesanan arloji untuk ori (orisinal), tapi memang sistemnya pre order, pesan dulu baru kita readykan," kata Ismul, Jumat, 4 September 2020.

Salah satu alasan dia tidak memajang jam tangan dengan brand tertentu atau yang orisinal adalah kondisi “pasar" saat ini yang masih cukup sulit untuk sebagian orang.

Sehingga barang seperti jam tangan meskipun bermerk ori tentu bukan prioritas. Barang dengan harga jutaan bukan waktu yang tepat dan bijak jika ditawarkan saat ini.

Begitu pun dengan parfum isi ulang yang dijualnya, seluruhnya bukan parfum orisinil. Namun harga yang dipatok pun jauh lebih murah daripada parfum-parfum impor orisinal.

Belasan varian parfum di outletnya dipatok dengan harga Rp 15 ribu sampai Rp 55 ribu rupiah per botolnya. Pelanggan yang ingin melakukan isi ulang, cukup membayar Rp 1000 rupiah per mililiternya.

Lagipula outlet ini masih baru, sekitar 5 mingguan, tempatnya juga bukan di area kota. Jadi yang kami pasarkan adalah yang dibutuhkan, berkualitas dan harga terjangkau.

Hobi Kenakan Arloji

Ismul menceritakan awal minatnya berwirausaha menjadi pedagang arloji. Menurutnya sejak duduk di bangku SMP dirinya suka mengenakan arloji. Kesenangannya itulah yang kemudian dipilihnya menjadi lahan bisnis di masa paceklik.

Selain kebiasaannya menggunakan barang tersebut, ia juga mahir membenarkan tali jam khususnya yang berbahan logam.

Dalam menjalankan usahanya, Ismul tidak hanya berdua dengan sang istri. Ismul memberdayakan empat pemuda di kampungnya. Mereka adalah para pemuda yang membutuhkan pekerjaan. Ismul memberlakukan sistem bagi hasil untuk mereka, yakni keuntungan dari penjualan arloji dibagi dua, untuk Ismul dan untuk pemuda yang menjual.

Cerita ASN Bantaeng Jualan Arloji (3)
Suasana outlet arloji dan parfum milik Ismul Alam Basir, Kepala Bagian Persidangan dan Risalah DPRD Kabupaten Bantaeng. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Dalam memromosikan arloji jualannya, selain penjualan langsung di outlet, ia juga menawarkan melalui media sosial dan door to door.

Ismul tidak memberi target pada keempat pemuda itu dalam menawarkan parfum maupun arloji-arloji jualannya. Baginya, manusia cukup pada sebatas usaha yang maksimal saja. Tak perlu memberi target atau batasan. Karena ada zat lain yang maha pemberi.

"Rezeki sudah diatur, kalaupun kita target hari ini 5 tapi yang datang 10. Berarti bisa saja kelebihan itu adalah untuk menutupi kekurangan di hari lainnya, intinya seperti itu saja, bekerja yang terpenting adalah berkahnya," kata ayah dua anak ini.

Ismul mengaku selama lima pekan terakhir, yakni sejak membuka usaha itu, dia sudah merasakan suka dan duka sebagai seorang pedagang.

Dia juga mulai memikirkan inovasi yang harus dilakukan untuk mengembangkan usahanya. Dan tentunya bisa menghidupi setiap orang yang terlibat di dalamnya.

Tak hanya itu, tantangan lain yang dihadapi adalah tanggapan pesimis dari sebagian orang yang melihat usahanya. Namun, ia pantang surut dan tidak banyak mempersoalkan hal tersebut.

"Setiap orang berhak berpendapat, namun pada intinya kitalah yang menjalani. Kita juga tak bisa memaksa setiap orang sepaham dengan kita. Kenapa harus malu berdagang padahal Nabi pun mencari nafkah dengan berdagang, apa yang salah menjadi seorang pedagang," ucap Ismul.

Bagi Ismul, berdagang bukan sekadar sebuah usaha sampingan. Di sisi lain, ia berupaya mengikuti rekam jejak kekasih Allah, Nabi Muhammad SAW yang sudah mulai berdagang di usia belia (12 tahun).

"Konsep yang sebenarnya sedang saya jalankan adalah berdagang dan bersedekah," ujar Ismul.

Ya, selama lima minggu outletnya berjalan, ia memanfaatkan satu waktu untuk bersedekah sesuai niatnya. Salah satunya ia memilih malam Jumat.

"Dua hal yang sementara berjalan, pertama memberikan dua hingga tiga unit jam tangan gratis bagi siapa saja yang bersedia mengaji setiap malam Jumat di outlet kami, cukup 1 Juz saja," jelas lelaki yang hobi musik dan travelling ini.

Hal kedua yang berupaya dijalankan ialah pada hari Jumat sebelum memasuki waktu salat Jumat. Ia menyiapkan lima botol parfum gratis ukuran 10 ml bagi lima jamaah jumat yang duluan melangkahkan kaki menuju masjid (yang melintas di depan Outlet Fayyadh Collection).

"Insya Allah daripada menarget penjualan lebih baik memberi target untuk sedekah sebanyak mungkin, sedekah tidak akan memiskinkan kita bukan," candanya sembari mengakhiri percakapan malam itu. []

Berita terkait
Filosofi Kain Batik Bermotif Pajonga dari Bantaeng
Kepala jonga atau rusa merupakan perwujudan keistimewaan jonga di mata masyarakat Bantaeng. Warna kuning yang bermakna keceriaan.
Jantan, Betina, dan Mandulnya Pohon Kurma di Sleman
Seorang petani kurma di Kabupaten Sleman mengisahkan awal ketertarikannya terhadap kurma, serta jenis pohon kurma jantan, betina, dan mandul.
Pelestarian Budaya di Tempat Suku Batak Bermula
Sejumlah relawan di Kabupaten Samosir mendirikan Rumah Belajar Sianjur Mulamula untuk mengajarkan budaya Batak pada generasi muda.
0
Cara ASN DPRD Bantaeng Menambah Penghasilan
Seorang aparatur sipil negara di Kantor Sekretariat DPRD Bantaeng membuka usaha samppingan sebagai pedagang arloji dan parfum.