UNTUK INDONESIA
Merawat Empati, Menangkal Bunuh Diri
Kasus bunuh diri tak pernah habis dari tahun ke tahun. Persoalan ekonomi dan sosial kerap menjadi alasan seseorang mengakhirinya hidupnya sendiri.
Ilustrasi Bunuh Diri. Kasus bunuh diri ini melibatkan seorang ibu berinsial EV, serta tiga orang anaknya. Perbuatan bunuh diri, terungkap setelah suami korban meminta adiknya untuk melihat kondisi istri serta tiga orang anaknya, Senin (15/1) malam kemarin. (Ist)

Padang - Setiap hari, kasus bunuh diri nyaris menghiasi setiap pemberitaan media massa. Bahkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) 2019 mengungkapkan, setiap detik satu orang kehilangan nyawa di dunia karena bunuh diri.

Peristiwa ini tentunya juga menyentuh 34 provinsi di Indonesia. Termasuk Sumatera Barat (Sumbar), tak luput dari kasus bunuh diri yang selalu terjadi dari tahun ke tahun.

Empati paling penting, ajak dia terbuka tentang masalah dengan cara baik. Bantu dia menyelesaikan masalah.

Dari data yang dirangkum Tagar dari berbagai sumber pemberitaan media massa, sepanjang Januari-Desember 2019, angka bunuh diri di Sumbar mencapai 30 kasus. Dengan begitu, dalam sebulan tercatat lebih dari dua warga Sumbar meninggal karena bunuh diri.

Masing-masing, 1 kasus di Bukittinggi, 2 di Kabupaten Dharmasraya, 6 di Agam, 2 di Kabupaten Solok, 1 di Solok Selatan, 2 di Sijunjung, dan 4 di Tanah Datar.

Kemudian, 1 kasus bunuh diri di Mentawai, 3 di Pasaman Barat, 2 di Pasaman, 1 di Padang Pariaman, 3 di Pesisir Selatan, dan 2 kasus gantung di Kota Padang.

Teranyar, kasus bunuh diri menggemparkan masyarakat Kabupaten Pesisir Selatan, Sabtu 21 Desember 2019. Seorang duda berinsial RS nekat menghabisinya nyawanya dengan seutas tali di kediamannya sendiri.

Informasi yang diterima polisi, RS nekat bunuh diri karena gagal menikah dengan gadis yang dicintainya. Konon, orang tua calon istrinya membatalkan pernikahan setelah mengetahui statusnya yang tidak lagi lajang.

Kasus RS merupakan satu contoh dari puluhan cerita bunuh diri di Sumbar. Ada yang nekat gantung diri karena terlilit hutang, cekcok dengan istri, hingga menderita penyakit yang tak kunjung sembuh. Bahkan pelajar pun nekat mati karena bermasalah dengan orang tuanya sendiri.

Psikolog Universitas Andalas (Unand), Nila Anggreiny, mengatakan rata-rata mereka nekat bunuh diri karena masalah psikologis berat atau gangguan jiwa yang berujung depresi.

Menurutnya, fenomena bunuh diri dipengaruhi beragam faktor persoalan hidup. Mulai dari masalah hubungan awal yang tidak harmonis atau terputus dengan ibu (maternal deprivation).

Ada juga karena mengalami kekerasan, bullying, trauma, atau mendapat perlakuan diskriminasi.

"Tekanan hidup berat, minim dukungan sosial juga rentan. Sejarah anggota keluarga bunuh diri mudah mendapatkan alat bunuh diri, seperti tali, pil atau pistol," katanya kepada Tagar beberapa waktu lalu.

Keinginan bunuh diri semakin kuat saat kesepian dan ketika tidak ada yang menaruh peduli. Mereka merasa tidak dibutuhkan, membebani, lelah dengan kehidupan hingga ujungnnya berakhir putus asa.

"Perasaan tertekan, tidak ada yang mendukung, merasa dijauhi membuat niat bunuh diri semakin kuat," tuturnya.

Nila Anggreiny berharap, setiap keluarga dan tetangga hendaknya peka terhadap gejala tersebut. Sebab, kebanyakan orang-orang yang sedang mengarah putus asa kerap bicara tentang bunuh diri. Bahkan dia juga cenderung menarik dari pergaulan di masyarakat.

"Kenali tandanya. Sulit tidur, makan, kurang minat terhadap aktivitas sosial juga perlu dicurigai," katanya.

Jika menemukan kerabat atau tetangga dalam keadaan tersebut, hendaknya segera aktif memberikan empati. Bisa saja dengan mengajaknya bicara, bercanda, jalan-jalan dan menunjukkan rasa peduli.

"Empati paling penting, ajak dia terbuka tentang masalah dengan cara baik. Bantu dia menyelesaikan masalah dan kalau perlu carikan bantuan dari tenaga profesional," tuturnya.

Fenonema bunuh diri yang mayoritas menyasar individu di rentang usia muda juga menjadi perhatian serius Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar. Persoalannya bukan terkait banyak atau sedikitnya kasus bunuh diri, namun kenapa hal tersebut kerap terjadi setiap tahun.

Tidak ada kehidupan di dunia ini yang hadir tanpa pertentangan. Dunia tidak seperti surga.

Ketua MUI Sumbar, Gusrizal Gazahar, mengatakan hukum bunuh diri di dalam ajaran Islam jelas haram dan tidak ada ulama yang berbeda pendapat soal itu. Jika dikelompokkan, bunuh diri masuk kategori dosa besar bagi seorang muslim.

"Kalau dicari sebabnya banyak. Mulai dari faktor ekonomi, sosial. Bisa juga malu karena terlanjur membuat aib dan sebagainya. Itu faktor-faktor yang bisa dilihat secara lahir," katanya saat dihubungi Tagar.

Buya GusrizalKetua MUI Sumatera Barat, Buya Gusrizal Gazahar. (Foto: Tagar/Rina Akmal)

Namun ketika diselisik lebih jauh, ini tidak terlepas dari lemahnya iman seorang manusia muslim. Jika mereka mengerti dengan karakteristik kehidupan yang sejak lahir penuh dengan tantangan dan perjuangan, tentu pendek akal itu tidak akan terjadi.

"Tidak ada kehidupan di dunia ini yang hadir tanpa pertentangan. Dunia tidak seperti surga. Apa pun di bumi ini harus dengan usaha. Makanya dunia di dalam Islam disebut sebagai kampung beramal, tempat berusaha dan bekerja," tutur lulusan Universitas Al-Azhar, Mesir itu.

Muslim beriman mustahil mengakhiri hidupnya dengan sebuah kekonyolan yang jelas-jelas dilarang nyata dalam agama. "Semua masalah di dunia tunduk pada qada dan qadar Allah SWT. Mana tau besok sebelum bunuh diri hari ini, tersimpan rencana baik. Tapi karena tidak terfikirkan itu, makanya bunuh diri," katanya.

Pendidikan dan Antisipasi Generasi Rapuh

Keinginan bunuh diri tidak lepas dari persoalan lemahnya akidah seseorang terhadap agama yang dipercayainya. Masalahnya, ruang untuk menanamkan akidah dan tauhid kepada generasi muda Islam hari semakin sempit.

Tidak akan lahir generasi terbaik jika tidak dibawa dalam kehidupan nyata. Mereka akan terus rapuh menghadapi kenyataan hidup.

Dalam pola pendidikan formal hari ini, pelajar dituntut menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari mendalami ilmu pengetahuan umum. Sedikit sekali materi pendalaman tentang keagamaan yang di dapat di sekolah umum. Kondisi terjadi di semua tingkatan, mulai dari SD, SMP hingga SMA.

"Dari pagi sampai sore anak-anak sibuk belajar di sekolah. Malam membuat PR, belum lagi main internet dan sebagainya," katanya Buya Gusrizal.

Hal itu baru dari sisi ruang untuk memberikan wawasan keimanan. Belum lagi menanamkan akidah, karena penyajian wawasan agama tidak serta merta menumbuhkan keimanan kuat.

"Menanamkan nilai-nilai akidah butuhkan waktu. Nah ruangnya saja sudah kian sempit, bagaimana memberikan lebih jauh," tuturnya.

Kemudian, tidak adanya korelasi sistem pendidikan yang dibangun dengan kenyataan hidup yang kelak harus dilewati generasi masa depan. Pelajar hanya dituntut memahami ilmu pengetahuan dan berkutat dengan buku, namun luput dari keadaan realita hidup yang dihadapi orang tuanya sendiri.

"Dua hal yang mesti diberikan agar mereka kuat menghadapi kenyataan hidup. Pertama soal akidah dan tak kalah pentingnya juga memberikan contoh bagaimana menghadapi realita hidup," katanya.

Kolaborasi pendidikan dan contoh menghadapi kehidupan ini sudah dilakukan oleh orang-orang tua terdahulu. Misalnya dulu, jika ayahnya seorang petani, pulang sekolah anaknya pun ikut bertani. Atau ayahnya seorang pedagang, anak pun dikenalkan dengan kenyataan berdagang yang tidak selalu mendapat untung.

Dengan pola itu, anak-anak terasah berfikir bahwa mencari uang untuk menyekolahkannya tidak semudah membalik telapak tangan. Hari ini keadaannya sangat jauh berbeda. Anak-anak diberikan fasilitas lengkap tanpa pernah tau bagaimana orang tua berjuang untuk mendapatkan hal tersebut.

Ketika beranjak dewasa sampai berumah tangga, mereka akan merasa canggung saat dihadapkan dengan permasalahan hidup. Sebab selama ini, orang tuanya selalu menyediakan apa yang menjadi keinginannya.

"Mereka diajar manja. Pagi minta uang jajan, sore dan malam juga minta uang. Anak-anak diberi kenyataan semua ada," tuturnya.

Model pendidikan yang tidak mengaitkan dengan kenyataan ini rentan melahirkan generasi rapuh. Akhirnya ketika didera sedikit masalah, mereka galau dan bingung bagaimana menghadapinya.

"Saya sering katakan generasi hari ini generasi galau yang bermental rapuh. Lihat saja di media sosial, waktunya habis untuk curhat," kata mantan dosen Fakultas Syariah UIN Imam Bonjol Padang itu.

Mental rapuh inilah yang akan membawa petaka bagi generasi ketika dihadapkan kenyataan hidup. Banyak mereka galau hingga akhirnya terseret ke narkoba, minuman keras, LGBT, sampai bunuh diri.

"Kenapa demikian? Karena mereka tidak terlatih berfikir mencari solusi kehidupan yang penuh persoalan," katanya.

Buya Gusrizal berharap, pemerintah kembali memberikan porsi bagi anak-anak untuk belajar dalam kenyataan hidup dan tidak sekadar berburu pintar di alam buku. Jika para pelajar terus dibebani pelajaran dari pagi sampai sore, ruang untuk menguatkan agama akan semakin sedikit.

Apa pun program digagas ulama tidak akan menghasilkan yang terbaik. Sebab anak-anak sudah terlanjur lelah belajar di pendidikan formal. "Tidak akan lahir generasi terbaik jika tidak dibawa dalam kehidupan nyata. Mereka akan terus rapuh menghadapi kenyataan hidup," tuturnya.

Pencegahan bunuh diri berdasarkan pandangan psikolog dan ulama di atas, sejalan dengan laporan WHO yang dilansir dari beritagar.id. Setidaknya, ada tujuh upaya yang dapat dilakukan untuk melakukan pencegahan aksi bunuh diri.

Pertama menjauhkan barang berbahaya yang biasa digunakan untuk bunuh diri dari penderita depresi. Seperti pisau, tali, gunting dan sebagainya. Lalu memberikan sajian berita yang peka dan tidak menghakimi penderita depresi. Sebab penderita depresi cenderung merasa tersudut dengan diksi pemberitaan yang menghakimi penderita depresi.

Ketiga, melibatkan sekolah atau institusi pendidikan untuk memasukkan materi terkait gangguan mental, depresi, dan bunuh diri. Selanjutnya, melarang mereka yang depresi untuk tidak mengkonsumsi alkohol. Sebab efek samping alkohol yang berlebihan dapat menyebabkan seseorang kehilangan kesadaran dan memicu tindakan berbahaya.

Selanjutnya adalah identifikasi dini untuk penderita depresi, gangguan mental, gangguan kepribadian, penyakit akut, dan stres. Para penderita kesehatan mental perlu mendapatkan penanganan, baik dari psikolog atau psikiater.

Terakhir, orang-orang sekitar lingkungan penderita depresi penting untuk terus mengajaknya berkomunikasi. Sesekali bertanya kabar menjadi langkah sederhana sebagai bentuk empati yang perlu dilakukan. []

Berita terkait
Legenda Ular Besar Penunggu Rawa Pening Semarang
Rawa Pening Ambarawa, tempat yang indah. Ada rawa, gunung dan nelayan. Ada pula legenda di sana, tentang bocah kurapan dan ular besar penunggu.
Nyanyian Rindu Merawat Kayu Kapur di Subulussalam
Kayu Kapur Subulussalam, Aceh memiliki aromanya yang khas, kualitas kayu tahan lama pernah dipakai sebagai bahan utama pembuatan kapal.
Siapa Orang Jawa Pertama Pakai Blangkon?
Blangkon, tutup kepala dibuat dari batik digunakan kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa. Siapa orang Jawa pertama pakai blangkon?
0
Dari Ijtima Gowa, Satu RT di Kulon Progo Isolasi
Satu peserta Ijtima Gowa dari Kulon Progo reaktif Covid-19 membuat warga satu RT menjalani isolasi mandiri.