UNTUK INDONESIA

Menyusuri Sejumlah Makam Kuno di Kotagede Yogyakarta

Sejumlah makam kuno terdapat di kawasan Kotagede, Yogyakarta. Dari sejumlah makam kuno itu ada beberapa cerita menarik.
Makam Nyai Melati di Kotagede, Yogyakarta. Menurut cerita, dulu tempat ini sering digunakan untuk mencari berkah oleh para pengggemar lotere. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Yogyakarta - Mendung meyelimuti langit kawasan Kampung Singosaren, Kotagede, Yogyakarta, di hari pertama tahun 2021. Puluhan batu nisan berjejer di sana, di sekitar makam Nyai Melati, dinaungi rindangnya dedaunan pepohonan besar. Semacam sungai kecil mengalir tepat di selatan makam.

Di sebelah utara pemakaman, berdiri kokoh Benteng Cepuri. Benteng kuno yang didirikan sejak zaman Kerajaan Mataram Islam mulai berdiri. Dindingnya dilapisi lumut tebal berwarna hijau tua.

Rintik gerimis perlahan jatuh ke tanah, membasahi daun dan rumput serta nisan di situ, semakin mampu membuat jantung berdegup lebih kencang dan bulu kuduk berdiri.

Makam Nyai Melati merupakan satu dari sejumlah pemakaman kuno yang ada di Kotagede, tempat keraton Kerajaan Mataram Islam pernah berdiri sebelum pindah ke keraton saat ini.

Tempat Mencari Berkah

Emir, 24 tahun seorang warga Kotagede, berjalan di sela batu nisan bersama rekannya. Jemari tangan keduanya menggenggam ponsel. Sesekali mereka memotret bebatuan nisan dan lokasi di sekitar pemakaman Nyai Melati.

Makam Kotagede 2Tembok Benteng Cepuri yang berlumut di sebelah utara kompleks makam Nyai Melati, Jumat, 1 Januari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Kata dia, berdasarkan cerita warga sekitar, makam Nyai Melati dulunya sering digunakan oleh para penggemar lotere untuk mencari wangsit. Tidak jarang para pemasang kupon undian tersebut bermalam di lokasi makam untuk mendapatkan petunjuk.

Konon mereka menggosok batu nisan Nyai Melati, nanti akan muncul nomor yang bakal keluar.

Dulu, lanjutnya, setiap kali para penggemar lotere menggosok nisan pada makam itu, nomor yang muncul selalu tepat dengan nomor yang diundi. Tapi kebiasaan para pencari berkah di makam Nyai Melati tersebut perlahan hilang. Sebab pernah ada penggemar lotere yang menggosok batu nisan dan nomor yang muncul tidak tepat dengan nomor undian yang menang.

“Sejak itu orang-orang berhenti mencari nomor di situ,” ucap Emir.

Kisah yang diceritakan Emir dibenarkan oleh seorang pedagang angkringan tidak jauh dari lokasi makam Nyai Melati berada. Hanya saja ada sedikit versi yang berbeda dengan yang dikisahkan oleh Emir.

Menurut pedagang tersebut, ada pantangan yang tidak boleh dilakukan oleh para penggemar lotere yang mencari berkah di makam itu, yakni jika angka-angka yang muncul pada batu nisan berwarna merah.

“Kalau angka yang muncul warnanya merah, itu sudah pasti keluar saat diundi. Tapi nomor itu tidak boleh dibeli,” ucapnya sambil menambahkan bahwa saat menggosok batu nisan, ada semacam mantra yang harus dilafalkan oleh pencari berkah. Tapi dia tidak tahu lafal mantra tersebut.

Pernah ada kejadian seorang pencari berkah di situ menggosok batu nisan, dan angka yang keluar berwarna merah. Dia tidak peduli dengan pantangan yang berlaku, lalu memasang undian dengan nomor tersebut. Hasilnya, angka yang dipasangnya muncul sebagai pemenang, tetapi orang itu meninggal dunia.

Mengenai tidak digunakannya lagi makam tersebut sebagai tempat mencari berkah nomor undian, pedagang itu mengatakan, warga setempat merasa resah dengan adanya kegiatan yang menurut mereka menyimpang tersebut.

Makam Kotagede 3Seorang pengunjung memotret makam Nyai Melati menggunakan ponselnya, Jumat, 1 Januari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

“Mereka berhenti karena dilarang sama warga. Kan selain untuk cari nomor, di sana juga dipakai untuk kumpul-kumpul. Nah,itu meresahkan warga. Akhirnya dilarang,” ujarnya menambahkan.

Selain ritual mencari berkah di makam Nyai Melati, ada juga ritual yang dilakukan di makam lain, yakni di Makam Semoyan. Di makam itu, kata Emir, tak jarang para peziarah menginap untuk melakukan ritual tertentu.

“Yang di Semoyan tadi, itu menurut cerita dulunya sering digunakan untuk mencari pesugihan, tapi saya kurang tahu bagaimana.”

Makam Dijaga 7 Malam

Bukan hanya cerita-cerita tentang ritual mencari pesugihan dan semacamnya. Di salah satu kompleks pemakaman keluarga, tidak jauh dari Semoyan, memiliki cerita berbeda.

Makam tersebut milik keluarga Wongsodiromo yang dibangun tahun 1830. Kondisi di lokasi pemakaman tampak bersih dan rapi karena sang penjaga makam, Geno, 61 tahun dan istrinya Alimah, 56 tahun, rutin membersihkan setiap hari.

Alimah menceritakan hal unik yang pernah dialaminya bersama sang suami, yakni menjaga salah satu makam selama tujuh hari tujuh malam agar jasad di dalamnya tidak dicuri.

Kata Alimah, saat itu tahun 1999. Salah satu anggota keluarga pemilik kompleks pemakaman meninggal tepat pada malam Jumat Kliwon.

Seusai pemakaman, keluarga dari orang yang dimakamkan tersebut meminta agar makam itu dijaga. “Meninggalnya malam Jumat Kliwon. Itu tahun 1999. Itu katanya supaya nggak dicuri kepalanya,” ucapnya mengenang.

Makam Kotagede 4Salah satu kompleks pemakaman kuno yang berlokasi di Kotagede, Yogyakarta, Jumat, 1 Januari 2021. (Foto: Tagar/Jurniawan Eka Mulyana)

Alimah melanjutkan, kekhawatiran dicurinya kepala mayat karena ada kepercayaan ritual pesugihan menggunakan kepala orang yang meninggal pada malam Jumat Kliwon.

Tetapi itu hanya berlaku selama tujuh hari setelah orangnya dimakamkan. Jika sudah lewat dari tujuh hari, maka kepala mayat sudah tidak bisa digunakan untuk ritual pesugihan. “Katanya memang Cuma tujuh hari, kalau leat tujuh hari sudah aman,” dia menegaskan.

Selama tujuh hari tujuh malam menjaga makam itu, lanjut Alimah, tidak ada kejadian apa pun, dan makam yang dijagai tetap utuh sampai saat ini.

Hal yang berkesan dari penjagaan makam itu adalah sang suami dan beberapa rekannya membawa pesawat televisi ke dalam kompleks pemakaman untuk menemani mereka begadang.

“Selama menjaga itu bawa televisi, bawa tikar, yang menjaga dan menemani Pak Geno ada tujuh orang. Saya yang menyediakan air minum dll. Saya mboten nginep teng mriki (Saya tidak menginap di makam ini),” tuturnya.

Makam lain yang ada di kawasan Kotagede adalah Kompleks Makam Raja-raja Mataram, dengan jumlah makam sebanyak 627, 81 makam di antaranya merupakan makam pokok, termasuk di dalamnya makam Ki Ageng Pamanahan, Nyi Ageng Pamanahan, Panembahan Senopati, Pangeran Mangkubumi, dan Sri Sultan Hamengkubuwono II.

Hastono Darwinto, seorang abdi dalem di tempat itu, mengatakan kompleks pemakaman yang menjadi satu dengan kompleks masjid besar Kotagede tersebut, dibangun pada abad ke-16, atau sekitar tahun 1.500-an.

Dengan tutur kata yang teratur dan halus, Hastono menjelaskan tentang aturan yang berlaku di situ. Mulai dari pantangan hingga kepercayaan para peziarah.

Selain harus mengenakan surjan untuk peziarah pria dan kemben untuk peziarah wanita, saat memasuki area makam pun harus dalam keadaan bersih, atau tidak sedang haid. Peziarah juga dilarang memotret di area makam.

Jika ada yang mencoba melanggar larangan dan ketentuan itu, sekitar 50 abdi dalem yang menjaga kompleks makam, siap untuk memperingatkan mereka.

Makam Kotagede 5Seorang warga berjalan di antara batu nisan di kompleks pemakaman keluarga Wongsodikromo, Jumat, 1 Januari 2021. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

"Siapa pun akan dilarang masuk kalau tidak pakai pakaian adat. Menteri pun masuk ke sini kalau tidak pakai pakaian adat, saya berani menegur. Tidak terkecuali," ujarnya saat ditemui Desember lalu.

Hal itu kata dia, karena aturan tersebut diberlakukan sejak zaman dahulu, sekaligus bertujuan untuk melestarikan budaya.

Untuk memudahkan peziarah, para abdi dalem penjaga kompleks pemakaman itu menyiapkan pakaian adat untuk disewakan. Tarif sewa termasuk bea masuk ke area makam sebesar Rp 35 ribu.

"Kita sewakan pakaian itu Rp 35 ribu. Itu dengan tarif masuk lokasi makam. Boleh juga bawa pakaian adat dari rumah," tambahnya. []

Berita terkait
Doni Monardo dan Sepiring Sukun di Pinggir Kali
Doni Monardo mendekati pohon sukun itu dan berkata pelan, mohon izin, Bung Karno, saya memotong dahan pohon sukun untuk saya tanam di tempat lain.
Kaki yang Kembali di Yogyakarta Setelah 6 Tahun Amputasi
Kaki Sigit Wahyudi, pemuda 27 tahun asal Kudus kembali meski palsu, setelah diamputasi akibat tersengat listrik pada tahun 2013.
Nasib Manusia Silver di Bekasi Tak Seberkilau Warna Tubuhnya
Sejumlah pengamen dengan tubuh berwarna silver marak berada di jalanan. Dua dari mereka mengisahkan suka duka menjadi manusia silver.
0
Malam Tahun Baru, Ganjar Blusukan ke Kuburan di Semarang
Naik motor, Gubernur Ganjar Pranowo blusukan hingga kuburan di Mijen, Semarang. Ia menyemangati para penggali kubur.