UNTUK INDONESIA

Kaki yang Kembali di Yogyakarta Setelah 6 Tahun Amputasi

Kaki Sigit Wahyudi, pemuda 27 tahun asal Kudus kembali meski palsu, setelah diamputasi akibat tersengat listrik pada tahun 2013.
Sigit Wahyudi, 27 tahun, sedang memakai kaki palsu bantuan dari Yayasan Visi Mahakarya, Minggu, 27 Desember 2020. Kedua kaki dan tangan Sigit diamputasi karena tersengat listrik. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Yogyakarta - Sigit Wahyudi duduk di kursi membelakangi backdrop yang terpasang di dinding. Tubuhnya sedikit membungkuk, kedua tangannya yang hanya sebatas siku memegang kaki palsu barunya. Dia mencoba memasang sendiri kaki palsu itu.

Meski separuh wajahnya tertutup masker, sorot mata pemuda berusia 27 tahun tersebut terlihat bahagia. Sigit membayangkan dirinya bisa kembali beraktivitas di luar rumah setelah selama hampir tujuh tahun tidak bisa ke mana-mana.

Kedua kaki dan tangan Sigit diamputasi setelah dia tersengat listrik ketika bekerja pada tahun 2013. Sejak itu dirinya tidak bisa ke mana-mana tanpa bantuan orang lain.

“Saya difabel karena kecelakaan tersengat listrik ketika kerja. Sekitar tahun 2013, waktu itu saya umur 19 tahun,” ucapnya saat ditemui seusai penyerahan bantuan kaki palsu oleh Yayasan Visi Mahakarya, di Kampung Sidikan, Yogyakarta, Minggu, 27 Desember 2020.

Sigit menceritakan awal mula dirinya menjadi seorang difabel. Pemuda asal Kudus, Jawa Tengah ini bekerja memasang besi untuk plafon bangunan. Dia bekera di lantai tiga rumah yang sedang dikerjakan tersebut.

Rangkanya pakai galfalum atau baja ringan. Ketika itu saya berada di lantai 3, hampir berdekatan dengan tiang listrik. Kemungkinan ketika saya mau potong, besinya menyentuh kabel listrik.

Sesaat setelah tersengat listrik, Sigit dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.

Amputasi Tangan dan Kaki

Setelah beberapa waktu di rumah sakit, kondisi Sigit tidak banyak mengalami kemajuan. Bahkan pihak rumah sakit menyarankan untuk dilakukan amputasi pada kedua tangan dan kakinya.

Sigit dan orang tuanya merasa belum rela jika tangan dan kakinya diamputasi. Akhirnya Sigit dibawa pulang dan dirawat di rumah selama hampir setahun.

Cerita Kaki Palsu (2)Sigit Wahyudi duduk di kursi membelakangi backdrop yang terpasang di dinding tempat pembagian kaki palsu di kantor Yayasan Visi Mahakarya, Yogyakarta, Minggu, 27 Desember 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

“Terkendala biaya, tapi belum ada perubahan. Dokter menganjurkan untuk amputasi tapi orang tua belum tega. Maka saya dibawa pulang dan dirawat di rumah sekitar 1 tahun. Saat itu kaki dan tangan saya mengering, tinggal tulang,” ucapnya mengenang.

Setelah melihat kondisi tangan dan kaki Sigit yang semakin memburuk, dia dan orang tuanya pun mengalah. Mau tidak mau mereka harus ikhlas dan rela Sigit kehilangan anggota tubuhnya itu. Sigit pun diamputasi.

Proses penyembuhan luka akibat amputasi itu memakan waktu sekitar enam bulan. Selama itu Sigit hanya berdiam diri di rumah.

“Setelah amputasi saya tidak ada kegiatan, saya kan belum ada kaki palsu, jadi di rumah saja. Alhamdulillah saat ini sudah dapat kaki palsu dari Visi Mahakarya, Insya Allah bisa menunjang mobilitas di luar,” ucapnya berharap dan optimistis.

Sigit mengaku mengetahui adanya program pemberian kaki palsu tersebut dari rekannya sesama difabel di Forum Komunikasi Difabilitas Kudus atau FKDK.

“Harapannya ke depan visi mahakarya ini semoga bisa istiqomah membantu eman-teman disabilitas, dan para donatur juga lebih terbuka hatinya untuk menyisihkan dananya.”

“Rencana ke depan saya mau lebih maksimal di kegiatan luar,” dia menambahkan.

Tidak jauh dari Sigit, seorang perempuan berhijab yang juga mengenakan masker duduk di kursi sejenis. Kaki kiri Nur Hayatun, nama perempuan itu juga berupa kaki palsu bantuan dari Yayasan Visi Mahakarya.

Berbeda dengan Sigit, Nur mengaku dirinya difabel sejak lahir. Dia sempat aktif di salah satu yayasan difabel di Yogyakarta, yakni Yakkum. “Saya masuk Yakkum itu 12 November 1990. Dulunya saya penginnya menjahit, tapi waktu itu saya belum bisa baca tulis, sekitar umur 13 tahun,” tuturnya.

Saat berada di Yakkum itulah dia belajar baca tulis dan menamatkan sekolah dasarnya. Dia bekerja sambil bersekolah. Di Yakkum juga dia mulai belajar membuat hiasan dinding.

“Waktu itu belum pakai kaki palsu, saya berjalan pakai lutut. Dulu saya mau dibelikan tongkat sama pakde saya tapi saya malu,” dia melanjutkan.

Saat ini aktivitas Nur menjadi penjahit, khususnya vermak pakaian di rumahnya. Tapi selama pandemi usaha menjahitnya agak vakum karena kebetuan dia baru melahirkan bayi. “Saya fokus ke baby, umurnya 8 bulan,” kata perempuan yang tinggal di Desa Bangunkerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman ini.

Dengan adanya bantuan kaki palsu dari Yayasan Visi Mahakarya tersebut, dia berharap bisa menunjang aktivitasnya sehari-hari.

“Semoga ke depannya semakin bermanfaat buat saya dan keluarga saya, karena untuk saya kaki palsu ini menunjang kehidupan saya sehari-hari. Saya ke sana ke mari sendiri karena suami jauh. Suami di Sukoharjo,” kata Nur.

Cerita Kaki Palsu (3)Nur Hayatun, 44 tahun, seorang difabel penerima bantuan kaki palsu dari Yayasan Visi Mahakarya. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Informasi adanya pemberian bantuan kaki palsu tersebut diketahui Nur dari temannya yang merasa kasihan karena kaki palsu lama milik Nur sudah rusak.

Dia berharap ke depanya Yayasan Visi Mahakarya semakin berjaya dan selalu membantu difabel yang membutuhkan.

Kakiku Kini Kembali

Koordinator Yayasan Visi Mahakarya di Yogyakarta, Agus Ardianto, 33 tahun, menjelaskan sejarah yayasan itu. Menurutnya, Yayasan Visi Mahakarya berpusat di Tangerang Selatan, dan didirikan pada tahun 2012. Sementara untuk Cabang Yogyakarta, berdiri pada akhir tahun 2016.

“Program utamanya membantu tunadaksa berupa kaki palsu dan tangan palsu. Tapi program lain juga ada, berupa doa bersama, berbagi sarapan, dan beberapa kegiatan lain,” ucapnya.

Untuk kawasan Yogyakarta, program yang sudah berjalan adalah pemberian kaki palsu, pembagian makanan setiap Jumat, serta pemberian sarapan setiap hari. Program pembagian kaki palsu ini diberi nama Kakiku Kini Kembali. Saat ini sudah 17 difabel yang menerima bantuan kaki palsu.

“Syaratnya, harus benar-benar tidak mampu, kedua adalah usia produktif, selebihnya paling identitas berupa KK dan KTP,” kata Agus menambahkan.

Data difabel yang memerlukan bantuan diperoleh dari donatur, perajin kaki palsu, dan sebagian diperoleh dari dinas sosial.

Dalam membagikan bantuan, pihaknya bekerja sama dengan perajin kaki palsu di kawasan Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman. Tapi kerja sama tersebut berupa kerja sama lepas, dalam artian tidak ada MoU tertentu. “Setiap ada yang mau kita bantu, kita pesan ke sana.”

Dalam proses penyaluran bantuan kaki palsu tersebut, para penerima manfaat akan diperiksa kakinya terlebih dahulu, untuk diketahui apakah bisa dipasang kaki palsu.

“Karena kan ada yang bengkok dll. Ada beberapa yang belum bisa kita pasang karena kakinya bengkok, kalau begitu harus diamputasi lagi. Semetara kan harus sepersetujuan dia lagi. Kalau yang normal kakinya, tinggal diukur dan dipasang.”

Para calon penerima manfaat yang kakinya bisa dipasang kaki palsu kemudian dibawa ke pembuat kaki palsu untuk diukur. Proses dari pengukuran sampai jadi paling cepat 10 hari.

“Kalau ada difabel yang mau daftar bisa hubungi lewat instagram visimahakarya. Webnya visimahakarya.org,” ucapnya.

Pendanaan untuk program Kakiku Kini Kembali berasal dari donatur dan dari program lain yakni One Foot One School. Program One Foot One School adalah semacam celengan yang disiapkan di sekolah-sekolah. Uang yang terkumpul dari celengan itulah yang kemudian digunakan untuk membeli kaki palsu.

Cerita Kaki Palsu (4)Agus Ardiyanto, 33 tahun, koordinator Yayasan Visi Mahakarya Yogyakarta, saat ditemui seusai pemberian bantuan kaki palsu, Minggu, 27 Desember 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Dulu pihaknya sempat membuat program bantuan alat bantu dengar untuk tunarungu tapi mereka merasa kesulitan dalam maintenance. Akhirnya program kaki palsu ini yang berjalan.

“Secara alat tidak sesensitif alat bantu dengar. Kedua, secara fungsi ini juga penopang kehidupan. Jadi kita pilih karena lebih penting. Para tunadaksa ini dibandingkan bantuan tangan palsu mereka lebih memilih kaki,” dia menambahkan.

Tangan palsu, lanjut Agus, jika bukan robotik, secara fungsi cuma untuk penampilan. Untuk membuat tangan palsu berfungsi harus menggunakan tangan palsu robotik, tapi harganya cukup mahal, yakni di atas Rp 50 juta per unit.

“Kalau kaki palsu ini harganya kalau di bawah lutut sekitar 7 jutaan kalau di atas lutut sekitar 15 jutaan, bahannya fiber karbon.” []

Berita terkait
Nasib Manusia Silver di Bekasi Tak Seberkilau Warna Tubuhnya
Sejumlah pengamen dengan tubuh berwarna silver marak berada di jalanan. Dua dari mereka mengisahkan suka duka menjadi manusia silver.
Perjalanan Susu Dingin Semarang ke Konsumen di Jakarta
Seorang distributor susu murni dalam kemasan mengisahkan suka dukanya menjadi penyalur susu di tengah hantaman pandemi dan musim hujan.
Difabel Penjual Masker di Bogor, Tak Pulang Sebelum Ada Uang
Seorang difabel buta, Rinawati, 44 tahun, berdagang masker di Stasiun Bojong Gede, Bogor. Dia punya prinsip pantang pulang sebelum dapat uang.
0
118 Terpidana Korupsi Masih Berstatus PNS Rugikan Anggaran Negara
Ada 118 orang terpidana kasus korupsi berstatus pegawai negeri sipil (PNS) yang menjadi beban anggaran negara.