UNTUK INDONESIA

Nasib Manusia Silver di Bekasi Tak Seberkilau Warna Tubuhnya

Sejumlah pengamen dengan tubuh berwarna silver marak berada di jalanan. Dua dari mereka mengisahkan suka duka menjadi manusia silver.
Darma dan Agus, dua pengamen jalanan yang melumuri tubuh dan wajah mereka menggunakan cat berwarna silver. (Foto: Tagar/Faza Nidwana Ribhan)

Bekasi - Darma melahap baksonya perlahan. Sendok demi sendok bakso bersama kuahnya berpindah ke mulut dan mengisi perutnya yang masih kosong siang itu, Kamis 3 Desember 2020, lalu bersiap untuk mencari nafkah.

Tubuh dan wajah Darma yang diolesi cat berwarna silver membuatnya sedikit kurang leluasa bergerak, bahkan saat mengunyah bakso pengganjal perut. Mangkuk di hadapannya telah kosong. Darma bangkit dari duduknya dan mengembalikan mangkuk bergambar ayam kepada penjual bakso.

Setelah menyelesaikan sarapan yang cukup terlambat, dia duduk di samping warung itu, tempat dia biasa melepas penat di sela kegiatannya mengamen di tepi Jl Raya Siliwangi, Bekasi.

Dia berdiri dan melangkahkan kakinya menuju lampu pengatur lalu lintas, lalu mulai menunggu pengguna jalan yang mau bermurah hati memberikan uang receh mereka.

Darma selalu memperhatikan keadaan lalu lintas saat akan mulai mengamen. Jika kondisi lalu lintas sepi atau terlalu macet, dia memilih untuk beristirahat. Karena kondisi tersebut tidak menguntungkan bagi Darma dan hanya akan membuat badan lelah.

Udah macet, mereka pegel di dalam mobil, terus ada pengamen, pasti jarang yang ngasih,” kata dia.

Usaha Porak Poranda Akibat Pandemi

Sebelum pandemi COVID-19 memasuki Indonesia pada Maret 2020, Darma adalah seorang wirausahawan. Dia memiliki usaha kecil-kecilan berupa jasa sablon baju. Tapi sejak pandemi, pesanan sablonnya menurun drastis, padahal dia membutuhkan uang untuk menghidupi keluarganya. Minimal dia menghabiska Rp 50 ribu per hari untuk memenuhi kebutuhan dapur.

Darma pun memutar otak untuk itu, dan beralih profesi menjadi seorang pengamen silver di tempat itu demi menghidupi istri dan dua anaknya yang masih kecil, termasuk untuk membayar uang sewa kontrakan sebesar Rp 600 ribu per bulan dan kebutuhan anak-anaknya yang masih kecil.

Pekerjaannya sebagai pengamen silver tidak diketahui oleh keluarganya, tapi sang istri tetap mendukung meski seringkali para tetangga berkata yang tidak mengenakkan.

Saya dan istri gak masalah sama pekerjaan ini. Tapi tetangga tuh ada aja yang komentarin. Kasihan istri saya.

Jam kerja Darma sebagai pengamen tidak tentu. Terkadang ia datang sekitar pukul 13.00 siang dan pulang menjelang Magrib. Namun sesekali ia mengamen mulai dari pagi hingga tengah malam.

Biasanya sesaat setelah tiba, dia melumuri cat berwarna silver ke sekujur tubuhnya, termasuk bagian punggung. Darma melakukannya tanpa bantuan orang lain karena sudah terbiasa.

Berbeda dengan beberapa pengamen silver lainnya, Darma mengaku dirinya menggunakan cat yang aman dan tidak membahayakan tubuh. Ia menggunakan cat khusus, minyak sayur, minyak zaitun, minyak nabati, dan body lotion.

Dalam satu minggu, Darma biasa menghabiskan Rp 300 ribu untuk membeli bahan-bahan campuran cat. Selain digunakan untuk diri sendiri, ia sering menjual cat tersebut kepada sesama anak silver.

Setiap hari sebelum berangkat mengamen, Darma membantu istrinya menjaga kedua anak lelakinya yang masih berumur 2 tahun dan 5 tahun, sementara sang istri memasak dan membereskan rumah.

Darma melanjutkan ceritanya. Dia mengaku sejak kecil dirinya sudah terbiasa mandiri, tepatnya sejak dirinya duduk di bangku kelas lima sekolah dasar (SD). Dia pernah bekerja sebagai tukang bangunan, supir angkot, pegawai percetakan, dan terakhir membuka usaha sablon sendiri.

Niatnya membuka usaha sablon saat itu berawal ketika Darma masih bekerja sebagai karyawan di salah satu percetakan. Dia merasa tidak puas bekerja sebagai karyawan orang lain, kemudian Darma memutuskan untuk membuka usaha sendiri.

Kala masih memiliki usaha tersebut, Darma pernah menjadi salah satu bagian dari acara JakCloth 2015 di Bekasi. Ia dipercaya menyablon salah satu brand besar di acara tersebut. Sejak saat itu, semakin hari pesanan semakin banyak. Namun semua berubah saat pandemi dan dia harus mengamen.

Sengaja Ditabrak

Menjadi pengamen silver bukan hal yang mudah. Cukup banyak kejadian tidak menyenangkan dialami oleh Darma, khususnya dari orang-orang yang merasa terganggu dengan kehadiran manusia silver di jalanan.

Banyak spekulasi yang bertebaran di masyarakat bahwa pengamen silver mengganggu, dan cat di tubuh mereka digunakan untuk menutupi identitas agar tidak ketahuan jika melakukan hal yang buruk.

Hal itu dibenarkan oleh Darma. Menurutnya seringkali pengendara motor atau mobil tidak memberi uang, melainkan menceramahi bahkan memaki mereka. Mulai dari ejekan yang menyuruh mereka mencari pekerjaan lain, jangan menjadi pengemis, dan kalimat lain yang tidak enak untuk didengar.

“Mau gimana, kita juga gak mau jadi pengemis, yang penting halal. Rezeki memang udah diatur, tapi kalo gak dijemput mah gak bakal dateng,” ujar Darma.

Darma biasa mengamen bersama seorang temannya, Agus, yang berusia 21 tahun. Sejak kelas 2 SMP, Agus tinggal bersama kakaknya. Ia mulai kerja demi membantu keluarga sang kakak dan menambah uang jajannya sehari-hari.

Agus mulai menjadi anak silver sejak bulan Juni 2020. Ia merasa tidak enak hati terus menerus di rumah tanpa berbuat apa-apa. Setidaknya Agus ingin memiliki penghasilan tambahan dan mengisi waktu luangnya. 

Sama seperti Darma, keluarga Agus tidak mengetahui pekerjaannya sebagai pengamen silver. Berkali-kali Agus harus bersembunyi dan memalingkan wajahnya ketika keluarganya melewati lokasi itu. Jika keluarganya tahu Agus berada di sana, ia akan dipaksa pulang.

Pendapatan mereka sebagai manusia silver tidak menentu. Pada hari Sabtu atau Minggu, mereka bisa mendapatkan Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu.

Salah satu resiko yang harus ditanggung oleh manusia silver adalah kecelakaan. Seringkali Agus terserempet atau bahkan tertabrak. Pernah suatu hari sebuah mobil dengan sengaja melaju kencang ke arah Agus. Agus dengan sigap berlari ke pinggir jalan, namun ia tidak melihat ada motor yang melaju di samping mobil tersebut.

Ia terserempet dan terpental cukup jauh. Dalam kondisi tersebut, Agus masih bersyukur tidak tertabrak mobil yang sengaja ingin melukainya.

Saat itu Darma langsung berlari ingin mengejar mobil itu. Akan tetapi Agus menahannya dan membiarkan sang pengendara mobil berlalu di antara kendaraan lain.

Pengalaman lain juga dialami Agus saat berada di salah satu warung dekat lampu pengatur lalu lintas di Kemang Pratama, Bekasi. Kala itu dia duduk dengan seorang ASN. Tiba-tiba terdengar suara benturan yang cukup keras.

Agus bergegas lari mencari tahu apa yang terjadi. Seorang wanita tertabrak oleh sebuah truk hingga tubuhnya hancur dan organ-organ dalam tubuhnya keluar nampak jelas.

Agus langsung membawa jasad wanita itu ke pinggir jalan, lalu berusaha mencari kardus dan koran untuk menutupi tubuh jasad perempuan tersebut. Sejumlah orang yang ada di situ hanya menonton yang dilakukan Agus. Bahkan ASN yang tadi duduk bersamanya tidak bergeming dari tempat duduknya.

Beberapa pengendara motor berhenti di samping jenazah dan meminta Agus untuk membuka koran yang menutupi jasad tersebut. Mereka ingin mengambil gambar korban kecelakaan, tapi dengan tegas Agus menolak permintaan orang itu. []

Berita terkait
Perjalanan Susu Dingin Semarang ke Konsumen di Jakarta
Seorang distributor susu murni dalam kemasan mengisahkan suka dukanya menjadi penyalur susu di tengah hantaman pandemi dan musim hujan.
Difabel Penjual Masker di Bogor, Tak Pulang Sebelum Ada Uang
Seorang difabel buta, Rinawati, 44 tahun, berdagang masker di Stasiun Bojong Gede, Bogor. Dia punya prinsip pantang pulang sebelum dapat uang.
Yang Hilang dan Tetap Ada Saat Natal di Masa Pandemi
Ada sesuatu yang hilang dalam perayaan Natal di masa pandemi, tetapi ada juga hal-hal yang tetap ada, yaitu damai dan kasih.
0
Nasib Manusia Silver di Bekasi Tak Seberkilau Warna Tubuhnya
Sejumlah pengamen dengan tubuh berwarna silver marak berada di jalanan. Dua dari mereka mengisahkan suka duka menjadi manusia silver.