UNTUK INDONESIA

Menko PMK: Kerja Sama Lintas Sektoral Guna Tangani Stunting

Muhadjir Effendy yakin dengan kerja sama lintas sektoral dapat mengatasi persoalan stunting.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy saat di Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur. (Foto: Tagar/dok. Kemenko PMK)

Sumba Barat Daya - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy dalam kunjungan kerjanya lakukan pengecekan terhadap penanganan stunting di Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Pembangunan MCK ini bisa menjadi bagian upaya menurunkan angka stunting. Presiden Joko Widodo menargetkan harus 14% pada 2024 ke depan. Waktu efektifnya tiga tahun, kita harus kerja keras,

Data menunjukan, jumlah kasus stunting pada Kabupaten Sumba Barat Daya sangat tinggi yakni sebesar 30,1%, ini jauh di atas rata-rata nasional yang sebesar 27%. Presiden Joko Widodo sendiri padahal menargetkan untuk turunkan angka stunting hingga 14% pada 2024.

Muhadjir menyampaikan, bahwa pemerintah sendiri telah lakukan berbagai upaya guna tangani stuting, khususnya pada Kabupaten Sumba Barat Daya yang disalurkan melalui Kementerian PUPR berupa fasilitas (Mandi, Cuci, Kakus) MCK pada desa Bila Cenge dan desa lainnya.

"Pembangunan MCK ini bisa menjadi bagian upaya menurunkan angka stunting. Presiden Joko Widodo menargetkan harus 14% pada 2024 ke depan. Waktu efektifnya tiga tahun, kita harus kerja keras," kata Muhadjir.

Muhadjir EffendyMuhadjir Effendy di Desa Bila Cenge saat meninjau pembangunan sanitasi air dan MCK. (Foto: Tagar/dok. Kemenko PMK)

Meskipun masih terdapat beberapa hal yang perlu dibenahi, namun menurut Muhadjir MCK yang dibangun oleh Kementerian PUPR dan telah dimanfaatkan oleh 10 Kepala Keluarga (KK) untuk satu MCK telah cukup efektif mengatasi stunting, ini di karenakan stunting miliki kaitan yang erat dengan kebersihan dan hidup sehat.

Namun, Menko PMK tegaskan persolan stunting perlu ditangani oleh berbagai pihak atau lintas sektoral yang mana tidak hanya pemerintahan yang terlibat namun juga para pemangku kepentingan terkait serta tokoh mayarakat dan kepala adat.

"Tahun 2021 nanti kemungkinan besar leading sector ada di BKKBN untuk penanganan stunting. Sumba Barat Daya tertinggi angka stuntingnya sehingga penanganan secara teknis harus betul-betul diperhatikan," katanya.

Muhadjir pun yakin dengan lakukan kerja sama lintas sektoral maka persoalan stunting dapat teratasi, khususnyanya guna mencapai target pembangunan sumber daya manusia. Ini sesuai dengan target dan fokus pemerintah untuk lima tahun ke depan yang sesuai dengan RPJMN 2020-2024.

Pada kunjungan kerja kali ini, Muhadjir pun didampingi oleh beberapa pejabat kementerian atau lembaga terkait. Lokasi kunjungan kerja yakni RS Karitas dan RSUD Pratama Reda Bolo, kemudian Desa Bila Cenge guna meninjau pembangunan sanitasi air dan MCK. Lalu melihat secara langsung kondisi anak yang alami stunting dan gizi buruk di daerah Kabupaten Sumba Barat Daya.

Beberapa pihak juga berikan bantuan sosial, khususnya untuk anak-anak di Kabupaten Sumba Barat Daya seperti Kemenkes, Kementerian PPPA, BNPB , BKKBN, hingga perusahaan swasta diantaranya PT Nestle, PT Citrus, dan PT.Tempo Scan. []

Baca juga:

Berita terkait
Menko PMK: SDM Indonesia Era Industri 4.0 Wajib Kuasai TIK
Muhadjir Effendy sampaikan SDM Indonesia era industri 4.0 harus kuasai teknologi, informasi dan komunikasi guna bersaing dengan dunia global.
Menko PMK: Pemerintah Sukses Manfaatkan Situasi Covid-19
Menko PMK sampaikan keberhasilan pemerintah pergunakan situasi Covid-19 dalam pembangunan pelayanan kesehatan nasional.
Menko PMK: Pembangunan Keluarga Guna Tangani Stunting
Muhadjir Effendy sampaikan untuk menangani permasalahan stunting perlu dilakukan pembangunan keluarga.
0
Menko PMK: Kerja Sama Lintas Sektoral Guna Tangani Stunting
Muhadjir Effendy yakin dengan kerja sama lintas sektoral dapat mengatasi persoalan stunting.