UNTUK INDONESIA
Menkes Ungkap Rahasia Indonesia Nihil Virus Corona
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menegaskan Indonesia sudah bekerja keras sesuai dengan standar WHO untuk penanganan virus corona
Menteri Kesehatan Dr Terawan Agung Putranto saat kuliah tamu tentang Ketahanan Kesehatan Nasional di Universitas Brawijaya, Malang, Jumat 28 Februari 2020. (Foto: Tagar/Moh Badar Risqullah)

Malang - Banyaknya tudingan bahwa tidak ada keseriusan dari Pemerintah Indonesia dalam menghadapi wabah virus corona atau Covid-19. Menteri Kesehatan (Menkes) RI Terawan Agus Putranto menegaskan itu tidak benar dan malah pihaknya bekerja keras sesuai dengan standar World Health Organization (WHO).

Bahkan, dia mengatakan Indonesia sudah antisipasi dengan menjaga seluruh 132 pintu masuk yang berhubungan langsung dengan negara lain. Baik pintu masuk melalui dari darat, laut dan udara.

"Pencegahan terhadap masuknya Corona atau Covid 19 ini sudah kita lakukan. Kita juga mengamankan semua 132 pintu masuk di darat, laut dan udara. KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan) saya udah siaga terus," ujar Terawan saat mengisi kuliah tamu tentang Ketahanan Kesehatan Nasional di Universitas Brawijaya, Malang, Jumat 28 Februari 2020.

Dia menjelaskan bahwa untuk pencegahan tersebut pihaknya sudah melakukan sesuai International Health Regulations (IHR) yang digaungkan WHO pada 2005. Sejak saat itu, Indonesia dikatakannya sudah mempersiapkan dan menerapkannya langsung pada 2007.

Pencegahan terhadap masuknya Corona atau Covid 19 ini sudah kita lakukan. Kita juga mengamankan semua 132 pintu masuk di darat, laut dan udara.

"Indonesia menerapkan IHR 2005 ini pada tahun 2007. Dan pada 2014 menyatakan bahwa implementasi IHR 2005 di Indonesia telah optimal," ungkapnya.

IHR 2005 itu sendiri dijelaskan Terawan, merupakan kesepakatan negara-negara anggota WHO untuk memiliki kemampuan deteksi dini, prevent, dan respons yang adekuat atau menenuhi syarat. 

Khususnya terhadap setiap ancaman kesehatan masyarakat yang berpotensi menyebar antar negara didasarkan pada sistem surveilans nasional dan peraturan perundangan yang telah ada di masing-masing negara.

Ancaman tersebut dapat berupa agen biologi, kimia, dan nuklir yang berdampak. Tidak hanya pada sisi kesehatan, melainkan juga ekonomi. Sehingga hal ini memerlukan pendekatan multisektor baik secara nasional dan internasional.

Di Indonesia sendiri, sebagaimana dikatakannya bahwa sudah melakukan itu. Sehingga, dia membantah terkait adanya beberapa pihak yang mengatakan Indonesia tidak serius menangani wabah virus corona ini.

"Jadi, kalau diejek dari kiri, kanan dan diantem. Loh, (Indonesia) enggak kena sendiri. Kita sudah melakukan itu (pencegahan)," ucap alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta ini.

Selain itu, Terawan menyampaikan Indonesia juga selalu aktif dalam melakukan gerakan masyarakat hidup sehat sebagai tindakan preventif. Salah satunya dengan gencar melakukan imunisasi.

"Ada delapan kapasitas inti yang tertuang dalam dokumen IHR 2005. Dan ada 19 elemen yang termasuk kategori preventif atau mencegah. contohnya imunisasi ini," kata Terawan.

"Memang, ini hal yang kelihatannya sepele. Padahal, imunisasi salah satu dasar penopang ketahanan kesehatan nasional," ujarnya.

Disisi lain, ada pula yang menurutnya sangat penting yaitu menggalakan pencegahan secara rasionalitas wabah virus corona. Dicontohkannya dengan meningkatkan imunitas tubuh melalui cuci tangan, olahraga, makan makanan yang cukup gizinya dan istirahat yang cukup.

"Kalau misalnya tidak rasional dan paranoid, malah makin membuat negara ini seolah-olah tidak berdaya. Kenapa, karena rasionalitasnya sudah hilang," ungkapnya.

Sehingga, dia menyebutkan dampaknya akan berimbas pada ketidakefisiennya didalam mengambil keputusan atau apapun yang dilakukan dalam menangani masalah ini.

Maka dari itulah, salah satu upaya rasionalitas yang dilakukannya yaitu dengan adanya instruksi presiden (Inpres) pada 2019 lalu. Yang mana, sejak Indonesia dinilai kembali oleh WHO terkait kesiapannya mengahadapi virus menular ini pada 2017 lalu.

Kemudian, dari hasil penilaiannya itu disebutkannya bahwa Indonesia mendapat skor 3,15 dari nilai 5. Hal itu menunjukkan bahwa apa yang dilakukan sudah sesuai dengan pedoman yang sudah ada dan memadai.

Sejak saat itu, telah dikeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) No 4 tahun 2019 tentang Peningkatan Kemampuan dalam Mencegah, Mendeteksi dan Merespon Pandemi Global, dan kedaruratan nuklir dan kimia.

"Saya bersyukur ini sudah inpres dan telah ditetapkan pada 17 Juli 2019. Dan itu wajib dilakukan oleh semua sektor secara nasional," tutur pria yang pernah menjadi Tim Dokter Kepresidenan pada tahun 2009.

Maka dari itulah, hingga sampai detik ini Indonesia dikatakannya masih nihil rakyat Indonesia terjangkit wabah virus corona. Hal itu berbeda dengan negara tetangga di Asia maupun negara di luar Indonesia sendiri.

"Mungkin, itu salah satunya berkah dari yang maha kuasa juga. Ini berkat doa yang terus kita lakukan sambil bekerja keras (pencegahan). Dan kalau kenyataannya seperti ini (Indonesia nihil virus corona), ya kita syukuri," tutur Terawan. []

Berita terkait
Sibuk Syuting, Gisel dan Tyas Mirasih Mangkir
Sebelumnya Gisella Anastasia dan Tyas Mirasih sudah tidak hadir memenuhi pemeriksaan di Polda Jatim dalam kasus pembobolan kartu kredit.
Nama Ustaz Yusuf Mansur Dicatut Perumahan Fiktif
Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Sandi Nugroho mengatakan hasil pemeriksaan nama Ustaz Yusuf Mansur dicatut untuk pemasaran rumah syariah.
Kasus Skimming, Dua WN Bulgaria Terancam 6 Tahun Bui
Dari aksinya melakukan Skimming, dua WN Bulgaria ini berhasil mendapatkan Rp 660 juta dan 1.250 EURO dari sejumlah ATM di Sunset Road Bali.
0
Apple Kasih Diskon iPhone Demi Dorong Penjualan
Apple memberikan diskon untuk iPhone 11 di China. Langkah ini diambil untuk mendorong penjualan ponsel demi meraih penjualan pasca virus corona.