Cerita Budidaya Ikan Lele di Lahan Sempit Yogyakarta

Budidaya ikan lele dalam tong menjadi salah satu alternatif pemanfaatan lahan sempit di kawasan dalam Kota Yogyakarta.
Iwan Agustian, 42 tahun, sedang memberi makan lele-lele peliharaannya, Jumat, 2 Oktober 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Yogyakarta – Belasan tong berwarna biru berjejer rapi di halaman samping rumah milik Iwan Agustian, 42 tahun, di Kelurahan Sorosutan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Tong-tong itu berisi ribuan ekor ikan lele.

Di samping masing-masing tong itu terdapat sebatang pipa PVC setinggi tong, yang berfungsi sebagai saluran pembuangan agar air dalam tong tidak terlalu berbau. Sementara tepat di atas tong, disiapkan kran air, yang dialirkan saat limbah lele di dalam tong dinilai sudah cukup banyak.

Pagi itu, Jumat, 2 Oktober 2020, seperti hari-hari lain, Iwan member makan ikan-ikan lele peliharaannya. Pakannya berupa semacam pelet.

Ratusan ikan lele spontan berkerumun dan naik ke permukaan, berebut mencari makan yang ditaburkan oleh Iwan. Gerakan lele-lele itu menimbulkan riak-riak air di dalam tong.

Pria yang berprofesi sebagai anggota Satgas Sungai pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta ini mengisahkan awal dirinya memulai ternak lele cendol tersebut. Lele-lele itu disebut sebagai lele cendol karena bentuknya yang mirip cendol saat diberi pakan atau dipanen.

Beternak Lele Sejak 2010

Iwan mengaku sudah lama beternak lele, tetapi dia mulai serius beternak lele pada tahun 2010. Saat itu dia dan beberapa rekannya bergabung dalam kelompok budidaya ikan lele, lokasinya tidak jauh dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wirosaban, Yogyakarta.

Cerita Budidaya Lele Yogyakarta (2)15 tong plastik milik Iwan Agustian, 42 tahun, yang digunakan sebagai tempat budidaya ribuan ekor ikan lele, Jumat, 2 Oktober 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Berawal dari situ, dia melihat bahwa potensi budidaya lele cukup bagus, hanya saja kondisi lahan di dalam kota menjadi kendala dalam budidaya ikan lele. Akhirnya dipikirkanlah cara membudidayakan ikan lele dengan memanfaatkan lahan sempit.

“Waktu itu ada pakai terpal, kemudian kita pakai buis beton, kita bikin lima kolam, masing-masing tingginya 3 buis atau sekitar 125 sentimeter,” ucapnya mengisahkan.

Saat itu masing-masing kolam diisi dengan seribu ekor bibit ikan lele. Hasilnya cukup menggembirakan. Hanya saja kemudian Iwan menemui kendala, yakni kolam yang dibuat dari susunan buis (semacam beton untuk sumur) beton itu tidak bisa dipindah-pindahkan.

Tapi kan buis itu statis, tidak bisa dipindah, akhirnya kita cari yang bisa dipindah dan bisa ditata di lahan yang sempit. Salah satunya adalah dengan tong itu.

Pemilihan tong plastik sebagai media pembesaran ikan lele bukan kebetulan. Iwan mengaku pernah mengikuti semacam pelatihan tentang budidaya ikan lele di lahan sempit, kemudian narasumber menyarankan menggunakan tong.

Akhirnya pada tahun 2019, dia mencoba menggunakan tong sebagai media pembesaran ikan lele, sekaligus melaksanakan program yang dicanangkan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta saat itu, yakni budidaya lele cendol.

“Kami coba pakai tong dan Alhamdulillah berhasil. Kemudian pada tahun 2019 ada programnya pak Wawali (Wakil Wali Kota) Yogyakarta yaitu lele cendol. Saya mengampu 10 kelompok, dan masing-masing kelompok kita beri lima tong,” kata Iwan lagi.

Berdasarkan pengalamannya saat memelihara ikan lele dalam buis beton dan kajian yang dilakukan, diketahui bahwa saat memanen lima tong ikan lele, tiga tong di antaranya mampu meutup biaya produksi atau biaya pemeliharaan, sedangkan dua tong sisanya merupakan keuntungan.

“Sebelumnya kita kaji bahwa dari lima tong itu, tiga merupakan ongkos produksi dan dua tong adalah laba atau keuntungan. Kemungkinan tahun 2020 ini kami akan mengampu 10 kelompok lagi dengan dana kelurahan. Kebetulan saya di FPMK (Forum Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan), jadi ada 10 kelompok akan kita bina di Kelurahan Sorosutan,” ucap pria yang saat ini menjabat sebagai Ketua RW di tempat tinggalnya.

Iwan tidak mau hanya sekadar membina dan mengajari orang lain untuk beternak lele. Olehnya itu dia memelihara sekitar 3 ribu ekor ikan lele yang ada dalam 15 tong plastik di rumahnya.

Cerita Budidaya Lele Yogyakarta (3)Ratusan ikan lele yang berkerumun saat diberi makan oleh pemiliknya, Iwan Agustian, 42 tahun, Jumat, 2 Oktober 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana).

“ Saya bukan hanya mengajari tapi juga memberi contoh. Saya bikin 15 tong, istilahnya untuk studi banding lele tong.”

Satu Tong Berisi 200 Ekor

Iwan menambahkan, dirinya juga sempat melakukan uji coba untuk mengetahui jumlah ideal lele yang dipelihara dalam satu tong. Awalnya dirinya mencoba memasukkan 300 ekor bibit ikan lele, tetapi setelah melalui beberapa uji coba, diketahui bahwa jumlah ideal ikan lele yang dipelihara dalam satu tong adalah 200 ekor.

Bibit yang dimasukkan ke dalam tong tersebut memiliki ukuran antara tiga hingga lima sentimeter, yang dibelinya dari pedagang bibit ikan lele di sekitar Jl Bantul Yogyakarta.

“Dari pembibitan ukuran 3-5 atau 4-6 sentimeter itu dalam waktu 2,5 bulan bisa dipanen. Ukuran saat panen antara 8-10 sentimeter,” ujarnya.

Dari 200 ekor bibit ikan lele yang dipelihara, lanjut Iwan, tidak semuanya bisa hidup sampai dewasa. Tingkat kematian bibit berkisar antara lima hingga 15 persen.

“Tingkat kematian lele antara 5 sampai 15 persen. Tidak ada yang sama sekali tidak mati. Biasanya saat mati ada di dasar, tahu-tahu pas panen selalu ada bangkai,” kata Iwan menegaskan.

Tingkat kematian ikan itu, tambahnya, bukan menjadi kendala terbesar untuk para pembudidaya lele tong atau lele cendol. Kendala terbesar justru ada pada penyediaan pakan.

Selama ini dia dan rekan-rekannya menggunakan pakan buatan pabrik atau pelet. Untuk seribu ekor bibit ikan lele atau lima tong, mulai dari pembibitan hingga panen, dibutuhkan pelet sebanyak 90 kilogram. “Itu harganya kalau eceran Rp 13 ribu per kilogram, kalau per zak sekitar Rp 11 ribu per kilogramya.”

Menurutnya dia dan beberapa rekannya sudah pernah mengikuti pelatihan tentang pembuatan pakan buatan untuk bibit ikan lele. Dari kajian yang disampaikan oleh pemateri, ongkos atau harganya jauh lebih murah daripada jika harus membeli pakan pabrikan.

Cerita Budidaya Lele Yogyakarta (4)Iwan Agustian, 42 tahun, menunjukkan sirkulasi air dalam pemeliharaan ikan lele dalam tong, di halaman samping rumahnya, Jumat, 2 Oktober 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Hanya saja, dirinya masih belum mengetahui secara pasti komposisi yang dibutuhkan untuk pembuatan pakan tersebut. Termasuk kandungan protein yang harus dimasukkan dalam campuran.

“Memang kajiannya lebih murah daripada pabrikan, hanya saja komposisinya yang kita masih awam. Kita belum kaji kandungannya, tapi yang dibutuhkan lele itu kandungan proteinnya antara 30 sampai 33 persen. Kalau di bawah itu pertumbuhan lele lambat. Jadi sementara masih pakai pelet pabrikan,” ucapnya menambahkan.

Iwan juga menjelaskan bahwa sirkulasi air dalam tong juga menjadi hal yang harus diperhatikan, sebab jika tidak, bau dari air ikan lele itu cukup mengganggu. Untuk sirkulasi, kata Iwan, bisa menggunakan prebiotik tetapi saat dia mencobanya, aroma menyengat dari air ikan lele masih cukup menyengat.

Akhirnya Iwan memilih untuk menggunakan pipa PVC sebagai saluran pembuangan limbah. Hasilnya, bau dari air ikan itu tidak terlalu menyengat.

“Di tempat saya memang saya kocor (aliri air), untuk membuang limbah lele, sehingga tidak bau. Dari masing-masing tong langsung mengalir.”

Mengenai pemasaran hasil budidaya lele dalam tong, kata Iwan, tidak terlalu sulit. Sebab dirinya sudah memiliki pelanggan, termasuk dari para pengepulikan lele. Selain itu sebagian warganya juga banyak yang mengonsumsi ikan lele dan membelinya dari dirinya.

“Saya juga melayani pembelian dari warga saya. Kebanyakan justru dari warga saya daripada pengepul. Biasanya kalau warga saya sudah cukup baru ke pengepul. Ada juga langganan dari penjual pecel lele dll,” kata Iwan. []

Baca juga: 

Fungsi dan Filosofi Alun-alun Keraton Yogyakarta

Cerita Keluarga Pelaut yang Pulang Tinggal Jenazah

Berita terkait
Pencari Kerang di Aceh Barat, 3 Tahun Dalam Gelap
Seorang pencari kerang di Kabupaten Aceh Barat harus tinggal di tepi sungai di gubuk reot tanpa aliran listrik.
Cara Unik Menjual Televisi Bekas di Yogyakarta
Seorang pedagang televisi bekas di Yogyakarta memajang dan menyetel televisi jualannya di trotoar dekat lampu pengatur lalulintas.
Bekas Tempat Sampah yang Jadi Kebun Warga di Bandung
Beragam tanaman ada di kebun milik Kelompok Kebun 04 Pacing binaan Terminal BBM (TBBM) PT Pertamina Marketing Operation Region (MOR) III
0
Dugaan Penipuan Jumlah Tes Covid-19 di Jerman
Dugaan penipuan jumlah tes Covid-19 di Jerman meningkat, otoritas keseharan Jerman membahas mekanisme kontrol jumlah tes