UNTUK INDONESIA
Memakai Jasa Calo CPNS untuk Menjadi Pegawai Negeri
Mendung menggantung di langit Makassar sore itu. Namun Asriadi tidak murung. Ia penuh semangat menceritakan pengalaman berurusan dengan calo CPNS.
Pegawai negeri mengikuti kegiatan pembekalan. (Foto: Tagar/Aan Febriansyah)

Makassar - Mendung menggantung di langit Makassar sore itu. Namun Asriadi tidak murung. Ia duduk di sudut warung kopi, dengan penuh semangat menceritakan pengalaman berurusan dengan calo calon pegawai negeri sipil (CPNS).

Hari itu Kamis, 14 November 2019. Asriadi akrab disapa Adi ditemani kopi susu panas, dengan sesekali mengisap vape.

Pemuda berusia 25 tahun, alumnus Universitas Negeri Makassar 2016, itu ingin jadi pegawai negeri, spesifiknya guru. Ia pun mendaftar CPNS 2019. Pada saat inilah ia bersentuhan dengan calo.

Adi berlatar Jurusan Pendidikan mengalami hal ini sehari setelah resmi dibuka penerimaan pendaftaran CPNS. Beberapa kawan menghubunginya, menawarkan jasa bisa lulus CPNS dengan mudah.

“Saya kaget tiba-tiba teman yang sudah lama tidak berkomunikasi, menelepon dan menawarkan jasa untuk bisa lulus tes CPNS. Ia bilang kenal beberapa orang dalam di instansi pemerintah daerah,” ujar Adi kepada Tagar, Kamis, 14 November 2019.

Pria asal Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan ini sempat tergiur juga. Tapi begitu tahu harus membayar Rp 15 juta, Adi membatalkan niat memakai jasa calo. Ia tak punya uang sebanyak itu.

“Setelah diberitahu jumlah yang harus saya bayarkan sekitar Rp 15 juta, saya akhirnya kembali berpikir-pikir apakah betul teman saya yang kenal dengan orang dalam ini bisa meluluskan saya dan menjadikan saya seorang abdi negara,” tutur Adi dengan wajah mengambang.

Mereka bilang jangan mudah percaya.

Adi kemudian menghubungi beberapa teman yang sudah menjadi abdi negara, juga teman yang sama-sama mendaftar CPNS tahun ini.

“Dari beberapa teman yang saya hubungi terkait iming-iming jasa bisa lulus jadi abdi negera setelah membayar sejumlah uang, rerata mengatakan tidak percaya begitu saja janji yang diumbar calo yang mengaku punya orang dalam,” ujarnya.

Setelah kejadian itu, Adi tidak akan percaya lagi iming- iming agar bisa lulus dengan mudah, apalagi saat ini pendaftaran seleksi CPNS sudah online.

"Jadi saya pikir akan mustahil juga ada orang yang bisa membantu untuk bisa langsung lulus dengan langsung," katanya.

Adi menempuh jalan aman yang wajar, mempersiapkan diri dengan belajar maksimal, membaca referensi yang sudah ada, juga mempelajari bocoran-bocoran soal CPNS yang beredar di internet.

Ia sebenarnya sudah bekerja, menjadi karyawan di perusahaan swasta. Namun panggilan menjadi guru terus membayanginya.

PNSPegawai negeri mengikuti upacara Hari Pahlawan, 10 November 2019. (Foto: Tagar/Aan Febriansyah)

Pengalaman Nurhaeni

Nurhaeni akrab disapa Eni lahir 1993 di Pinrang, alumnus Universitas Hasanuddin. Ia juga punya pengalaman bersentuhan dengan calo CPNS. Kejadiannya pada 2018.

Waktu itu Eni sedang menyiapkan pengesahan berkas pendukung pendaftaran CPNS, secara tidak sengaja bertemu seorang lelaki mengaku sebagai pegawai negeri. Lelaki itu menawarkan jaminan lulus dan menjadi pegawai negeri di tempat sesuai keinginan Eni.

Kala itu Eni ingin menjadi tenaga teknis di salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan. 

Lelaki itu berbicara pelan kepada Eni, "Mau saya bantu untuk lulus di tempatmu mendaftar? Tenang saja, bayarnya nanti kalau sudah lulus,” Eni meniruka ucapan lelaki itu.

Eni mengiyakan saja tawaran lelaki itu, toh ia tidak perlu menyerahkan uang sepeserpun.

“Namanya juga saya sudah ingin menjadi seorang pegawai negeri, jadinya kalau ada yang bisa membantu seperti itu ya saya ikut saja. Sempat memang berjodoh untuk menjadi seorang abdi negara,” ujar Eni tertawa kecil.

Eni dan lelaki itu bertukar nomor telepon. Sepekan kemudian mereka bertemu lagi. Dalam pertemuan kedua ini Eni menyanggupi permintaan lelaki itu, membawa salinan berkas yang telah disahkan.

“Saat itu dia bilang berkasnya akan dia kirimkan ke temannya yang berkantor di dinas terkait. Tentu saat itu saya merasa senang, karena saya dibantu dan tanpa imbalan juga,” tutur Eni.

Eni pun menyambut hari pertama seleksi awal dengan riang gembira. Ia menelepon lelaki itu, mengabarkan akan mengikuti ujian CPNS di kantor RRI Makassar.

Lelaki itu berkata kepadanya, "Semangat."

Setelah menunggu lama, akhirnya Eni masuk juga ke aula, tempat ujian seleksi berbasis komputer. Sejam kemudian keceriaannya lenyap. Berganti murung kekecewaan. Hasil ujiannya tidak memenuhi syarat untuk melaju ke ujian berikutnya.

Walaupun demikian, Eni tidak hilang harapan. Ia masih terbayang janji manis lelaki yang akan membantunya.

“Saat itu dalam batin saya bilang, semoga orang itu betul-betul bisa membantu karena nilai ujian saya tidak sampai pada ambang batas yang ditentukan oleh pemerintah,” kenangnya.

Eni menghubungi lelaki itu, dan lelaki itu memastikan ia bisa lulus melaju ke tahap berikutnya. 

Waktu berlalu hingga tiba masa pengumuman resmi dari tempat mendaftar Eni sebagai CPNS. Hasilnya tidak seperti yang dijanjikan lelaki itu. Eni nyatanya tetap tidak lulus.

“Baru setelah itu saya sadar, kenapa bisa begitu percaya kepada orang yang mengaku bisa membantu. Dan pada akhirnya saya berusaha ikhlas dan kembali menjalani aktivitas sebagai seorang pegawai di salah satu perusahaan swasta,” tutur Eni.

Walaupun punya pengalaman tidak enak dengan calo yang aneh, juga sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta, Eni tahun ini akan mencoba lagi peruntungan mendaftar CPNS.

Pada CPNS 2019 Eni akan berusaha sendiri semaksimal mungkin yang ia mampu.

CPNSMahasiswa melakukan pengesahan berkas yang akan digunakan mengikuti tes CPNS. (Foto: Tagar/Aan Febriansyah)

Pengalaman Rahmawati

Rahmawati 24 tahun, juga punya pengalaman tidak enak dengan calo CPNS. Hal itu terjadi pada 2018. Ia tidak berkenalan secara langsung dengan si calo. Keluarganya di kampung halaman di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, yang mengenalkan calo itu kepadanya.

“Tahun 2018 saya mendaftar untuk menjadi seorang abdi negara. Saya awalnya tidak ingin memberitahu keluarga di kampung. Saya berencana menjadikan itu sebagai kejutan, tapi tidak enak juga rasanya, jadinya saya kabari orang tua di kampung,” tutur Rahma.

Dua hari berselang setelah menelepon orang tua, seorang tergolong keluarga dekat menelepon Rahma. Orang itu bertanya apakah betul dirinya akan mendaftar CPNS. Rahma menjelaskan ia telah mendaftar CPNS.

Orang itu mengatakan punya teman yang bekerja di Badan Kepegawaian Negeri (BKN)  yang bisa membantunya meraih impian menjadi seorang abdi negara.

“Keluarga saya begitu semangat mengenalkan saya dengan orang yang katanya pegawai BKN itu. Ya sebagai seorang yang tidak terlalu paham akan pendaftaran begini, saya ikuti saja maunya keluarga,” ujarnya.

Setelah orang itu menutup telepon, Rahma memberi kabar tentang orang tersebut kepada orang tuanya. Saat Rahma menelepon, orang tuanya mengatakan sudah mengetahui hal itu.

“Orang itu sudah bicara duluan sama orang tua saya, dan katanya meminta sejumlah uang, dan orang tua saya mengaku sanggup mengeluarkan sejumlah uang, agar saya menjadi seorang PNS,” kata Rahma.

Setelah berbincang lama dengan orang tua kemudian menutup telepon, Rahma berpikir. Ia tidak begitu percaya kepada orang yang katanya pegawai BKN. 

“Tapi orang tua di kampung begitu percaya dengan orang itu, karena orang itu langsung datang ke rumah dan memperlihatkan tanda pengenal sebagai seorang pegawai di BKN,” kenang Rahma.

Rahma akhirnya mencari informasi terkait ciri-ciri orang yang membuat hatinya tidak sreg itu. Ia bertanya kepada teman-teman bahkan dosen.

“Satu pesan yang saya ingat dari orang-orang yang saya tanyai, mereka bilang jangan mudah percaya,” kata Rahma.

Akhirnya setelah mendapat pencerahan, Rahma menelepon keluarga. Ia bilang kepada bapak-ibunya untuk tidak percaya kepada orang tersebut. Apalagi uang yang diminta orang yang mengaku pegawai BKN itu tidak sedikit. Rp 50 juta.

“Daripada menyesal nantinya," tutur Rahma.

Ia mengatakan kepada orang tua, akan berjuang sendiri untuk bisa lulus. Kalaupun belum lulus berarti belum rezeki. Prinsip ini membuat pikirannya jauh lebih ringan dan tenang. 

Pada tahun itu Rahma ujian CPNS dan tidak lulus. Ia tidak patah arang. Akan mencoba lagi peruntungan dalam CPNS 2019. []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Berkah Sampah di Nagari Situjuah Batua
Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumbar, mengelola sampah dengan baik. Konon program itu terinspirasi dari mahasiswa Jepang.
Kusir Setia Penjaga Bendi di Kota Padang
Keberadaan bendi di Kota Padang kian tak dilirik penumpang. Namun masih ada kusir yang setia menjaga bendi agar tak punah dilindas zaman.
Cara Kreatif TNI Purbalingga Bikin Warga Kaya
Pelda Margiyono, Babinsa Purbalingga, Jawa Tengah, punya pembuatan stik es krim. Usaha itu mampu menambah penghasilan 300 KK.
0
Arief Poyuono: Modal Saya Tenaga Cuma Angkat Karung
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono mengungkapkan beberapa alasan mengapa dia tidak terpilih menjadi juru bicara khusus partai.