Jakarta, (Tagar 24/2/2019) - Nenek moyang suku Batak, seperti halnya suku-suku lain, dikenal punya kemampuan supranatural yang luar biasa, di luar logika. Bagi generasi milenial mungkin hal tersebut dianggap sebagai dongeng atau hanya sebagai cerita pengantar tidur. Namun, bagi sebagian orang Batak, kemampuan supranatural tersebut sampai saat ini masih dipercayai.

Anda pernah dengar kata Sibiangsa? Ini adalah sebuah ritual mengerikan yang dipercaya menghasilkan racun atau senjata sangat mematikan zaman dulu yang lazim dilakukan oleh nenek moyang orang Batak. Sibiangsa ini dikenal di beberapa daerah seperti Samosir, Silalahi, Simalungun, dan Tanah Karo.

Dalam bukunya, Begu Ganjang: Analisa Psiko – Kultural, mantan Uskup Agung Medan Mgr. Dr. Anicetus Bongsu Sinaga, OFMCap, menulis tentang Sibiangsa.

Dalam tulisannya, Mgr Anicetus Bongsu Sinaga mendeskripsikan tentang ketakutan terhadap Begu Ganjang (black magic) pada masyarakat Batak. Ketakutan ini mengemuka lewat tuduhan-tuduhan yang kemudian beberapa rumah dirusak dan beberapa orang diusir atau dibunuh secara sadis. 

Di beberapa kampung, banyak orang menjadi paranoia (ketakutan) dan membabi buta menuduhkan suatu penyakit atau tulah kepada ulah seseorang dukun. Mgr Anicetus memberikan contoh yang terjadi di tengah pasar Pakkat tahun 2003. Seorang yang dituduh menyandang begu ganjang diseret ke tengah publik dan langsung diramai-ramaikan sampai mati di depan pastor.

Ia lalu mengambil latar belakang bagaimana dulu nenek moyang orang Batak menjaga kehidupan mereka dengan hal-hal berbau mistik, seperti Sibiangsa. Struktur kampung pada masa itu dikelilingi oleh parit, yakni tanah galian yang diikuti oleh benteng kampung yang ditinggikan, dimana ditanam
buluduri yang rapat tak tertembus, dengan hanya ada satu pintu keluar. Pada masa itu, antara kampung dipenuhi oleh rasa defensif dan ofensif, saling memerangi dan saling bertahan.

Sibiangsa atau pangulubalang kemudian berkembang dalam ranah paranoia primordial (ketakutan kampungnya diserang oleh kampung lain) dan fungsinya adalah senjata pamungkas magis: Piso pangabas di jolo, saongsaong di ginjang jala lapik-lapik di toru.

Menurut Mgr Anicetus, metode pembuatannya adalah sebagai berikut: 

Seorang anak, paling disukai ialah hatoban (hamba atau budak), yang dipelihara dengan menggendutkan, memberi makanan yang enak-enak sehingga ia tumbuh gemuk dan subur. Ke telinganya selalu dibisikkan, "kemana saja engkau saya suruh, engkau harus menuruti." Dalam harapan diberi makanan, anak itu selalu mengangguk. 

Pada hari H diadakan penyumpah, manumpa. Hal ini diikuti, tak lama kemudian, oleh panggurigurion (pengwadahan). Cairan metal ditumpahkan ke dalam mulut yang disumpahi, sampai anak tersebut mati. Tubuhnya dicincang dan dimasukkan ke dalam guci atau wadah yang sudah disediakan. Barang ini menjadi amulet ofensif – defensif (senjata pamungkas). Sesuai janji sumpah si anak, maka ia bersedia disuruh ke mana dan berbuat apa saja. Maka seringlah ia disuruh manumpur huta ni musu (menyerang kampung musuh). Bisa saja seluruh isi kampung menjadi gila, berkelahi atau mati kena tulah atau penyakit.

Anak-anak Batak Foto bertahun 1894, anak-anak di depan rumah

Di Samosir, menurut cerita seorang penduduk bermarga Sitanggang kepada Tagar News, cerita Sibiangsa ini sedikit berbeda dengan yang ditulis Mgr Anicetus Sinaga. Menurut Sitanggang, Sibiangsa ini berasal dari seorang bayi terpilih yang kemudian digongseng hidup-hidup sampai ia mati dan tubuhnya mengeluarkan minyak. Minyak inilah yang kemudian dimasukan dalam wadah dan kemudian dipakai sebagai senjata pamungkas oleh kampung tersebut untuk menyerang atau bertahan terhadap serangan musuh. 

Sibiangsa juga dikenal di tanah Simalungun. Sultan Saragih dalam tulisannya di lovelysimalungun.com berjudul "Mitos Simalungun: Daya lebur Sibiangsa" bercerita mengenai kerajaan masa lampau bernama Pagar Panei Bosi. Sekitar abad 16, Guru Raya I bernama Tuan Rasaim ditunjuk menjadi pengambil keputusan atas sengketa dan kejahatan yang terjadi di kerajaan.

Keadilan harus dijalankan, biasanya bila perselisihan masih panjang dan belum ada pengakuan kesalahan dari kedua belah pihak atau terus berlarut-larut, terdakwa akan dibawa dan dihadapkan ke tempat sakral yaitu cawan Sibiangsa. 

Baca Juga: 

Foto-foto Nenek Moyang Orang Batak

Kisah Babiat Sitelpang, Legenda Harimau yang Menjadi Ompung Bagi Orang Batak

Cawan ini berbentuk guci yang tertanam di dalam tanah. Sepanjang ritual dilakukan, ia selalu mengeluarkan uap air mengepul tak habis-habisnya ke atas. Maka para sengketa/terdakwa akan dibawa ke Pagar Panei Bosi untuk dipertanyakan kejujurannya di depan tempat sakral dengan cara marbija (bersumpah).

Setelah mengambil sumpah secara sakral di depan Guru Raya, ia masih diminta kesungguhannya melalui tiga tahap pertanyaan kejujuran bertingkat. Bila ia masih belum mengaku kesalahannya juga, Guru Raya akan meminta terdakwa mencelupkan tangan ke dalam cawan keadilan (Sibiangsa) yang mengepulkan uap tadi.

Di sinilah kebenarannya akan diuji.  Jika ia benar tangannya tetap utuh, tetapi jika salah atau tidak jujur, sebanyak bagian tangan dimasukkan ke dalam cawan tadi akan habis atau tetap tinggal di dalam cawan. Mengerikan bukan? Terdakwa akan kehilangan sebagian tangannya.

Rumah BatakFoto bertahun 1910-1930, dua anak di pintu masuk rumah Batak

Dalam tulisannya, Sultan Saragih juga menulis penelusuran berikutnya tentang keajaiban daya lebur Sibiangsa ini terdapat di Desa Tinokkah, Nagur Raya, Kecamatan Sipispis,  Kabupaten Serdang Bedagai. 

Sultan Saragih membeberkan cerita dari Asdan Damanik yang mengenalkan wilayah bekas pusat kerajaan yang dikenal dengan Pamatang Harajaon Nagur. Pusat kerajaan ini dikelilingi oleh tiga lapis parit pertahanan. Parit tersebut sangat dalam. Jika kita melongok ke bawah, tampak lubang kedalamannya 10-20 meter memanjang  berbentuk separuh ring. 

Berdasarkan kisah dari orangtuanya, parit dengan kedalaman 10-20 meter diciptakan oleh leluhur Simalungun dengan menggunakan tepung Sibiangsa. Tepung yang sudah diberi kekuatan mantra di tebar sepanjang jalur yang dikehendaki. Esoknya tanah yang tersiram oleh tepung tersebut tampak menjadi lebur dan longsor seperti jurang kecil ke bawah. Gambaran wilayah Pamatang Harajaon Nagur dengan parit dalam tiga lapis di depan ini dapat diibaratkan sebagai pertahanan dikelilingi jurang parit agar musuh tidak mudah masuk.

Penelusuran ketiga, kata Sultan Saragih dalam tulisannya, mereka menemukan guci Sibiangsa terbuat dari tanah liat yang tertanam di atas bukit, tepatnya di Desa Dolok Malela, Kecamatan Gunung Malela, Kabupaten Simalungun.  Guci tersebut tak jauh dari lokasi tujuh patung kecil yang membentuk lingkaran yang berfungsi sebagai penjaga kampung. Berdasarkan tuturan juru kuncinya, yakni Amir Husin Saragih Silampuyang, guci tersebut sengaja ditutup oleh batu agar tidak mengembalikan daya magis masa lalunya. []