Melawan Virus Corona Pakai Ganja, Ini Hasil Penelitiannya

Melawan virus corona. Kandungan kimia alami dalam ganja memiliki dampak terhadap penanganan pasien positif?
Ilustrasi ganja. (Foto: Pixabay)

Jakarta - Sebanyak tiga penelitian yang menyebar di Amerika Serikat, Israel, dan Kanada menghasilkan temuan bahwa kandungan kimia alami dalam ganja berpotensi mencegah dampak paling mematikan dari virus corona atau Covid-19.

Dikutip dari laman Dailystar, sebanyak tiga tim peneliti medis sedang mengerjakan cara baru untuk memerangi dampak paling parah dari terinfeksi Covid-19. Mereka melakukan riset dengan potensi-potensi mendapatkan sumber obat berbeda dari yang telah ada.

Penelitian yang dilakukan satu tim di University of South Carolina Amerika Serikat mengungkapkan, ganja dapat mencegah respons kekebalan ekstrem yang berakibat fatal bagi pasien virus corona. Eksperimen itu menggunakan tikus.

Pengobatan dengan THC menyebabkan tikus dapat bertahan 100%.

THC, zat dalam ganja yang menyebabkan orang berhalusinasi berpotensi menekan Acute Respiratory Distress Syndrome atau sindrom gangguan pernapasan akut yang diakibatkan virus corona. Sindrom itu telah menyebabkan banyak kematian di dunia.

Penelitian itu dipimpin Profesor Amira Mohammed dan diterbitkan dalam jurnal kesehatan Frontiers in Pharmacology. Dalam catatatan jurnal itu, tertulis "pengobatan dengan THC menyebabkan tikus dapat bertahan 100%".

GanjaIlustrasi ganja. (Foto: Pixabay)

Sedangkan penelitian di Israel yang diterbitkan Agustus 2020 menghasilkan, efek mematikan 'cytokine storm' yang dialami pasien positif Covid-19 akut dapat dikontrol menggunakan bahan kimia yang ditemukan dalam ganja

Penelitian di Israel itu dilakukan oleh perusahaan R&D khusus ganja bernama Eybna dan Cannasoul. Mereka mencatat, terpene yang dikandung ganja efektif melawan berbagai kondisi peradangan, termasuk sindrom 'cytokine storm' yang mengancam nyawa pasien yang terpapar virus corona.

Nadav menambahkan, terpene dalam ganja bermanfaat lebih dari sekedar efek plasebo. “Hasil awal sangat positif," kata CEO Eybna dan Cannasoul, Nadav Eyal kepada surat kabar Jerusalem Post.

Baca juga:

GanjaIlustrasi ganja. (Foto: Shutterstock)

Olga dan Igor Kovalchuk, dua peneliti dari University of Lethbridge di Alberta, Kanada, menemukan fakta lain, bahwa beberapa ekstrak ganja berkadar CBD tinggi dan rendah THC dapat memblokir jalur masuk virus corona untuk menyerang sel tubuh manusia.

Keduanya sepakat ganja yang murah dan tersedia di seluruh dunia bisa untuk pengobatan pasien Covid-19.

Kovalchuk awalnya meneliti ganja untuk mengobati penyakit lain, tetapi ketika pandemi datang ia mengubah fokusnya.

"Bayangkan sebuah sel menjadi sebuah bangunan besar. Cannabinoid mengurangi jumlah pintu di dalam gedung, katakanlah, 70%, jadi itu berarti tingkat pintu masuk akan dibatasi. Jadi, oleh karena itu, Anda memiliki lebih banyak kesempatan untuk melawannya" tutur Kovalchuk yang mendukung terapi ganja untuk mencegah dampak paling mematikan virus corona. 

Berita terkait
Bukan Jualan Narkoba, PKS Serius Usul Ekspor Ganja
Anggota Komisi I DPR Fraksi PKS Sukamta mengatakan, usulan ganja menjadi komoditas ekspor bukan berarti ingin menjual narkoba.
PKS Sebut Ganja Diekspor Kurangi Kemiskinan di Aceh
Anggota Komisi I DPR Fraksi PKS Sukamta mengatakan ganja jadi komoditas ekspor dapat mengurangi angka kemiskinan di Aceh.
Rafli DPR F-PKS: Hukum Agama, Ganja Tidak Haram
Anggota Komisi VI DPR Fraksi PKS Rafli mengatakan dalam hukum agama ganja tidak haram.
0
Kursi Pelatih Real Madrid Panas Muncul Nama Carlo Ancelotti
Pelatih Everton itu bisa menemukan dirinya kembali di Estadio Santiago Bernabeu yang dikaitkan dengan kembalinya Real Madrid yang sensasional