UNTUK INDONESIA
Nenek Penjual Lopis dengan Nomor Antrean di Yogyakarta
Pagi masih berselimut sunyi, saat Satinem, 75 tahun, tiba di persimpangan Jalan Pangeran Diponegoro dan Jalan Bumijo, Yogyakarta. Ia penjual lopis.
Satinem, 75 tahun, penjual lopis di Jalan Bumijo, saat tiba di tempat jualannya, Jumat, 3 Juli 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Yogyakarta - Pagi masih berselimut sunyi, saat Satinem, 75 tahun, tiba di persimpangan Jalan Pangeran Diponegoro dan Jalan Bumijo, Yogyakarta. Trotoar di samping persimpangan itu merupakan tempatnya menjual berbagai kuliner tradisional Jawa.

Pagi itu, Jumat, 3 Juli 2020, seperti hari-hari sebelumnya, Satinem diantar anak keduanya, Mukinem, 50 tahun. Mereka berboncengan mengendarai sepeda motor.

Azan Subuh belum juga satu jam selesai berkumandang. Cahaya matahari juga belum muncul pagi itu. Hanya iring-iringan awan yang melintas di langit. Jalanan pun masih lengang. Jumlah pengguna jalan yang melintas bisa dihitung dengan jari.

Lampu-lampu jalanan dan rumah-rumah warga masih menyala saat Satinem dan Mukinem tiba di tempatnya menjual.

Setelah Satinem turun dari sadel sepeda motor, Mukinem menurunkan peralatan menjual dan bahan-bahan jualan dari sepeda motor. Kemudian dia menata barang-barang itu di tempatnya.

Sementara, Satinem dengan tubuhnya yang mulai membungkuk, duduk di lantai emperan toko, beberapa meter dari Mukinem yang sedang menata tempat jualan.

Sebelum pukul 06.00 WIB, lapak tempat Satinem menjual sudah selesai ditata. Dengan sedikit tertatih, Satinem melangkah ke belakang meja tempatnya menjual.

Beberapa jenis kuliner tradisional berjejer di atas meja. Mulai dari gatot (terbuat dari ketela pohon), tiwul (terbuat dari ketela pohon yang diparut dan dikeringkan), lopis (terbuat dari beras ketan), hingga cenil (terbuat dari sagu). Sementara, di samping kiri Satinem, terdapat tempat juruh (gula merah cair) kental berwarna cokelat kehitaman.

Di depan meja itu, diletakkan beberapa kursi plastik kecil, sebagai tempat duduk untuk para pembeli.

Dari belakang meja, jemari keriput Satinem mulai mengambil lembaran-lembaran daun pisang yang sudah dipotong seukuran kertas buku tulis. Lalu meletakkan di depannya, agar lebih mudah saat meladeni pelanggan.

Kisah SatinemSatinem, 75 tahun dan anaknya, Mukinem, 50 tahun, menyiapkan lapak dagangan mereka, Jumat, 3 Juli 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Hampir 60 Tahun Menjual Lopis

Sambil menunggu pelanggan datang, Satinem bercerita bahwa dirinya sudah hampir 60 tahun menjual lopis dan kuliner tradisional lain di tempat itu. Meski suasana masih temaram, garis-garis keriput di pinggir matanya tetap terlihat jelas.

Sesekali garis-garis itu tampak menjadi lebih dalam, seperti menunjukkan bahwa bibirnya sedang tersenyum di balik masker yang menutupi separuh wajahnya.

"Kulo sadean wonten mriki sampun kawit tahun 1963. Kawit kulo taksih piyambak. (Saya menjual di sini sejak tahun 1963. Sejak saya masih sendirian/belum berkeluarga)," ujar Satinem.

Seluruh kuliner tradisional yang dijual Satinem selama hampir 60 tahun, tepatnya 57 tahun, adalah kuliner hasil buatan tangannya sendiri. Sehingga rasanya tidak pernah berubah. "Sedanten ndamel piyambak. (Semua buatan sendiri)."

Satinem mematok harga Rp 10 ribu untuk satu porsi kuliner buatannya. Harga yang sebetulnya di atas rata-rata harga kuliner yang sama di tempat lain, pasar misalnya. Namun, meski harganya sedikit lebih mahal, pelanggan kuliner buatan Satinem tetap banyak. Dalam sehari, menurutnya, dia bisa menjual hingga lebih dari 100 porsi.

"Kulo mboten ngitung pinten jumlahe. Tapi nek satusan nggih wonten. (Saya tidak pernah menghitung jumlahnya. Tapi kalau seratusan ya ada)," tuturnya.

Kisah SatinemPelanggan lopis buatan Satinem datang sejak sebelum pukul 06.00 WIB, Jumat, 3 Juli 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Selain menjual di lokasi itu, Satinem juga menerima pesanan dari para pelanggan.

Beberapa menit berlalu hingga seorang pria pelanggannya datang memesan beberapa porsi lopis. Pria itu duduk di kursi plastik kecil sambil memperhatikan Satinem mengambil potongan-potongan lopis, meletakkannya di atas daun pisang, menaburi parutan kelapa di atas lopis, hingga saat Satinem menuangkan juruh kental di atas lopis.

Belum selesai dia menyiapkan seluruh pesanan pria itu, seorang wanita datang dan berdiri di samping si pria. Wanita itu memesan tiwul beberapa porsi.

Tapi, sebelum wanita pembeli itu sempat dilayani, bahkan Satinem belum menyelesaikan pesanan pembeli sebelumnya, seorang pembeli lain sudah datang dan duduk di samping kiri si pria.

Kisah SatinemSatinem menyiapkan gatot, salah satu kuliner tradisional jualannya, untuk dibungkus dengan daun pisang, Jumat, 3 Juli 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Menyiapkan Nomor Antrean

Saat matahari mulai muncul, Satinem telah sibuk dengan aktivitasnya melayani pembeli. Sementara anaknya, Mukinem, sesekali membantu sang ibu untuk menyiapkan daun pisang dan beberapa bahan lain.

Sebelum pandemi Covid-19 melanda, area di sekitar tempat Satinem menjual selalu dipenuhi pembeli. Para pembeli ini rela berdiri lama, mengantre hingga gilirannya dilayani.

Saking banyaknya pembeli yang mengantre, Satinem dan Mukinem menyiapkan nomor antrean untuk mereka. Tujuannya agar tidak ada pembeli yang merasa dilewati gilirannya atau merasa datang lebih awal tetapi dilayani lebih akhir.

"Nggih, Mas. Leres. Kulo nyiapke nomor antrean menika ngantos 50 nomor. (Iya, Mas. Betul. Saya menyiapkan nomor antrean hingga 50 nomor)," kata Mukinem.

Kisah SatinemBeberapa jenis kuliner tradisional buatan Satinem, 75 tahun, tertata di atas meja kecil, Jumat, 3 Juli 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Tetapi sejak pandemi Covid-19, jumlah pelanggannya menurun hingga 50 persen. Terlebih pada awal-awal pandemi. Satinem bahkan sempat menutup jualannya hingga hampir sebulan.

Saat ini meski jumlah pelanggannya belum kembali sebanyak dulu, tetapi menurutnya sudah lumayan banyak yang datang lagi. Nomor antrean untuk pelanggan pun tetap disiapkan, sebagai langkah antisipasi jika nantinya banyak pembeli yang datang.

"Sakniki nggih kurang luwih sedinten 12 kilo ketan. Tapi bahan liyane kulo mboten ngitung telas pinten kilo (Sekarang ya kurang lebih sehari habis 12 kilogram beras ketan. Tapi bahan-bahan lain saya tidak hitung berapa kilo per hari)," ujar Mukinem.

Kisah SatinemPembeli kuliner tradisional buatan Satinem, 75 tahun, memperhatikan cara Satinem menyiapkan pesanannya, Jumat, 3 Juli 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

Cita Rasa yang Khas

Banyaknya pembeli yang mengantre hingga disiapkan nomor antrean dibenarkan Tuti, 41 tahun, pelanggan Satinem. Tuti mengaku menyukai lopis dan kuliner lain buatan Satinem sejak belasan tahun lalu, sebelum dirinya menikah.

Menurutnya, sangat wajar jika para pembeli rela mengantre hingga beberapa belas atau puluh menit. Sebab cita rasa lopis buatan Satinem memang khas dan berbeda dengan rasa kuliner sejenis yang dijual di tempat lain.

"Nggih, Mas. Nek riyin niku antreane ngantos pinggir ndalan. Malah ngagem nomor antrean barang. Tapi wajar, soale rasane nggih benten kok kaliyan bakul liyane. (Iya, Mas. Kalau dulu itu antreannya bisa sampai di pinggir jalan. Malah pakai nomor antrean segala. Tapi wajar, karena rasanya memang berbeda)," tuturnya.

Mengenai harga per porsi, Tuti mengakui memang sedikit lebih mahal. Tapi harga, kata dia, bukan alasan untuk membeli di tempat lain. Sebab, dia dan anggota keluarganya sudah terlanjur cocok dengan rasa kuliner buatan Satinem.

"Ket tahun pinten nggih? Koyone sejak 2000-an, kulo dereng nikah pun dados langganan. Riyin menika regane taksih Rp 5 ribu. (Sejak tahun berapa ya? Kayaknya sejak tahun 2000-an, sejak saya belum menikah, sudah jadi langganan. Dulu harganya masih Rp 5 ribu)," ujarnya.

Tuti pernah mencoba membeli kuliner yang sama dari penjual lain. Dia mengira suaminya tidak akan tahu bahwa lopis itu bukan yang biasanya. Tapi ternyata suaminya hanya memakan sepotong.

"Kulo ngetes bojo kulo. Lha kok malah mboten dientekke. (Saya ngetes suami saya. Kok malah tidak dihabiskan)," ucap Tuti dengan tawa berderai.

Kisah SatinemSebagian pelanggan memilih berdiri sambil menunggu Satinem, 75 tahun, menyiapkan pesanannya. Satinem juga menyiapkan 50 nomor antrean untuk pelanggan, Jumat, 3 Juli 2020. (Foto: Tagar/Kurniawan Eka Mulyana)

[]

Baca cerita lain: 

Berita terkait
Sunyinya Pasar Kebon Empring Bantul Jelang New Normal
Matahari sore menyinari jembatan gantung yang melintang di atas aliran Sungai Gawe, Desa Srimulya, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul Yogyakarta.
Lulusan SD di Tegal, Bikin Robot Bantu Atasi Covid-19
Kejutan dari Tegal, Jawa Tengah, cuma lulusan SD, bisa bikin robot canggih untuk membantu tenaga medis merawat pasien Covid-19 di rumah sakit.
Laki-laki yang Kunikahi Ternyata Perempuan
Memakai jas hitam, peci menutupi rambut cepaknya, dia tampak gagah layaknya pria tangguh. Hingga kemudian rahasianya terungkap. Dia perempuan.
0
Soal Survey Indikator, DPR: Catatan Buruk Kinerja Pemerintah
Anis menegaskan bahwa ketidakberhasilan pemerintah mencapai target-target ekonominya menjadi catatan tidak baik terhadap kinerja pemerintah.