Mantan Napi Terorisme Mencurigai Motif WNI Eks ISIS

Mantan narapidana (napi) terorisme Muhammad Sofyan Tsauri curiga terhadap motif eks kombatan ISIS yang meminta pulang ke Indonesia.
Mantan terpidana kasus terorisme Sofyan Tsauri. (foto: Tagar/Morteza Syariati Albanna).

Jakarta - Mantan narapidana (napi) terorisme Muhammad Sofyan Tsauri menyebut 600 warga negara Indonesia (WNI) eks kombatan ISIS di Timur Tengah, bisa saja sadar sudah melakukan kesalahan besar, lantaran Negara Islam Irak Suriah itu sudah mengalami kekalahan. 

Namun, dia mengingatkan bukan berarti mereka akan menjadi orang yang tidak lagi akan mengulangi perbuatan yang sama, dalam hal ini adalah melakukan aksi teror.

Sofyan tetap curiga ratusan mantan teroris bisa saja bertaqiyah atau menyembunyikan pemahamannya demi kepentingan untuk pulang ke Indonesia.

Baca juga: Nada Fedulla, Curahan Hati Anak ISIS Ingin Pulang ke Indonesia

Kadang ada yang pura-pura sadar, karena sifatnya pragmatisme atau oportunisme. Mereka memanfaatkan itu biar bisa pulang. Padahal, kepalanya sudah merencanakan yang enggak-enggak

"Saya kira dengan kekalahan ISIS bisa saja mengubah mindset mereka. Selama ini kan mereka PD (percaya diri) bahwa mereka kelompok yang ditolong oleh Allah, kelompok yang selama ini akan mendapat kemenangan, ternyata tidak," kata Sofyan saat dihubungi Tagar, Kamis, 6 Februari 2020.

Sofyan menuturkan, dari ratusan eks kombatan ISIS yang akan dipulangkan itu, setidaknya dia pastikan ada yang akan kembali mengulangi aksi teror. 

Dia mencontohkan seperti dua orang anggota teroris yang pernah dipulangkan ke Indonesia, namun kemudian justru berulah kembali di negara lain.

Dikatakan Sofyan, mereka adalah Rullie Rian Zeke alias RRZ dan Ulfah Handayani Saleh alias UHS yang merupakan anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) yang melakukan aksi terorisme pada 27 Januari 2019, di Gereja Katolik, Pulau Jolo Filipina yang menewaskan 22 orang dan 100 orang luka-luka.

"Jangan salah, ada beberapa return dari Turki yang kemarin dipulangkan ke Indonesia. Saya sempat ketemu dengan mereka 2017 lalu. Mereka pulang ke Sulawesi, dan di sana mereka malah terbang ke Filipina dan melakukan bom bunuh diri pada 2019 awal," ujarnya.

Baca juga: Mantan Teroris Menolak Eks ISIS Dibawa ke Indonesia

Menurutnya, para teroris akan melakukan segala cara untuk menyelamatkan diri ketika sedang berada dalam posisi tertekan. 

Hal itu termasuk dengan cara taqiyah untuk mengelabui pemerintah dengan berharap belas kasihan.

"Kadang ada yang pura-pura sadar, karena sifatnya pragmatisme atau oportunisme. Mereka memanfaatkan itu biar bisa pulang. Padahal, kepalanya sudah merencanakan yang enggak-enggak," ucap dia.

Oleh sebab itu, Sofyan Tsauri meminta pemerintah agar melakukan pemeriksaan dengan ketat terhadap rencana pemulangan eks ISIS ke Tanah Air. Yang dia maksudkan, harus melalui seleksi dengan dalam dan rigid.

"Secara normatif mereka (eks ISIS) setia, tetapi perlu ada identifikasi bahwa ini kategorinya jujur atau tidak," kata Sofyan Tsauri. []

Berita terkait
Moeldoko: Pemerintah Belum Putuskan Terima WNI Eks ISIS
Kepala Staf Kepresidenan menegaskan pemerintah belum memutuskan ingin terima WNI eks ISIS, karena masih mempertimbangkan plus dan minusnya.
Jokowi Centre: Kombatan ISIS Bukan WNI Lagi
Relawan Jokowi Centre mendukung penuh sikap Presiden Joko Widodo yang tidak menerima eks WNI yang tergabung dalam ISIS.
Apa Manfaat Pulangkan 600 Orang Eks ISIS?
Seknas Jokowi secara tegas menolak rencana pemulangan 600 eks kombatan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).
0
Kemendikbud: Pancasila Matpel Wajib SD - Perguruan Tinggi
Kemendikbudristek mengatakan Pancasila akan menjadi mata pelajaran wajib dari SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi dengan penerapan yang mudah.