UNTUK INDONESIA
Luka Dalam Teramat Dalam di Singkil Aceh
Usai salat, pria itu menangis dan tertawa, kadang tersenyum lebar tiba-tiba meneteskan air mata. Luka dalam seorang pria di Singkil Aceh.
Anak tangga Balai-balai perumahan PT Socfindo di Pulo Sarok pascagempa dan tsunami 26 Desember 2004 dan 28 Maret 2005. Foto diambil Kamis, 26 Desember 2019. (Foto:Tagar/Khairuman)

Singkil - Seorang pria berusia sekitar 35 tahun, duduk di serambi musala di kompleks kantor TVRI, Mata Ie, Kecamatan Montasik, Kabupaten Aceh Besar. Sesekali ia tersenyum lebar, tapi hanya dalam hitungan detik, ia meneteskan air mata kemudian terisak. Itu terjadi berulang kali.

Hampir setiap usai menunaikan salat wajib, pria itu menangis dan tertawa. Ia duduk di serambi musala, dan sering berpindah tempat, kadang di undakan serambi musala, kadang di sudut serambi.

Saat itu, pekan kedua Januari 2005, ratusan tenda pengungsi berdiri di halaman kantor tersebut. Lokasi tenda pengungsi dibagi dalam beberapa area, termasuk area tenda para relawan untuk korban gempa bumi dan tsunami tersebut.

Trauma para warga terdampak gempa bumi dan tsunami, tampak jelas saat itu, termasuk pria yang sering menangis dan tertawa di serambi musala. Menurut beberapa pengungsi lain, pria itu dulu cukup kaya, tapi setelah tsunami, seluruh hartanya lenyap beserta beberapa anggota keluarganya, yang saat itu belum ditemukan.

Saat sore menjelang senja, para relawan mencoba mengobati trauma anak-anak pengungsi. Meski tidak semua relawan memiliki latar belakang pendidikan psikologi, tapi mereka berusaha menyembuhkan trauma anak-anak itu dengan bermain bersama.

Sebagian permainan yang dimainkan adalah permainan tradisional nusantara. Sebagian relawan membacakan cerita untuk mereka, lalu dilanjutkan dengan salat magrib berjamaah dan belajar mengaji seusai salat.

Di sudut lain tempat pengungsian Mata Ie, puluhan orang silih berganti berdiri di depan papan pengumuman. Pada papan itu tertempel foto dan data jenazah korban tsunami yang ditemukan. Para pengungsi berusaha mencari nama dan foto anggota keluarganya yang masih hilang.

Tatap nanar mereka terlihat jelas, terlebih jika nama atau foto orang yang dicari tidak ditemukan.

Saya dan keluarga berlari menuju Masjid Nurul Makmur, jalan aspal seperti kasur, retak di sana sini.

Sisa Tsunami AcehPerumahan PT Socfindo di Pulo Sarok, Kecamatan Singkil, sisa-sisa terjangan tsunami Aceh Singkil 26 Maret 2004 dan 28 Maret 2005. Foto diambil Kamis, 26 Desember 2019. (Foto:Tagar/Khairuman)

Trauma terhadap tsunami itu juga dapat dilihat dari keterkejutan mereka saat para relawan mengantar bantuan. Biasanya untuk memudahkan dan mempercepat distribusi, para relawan berdiri berjejer dengan jarak sekitar 2 meter, mulai dari truk pengangkut logistik hingga ke gudang penyimpanan.

Para relawan itu melemparkan barang-barang bantuan dari tangan ke tangan, agar tidak mengeluarkan banyak tenaga. Untuk barang-barang seperti mi instan dan sejenisnya, lebih mudah diterima saat dilemparkan karena bobotnya yang ringan. Tapi, untuk air minum dalam kemasan, yang bobotnya cukup berat, biasanya pelempar akan berteriak "air!" agar rekannya lebih siap menerima.

Beberapa pengungsi terkejut saat mendengar teriakan "air!" Mereka mengira itu peringatan datangnya air tsunami dari laut.

Sementara, beberapa kilometer dari Mata Ie, tepatnya di depan posko relawan di Lambaro, Kecamatan Peukan Bada, truk-truk berisi jenazah korban melintas berulang kali. Itu menjadi pemandangan biasa, tapi mampu menimbulkan trauma.

Jenazah-jenazah yang telah ditemukan itu, kemudian dibawa ke pemakaman massal, lokasinya di antara Lambaro dan bandara Sultan Iskandar Muda.

Kenangan Memilukan

Trauma yang dirasakan para pengungsi waktu itu bukan hal yang mengherankan. Mereka merasakan langsung bagaimana tsunami pada 26 Desember 2004 itu meluluhlantakkan semua yang diterjangnya.

Saat itu, Minggu, 26 Desember 2004, Tagar sedang duduk santai bersama keluarga, tiba-tiba rumah seperti diayun. Suasana yang tadinya santai berubah menjadi kepanikan. Bumi seperti bergoyang ke kanan dan ke kiri. Lambaian pucuk-pucuk pohon nyiur di halaman rumah semakin kencang akibat gempa.

Sisa Tsunami AcehKawanan kerbau kuala di pantai Pulo Sarok, Kecamatan Singkil, bertingkah aneh dengan nalurinya menjauh dari laut sebelum bencana gempa dan tsunami 26 Desember 2004 dan 28  Maret 2005. Foto diambil Kamis, 26 Desember 2019. (Foto:Tagar/Khairuman)

Warga yang bermukim di tepi pantai terkejut saat ombak laut besar mendekat, menerjang semua yang dilaluinya, termasuk rumah, warung dan kendaraan yang ada, juga orang-orang yang terlambat menyelamatkan diri.

Pengalaman mencekam ini juga dialami seorang warga Pulo Sarok, Aceh Singkil, Nangroe Aceh Darussalam, Efendi AR.

Efendi bermukim di tepi pantai dan mengalami langsung kejadian tsunami tersebut. Kata dia, sebelum gelombang tsunami datang, gempa bumi terasa cukup kencang.

Beberapa waktu kemudian, dari kejauhan tampak gelombang ombak berwarna kecokelatan. Saat air laut mulai menerjang, ia dan keluarganya berusaha menyelamatkan diri, berlari menuju Masjid Nurul Makmur di sekitar kediamannya.

"Bayangkan saja, ketika usai gempa terjadi, saya dan keluarga berlari menuju Masjid Nurul Makmur, jalan aspal seperti kasur, retak di sana sini," ujarnya saat ditemui Tagar, Kamis, 26 Desember 2019.

Suasana sangat mencekam kala itu, suara gemeretak dari bangunan yang retak dan hendak runtuh terdengar mengerikan, tiang-tiang listrik roboh. Suasana semakin menakutkan saat malam, karena listrik padam.

Kerbau Menjauh dari Pantai

Kejadian gempa bumi dan tsunami pada 26 Desember 2004 di Aceh tersebut, khususnya di Kabupaten Singkil, bukan datang tiba-tiba tanpa pesan atau pertanda.

Efendi menuturkan beberapa kejadian sebelum gempa bumi dan tsunami tersebut, yang menurutnya adalah pertanda yang diberikan alam. Salah satunya adalah tingkah aneh yang dilakukan hewan.

"Hal itu saya saksikan langsung dengan mata kepala sendiri, sepekan sebelum terjadi bencana alam," tuturnya.

Sisa Tsunami AcehTugu prasasti di Pulou Sarok, Kecamatan Singkil, mengingat dahsyatnya gempa dan tsunami Aceh pada 26 Desembet 2004 dan 28 Maret 2005.Foto diambil Kamis, 26 Desember 2019. (Foto:Tagar/Khairuman)

Tingkah aneh beberapa jenis hewan yang disaksikannya, antara lain puluhan ekor kerbau kuala di Muara Singkil tiba-tiba berjalan lebih dari 100 meter menuju arah timur, menjauhi pantai. Kerbau-kerbau itu berjalan tanpa penggembala.

Pemilik ternak dan penggembalanya bingung melihat tingkah hewan peliharaannya. Terlebih karena hewan-hewan itu tidak mau kembali ke tempat semula. Sehingga para penggembala harus membuat api unggun untuk menimbulkan asap, agar hewan-hewan mereka tidak diganggu lalat.

Keanehan lain ditunjukkan ratusan ikan sumbilang dan ikan belanak, yang berenang menjauhi laut, menuju hulu sungai. Kejadian itu berlangsung pada siang hari di samping parit besar Masjid Taqwa Pulo Sarok.

Sejumlah warga justru senang melihat fenomena aneh itu. Mereka dengan bebas mengambil ikan-ikan tersebut dan membawanya pulang.

Kejadian lain muncul saat gempa bumi pada malam harinya. Saat warga berlari menuju Masjid Nurul Makmur, untuk menyelamatkan diri dari tsunami lanjutan, burung-burung juga ikut terbang dan bertengger di atap masjid.

"Saya sangat terkejut, burung merpati, jalak dan beo ikut terbang ke atap masjid. Sebagian warga memang mengabaikan fenomena itu, karena panik," ujarnya.

Dampak dari tsunami tersebut bukan hanya dirasakan di Aceh atau Indonesia saja. Sejumlah negara lain pun merasakan dampaknya, di antaranya Srilanka dan India, yang juga memakan korban jiwa hingga ribuan.

Khusus untuk wilayah Aceh, selain gempa bumi terbesar pada 26 Desember 2004, juga terjadi beberapa kali gempa bumi susulan, juga gempa bumi dengan magnitudo 8,7 pada 28 Maret 2005 di Kepulauan Nias.

Gempa bumi itu mengakibatkan seribuan warga meninggal dunia serta ratusan bangunan rusak parah, bahkan beberapa di antaranya runtuh.

Sebelum gempa bumi pada 26 Desember 2004, sebagian warga Aceh menganggap gempa bumi yang dalam bahasa daerah setempat disebut 'geloro', merupakan hal yang biasa terjadi di wilayah itu. []

Baca cerita lain:

Berita terkait
Bisu Butir Pasir dan Deru Ombak, Saksi Tsunami di Serang
Mendung seperti bersahabat dengan butiran embun, pagi itu di lokasi terjadinya tsunami di Desa Cikoneng, Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang.
2 Mitos Kontras Perjodohan di Gua Sunyaragi Cirebon
Bangunan kuno dari bebatuan karang tersusun rapi, berdiri kokoh di sudut Kota Cirebon, Jawa Barat. Ini tentang Gua Sunyaragi dan mitosnya.
Latifah Zulfa Siswi SMPN 1 Turi Sleman Kandas di Sungai Maut
Latifah Zulfa, siswi SMPN 1 Turi Sleman, cita-citanya kandas di sungai maut, terkubur selamanya bersama tragedi pramuka susur sungai.
0
Klaster Gowa Penyebaran Covid-19 Terbanyak di NTB
Penyebaran Covid-19. Klaster Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel) teridentifikasi menjadi salah satu simpul penyebaran virus terbanyak di NTB