LIPI: Belajar dari Negara yang Mempunyai Masalah Serupa

Peneliti Geoteknologi Lembaga llmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Rachmat Fajar Lubisi mengatakan belajar dari negara yang miliki masalah serupa.
Peneliti Geoteknologi Lembaga llmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Rachmat Fajar Lubisi. (Foto: Tagar/Azzahrah)

Jakarta - Prakiraan Jakarta akan tenggelam bukanlah kali pertama disampaikan, jauh sebelum pernyataan Presiden Amerika Serikat Joe Biden, Ibu Kota juga pernah diprediksi akan tenggelam pada tahun 2050.

Hal itu terungkap dalam laporan berjudul New Elevation Data Triple Estimates of Global Vulnerability to Sea-Level Rise and Coastal flooding yang terbit di jurnal Nature Communications pada 29 Oktober 2019.

Dalam laporan ini, para ahli mengukur topografi garis pantai di seluruh dunia dan menemukan kenaikan air laut yang naik drastis dalam dekade terakhir. 


Jadi kalau kita belajar di Kota Jakarta tidak menutup kemungkinan di Kota lain di pesisir Indonesia sebenarnya tidak hanya faktor air tanah atau pemanasan global.


Hal ini kemudian menguatkan prediksi, pada 2050 nanti sebagian besar permukaan laut di seluruh dunia bakal naik mencapai dua meter atau lebih. Naiknya permukaan air laut salah satunya disebabkan oleh perubahan iklim.

Dari seluruh negara di dunia yang diteliti, ahli mengungkap Asia adalah wilayah yang paling merasakan dampaknya, terutama negara-negara kepulauan. Bukan hanya itu, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) juga pernah memperkirakan wilayah Jakarta bagian utara akan tenggelam. 

Prediksi Jakarta tenggelam ini didasarkan pada sejumlah faktor dan kondisi seperti perubahan iklim, eksploitasi air tanah, hingga kenaikan permukaan laut karena pencairan lapisan es akibat pemanasan global.

Terkait hal ini, Peneliti Geoteknologi Lembaga llmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Rachmat Fajar Lubisi, mengatakan perihal fenomena kenaikan air laut akibat pemanasan global adalah bagaimana kita mitigasi dan adaptasi terhadap pemanasan global.

“Jadi kalau kita belajar di Kota Jakarta tidak menutup kemungkinan di Kota lain di pesisir Indonesia sebenarnya tidak hanya faktor air tanah atau pemanasan global,” ujar Rachmat dalam wawancara di kanal YouTube Tagar TV, Senin, 9 Agustus 2021.

Rachmat juga mengatakan bahwa ada empat faktor yang mempengaruhi amblesnya tanah. Pertama faktor kompaksi, kedua pembangunan, ketiga aktivitas manusia tanpa memperhitungkan kekuatan daya hitung tempat dan yang terakhir Indonesia merupakan daerah tektonik aktif.

“Jadi saya luruskan kalau masyarakat prespektif tenggelam ini mungkin airnya di atas kepala jadi kita tenggelam, tapi yang sebenarnya terjadi adalah terbanjiri air yang mungkin tidak harus sekepala kita itu adalah banjir rop,” ucap Rachmat.

Menurutnya, LIPI sudah melakukan beberapa strategi dan sudah mengusulkan ide, LIPI juga belajar dari negara lain yang mempunyai masalah serupa.

“Dari ilustrasi yang kita lihat beberapa diantaranya yaitu dengan membangun tanggul di Muara Baru, LIPI juga melakukan pendekatan secara alami seperti hutan mangrove ke daerah yang berpotensi,” ujar Rachmat. 

(Azzahrah Dzakiyah Nur Azizah)

Berita terkait
LIPI: Karakter Politik Tito Karnavian Menurut Tanggal Lahir
Pakar Politik LIPI Wasisto Raharjo Jati menjelaskan karakter politik dan tantangan Mandagri Tito Karnavian berdasarkan tanggal kelahiran.
LIPI: Karakter Politik Sandiaga Berdasarkan Tanggal Lahir
Pakar Politik LIPI Wasisto Raharjo jati menjelaskan karakter politik yang dimiliki Sandiaga Uno berdasarkan tangal lahir jika maju Pilpres 2024.
LIPI: Karakter Politik Puan Maharani Menurut Tanggal Lahir
Pakar Politik LIPI Wasisto Raharjo menyampaikan karakter politik Puan Maharani berdasarkan tanggal kelahirannya jika maju Pilpres 2024.
0
LIPI: Belajar dari Negara yang Mempunyai Masalah Serupa
Peneliti Geoteknologi Lembaga llmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Rachmat Fajar Lubisi mengatakan belajar dari negara yang miliki masalah serupa.