UNTUK INDONESIA
Konflik dengan Butet Kertaradjasa Jadi Catatan Negatif Wishnutama
Pengamat Stanislaus Riyanta menilai, mencuatnya konflik antara Wishnutama dengan Butet Kertaradjasa jadi catatan negatif bagi sang menteri.
Pengamat Stanislaus Riyanta menilai, mencuatnya konflik antara Wishnutama dengan Butet Kertaradjasa jadi catatan negatif bagi sang menteri. (Foto: Antara/Wahyu Putro A)

Jakarta - Pengamat intelijen dan keamanan Stanislaus Riyanta menilai, mencuatnya konflik antara Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama dengan Seniman sekaligus Budayawan Butet Kertaradjasa, menjadi catatan negatif untuk sang menteri dari kalangan profesional tersebut.

Menurut dia, konflik di antara keduanya dipicu miskomunikasi terkait program bantuan pemerintah terhadap para seniman di tengah pandemi Covid-19 ini.

Bukan masalah uang, tapi gimana menghargai seniman lokal, di nasional dihargai.

"Pak Butet kenyataannya kecewa, karena jawabannya seperti itu," kata Stanislaus dalam kanal YouTube Tagar TV dilihat Sabtu, 3 Oktober 2020.

Baca juga: Pariwisata Kolaps, Irma NasDem 'Semprot' Wishnutama

Dia memandang, sejauh ini Wishnutama belum sepenuhnya melihat bidang kerjanya untuk menggenjot ekonomi kreatif di Indonesia. Kemudian, eks pimpinan Net TV tersebut dinilai belum dapat melihat mitra kerjanya, lantaran masih terjebak dengan birokrasi di lingkup pemerintahan. 

Terlebih, kini ada hantaman pandemi Covid-19 yang membuat situasi menjadi semakin rumit. Stanis lantas menuturkan, program yang sempat dicanangkan Wishnutama untuk menggenjot pariwisata nasional dengan mendatangkan turis-turis asing akan berakhir sia-sia, karena situasi dunia belum normal.

"Untuk Kementerian Pariwisata ini kan harusnya dia bisa berpikir out of the box dan bukan hanya berpikir secara birokrat akan kesulitan, dan kerjanya juga belum sempat teruji, bahkan tercederai ketika mengawali masa pandemi justru ada program oleh Kemenpar untuk mengundang turis asing," ucapnya.

"Nah ini yang akhirnya sampai sekarang menjadi catatan negatif. Tidak akan ada banyak gebrakan yang bisa dibuat oleh Wishnutama, karena saat ini pintu pariwisata dari luar negeri masih belum dibuka, sulit. Ini belum ada gebrakan," ujar dia lagi.

Terkait konflik dengan Butet, Stanis menyarankan, semestinya Wishnutama mengeluarkan program kerja yang bisa menghargai produk-produk pelaku seni di Indonesia

Semisal, pemerintah dapat membeli karya para seniman, lalu dipajang dalam galeri-galeri yang terdapat di tiap kementerian. Menurutnya, dengan melakukan hal tersebut akan membuat para seniman tetap bertahan di tengah pandemi ini.

"Beli produk dari seniman lokal, pajang di sana (kementerian), itu kan termasuk menghargai seniman. Bukan masalah uang, tapi gimana menghargai seniman lokal, di nasional dihargai. Dibeli karyanya, dipajang di situ. Pasti seniman akan lebih dihargai dan itulah yang membuat mereka survive," tuturnya.

Stanis menekankan, Wishnutama harus membuat terobosan-terobosan baru untuk menggeliatkan industri seni dan pariwisata, tidak bisa menunggu pandemi ini berakhir.

"Konflik dengan Pak Butet sebagai seniman cukup terpandang. Jadi, saya kira ini bisa menjadi catatan yang negatif bagi Pak Wishnutama belum terlihat suatu gebrakan atau program kerja yang mendukung bagaimana kita menghadapi covid-19 ini," ucapnya.

Sebelumnya, Butet Kartaredjasa mengaku kecewa dengan sikap salah satu menteri Jokowi saat dirinya diundang ke Istana Negara, dan hal ini sudah disampaikan kepada Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud Md.

Baca juga: Wishnutama Ungkap Maksud Pertemuan Jokowi dan Artis

Benang merahnya adalah, kala Butet menanyakan perihal penyaluran bantuan sosial bagi seniman di masa pandemi. Namun, sang menteri justru menjawab telah mengumpulkan 40 ribu data seniman yang akan segera mendapatkan BLT (bantuan langsung tunai).

Butet kian kecewa begitu menangkap pemaknaan Wishnutama, ternyata seniman dianggap orang-orang terkenal, populer, yang kerap menghiasi layar kaca. Hal ini berimbas pada sikap keengganan negara dalam menghargai seniman. Bahkan, sumbangan untuk seniman itu sudah kadung dialihkan melalui Kementerian Sosial.

Butet menilai, semestinya BLT bisa dikemas dalam program lebih bermartabat dan tetap menghargai profesi seniman. Sehingga, tidak memosisikan pelaku seni layaknya penganggur yang sedang mengemis butuh pertolongan.

"Mestinya dana sosial untuk seniman itu bisa dikemas, sebagai bentuk kehadiran negara menghargai karya-karya para seniman. Jumlahnya karya itu mungkin sama dengan besaran bantuan yang digelontorkan, tidak mengganggu anggaran. Tapi itu jadi wujud pengakuan negara pada karya seniman itu," ujar Butet Kertaradjasa, Tagar kutip dari berita PikiranRakyat tayang 31 Agustus 2020. []

Berita terkait
Wishnutama: Pelaku Usaha Tetap Produktif Saat PSBB
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio menegaskan pelaku ekokraf harus tetap mendapatkan ruang untuk produktif saat PSBB.
Storynomics Tourism, Wishnutama Singgung Konten Kreatif
Pendekatan storynomics tourism yang mengedepankan narasi, dan konten kreatif dari Menteri Wishnutama.
Wishnutama Gandeng PHRI Siapkan Hotel untuk Isolasi Covid-19
Menparekraf, Wishnutama Kusubandio menyebutkan akan kembali bekerja sama dengan industri hotel dan Kemenkes menyiapkan akomodasi pasien Covid-19.
0
Manajemen Bioskop di Yogyakarta Berhitung Untung Rugi
Managemen bioskop di Yogyakarta belum bisa memastikan kapan mulai beroperasi lagi. Saat ini masih berhitung untung dan rugi jika beroperasi.