UNTUK INDONESIA
Ketangguhan Pedagang Semarang di Tengah Wabah Corona
Santi, sosok pedagang kuliner di Semarang yang bertahan dari terpaan badai ekonomi imbas pandemi virus corona.
Santi, pedagang makanan di kawasan Ngaliyan, Kota Semarang, lebih memilih tetap membuka warungnya meski omzet turun drastis imbas pandemi virus corona, Jumat, 20 Maret 2020. (Foto: Tagar/Sigit Aulia Firdaus)

Semarang - Wajah Santi tetap sumringah. Ia masih mengajak berbicara dan bercanda orang-orang yang datang untuk melepas lapar dan dahaga di warungnya.

Santi merupakan salah satu pedagang di Kota Semarang yang mengalami dampak kebijakan pemerintah terkait persebaran pandemi Covid 19. Namun perempuan itu lebih memilih tetap bertahan dengan usaha kulinernya di tengah potensi sergapan virus corona itu sendiri. 

Biasanya sehari bisa habis 13 kilogram. Sekarang masak enam kilogram saja tidak habis.

Sejak diliburkannya sekolah dan kampus, warung Santi yang terletak di Jalan Segaran Ngaliyan Kota Semarang berangsur sepi dalam sepekan terakhir. "Biasanya sehari bisa habis 13 kilogram. Sekarang masak enam kilogram saja tidak habis," katanya kepada Tagar, Jumat, 20 Maret 2020.

Santi bercerita penurunan omzetnya selama seminggu terakhir terlampau drastis. Biasanya, meski kampus libur semester selama dua bulan pun, warung makannya tidak sesepi seperti sekarang ini.

"Sekarang lebih parah dari libur semester. Kalau libur semester kan mahasiswa masih banyak yang beraktivitas di kampus. Nah sekarang pada pulang," tutur dia.

Tak hanya persoalan penurunan pelanggan yang dihadapi Santi. Ia juga harus menghadapi kenyataan melambungnya sejumlah bahan makanan di pasaran. Sebut saja bawang bombay, saat ini telah menyentuh angka Rp 125 ribu per kilogram. Padahal sebelum corona merebak, harga standarnya hanya Rp 30 ribu per kilogram.

"Saya akhir-akhir ini belinya per biji, seharga Rp 25 ribu. Itupun di pasaran sudah langka. Kalau mau cari harus ke Pasar Johar," ujar dia.

Untuk gula pasir, harga di pasaran kini telah mencapai Rp 18 ribu per kilogram, biasanya hanya Rp 13 ribu per kilogram. Akhirnya Santi mengurangi takaran gula saat membuatkan teh manis untuk pelanggan demi mengurangi kerugian.

"Kemarin saya beli gula pasir di swalayan dibatasi, hanya boleh beli satu kilogram," ucap dia.

Santi pun tak punya usaha lain yang bisa dijadikan pegangan hidup keluarga. Ia berharap pandemi Covid-19 segera berakhir sehingga dapat menjalankan usaha dengan normal seperti sedia kala. "Nanti usaha dagangan saya bagaimana kalau kampus terus diliburkan," ujar dia. 

Sementara, sejumlah warung sekitar tempat Santi berjualan juga terpantau berangsur tutup. "Kondisi ini dirasakan semua pedagang. Warung itu saja sudah tidak berjualan lagi," kata Santi sambil menunjuk warung di depan tempat usahanya.

Terpisah, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan pada awal April mendatang, harga sejumlah kebutuhan pokok yang naik akan berangsur normal. Saat ini, pemerintah sedang memproses perizinan impor gula. 

"Awal april, harga gula pasir akan normal kembali. Kemarin saya mengunjungi sejumlah pasar, gula pasir masih ada meski harganya sedikit naik," tutur dia. []

Baca juga: 

Lihat foto: 

Berita terkait
Kata Polos Tukang Cuci Mobil di Semarang soal Corona
Langkah pencegahan virus corona sudah jauh hari diterapkan di kalangan tukang cuci mobil Semarang sebelum penyakit itu mewabah.
Melihat Antusiasme Warga Semarang Cek Gratis Corona
Warga Semarang berduyun-dayun datang ke pos kesehatan Covid-19. Mereka ingin memastikan terpapar virus corona atau tidak.
Corona, Bawaslu Semarang Jadwal Ulang Sosialisasi
Bawaslu Kota Semarang menunda sejumlah kegiatan yang melibatkan orang banyak demi ikut mencegah penyebaran virus corona meluas.
0
Jadwal Imsak dan Buka Puasa DKI Jakarta, 1 Mei 2020
Berikut jadwal lengkap imsak, jam salat, dan buka puasa hari ini Jumat 1 Mei 2020, untuk wilayah Provinsi DKI Jakarta dan sekitarnya