UNTUK INDONESIA
Kata Polos Tukang Cuci Mobil di Semarang soal Corona
Langkah pencegahan virus corona sudah jauh hari diterapkan di kalangan tukang cuci mobil Semarang sebelum penyakit itu mewabah.
Usaha car wash tidak terdampak pandemi Covid-19. Para tukang cuci mobil juga tidak khawatir tertular virus corona karena tangan dan pakaian selalu kena detergan dan tidak pernah salaman dengan pelanggan. (Foto: Tagar/Budi Utomo)

Semarang - Di tengah kelesuan berbagai sektor usaha di Semarang akibat wabah virus corona, ternyata car wash menjadi salah satu usaha yang tidak terdampak. Order permintaan mencuci mobil masih tinggi dan operator tetap melayani pelanggan dari pagi hingga sore tiap harinya. 

Malah para pekerja cuci mobil di Semarang berkeyakinan Covid-19 tidak akan berdampak masif kalangan bawah seperti mereka. "Isu corona bukan hal yang biasa bagi orang-orang seperti kami, itu kan isu untuk orang-orang di sana," ujar salah satu karyawan car wash Cnya di kawasan Banyumanik, Jumat, 20 Maret 2020. 

Nah kami ini tidak pernah salaman dan selalu berkutat dengan detergen atau sabun.

Pria bertubuh kurus ini mengaku saban hari ia dan rekan kerjanya sudah disibukkan dengan aktivitas mencari uang di usaha car wash. Isu corona bukan hal yang dikhawatirkan, justru ia lebih takut jika tidak bekerja karena tidak bisa menafkahi keluarga. 

"Orang seperti kami ini jarang pergi ke mana-mana. Lebih banyak ketemu dengan pemilik mobil dan teman kerja. Sementara mereka yang kena corona itu kan warga yang kerap bepergian sampai luar daerah, ketemu orang yang kena corona akhirnya tertular," ucapnya sambil menyemprotkan air ke mobil yang dicuci.

Tapi bukan berarti para pekerja car wash tidak ada potensi tertular. Hanya saja dengan sabun atau detergen yang tiap saat melumuri tangan hingga pakaian, virus corona diyakini akan mati. Selain itu, para pekerja juga tidak pernah salaman dengan pemilik mobil mengingat tidak ada kelaziman di lingkungan cuci mobil. 

"Kan penjelasan pemerintah dan para ahli seperti itu. Hindari salaman dan selalu cuci tangan. Nah kami ini tidak pernah salaman dan selalu berkutat dengan detergen atau sabun," ujarnya tertawa. 

Pekerja lain, Bayu mengaku laju usaha di tempat kerjanya masih berjalan normal meski sudah ada kasus positif corona di Semarang.  “Tidak ada bedanya. Pelanggan yang datang setiap hari masih sama, tidak bertambah dan berkurang,” ujar dia. 

Dia meyakinkan sepekan terakhir tidak ada masalah dengan omzet dari tempat kerjanya itu. Cnya tetap buka dari pukul 08.00 hingga 17.00 dan sudah memiliki pelanggan setia.

“Dengan pelayanan bagus, kami tidak khawatir dengan keberlangsungan tempat kerja ini. Teman-teman dan saya masih bisa bekerja terus,” tutur dia. 

Sementara dari kalangan pelanggan juga mengaku tak khawatir tertular di tempat cucian. “Di sini saya tidak perlu berinteraksi dengan banyak orang, apalagi bersalaman. Saya datang, kunci saya letakkan, kemudian diambil kuncinya, dicuci, dan selesai, lalu bayar. Kemudian, mobil saya bawa pulang,” ujar Doddy, pelanggan berseragam aparatur sipil negara

Pria usia sekitar 47 tahun ini mengaku sudah menjadi pelanggan tetap di Cnya. Jadi para pekerja sudah mengenal dan paham sehingga masing-masing tak perlu ada lagi basa-basi lagi. 

“Di sini, mobil dicuci pakai hidraulis, setelah itu disedot debunya dan dibersihkan sampai ke mesin,” katanya. 

Pria asli Semarang tersebut juga berpendapat usaha car wash di Semarang tidak terdampak oleh isu corona karena permintaan pelanggan juga tetap ada, terlebih di musim hujan.

Bisnis ini termasuk aman saat ini. Kalau musim hujan seperti sekarang malam banyak yang antre,” ucap dia. []

Baca juga: 

Berita terkait
Melihat Antusiasme Warga Semarang Cek Gratis Corona
Warga Semarang berduyun-dayun datang ke pos kesehatan Covid-19. Mereka ingin memastikan terpapar virus corona atau tidak.
Mendampingi Suami Suspect Corona di Semarang
Suami istri di Semarang ini melakukan perjalanan ke Singapura 9 hari. Dalam perjalanan pulang ke Indonesia, suami menunjukkan tanda gejala corona.
Optimisme Abang Ojol Semarang Hadapi Ancaman Corona
Optimisme abang ojol di Semarang menghadapi pandemi virus corona layak ditiru masyarakat Indonesia.
0
Intensif Corona: Dokter Terima 15 Juta, Perawat 7,5 Juta
Intensif dan santunan dari pemerintah kepada tenaga medis. Dokter mendapatkan Rp 15 juta dan perawat sebesar Rp 7,5 juta.