UNTUK INDONESIA
Kesaksian Nata, Pimpinan King of The King Tangerang
Sehari jelang ditangkap, Syrus Manggu Nata, pimpinan King of The King Tangerang, bercerita tentang uang yang bisa melunasi hutang negara.
Spanduk King of The King di Tangerang, Banten. (Foto: Tagar/Mauladi Fachrian)

Tangerang - Nama Syrus Manggu Nata, mendadak tenar di tanah air, setelah mencuatnya organisasi King of The King di Tangerang, Banten. Pria 72 tahun ini mengklaim bisa melunasi hutang-hutang negara, pernyataannya pun hiruk di media berita nasional.

Kamis 30 Januari 2020, Tagar mencoba menyambangi kediaman pria yang karib dipanggil Pak Nata itu. Dia tinggal di Komplek Perumahan Dasana Indah, Blok TD 5 No 2, Kelurahan Bojong Nangka, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Banten.

Pria tua itu tinggal bersama istrinya yang masih berusia 30 tahun. Mereka menetap di rumah dua tingkat. Sejak empat hari belakangan, namanya ramai diperbincangkan.

Uang itulah raja dari semua kerajaan-kerajaan. Uang itulah raja dari semua negara-negara. Uang itu semua baik untuk kepentingan umat manusia.

Hal itu sejak terpasangnya spanduk berukuran besar bertuliskan King of The King di depan Terminal Bus Poris, Jalan Benteng Betawi, Tangerang. Di spanduk itu juga tertulis bahwa organisasi ini bisa melunasi hutang-hutang negara.

"Silakan masuk mas, maaf duduknya di lantai saja," kata Nata menyambut Tagar di kediamannya pagi itu.

Rumah lelaki asli Sumatera Utara itu terkesan sangat sepi dan kosong. Tidak ada sofa, meja tamu, rak atau hiasan dinding lainnya. Hanya suara TV yang sayup-sayup terdengar dari dalam ruangan kamar.

"Istri sedang tidak di rumah, anak juga sedang sekolah," katanya.

Setelah menyampaikan maksud, Nata pun bercerita tentang King of The King yang kini diributkan banyak orang. Menurutnya, King of The King itu adalah uang. Dengan uang itulah dia akan melunasi hutang negara. Kemudian dibagikan kepada anggota dan dibelanjakan untuk membeli Alutsista.

UangDokuman uang milik King of The King. (Foto: Tagar/Mauladi Fachrian)

Semberi bercerita, Nata juga menunjukkan dokumen semacam surat berharga berlogo Bank Nasional Indonesia (BNI). Dia juga mengklaim memiliki saham di bank tersebut. Selain BNI ada juga dokumen berlogo Bank Indonesia (BI) dan tertera nominal 60 miliar dollar AS. Ada pula dokumen berlogo Bank Jabar Banten (BJB) sebesar 10 miliar dollar AS.

"Uang itulah raja dari semua kerajaan-kerajaan. Uang itulah raja dari semua negara-negara. Uang itu semua baik untuk kepentingan umat manusia," tuturnya.

Dalam spanduk King of The King itu, tertulis nama Mr Dony Pedro yang menjabat sebagai Presiden Bank UBS. Pria yang beralamat di Bandung ini, didaulat menjadi raja di organisasi King of The King. Nata mengklaim, King of The King memiliki kekayaan senilai 60.000 triliun.

Menurutnya, Juanda sebagai Ketua Umum Indonesia Mercusuar Dunia (IMD) menjanjikan bahwa uang itu diperuntukkan melunasi hutang-hutang Indonesia. Selain itu, para anggotanya juga dijanjikan uang senilai Rp 1 miliar hingga Rp 3 milyar pada Maret 2020. Nata sendiri menjabat sebagai ketua IMD Banten.

"Anggota harus membayar uang sebesar Rp 1 juta untuk mendapatkan untung Rp 1 miliar. Bagi yang bayar Rp 3 juta dapat nanti Rp 3 miliar," katanya.

Nata mengatakan, jumlah anggota IMD se Indonesia hanya berkisar 100 orang. Di Tangerang sendiri hanya sekitar 6-7 orang. "Kami terbuka dan sama sekali tidak ada unsur penipuan terhadap kepemilikan dan penggunaan uangnya," tuturnya.

Menurutnya, kekayaan yang King of The King di IMD bersumber dari uang peninggalan Presiden Soerkarno yang diamanatkan Allah SWT, untuk Indonesia. Dia juga mengklaim, semasa Jendral Gatot Subroto masih hidup, dia kerap berkunjung ke rumahnya untuk mengawal perjalanan IMD hingga uang tersebut bisa dicairkan.

Bahkan, kata Nata, Menteri Pertahanan RI, Prabowo Subianto, pun sudah lama mengetahui keberadaan IMD. "Sekarang IMD tetap ada dan terus berkoordinasi dengan pejabat seperti bupati, wali kota sampai gubernur. Kami tidak untuk mengganggu negara, tapi kami hadir untuk membantu negara dari luar pemerintahan," katanya.

Dikira Dukun

Sejumlah warga yang tinggal di Kompleks Dasana Indah, Kelurahan Bojong Nangka, Kecamatan Kelapa Dua, Tangerang, mengaku tidak pernah terlibat dalam organisasi Pak Tata. Meski pun mereka mengetahui bahwa memang Tata menjadi salah satu pimpinan King of The King wilayah Banten.

Dalam pengajian-pengajian warga, Pak Nata sempat sosialisasi dan mengajak warga bergabung menjadi anggota organisasinya.

"Sampai saat ini sih warga kami tidak ada yang ikut atau menjadi anggota organisasi Pak Nata. Dulu sempat ada satu, tapi sudah tidak ikut lagi karena di omelin istrinya," kata Yayat yang diamini Kahar, tetangga sebelah rumah Nata.

WargaTetangga pimpinan King of The King Tangerang, Yayat dan Kahar. (Foto: Tagar/Mauladi Fachrian)

Menurut Yayat, Ketua RW dan Ketua RT di dilingkungan tersebut juga tidak ikut campur dalam organisasi tersebut. Mereka hanya mengingatkan agar warga tidak berurusan dengan King of The King yang tidak jelas ujung pangkalnya.

"Dalam pengajian-pengajian warga, Pak Nata sempat sosialisasi dan mengajak warga bergabung menjadi anggota organisasinya. Tapi warga komplek tidak ada yang menanggapinya dengan serius," tuturnya.

Menurut Yayat, kediaman Nata memang kerap dikunjungi kendaraan berplat nomor di luar wilayah Tangerang. Ada yang dari Bandung, Jawa Tengah, Bekasi dan sebagainya.

"Warga juga sempat mengira kalau Pak Nata berprofesi sebagai orang pintar (dukun) yang suka ngobatin orang," katanya.

Ditangkap Polisi

Setelah mencuat, polisi pun mulai bergerak menyelidiki keberadaan King of The King. Awalnya, polisi memeriksa saksi Suprapto, salah seorang yang wajahnya terpampang di spanduk dan ternyata, dia juga yang memasang spanduk tersebut. Konon, dia memasang spanduk setelah bertemu dengan Pak Nata.

KingSyrus Manggu Nata, Pimpinan King of The King Tangerang, Banten. (Foto: Tagar/Mauladi Fachrian)

Kasubid Humas Polres Kota Tangerang, Abdul Rochim, mengatakan pertemuan Suprapto dengan Nata belum lama terjadi. Dia dijanjikan Nata akan menerima menerima uang sebesar Rp 1 miliar hingga Rp 3 miliar, jika bergabung dengan King of The King.

Karena tertarik, Suprapto pun bergabung menjadi anggota King of King. Dia juga ditugaskan memasang spanduk di depan Terminal Poris. Selain itu, dia juga ditugaskan Nata untuk merekrut anggota baru, khususnya dari veteran-veteran. Dalam misi ini, Suprapto pun diganjar uang senilai Rp 300 ribu.

"Kabar terakhir, Suprapto berada di Polsek Cipondoh untuk dimintai keterangannya terkait King of The King," katanya.

Sehari setelahnya atau Jumat 31 Januari 2020, jajaran Polres Kota Tangerang, pun menangkap Nata dan menetapkannya sebagai tersangka dugaan penipuan. Selain dia, polisi juga menciduk P, 48 tahun, dan F, 42 tahu. Ketiga anggota King of The King ini diringkus di lokasi berbeda.

Para pelaku ini dijerat pasal 14 dan 15 Undang-undang nomor 1 Tahun 1946 tentang penyiaran berita bohong dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara. Hingga kini, polisi terus mendalami jumlah anggota dan berapa orang yang telah menjadi korban King of The King. []

Berita terkait
Tommy Soeharto dan Kerajaan Abal-abal
Tommy Soehartp diangkat sebagai sultan sepuh Kerajaan Demak oleh orang yang mengklaim sebagai Raja Demak. Bagaimana kebenarannya?
Benarkah Bengkel Ketok Magic Memakai Jin?
Mobil masuk bengkel ketok magic tidak boleh dilihat proses pengerjaannya. Ini menimbulkan bisik-bisik ketok magic memakai kesaktian jin. Benarkah?
Malangnya Jukir Siantar, Tak Digaji Hingga Dipecat
Tangis empat juru parkir di Pematangsiantar, di gedung DPRD dan kantor wali kota tak membuat hak mereka diberikan. Mereka bahkan diberhentikan.
0
NasDem Sulsel Usung Danny Pomanto Pilkada Makassar
Partai NasDem Sulawesi Selatan resmi mengusung mantan Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto sebagai calon Wali Kota Makassar di Pilkada 2020.