UNTUK INDONESIA

Kemendagri Dorong Pemkab Banyuwangi Bentuk BLUD Sampah

Kemendagri meminta Pemda untuk membentuk BLUD pengelolaan sampah, khususnya di Banyuwangi. BLUD dianggap lebih efisien dan produktif.
Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas sosialisasi Pola Penerapan Keuangan (PPK) Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) tentang pengelolaan persampahan secara virtual. (Foto: Tagar/Pemkab Banyuwangi)

Banyuwangi – Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) bersama Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) menggelar sosialisasi Pola Penerapan Keuangan (PPK) Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) tentang pengelolaan sampah. PPK-BLUD adalah pola pengelolaan keuangan memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk menerapkan praktik-praktik bisnis sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Sosialisasi dilaksanakan di Banyuwangi dan dibuka langsung Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas sekaligus adalah Ketua Umum APKASI, Kamis 19 November 2020. Acara ini juga diikuti bupati se-Indonesia secara virtual.

Untuk itu, lewat sosialisasi ini kami ingin mendorong daerah untuk membentuk BLUD pengelolaan persampahan.

Direktur Jenderal Bina Keuangan Daerah Kemendagri, Dr Mohammad Ardian mengatakan BLUD adalah salah satu opsi kelembagaan pengelolaan sampah lebih berkelanjutan guna meningkatkan dan memperluas cakupan layanan sampah. Saat ini, kata dia, BLUD tentang pengelolaan persampahan belum banyak dibuat oleh OPD di kabupaten/kota di Indonesia. 

Padahal, BLUD memiliki banyak manfaat. Selain lebih efisien dan produktif, sistem ini juga membolehkan untuk mendapatkan keuntungan tanpa meninggalkan roh pelayanan publik.

Baca juga:

“Untuk itu, lewat sosialisasi ini kami ingin mendorong daerah untuk membentuk BLUD pengelolaan persampahan. Demi terlaksananya pengelolaan persampahan yang lebih baik,” kata Ardian.

Dengan BLUD, lanjut dia, daerah dapat melakukan akselerasi pelayanan pengelolaan sampahnya. Dari sisi pengelolaan anggaran pun menjadi lebih efektif dan produktif.

“BLUD lebih fleksibel. BLUD punya otonomi untuk mengatur keuangannya sendiri. Semua pemasukannya tidak masuk ke daerah tapi langsung dikelola sendiri sehingga lebih fokus memprioritaskan layanan pengelolaan sampahnya,” kata Ardian.

Selain itu, sebagai lembaga yang berada di bawah pemerintah BLUD dapat menerima pendanaan yang regular untuk menjamin keberlanjutannya. Selain itu, BLUD juga bisa bisa melakukan pengelolaan sampah hingga level kabupaten, tidak hanya sebatas desa-desa.

“Dengan berbagai keunggulan BLUD ini, kami mendorong agar kabupaten/kota agar membuat BLUD pengelolaan persampahan untuk meningkatkan kualitas dan cakupan layanan persampahannya,” kata Ardian.

Dubes Norwegia untuk Indonesia, Vegard Kaale menambahkan, sampah telah menjadi isu global. Untuk itulah, aksi-aksi pengelolaan sampah secara holistik dan komprehensif sangat diperlukan secara bersama di seluruh belahan dunia.

“Ini bisa kita lakukan secara bersama. Kemitraan menjadi opsi penting ketimbang kita melakukannya sendiri-sendiri,” kata Vegard.

Dia pun mengapresiasi Bupati Banyuwangi mulai memperhatikan masalah sampah. Salah satu contohnya Banyuwangi bersama PT Systemiq Lestari Indonesia melalui program STOP melakukan piloting pemilahan sampah dan kampanye perubahan perilaku di wilayah pesisir Kecamatan Muncar.

“Hal ini patut diapresiasi. Daerah lain harus sudah mulai serius melakukan hal yang sama,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas menyambut baik PPK-BLUD tentang persampahan ini. Dia berharap, sosialisasi ini bisa menjadi momentum daerah untuk meningkatkan kualitas pengelolaan sampahnya.

"Masalah sampah akan menjadi salah satu prioritas pembangunan di 2021. Apalagi, sampah masuk dalam isu prioritas di sektor lingkungan hidup. Kami semua akan terus berupaya," kata Anas.

Sejak tahun lalu, Organisasi non-pemerintah dunia yang didanai pemerintah Norwegia dan institusi bisnis Borealis dari Austria, Systemiq, Banyuwangi terus melakukan pendampingan penanganan sampah laut di Kecamatan Muncar melalui program STOP. Hal ini bertujuan mendorong peningkatan kapasitas warga desa dalam masalah pengelolaan sampah.

“Kami akan mengikuti arahan Kemendagri untuk membuat BLUD persampahan. Saat kita sedang menyiapkan instrumennya, salah satunya membentuk UPT persampahan,” ucap Anas.[]

Berita terkait
Cara Disdukcapil Banyuwangi Data Warga Bercerai
Disdukcapil Banyuwangi menyiapkan petugas di Pengadilan Agama untuk mencatat keluarga yang bercerai.
KPU Banyuwangi Cetak 1,4 Juta Lebih Kertas Suara
KPU Banyuwangi mencetak kertas suara lebih banyak daripada DPT Pilkada Banyuwangi yang hanya 1,3 juta.
Modus Perdagangan Anak di Banyuwangi, Korbannya Pelajar
Polresta Banyuwangi menangkap tiga orang pelaku kasus perdagangan anak. Satu pelaku diserahkan ke Bapas karena masih di bawah umur.
0
Kemendagri Dorong Pemkab Banyuwangi Bentuk BLUD Sampah
Kemendagri meminta Pemda untuk membentuk BLUD pengelolaan sampah, khususnya di Banyuwangi. BLUD dianggap lebih efisien dan produktif.