UNTUK INDONESIA
Kedamaian dan Kehangatan Orang-orang Papua di Bali
Mereka memakai topi kebanggaan Suku Asmat Papua, bertutur hangat dan akrab dengan para pecalang dan turis di Bali, berfoto dalam suasana bahagia.
Harun Bless (kedua dari kanan) bersama tokoh intelektual Papua, melayani foto bersama para pecalang Bali pada hari terakhir Muktamar V PKB, Kamis, 22 Agustus 2019. (Foto: Tagar/Nila Sofianty)

Bali - Harun Bless, satu di antara orang Papua yang menebar kedamaian dan kehangatan dalam perhelatan Muktamar V Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Bali.

Ia adalah Ketua Dewan Pimpinan Cabang PKB Kabupaten Maybrat, Papua Barat. Tempat tinggalnya di distrik Ayamarui Kabupaten Maybrat, Papua Barat.

Harun bersama kader PKB asal Papua, kompak memakai hiasan kepala khas Suku Asmat.

Mereka secara bergantian melayani ajakan foto bersama para sesama kader PKB yang hadir dari seluruh Indonesia. Juga dengan ramah menerima ajakan berfoto bersama turis lokal dan mancanegara yang kebetulan melintas di The Westin Resort tempat digelar muktamar.

Situasi yang nyaman, seperti tidak terganggu dengan persoalan kerusuhan di Papua yang dipicu isu rasis entah oleh siapa kepada mahasiswa asal Papua di Surabaya dan Malang, Jawa Timur.

Hari itu Kamis, 22 Agustus 2019, merupakan hari terakhir Muktamar V PKB.

Suasana hangat persahabatan di tengah perbedaan suku di Indonesia semakin terasa saat para Pecalang, polisi adat Bali yang berpakaian khas tradisional Bali pun saling menyapa dan berbincang sejenak seusai foto-foto.

"Kita penting menjaga persatuan Indonesia. Dengan hadirnya kader PKB seluruh Indonesia, kita menyumbangkan semangat persatuan di sini. NKRI harga mati," ujar Harun.

Komang Ari seorang warga Bali merasakan hal yang sama. Ia tampak happy berkali-kali bergaya di depan kamera, berjabat tangan dengan saudara sebangsa dari Papua.

"Ya kita bersaudara senang bisa berfoto dan berbincang dengan saudara-saudara se Indonesia raya yang memakai simbol adat mereka seperti penutup kepala yang berbeda dari yang kami punya," ujar Komang Ari.

Para kader PKB dari Papua yang diajak berfoto, juga menyerahkan smartphone, secara bergantian memoret, agar momen kebersamaan di Bali ini abadi.

Kita penting menjaga persatuan Indonesia.

***

Harun mengatakan meski simbol adat pada baju masing-masing berbeda, tapi kita satu Indonesia.

"Kita harus bangga dengan adat budaya yang beragam. Senang sekali saudara-saudara kami di Bali turut mengagumi adat budaya seperti topi yang kami bawa dari Papua," katanya.

Jauh sebelum menjadi kader PKB, Harun adalah lulusan Fakultan Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Widya Mataram Yogyakarta.

Ia bercerita, topi khas Papua merupakan simbol kebanggaan turun-temurun leluhurnya. 

"Mahkota ini tidak bisa digunakan sembarang orang. Hanya digunakan pemimpin atau orang yang ditokohkan, kecuali ada kegiatan pementasan," kata Harun.

Topi dengan mahkota khas Suku Asmat ini tidak memiliki nama khusus. Masyarakat Asmat menyebutnya hiasan atau mahkota yang mereka anggap bagian dari pakaian adat.

Kita ini kan sudah integral. Intinya itu kita sudah satu. Tidak ada perbedaan dari Sabang sampai Merauke.

***

Bentuk mahkota ini menyerupai anyaman pucuk daun sagu yang dapat diikatkan ke kepala. Beberapa bulu burung dipasang di sekitar anyaman, menjadi aksesoris yang memperindah mahkota.

Bulu-bulu ini diambil dari burung-burung yang mempunyai arti penting bagi suku mereka, seperti Kasuari atau Kakatua putih. 

Bagi Suku Asmat, mahkota yang diletakkan di kepala, posisi tertinggi dari tubuh manusia ini memiliki makna mendalam.

Hal itu bermakna masyarakat Asmat meletakkan penghormatan tertinggi kepada alam yang telah memberikan kehidupan. 

Konstruksi mahkota yang didapat dari benda-benda alami adalah sebuah simbol akan kekuatan alam yang menaungi kehidupan Suku Asmat.

Bagi masyarakat Asmat khususnya kaum pria, mahkota ini merupakan sebuah penghormatan kepada roh nenek moyang. Mereka yakin setiap apa yang menempel di tubuh akan berpengaruh besar dalam kehidupan.

***

Berkaitan gejolak di sebagian kalangan Papua belakangan ini, Harun sangat menyesalinya. 

"Kita ini kan sudah integral. Intinya itu kita sudah satu. Tidak ada perbedaan dari Sabang sampai Merauke," kata Harun.

Ia datang ke Muktamar V PKB bersama 120 delegasi dari 13 kabupaten di Papua Barat. Semua adalah kader PKB.

Ia menyerukan Damai Papua untuk menunjukkan kebersamaan dan identitas yang dimiliki Papua.

"Bilang Papua Damai itu artinya menunjukkan kebersamaan kita, dari Sabang sampai Merauke dan juga multibudaya. Kita tidak bisa datang dengan badaniah, tapi juga menunjukkan identitas kita dengan beragam budaya di Indonesia," kata Harun.

Sebelumnya menyikapi kerusuhan yang meletup di beberapa titik di Papua, Presiden Joko Widodo akrab disapa Jokowi meminta masyarakat Papua untuk saling memaafkan. 

Jokowi berjanji pemerintah akan terus menjaga kehormatan dan kesejahteraan di tanah Papua dan Papua Barat. 

Harun mendukung penuh sikap Presiden Jokowi. []

Berita terkait
Kehidupan Pelajar Papua di Tegal Jawa Tengah
Anak-anak asal Papua yang sedang menempuh pendidikan di Tegal, Jawa Tengah, menceritakan situasi psikologis di tengah kabar Papua bergejolak.
Hidup Anak Papua di Tanah Rantau
Asrama mahasiswa Yahukimo Papua terletak di kawasan Batu Ampar, Kramat Jati, Jakarta Timur, di perkampungan menyatu dengan warga sekitar.
Jokowi Perintahkan Kapolri Tindak Rasialisme Papua
Presiden Joko Widodo (Jokowi) instruksikan Kapolri Tito Karnavian tindak pelaku rasialisme saat pengepungan asrama mahasiswa Papua di Surabaya.
0
Foto: Mahasiswa Desak Masuk, Gerbang DPR Nyaris Rubuh
Mahasiswa secara bersama-sama mengoyanglan pagar yang berada di sebesebelah kanan gerbang pintu masuk.