UNTUK INDONESIA
Kapal Rp 2 Miliar dan Ritual Pembuatnya di Bulukumba
Warga Kelurahan Tanah Beru, Kecamatan Bontobahari, Bulukumba, dikenal sebagai pembuat pinisi. Ada ritual khusus yang dilakukan dalam prosesnya.
Sejumlah pembuat perahu mengerjakan tugasnya masing-masing sambil berteduh di bawah perahu, Senin, 7 September 2020. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Bulukumba – Balok-balok kayu berserakan di pinggir pantai di Kelurahan Tanah Beru, Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Beberapa drum berwarna merah pun teronggok di atas pasir.

Hanya belasan meter dari drum dan balok-balok itu, sejumlah pria tampak sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Mereka memilih tempat di bawah kapal kayu berukuran cukup besar yang belum jadi.

Lokasi itu memang cukup strategis. Mereka bisa terus bekerja sekaligus berteduh dari teriknya sengatan matahari siang. Tangan-tangan mereka lincah menggarap bagian-bagian perahu yang menjadi tugasnya.

Langit cukup bersahabat siang itu, Senin, 7 September 2020. Gumpalan lembut awan yang seperti kapas-kapas raksasa melayang mengikuti keinginan sang angin yang membawa mereka.

Meski cukup terik, tapi justru sangat membantu pekerjaan seorang pemuda tanggung penggarap kapal. Sebab dia tidak perlu terlalu lama menunggu cat pada badan kapal mengering. Pekerjaannya mengecat badan kapal juga terbantu oleh embusan bayu.

Perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit badan kapal berubah warna menjadi cokelat tua, seiring goresan kuas yang ada pada genggaman jemarinya.

Di kejauhan, sejumlah kapal dan perahu yang juga terbuat dari kayu terlihat bergoyang pelan diayun oleh ombak tenang lautan.

Suara kayu yang beradu dengan logam dari kepala palu sesekali terdengar, nadanya seperti ingin menyaingi deru mesin gerinda dari salah satu rumah yang terletak tidak jauh dari situ.

Kampung Pembuat Perahu Legendaris

Kelurahan Tanah Beru, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba merupakan salah satu kampung yang cukup terkenal di Sulawesi Selatan. Nama Kampung Tanah Beru bahkan sudah tidak asing bagi sebagian orang yang bergerak di bidang maritim.

Cerita Pembuatan Perahu di Bulukumba (2)Abdul Asis, 40 tahun, pembuat perahu dari Kelurahan Tanah Beru, Kecamatan Bontobahari, Bulukumba, Sulsel saat ditemui, Senin, 7 September 2020. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Kampung itu merupakan lokasi pembuatan perahu legendaris Pinisi dan beragam jenis perahu tradisional lainnya.

Cukup banyak warga Kelurahan Tanah Beru yang berprofesi sebagai pembuat perahu, termasuk salah satu dari beberapa pria yang sedang duduk di bawah naungan perahu kayu di tepi pantai itu.

Pria tersebut bernama Abdul Azis, 40 tahun. Setelah menyelesaikan tugasnya mengoordinir rekan-rekannya untuk menurunkan bahan baku kapal dari atas truk, dia tampak mulai bersantai.

Seorang remaja pria datang membawa dua teko minuman. Satu teko berisi kopi hitam, teko lainnya berisi air putih.

Sambil beristirahat dan menikmati secangkir kopi, Abdul Azis memanggil rekan-rekannya yang lain untuk duduk bersamanya sambil berbincang. Sesekali secara tidak sadar lengannya bergerak mengusap keringat yang masih bercucuran di wajahnya.

Abdul Asis mengaku dirinya sudah ikut belajar membuat perahu sejak kelas 6 sekolah dasar. Awalnya dia hanya membantu pekerjaan sang ayah yang juga berprofesi sebagai pembuat perahu.

Sambil menikmati teguk demi teguk kopi hitam dari cangkirnya, Azis melanjutkan ceritanya. Dia menjelaskan tentang bahan baku kayu yang baru saja diturunkan dari truk. Kayu-kayu itu, kata dia, bukan berasal dari Kabupaten Bulukumba atau daerah lain di Sulawesi Selatan.

"Bahan baku ini baru saja tiba dikirim dari Sulawesi Tenggara, namanya kayu besi atau kayu nona," katanya sambil menunjuk ke arah tumpukan kayu sekitar tiga meter dari jaraknya berdiri.

Kayu-kayu khusus ini dipesannya sejak beberapa waktu lalu, namun baru tiba pada hari itu. Setelah kayu-kayu itu tiba, kata Abdul Azis, tidak langsung digunakan.

Dia dan beberapa rekannya akan menyortir kayu-kayu itu, memilih balok-balok yang kualitasnya bagus dan layak untuk dijadikan perahu.

Penyortiran kayu, lanjut Abdul Azis, merupakan tahapan paling awal dari proses pembuatan perahu. Nantinya setelah disortir, kayu-kayu itu akan dihaluskan dan dibentuk sedemikian rupa.

Cerita Pembuatan Perahu di Bulukumba (3)Suasana di tempat pembuatan perahu, Kelurahan Tanah Beru Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulsel, Senin, 7 September 2020.(Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)Cerita Pembuatan Perahu di Bulukumba (3)Suasana di tempat pembuatan perahu, Kelurahan Tanah Beru Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulsel, Senin, 7 September 2020.(Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Jika bahan baku tersedia, waktu yang dibutuhkan untuk membuat satu unit kapal nelayan sekitar tiga bulan, dengan jumlah pekerja sebanyak lima orang.

Tapi, jika bahan baku sedang langka, proses pembuatan kapal pun akan memakan waktu lebih lama. Menurutnya ketersediaan bahan baku kayu menjadi faktor utama dalam pembuatan kapal atau perahu.

Kalau soal tenaga, cukup lima orang sudah bisa jadi, yang sulit adalah bahan baku. 

"Tapi kalau bahan baku lancar ya pekerjaan juga lancar. Yang truk ini saja datang 50 kubik setelah dua bulan dipesan, padahal satu kapal kita butuh 100 kubik," kata dia.

Kapal Pinisi Berharga Miliaran

Selama ini Azis tidak hanya menerima pesanan perahu atau kapal dari warga dan nelayan lokal saja, tetapi juga menerima pesanan dari luar negeri, misalnya Jepang, Perancis, dan Australia.

Hampir seluruh pesanan kapal dari luar negeri itu adalah kapal legendaris jenis Pinisi. Satu unit Pinisi harganya bisa mencapai miliaran rupiah, tergantung ukuran yang dipesan oleh pelanggan. Harga Pinisi buatannya berkisar antara Rp 2 miliar hingga puluhan miliar.

Berbeda dengan proses pembuatan perahu dan kapal nelayan, untuk menyelesaikan satu unit Pinisi bisa memakan waktu hingga dua tahun.

"Pernah ada pesanan dari Jepang, perahu Pinisi seharga Rp 10 miliar, waktu itu kami kerjakan selama 2 tahun baru selesai," kata ayah tiga anak ini.

Membuat kapal bukan sekadar menyusun balok dan papan kayu. Para pembuat kapal di daerah itu melakukan beberapa prosesi sejak sebelum pembuatan hingga kapal siap berlayar. Warga yang dikenal relijius melakukan semacam ritual dalam proses pembuatan.

Ritual-ritual yang dilakukan pada dasarnya adalah doa yang dipanjatkan pada pemilik alam semesta agar merestui dan memberi keselamatan, baik dalam proses pembuatan maupun saat digunakan nanti, Terlebih untuk kapal jenis Pinisi, yang memang dirancang untuk mengarungi lautan luas.

Beberapa ritual yang dilakukan di antaranya menyediakan kue-kue tradisional, membaca doa keselamatan sampai penyembelihan hewan tertentu. Daging hewan yang dipotong ini nantinya akan dibagikan pada warga setempat sebagai sedekah.

Setiap ritual ini perlu diketahui dan disepakati oleh pemesan. Karena sebaiknya ia terlibat dalam setiap proses tersebut.

Pertama adalah ritual sebelum memulai pekerjaan. Biasanya dengan membaca doa-doa keselamatan. Lengkap dengan sesajian berupa kue-kue tradisional dan pisang masak.

Salah satu tetua akan memimpin ritual dan membacakan doa-doa. Agar segenap orang yang bekerja selamat dalam proses pengerjaan perahu.

Kedua adalah saat uji coba melarung perahu. Sebelum benar-benar melaut, pemilik biasanya melakukan pemotongan hewan tertentu. Mulai dari ayam, kambing sampai kerbau. Tergantung dari niat pemilik hajat, yakni pemesan perahu.

Cerita Pembuatan Perahu di Bulukumba (4)Miniatur Pinisi yang dijual sebagai suvenir di kawasan Kelurahan Tanah Beru, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba, Sulsel, Senin, 7 September 2020. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

"Ya tergantung yang punya perahu, kalau mau kasi makan satu kampung potong kerbau juga bisa," katanya sembari bercanda.

Tak jauh dari lokasi pembuatan perahu Abdul Asis, terlihat dua miniatur Pinisi di dalam etalase kaca rumah suvenir.

Pemilik dan pengelolanya bernama Rajanuddin. Ia sudah puluhan tahun menjadi pembuat suvenir miniatur perahu Phinisi.

"Saya jalankan usaha ini sudah puluhan tahun, dan selalu ramai pesanan apalagi kalau datang pengunjung dari luar negeri," katanya

Setiap suvenir berbeda harganya, mulai dari Rp 300 ribu sampai Rp 25 juta rupiah. Sayangnya siang itu Rajanuddin sedang sibuk mengerjakan pesanan sehingga tak banyak waktu untuk berbagi cerita. []

Berita terkait
Cara ASN DPRD Bantaeng Menambah Penghasilan
Seorang aparatur sipil negara di Kantor Sekretariat DPRD Bantaeng membuka usaha samppingan sebagai pedagang arloji dan parfum.
Materi Buku PJJ dari Pengalaman Guru di Yogyakarta
26 kepala SMP di Yogyakarta menyusun buku panduan pembelajaran jarak jauh untuk siswa mereka. Buku itu disusun selama 4 bulan.
Mantan Nakhoda Ubah Sekapuk Jadi Desa Miliarder (1)
Abdul Halim, seorang mantan nakhoda kapal yang kini menjabat sebagai Kepala Desa Sekapuk, Gresik, berhasil mengubah wajah desanya.
0
Kapal Rp 2 Miliar dan Ritual Pembuatnya di Bulukumba
Warga Kelurahan Tanah Beru, Kecamatan Bontobahari, Bulukumba, dikenal sebagai pembuat pinisi. Ada ritual khusus yang dilakukan dalam prosesnya.