UNTUK INDONESIA
Jalan Tol Bukan untuk Ngebut
Kecelakaan lalu lintas di jalan tol menimbulkan kerugian materi yang besar dan korban jiwa yang banyak, beberapa faktor penyebab saling terkait
Olah TKP kecelakaan beruntun di jalan Tol Cipularang. (Foto: Antara/Ali Khumaini)

Oleh: Syaiful W. Harahap

Ada kesalahan besar yang fatal yang terjadi karena kelalaian dan kelengahan pengguna jalan tol. Ini terjadi karena banyak dari pengguna jalan tol yang justru tidak memahami filosofi (filsafat) jalan tol sehingga sering terjadi kecelakaan yang fatal dengan korban jiwa yang tidak sedikit.

Kecelakaan beruntun Tol Cipularang (Cikampek-Purwakarta-Padalarang) di KM 91, pada Senin 2 September 2016, misalnya, melibatkan 20 kendaraan (11 mobil, 7 truk dan 2 bus) dan menelan delaan korban tewas. Dua pekan kemudian, 15 September 2019, terjadi kecelakaan tunggal di Tol Jagorawi yang menewakan tiga dari sembilan penumpang mobil jenis APV.

Jalan tol (berbayar) di era modern dikenal pertama kali tahun 1924 ketika Italia, Eropa, yang membuat jalan sepanjang 50 km di dekat Milan sebagai jalan berbayar. Tahun 1927 Yunani pun membuat jaringan jalan raya berbayar di antara kota-kota di negara itu.

Sedangkan di Indonesia jalan tol pertama dibangun pada tahun 1975 yang selesai tahun 1978 yaitu jalan tol yang menghubungkan Jakarta-Bogor-Ciawi yang dikenal sebagai jalan tol Jagorawi. Dibangun dengan dana pemerintah dan pinjaman luar negeri yang kemudian dikelola oleh PT Jas Marga (Persero) Tbk.

Jika jalan tol dianggap sebagai jalan bebas hambatan, maka tidak semua jalan bebas hambatan di dunia berbayar. Jalan bebas hambatan tak berbayar disebut freeway atau expressway, sedangkan jalan bebas hambatan berbayar disebut toll way atau toll road.

Perilaku pengguna jalan tol di Indonesia mengabaikan filosofi jalan tol. Jalan tol dipakai untuk ngebut atau memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Padahal, jalan tol adalah jalan yang menghindari perpotongan jalan, perlintasan kereta api, dll. sehingga kendaraan melaju kencang.

Jadi, memilih jalan tol bukan untuk ngebut tapi menghindari perpotongan jalan. Akibat perilaku sebagian pengguna jalan tol yang tidak memahami makna jalan tol psikolog UI, alm Sartono Mukadis di awal tahun 1990-an mengatakan jalan tol sebagai silent disaster atau pembunuh terselubung.

Sartono ketika itu memberikan komentar tentang bebarapa kecelakaan di jalan tol yang memakan banyak korban jiwa. Banyak pengguna jalan tol yang tidak memahami risiko memacu kendaraan di jalan tol karena ban kempes dan slip bisa jadi pemicu kecelakaan yang fatal.

Celakanya, tidak ada aturan yang melarang kecepatan tinggi di jalan tol sehingga penggguna jalan tol dengan leluasa memacu kendaraannya dengan kecepatan yang berisiko kecelakaan jika ban kempes atau kendaraan di depan tiba-tiba melambat.

Dalam sebuah penugasan mengikuit sopir bus antar kota dari Tegal (Jawa Tengah) ke terminal Pulogadung (Jakarta Timur) tahun 1990-an menunjukkan perilaku sopir yang mengabaikan keselamatan. Begitu keluar dai pintu tol Cikampek bus langsung dipacu dengan kencang. Speedometer menunjukkan angka di antara 100 – 110. Ini menunjukkan bus berlari dengan kecepatan antara 100 – 110 km per jam. Bus berjalan di malam hari.

Yang tidak masuk akal sopir merentangkan kaki kirinya di tas kap mesin. Sambil merokok sopir terlibat pembicaraan dengan kondektur. Ini salah satu perilaku pengguna jalan tol yang berisiko sebagai penyebab kecelakaan.

Bagi pengguna jalan tol truk-truk besar disebut sebagai ‘keong’ yang merangkak ketika mendaki, tapi meluncur dengan cepat di jalan yang menurun. Kecelakaan fatal yang melibatkan bus dan truk sering terjadi pada jalan menurun dengan mengkambinghitamkan rem blong (Sumber: wikipedia dan sumber-sumber lain).[]

Berita terkait
Tips Mengendalikan Mobil Ketika Pecah Ban di Jalan Tol
Berkaca pada kasus kecelakaan di jalan tol akibat pecah ban ini, ada trik khusus agar mobil tidak terguling.
Sopir Truk Kecelakaan Tol Cipularang Jalani Tes Urine
Sopir truk dump yang terlibat dalam kecelakaan maut di KM 91 Tol Cipularang menjalani tes urine di Polres Purwakarta, Jawa Barat.
Jalan Tol Jokowi Dikepung Api
Jalan Tol Palindra di Sumatera Selatan yang diresmikan Presiden Jokowi, dikepung api sejak Senin sore, 5 Agustus 2019.
0
Bupati Minahasa Datang Bukan Atas Undangan Jokowi
Kedatangan Bupati Minahasa Selatan Christiany Eugenia Tetty Paruntu ke Istana bukan atas undangan Presiden Jokowi tapi usulan dari Partai Golkar