UNTUK INDONESIA
Instagramable Tabebuya Surabaya Serasa di Jepang
Tabebuya yang sedang mekar di Kota Surabaya menjadikan Kota Pahlawan ini sangat menarik. Pemandangannya seperti berada di Negeri Sakura.
Dua mahasiswi berswafoto di JPO di bilangan Jalan Setail di samping Kebun Binatang Surabaya (KBS) dengan latar belakang Tabebuya, Senin, 18 November 2019.(Foto: Tagar/Haris Dwi Susanto)

Surabaya - Panas terik Kota Surabaya tak menyurutkan dua mahasiswi di Surabaya untuk menikmati keindahan bunga Tabebuya (Handroanthus chrysotrichus) dari Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Wonokromo di bilangan Jalan Setail di samping Kebun Binatang Surabaya (KBS). 

Dua mahasiswi itu, Maria Dolorosa Mustika Talan dan Ligata Rahma Pramudita, begitu menikmatinya, berswafoto di sana.

Bagi Maria, melihat Tabebuya mekar dari dekat merupakan keinginannya sejak lama. Pasalnya, di kampung halamannya Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) jarang melihat pemandangan itu. Berbeda dengan di Surabaya yang banyak ditumbuhi tanaman yang berasal dari Brazil, Amerika Latin tersebut.

Baginya, mekarnya Tabebuya menjadikan Kota Pahlawan ini menjadi instagrammable. Banyak spot foto di sana, menarik dijepret dari kamera pocket, kamera ponsel sampai kamera profesional. Ia bisa dengan leluasa mencari spot foto dengan latar belakang Tabebuya, seperti di JPO Wonokromo.

Di JPO Wonokromo, salah satuya spot foto yang menawan. "Di sini Tabebuya terlihat jelas dan bagus untuk foto karena posisinya di atas. Surabaya terlihat warna warni dengan mekarnya Tabebuya," ujarnya Senin, 18 November 2019.

Mahasiswi Universitas 17 Agustus (Untag) Surabaya ini mengapresiasi Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dalam hal penataan kota. Setiap jalan protokol di Surabaya terlihat cantik dengan mekarnya Tabebuya. "Bunganya sangat cantik, seperti bunga sakura di Jepang. Saya suka di sini (Surabaya) beda dengan kota-kota lainnya,” ucapnya.

Keindahan Tabebuya juga dirasakan Ligata Rahma Pramudita. Mahasiswi Fakultas Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini mengaku tertarik dengan Tabebuya karena warnanya yang cantik. Beragam warna bunga dari pohon yang tidak mudah rontok daunnya itu, membuatnya jatuh hati.

Bunganya sangat cantik, seperti bunga sakura di Jepang.

Ligata yang berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur ini mengatakan setidaknya ada tiga warna bunga Tabebuya yang ia lihat saat melintasi jalan protokol kota Surabaya. Salah satunya warna merah muda atau pink.

Baginya Tabebuya warna merah muda yang menarik perhatiannya untuk dijadikan latar belakang berswafoto. Ia mengaku sudah mengetahui jika Tabebuya di Surabaya akan mekar antara bulan Oktober dan November. "Setiap bungannya mekar saya pasti ke sini (JPO Wonokromo) untuk foto. Serasa di Jepang" ujarnya.

Gadis berusia 21 tahun ini mengaku lebih memilih swafoto di JPO Wonokromo, meski di tempat lain juga mekar bunga Tabebuya. "Jadi kalau ada kesempatan saya coba foto di sini, karena bagus di sini, bisa foto sejajar dengan bunga Tabebuya," kata dia.

Tidak hanya Maria dan Ligata yang senang dengan Tabebuya di Surabaya. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini juga terlihat sumringah dan senang. Sesumringrah dengan mekarnya Tabebuya di kota yang dipimpinnya.

Risma, panggilan akrabnya, pun merayakan hari ulang tahunnya ke-58 bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Surabaya dengan menikmati keindahan Tabebuya di Jalan Mayjend Sungkono Surabaya, Rabu 20 November 2019.

Bagi Risma Tabebuya merupakan investasi Kota Surabaya untuk mengundang banyak wisatawan. Wali kota perempuan pertama di Surabaya ini menilai Tabebuya memiliki keunggulan yakni bunga Tabebuya mempercantik taman dan trotoar yang di Surabaya.

"Tujuannya bukan hanya untuk membuat Surabaya indah dan asri, tapi juga tujuannya untuk mendatangkan wisatawan. Kalau banyak wisatawan yang datang, perekonomian warga Surabaya juga ikut bergerak," ujarnya.

Keindahan Surabaya, kata Risma, tidak kalah dengan tempat wisata lainnya di negara lain. Apalagi, penataan ruang kota Surabaya juga sudah rapi, tidak jauh berbeda dengan negara lain.

"Saya kira Surabaya tidak kalah dengan daerah lain. Silakan datang ke Surabaya, tidak perlu keluarkan uang lebih banyak untuk keluar negeri. Cukup mampir saja di Surabaya," ucap mantan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya ini.

tabebuya2Dua mahasiswi memotret bunga Tabebuya di JPO di bilangan Jalan Setail di samping Kebun Binatang Surabaya (KBS), Senin, 18 November 2019.(Foto: Tagar/Haris Dwi Susanto)

Akan Tambah Pohon Tabebuya

Untuk menambah keindahan kota Surabaya, Pemkot Surabaya pada tahun 2020 sudah merencanakan menambah pohon Tabebuya. Jumlahnya sekitar 500 pohon. Jumlah itu untuk melengkapi 7.000 pohon Tabebuya yang sudah ditanam sejak 2010.

Kepala Bidang Ruang Terbuka Hijau dan Penerangan Jalan Umum (PJU) Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Kota Surabaya, Hendri Setianto mengatakan 500 pohon baru Tabebuya akan ditanam di sejumlah titik di wilayah Surabaya barat.

"Rata-rata Tabebuya yang daunnya merah muda yang akan ditanam di kawasan Surabaya Barat, Wiyung ke sana," kata Hendri.

Selain akan menanam pohon Tabebuya baru, DKRTH Surabaya juga fokus beberapa pohon yang sudah mati, atau sudah tidak bisa berbunga lagi. "Seperti tahun lalu kita sudah melakukan penanaman kembali untuk menggantikan pohon yang sudah mati," ungkap Hendri.

Perawatan Tabebuya sebenarnya tidak sulit.

Untuk di Surabaya, setidaknya ada tiga jenis Tabebuya yang ditanam yakni Tabebuya berwarna putih, merah muda, dan kuning. Hanya saja, kemarau panjang dan cuaca panas menyebabkan Tabebuya terlambat berbunga. "Umumnya Tabebuya di Surabaya mekar pada Oktober, bukan November. Tahun ini (mekar) agak mundur waktunya karena cuaca," sebutnya.

Hendri mengaku DKRTH Surabaya sudah berusaha agar Tabebuya bisa berbunga, meski cuaca kurang bersahabat. Beberapa cara yang dilakukan DKRTH Surabaya adalah dengan selalu pemberian pupuk dan juga air.

"Perawatan Tabebuya sebenarnya tidak sulit. Cukup diberi pupuk dan air Tabebuya akan berbuga. Pohonnya juga bisa bertahan di semua iklim," tuturnya.

Dia optimistis penambahan Tabebuya semakin mempercantik Kota Surabaya. Di banyak sudut kota, bermekaran dengan beragam warna di mana-mana. Jika Tabebuya sudah berbunga, Kota Surabaya tak ubahnya seperti di Jepang yang memiliki bunga Sakura.

Mulai Lakukan Pembibitan Tabebuya

tabebuya3Pemandangan Tabebuya yang mekar terlihat menawan di JPO di bilangan Jalan Setail di samping Kebun Binatang Surabaya (KBS), Senin, 18 November 2019.(Foto: Tagar/Haris Dwi Susanto)

Untuk memperbanyak penanaman Tabebuya, Pemkot Surabaya melalui Dinas DKRTH Surabaya mulai melakukan pembibitan di Kebun Bibit Wonorejo Surabaya. Kebun Bibit Wonorejo berdiri di atas lahan berukuran 100 x 2 meter yang terdiri dari beberapa balok.

Hendri mengaku di lahan ini, Pemkot Surabaya akan melakukan pembibitan 1.500 pohon Tabebuya. Rencananya bibit Tabebuya akan dibagikan kepada masyarakat secara gratis.

"Kalau ada warga yang minta bibit Tabebuya ya kita kasih secara cuma-cuma alias gratis. Tapi bibitnya enggak sebesar seperti yang ada di jalan," ujarnya.

Ada alasan mengapa Pemkot Surabaya melakukan pembibitan Tabebuya. Salah satunya tentang harga bibit Tabebuya yang dijual di pasaran terbilang cukup mahal. Satu bibit pohon Tabebuya dijual dengan harga kisaran Rp 300 ribu hingga Rp 1 juta.

Mahalnya bibit Tabebuya, karena budidayanya membutuhkan waktu lama. Bahkan DKRTH Surabaya membutuhkan waktu lima tahun agar bibit bisa ditanam. "Pembibitannya jangka panjang. Hari ini kita bibit, penananmnya lima tahun nanti," ucapnya.

Hendri mengaku selama ini bibit Tabebuya yang ditanam di sepanjang jalan protokol berasal dari Kediri, Tulungagung dan Malang. Meski telah memiliki Kebun Bibit Wonorejo, DKRTH Surabaya untuk sementara tetap melakukan pengadaan pohon Tabebuya.

Sementara Kepala UPTD Taman Pramudita Yustiani menjelaskan untuk pembibitan Tabebuya, pihaknya memiliki tim khusus yang berjumlah lima orang. Lima orang ini memiliki pengalaman melakukan pembibitan Tabebuya.

Pramudhita juga mengungkapkan banyak warga yang ingin menanam Tabebuya, setelah melihat keindahan bunganya saat mekar. "Banyak warga yang ingin bibit Tabebuya. Mereka ingin melihat secara langsung Tabebuya saat mekar," ujarnya.

Diketahui Tabebuya adalah jenis tanaman yang berasal dari negara tropis, Brazil. Tabebuya yang sering dijumpai di Indonesia berbentuk terompet dan bergerombol dengan ukuran 3-5 sentimeter. Seringkali banyak orang menyebutnya sebagai tanaman Sakura di Jepang, karena bila berbunga bentuk mirip seperti bunga Sakura.

Tabebuya termasuk jenis pohon besar yang memiliki keunggulan daunnya tidak mudah rontok, serta akarnya tidak merusak rumah atau tembok. Pohon yang bunganya bermekaran di akhir musim kemarau itu juga memiliki struktur ranting yang rindang, serta pohonnya tidak terlalu tinggi. Pohon ini juga berfungsi untuk penyerapan karbon serta polusi kendaraan.

Pemkot Surabaya sendiri mendatangkan pohon tersebut dari Malang dan Kediri sejak 2010. Tabebuya itu kemudian dibudidayakan di Kebun Bibit Surabaya untuk sewaktu-waktu ditanam di sejumlah pinggir jalan atau taman.

Tabebuya yang tumbuh di Surabaya memiliki beberapa varian warna, yakni kuning, merah muda, putih, dan warna ungu yang disebut-sebut memiliki kemiripan dengan bunga sakura. []

Baca Juga:


Berita terkait
Hilangkan Bau Sampah GBT Risma Tanam Seribu Tabebuya
Sebab Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya sendiri, Sabtu 30 November 2019 pagi melakukan penanaman seribu pohon tabebuya pink di area stadion.
Cantiknya Kuning Mekar Tabebuya di Purwokerto
Kuning bermekaran bunga tabebuya membuat cantik sudut-sudut Kota Purwokerto di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Membuat nyaman pejalan melintas.
Pohon Angsana di Jalan Cikini Raya Diganti Tabebuya
Pohon yang dulunya rindang di sepanjang trotoar Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat kini telah ditebangi.
0
Warga Bantaeng Derita Luka Bakar di Sekujur Tubuh
Remaja berusia 20 tahun di Bantaeng menderita luka bakar hampir 80 persen akibat kebakaran menimpa kamar tidurnya.