UNTUK INDONESIA
Insentif Guru Honorer Matim NTT Belum Dibayar
Sebanyak 1.942 guru honorer di Manggarai Timur belum mendapat tambahan penghasilan selama dua bulan. Keuangan daerah diklaim jadi penyebab.
Sejumlah guru dan anak didiknya berpose di depan sekolahnya yang memprihatinkan di Manggarai Timur NTT, belum lama ini. Ribuan guru honorer setempat belum menerima insentif selama dua bulan. (Foto: Tagar/Yos Syukur)

Manggarai Timur - Kabar menyesakkan datang dari salah satu wilayah timur Indonesia. Ribuan guru honorer di Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Nusa Tenggara Timur (NTT) belum menerima insentif tambahan penghasilan (Tamsil). 

Mereka belum menerima Tamsil selama dua bulan di tahun 2019 ini, yakni bulan Juni dan Juli. Anehnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Matim sudah memberi Tamsil bulan Agustus dan Oktober.  

Kepala Sub Bagian Humas Sekretariat Daerah Kabupaten Matim, Agus Supratman menyatakan pemerintah tetap mencari solusi untuk membayar dua bulan Tamsil guru honorer.

"Pemkab Matim bertekad akan tetap mencari solusi terbaik, walau hingga masuk tahun anggaran 2020 mendatang," kata dia kepada Tagar, Senin, 2 Desember 2019.

Ia menjelaskan bahwa guru honorer di Matim direkrut oleh pihak sekolah. Mereka mendapat gaji pokok dari sekolah tempatnya mengajar.

Jadi kebijakan ini semata-mata akibat kondisi keuangan daerah.

Data yang ada, guru honorer di Matim, baik sekolah negeri maupun sekolah swasta mulai TK, SD dan SMP sejumlah 3.144. Dari jumlah itu, yang mengikuti seleksi dan memenuhi standar kualifikasi akademik Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 dan analisis kebutuhan guru berjumlah 2.183 orang 

Dan dari 2.183 yang baru tercover anggaran insentif sesuai kondisi keuangan daerah sebanyak 928 orang guru. "Jumlah ini masih mengacu anggaran bawaan tahun anggaran sebelumnya dengan besaran Rp 750 ribu per bulan," kata Supratman.

Sementara untuk 543 guru dari 962 guru yang mengabdi di sekolah swasta disuplai dari dana hibah, Rp 500 ribu per bulan. "Hal ini sesuai dengan kondisi keuangan daerah," tuturnya.

Memasuki tahun anggaran 2019, pembayaran insentif bagi honorer di sekolah negeri mengalami pergeseran. Dari alokasi hanya untuk 928 guru dinaikan menjadi 1.942 guru. Hal ini bertujuan untuk pemerataan di penghasilan tambahan bagi para guru honorer. 

Selanjutnya mereka diberi insentif untuk lima bulan pertama, mulai Januari sampai Mei tahun 2019, nominalnya Rp 750 ribu per bulan tiap guru honorer. Untuk tujuh bulan berikutnya dianggarkan di APBD perubahan sembari dilakukan penataan kembali sesuai kebutuhan dan syarat kualifikasi.

"Rencana ini ternyata tidak didukung oleh kondisi keuangan daerah," ujar Supratman.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan akhirnya mengambil kebijakan dengan cara pengurangan jumlah bulan, dari tujuh menjadi lima. Terhitung mulai Agustus hingga Desember dan jumlah uang Tamsil sebesar Rp 500 ribu 

"Jadi kebijakan ini semata-mata akibat kondisi keuangan daerah," ucapnya. 

Supratman meminta para guru honorer untuk tidak terprovokasi dengan isu uang Tamsil. Ia berharap mereka tetap fokus bekerja dan mengabdi mencerdaskan anak-anak Manggarai Timur. 

"Pemerintah menyampaikan terimakasih kepada para guru yang telah bekerja dengan tulus dan iklas. Kami menyampaikan permohonan maaf atas kondisi ini," tutur dia. []

Baca juga:

Berita terkait
Curhat ke Ganjar, Guru SLB Surakarta Dapat Motor
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo punya cara unik memberi semangat ke guru honorer berprestasi yang tak bisa jadi PNS. Ganjar memberi hadiah motor.
Belum Tamat SMA, Vanessa Angel Jadi Guru Seksi
Artis dan Model Vanessa Angel turut ikut mengucapkan selamat pada perayaan Hari Guru yang jatuh pada Senin, 25 November 2019 kemarin.
Cabuli 6 Siswi, Guru Kontrak di Aceh Ditangkap
SB (39 tahun) terlibat pencabulan terhadap anak di bawah umur. Pelaku merupakan guru kontrak di salah satu sekolah dasar (SD).
0
Lewat Twitter, Jokowi Puji Masakan Kuliner Aceh
Jokowi pernah bermukim di Aceh, tepatnya di kawasan Rembele, Kabupaten Bener Meriah.